
Ketiga petugas keamanan yang mengenakan atasan merah itu membawa Aminah ke suatu ruangan khusus yang ada di lantai atas setelah naik lift.
Mereka berjalan melewati jalan yang ada di ruangan lantai atas.
Sebuah ruangan luas dengan hiasan lampu kristal yang bersinar terang menghiasi ruangan itu tampak mewah dengan dinding marmer utuh mengelilingi ruangan di salah satu bagian lorong.
''Permisi tuan Shaheer Sheikh ! Saya membawa nona Aminah kemari ! Apa kami boleh masuk sekarang ?'', tanya pria petugas keamanan.
Salah satu petugas keamanan itu mengetuk pintu ruangan yang terbuat dari kaca transparan sehingga dapat terlihat dari luar.
''Masuk saja ! Pintunya tidak di kunci !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Baik, tuan Shaheer'', jawab petugas itu.
Pria berkumis tipis itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Aminah yang menggenggam erat tas miliknya.
''Silahkan masuk nona Aminah !'', kata petugas itu.
''Terimakasih...'', sahut Aminah.
''Kami akan berjaga di luar ruangan, tuan Shaheer ! Permisi...'', kata petugas itu mewakili kedua rekannya yang lain.
''Ya, pergilah !'', jawab Shaheer Sheikh.
Sebelum pergi petugas keamanan itu membukakan pintu untuk Aminah lalu mereka bertiga pergi dari ruangan tersebut.
Shaheer Sheikh mendongakkan kepalanya ke arah Aminah yang beediri di depan pintu masuk.
Dia menyapanya dengan ramah kali ini.
''Masuklah Aminah ! Dan duduklah !''
''Mmm.... !?'', gumam Aminah.
''Jangan sungkan ! Masuklah !'', kata Shaheer Sheikh.
''Ehk ? Baik, terimakasih...'', sahut Aminah.
Aminah masuk ke dalam ruangan luas yang berhiaskan marmer utuh dengan langkah hati-hati sambil menggenggam erat tasnya yang berisi map arsip.
Sesekali Aminah mencuri pandang ke arah Shaheer Sheikh yang duduk di depan meja sembari memperhatikannya.
"Apakah dia mengetahui kepeegianku ke kantor polisi tadi ?"
Aminah bergumam dalam hatinya saat melihat ke arah Shaheer Sheikh yang tidak henti-hentinya menatapnya.
''Kenapa ? Tampaknya kamu khawatir padaku ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Oh !? Tidak !'', sahut Aminah kaget.
''Duduklah ! Aku akan menyiapkan minuman untukmu. Apa minuman yang kamu sukai ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Susu teh tarik...'', jawab Aminah.
''Susu teh tarik ? Mana ada di dalam ruangan khusus ini !? Karena aku tidak menyiapkan minuman itu, bukan karena aku tidak menyediakan bahannya tapi aku tidak bisa membuatnya'', sahut Shaheer Sheikh.
''Oh, kalau begitu tidak usah saja'', kata Aminah.
''Tidak apa-apa, aku akan menyiapkan minuman yang lainnya saja'', ucap Shaheer Sheikh. ''Bagaimana ?''
''Terserah padamu...'', sahut Aminah.
__ADS_1
''Baiklah, duduklah dulu ! Aku akan membuatkan minuman'', kata Shaheer Sheikh.
Sikap lain yang ditunjukkan oleh Shaheer Sheikh agak berbeda sekarang, tidak seperti saat dia berhadapan dengan Aminah di luar sana.
Aminah sempat tertegun ketika melihat perubahan pada diri Shaheer Sheikh yang berbeda saat ini.
Dia agak cemas dengan sikap pria tampan itu padanya.
''Kenapa dengannya ? Apa dia tidak salah minum obat ?'', gumam Aminah pelan.
''Ya... Apa ? Apa yang ingin kamu sampaikan padaku ?''
Tiba-tiba Shaheer Sheikh bertanya pada Aminah seraya menuangkan minuman berupa juice kotak ke dalam gelas minuman.
Aminah langsung terdiam kaku ketika Shaheer Sheikh bertanya padanya.
''Apa ?'', kata Shaheer Sheikh mengulang kembali ucapannya.
Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Aminah yang tengah duduk memandanginya dengan terheran-heran.
Shaheer Sheikh tersenyum simpul saat melihat Aminah yang kebingungan.
Diletakkannya gelas berisi juice segar ke atas meja khusus kemudian melemparkan kotak juice yang kosong ke dalam tong sampah dekat meja.
KLONTANG !
Kotak juice kosong masuk ke tong sampah meninggalkan bunyi yang cukup keras.
Shaheer Sheikh kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aminah seraya menatapnya serius.
Dia berjalan ke arah Aminah yang tengah duduk di atas sofa panjang dengan sorot mata kebingungan.
''Emmm..., tidak apa-apa !?'', sahut Aminah.
Aminah Kapoor langsung menundukkan pandangannya saat Shaheer Sheikh mentapnya.
''Ini ! Minumlah !''
Kata Shaheer Sheikh seraya menyodorkan segelas minuman juice kepada Aminah.
''Emmm !? Terimakasih...'', sahut Aminah.
''Sama-sama, tidak usah dipikirkan !'', kata Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu lalu tersenyum pada Aminah yang tampak ragu serta kebingungan dengan sikapnya yang berubah baik.
Shaheer Sheikh berdiri di dekat sofa panjang tempat dimana Aminah sedang duduk.
Aminah meminum gelas berisi juice segar rasa jeruk dengan pelan-pelan serta hati yang berdetak tidak menentu.
Kedua tangan Aminah bergetar hebat saat memegangi gelas yang ada di tangannya.
Shaheer sheikh melirik ke arah Aminah seraya memperhatikan kedua tangan gadis itu bergetar kencang.
''Dari mana kamu tadi ?'', tanya Shaheer Sheikh.
DEG !
Jantung Aminah langsung berdetak kencang saat Shaheer Sheikh bertanya padanya mengenai dirinya yang keluar rumah tanpa pamit serta tidak menunggu pria itu.
Aminah pergi begitu saja tadi karena dia takut jika rencananya untuk menyelidiki kasus kematian ayahnya akan gagal total kalau Shaheer Sheikh ikut bersama dengannya.
__ADS_1
Gadis berhijab itu terdiam tanpa berani memjawab pertanyaan dari Shaheer Sheikh dan duduk dengan pandangan tertunduk.
''Kenapa tidak jawab ? Dan kenapa tidak menungguku tadi ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Apa kamu membawaku kemari hanya untuk bertanya kemana aku keluar tadi ? Atau kamu sedang menyelidikiku ?'', tanya balik Aminah.
Shaheer Sheikh tertegun.
Mendesah pelan lalu duduk bersandar di bahu sofa panjang.
''Kamu tidak perlu merasa takut padaku atau aku akan menyelidikimu kemana kamu pergi karena itu hal biasa dalam keluarga Sheikh terutama keluargaku'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah semakin mengeratkan genggaman tangannya ke tas miliknya.
Tubuhnya gemetaran kencang saat Shaheer Sheikh bertanya padanya.
''Mathair tadi memanggilku untuk menemanimu keluar tapi kami tidak melihatmu di mana-mana, kemana kamu ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Aku...'', ucap Aminah ragu.
''Katakan saja padaku kemana kamu dan kenapa kamu langsung pergi tanpa aku menemanimu ?''
Ucapan Shaheer Sheikh penuh mengandung tekanan kuat sehingga membuat Aminah bertambah kebingungan untuk menjawabnya.
Shaheer Sheikh melirik ke arah kedua tangan Aminah yang bergetar saat memegangi tas miliknya.
Dia hanya tersenyum sembari mengalihkan pandangannya ke arah Aminah.
''Apa ada yang begitu rahasia hingga kamu enggan aku temani keluar, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Tidak, tidak ada yang rahasia karena aku hanya berniat keluar rumah saja untuk membeli sesuatu'', jawab Aminah.
Ekspresi wajah Aminah yang gugup tampak jelas oleh Shaheer Sheikh yang sejak tadi tengah memperhatikannya terus-menerus.
''Apa yang kamu beli ? Boleh aku melihatnya ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Tidak !?'', jawab Aminah cemas.
Tanpa dia sadari ucapannya bernada tinggi saat Shaheer Sheikh bertanya padanya.
''Kenapa ? Ada yang kamu sembunyikan dariku ? Bukankah aku merupakan calon tunanganmu ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Benar, tidak ada ! Karena barang yang ingin aku beli tadi sedang kosong stoknya karena itu aku tidak membeli apa-apa'', sahut Aminah.
''Hmmm... !? Aku mengerti...'', kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh beranjak berdiri dari bahu sofa dan berjalan pelan menuju ke arah meja kerjanya.
''Aku tadi menerima laporan dari beberapa anak buahku...'', kata Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu lalu duduk di balik meja kerjanya sembari menyandarkan tubuhnya dengan menatap lurus ke arah Aminah.
Aminah semakin kebingungan dan gugup ketika mendengar bahwa anak buah Shaheer Sheikh berhasil mengikuti dirinya.
''Kemana kamu tadi ?'', tanya Shaheer Sheikh mengulang pertanyaannya.
Aminah menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa berani untuk menjawab pertanyaan Shaheer Sheikh.
''Kamu tadi pergi ke kantor polisi ya ?'', kata Shaheer Sheikh lanjut.
Gadis cantik dengan hijabnya itu langsung mendongakkan kepalanya ke arah Shaheer Sheikh. Menatapnya dengan sorot mata tajam penuh hati-hati.
__ADS_1