
Amimah berjalan kembali ke arah ruang makan tempat Shaheer Sheikh sedang sarapan serta menunggu dirinya turun dari kamar.
''Pagi, Shaheer !'', sapa Aminah.
Aminah menarik kursi makan lalu duduk tepat di depan Shaheer Sheikh.
Mengambil sepiring ayam mentega dengan roti chapati tiga tumpuk.
Dilahapnya sarapan paginya hari itu senikmat mungkin tanpa memperdulikan kehadiran Shaheer Sheikh di ruang makan.
''Ehem ! Ehem ! Ehem !''
Suara Shaheer Sheikh berdehem keras sembari melirik Aminah yang terlihat acuh.
Aminah hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan kembali menikmati sarapannya, memasukkan sesuap demi sesuap ayam mentega dengan roti Chapati ke dalam mulutnya lahap.
''Apa seenak itu sarapan pagi ini ?'', sindir Shaheer Sheikh.
''Ya !?'', sahut Aminah seraya menoleh.
''Kamu sangat suka ayam mentega, ya, hingga kamu tidak terlalu memperhatikanku ?'', kata Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu menyuapkan roti Chapatinya dengan ayam mentega ke dalam mulutnya setelah berbicara dengan Aminah.
''Ayam mentega adalah makanan kegemaranku dan merupakan salah satu menu masakan favoritku dari menu masakan lainnya'', sahut Aminah sambil mengunyah.
''Kalau begitu aku akan menyuruh Raaida untuk memasak ayam mentega setiap harinya agar kamu bisa menikmati menu favoritmu itu'', ucap Shaheer Sheikh.
''Untukku !?'', kata Aminah terbelalak kaget.
''Iya ! Untuk siapa ? Aku ? Aku tidak terlalu suka makanan berlemak dengan mentega berlebih atau manisan'', sahut Shaheer Sheikh.
''Wow ! Kamu baik sekali..., tumben !?'', kata Aminah.
''Terimakasih atas pujiannya ! Dan semoga datangnya dari hatimu...'', jawab Shaheer Sheikh.
''Tentu saja ! Mana pernah aku berkata tanpa hati kecuali orang yang tidak memiliki perasaan tentunya tidak punya hati baik !'', sahut Aminah.
''Apa kata-kata itu teruntuk diriku !?'', ucap Shaheer Sheikh.
''Oh, tidak ! Aku tidak berbicara tentangmu tapi aku bicara masalah kepedulian hati nurani yang berasal dalam hati'', sahut Aminah.
Aminah menghabiskan sarapannya dengan cepat kemudian meminum teh hangat yang tersedia di atas meja makan dalam sepoci teh buatan tangan.
Dituangkannya poci teh itu ke dalam cangkir minuman lalu menghirupnya dengan nikmat kemudian ditegaknya secangkir teh ditangannya.
Shaheer Sheikh hanya melirik ke arah Aminah tanpa berucap sepatah katapun sembari menegak segelas air.
''Kamu tidak suka minum teh di pagi hari, Shaheer ?'', tanya Aminah.
''Tidak ! Aku tidak terlalu suka teh karena harus mencampurnya dengan gula dan aku tidak suka sesuatu yang terlalu manis'', jawab Shaheer Sheikh.
__ADS_1
''Cobalah ! Teh hangat ini sangat enak sekali dan baik untuk perutmu supaya hangat di awal kamu memulai kegiatan pada pagi hari, Shaheer !''
Kata Aminah seraya menyodorkan secangkir teh hangat kepada Shaheer Sheikh.
''Ehk !?'', gumam Shaheer Sheikh agak terkejut.
''Minumlah !'', ucap Aminah.
''Emmm...'', sahut Shaheer Sheikh.
Wajah Shaheer Sheikh terlihat bingung ketika Aminah memberinya secangkir teh hangat kepadanya tetapi dia tetap menerima cangkir itu.
''Terimakasih'', ucap Shaheer Sheikh canggung.
Meskipun dia tidak langsung meminum cangkir berisi teh yang diberikan oleh Aminah kepadanya dan hanya memandanginya saja.
Shaheer Sheikh tetap mencoba meminumnya walaupun dia tidak terlalu suka.
''Bagaimana ? Rasanya enak bukan ? Apa terasa hangat dibadan ?'', kata Aminah.
''Mmm... Uhuk ! Uhuk !'', Shaheer Sheikh tersedak saat meminum teh itu.
''Ya Ampun ! Maafkan aku ! Seharusnya aku tidak memaksamu untuk meminum teh itu jika kamu tidak bisa meminumnya, Shaheer !'', sesal Aminah.
Aminah beranjak berdiri seraya menghampiri Shaheer Sheikh yang duduk di seberang meja makan yang terbatuk-batuk akibat tersedak minuman teh.
''Maafkan aku, Shaheer !'', ucap Aminah. ''Oh, Tuhan ! Aku tidak seharusnya memaksamu tadi !? Karena aku pikir itu akan membuatmu menjadi baik...'', sambungnya.
Aminah berdiri dengan pandangan penuh sesal ketika dia melihat Shaheer Sheikh seperti itu karena ulahnya.
Dia mengambil segelas air minuman cepat-cepat lalu memberikannya kepada Shaheer Sheikh agar dia merasa baikan.
''Minumlah air putih ini dulu, Shaheer ! Dan tolong maafkan aku atas kelancanganku padamu !'', kata Aminah.
Shaheer Sheikh meneguk air putih yang diberikan oleh Aminah kemudian bersandar pelan ke kursi sambil memejamkan kedua matanya.
Menghela nafas panjang lalu kembali membuka kedua matanya seraya menoleh ke arah Aminah yang berdiri disebalahnya.
''Apa kita jadi pergi sekarang ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''T--tapi... Apa kamu baik-baik saja saat ini ?'', kata Aminah.
Aminah terlihat ragu-ragu saat melihat Shaheer Sheikh setelah tersedak tadi.
Ada rasa sesal yang diam-diam merambati hati Aminah ketika Shaheer Sheikh menderita karena ulahnya.
''Maafkan aku, Shaheer ! Seharusnya aku tidak melakukannya padamu...'', kata Aminah sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Aminah mundur beberapa langkah ke belakang kemudian berdiri menatap Shaheer Sheikh penuh sesal.
''Betapa bodohnya aku !? Oh, Tuhan !? Aku memang bodoh !'', ucap Aminah.
__ADS_1
''Tidak apa-apa, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu lalu berjalan mendekat ke arah Aminah kemudian tersenyum ramah pada gadis berhijab itu.
''Kita berangkat sekarang, Aminah'', kata Shaheer Sheikh.
''Ehk !? Kemana ?'', tanya Aminah kaget.
''Kemana ? Apa kamu lupa rencana kita sebelumnya, Aminah ?'', sahut Shaheer Sheikh.
''Oh !? Aku hampir melupakannya ! Kita akan ke pelabuhan, bukan !?'', kata Aminah.
''Hmmm, itu benar sekali ! Kita pergi sekarang karena jarak ke pelabuhan cukup jauh dan menyita banyak waktu saat menempuh perjalanan kesana'', ucap Shaheer Sheikh.
''B--baiklah, baiklah, kita pergi sekarang juga karena tidak baik menunda waktu terlalu lama'', sahut Aminah.
Aminah membenahi gaunnya serta letak hijabnya sebelum dia pergi dari ruangan makan.
''Pelabuhan yang nanti kita kunjungi lumayan banyak dan jarak yang akan kita tempuh juga sangat jauh dari arah kota'', kata Shaheer Sheikh.
''Iya, aku mengerti'', ucap Aminah.
Aminah terlihat tergesa-gesa saat berjalan kemudian dia menghentikan langkah kakinya lalu menolehkan kepalanya.
''Tunggu, Shaheer Sheikh !'', kata Aminah.
''Iya ? Kenapa ?'', tanya Shaheer Sheikh.
Dia membalikkan badannya menghadap Aminah yang berjalan ke arah meja makan.
''Aku belum membersihkan meja makan setelah kita sarapan. Dan tunggulah sebentar karena aku akan membawa makanan ini ke dapur'', kata Aminah.
''Tidak perlu, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh. ''Biarkan Raaida dan lainnya yang membersihkan meja makan !'', sambungnya.
''Ta--tapi !?'', ucap Aminah bingung.
''Astaga !'', gumam Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu berjalan mendekati Aminah lalu menarik tangan gadis cantik itu agar menjauh dari meja makan.
''Ayo, Aminah ! Kita pergi dari sini !'', kata Shaheer Sheikh.
''Ehk !? Ta--tapi !? Tapi Shaheer Sheikh ?'', sahut Aminah bimbang.
''Jangan kamu pikirkan lagi tentang sisa makanan pagi ini ! Itu bukan tugasmu untuk membersihkannya ! Biarkan Raaida yang melakukan pekerjaan itu karena itu memang tugas dia di rumah ini !''
Shaheer Sheikh menarik tangan Aminah cepat lalu mengajaknya pergi dari ruangan makan kearah luar ruangan.
Mereka berjalan menuju ke pintu depan rumah yang terbuka sebagian pintunya dengan langkah terburu-buru.
Aminah berjalan dibelakang Shaheer Sheikh dengan bergandengan tangan dan sesekali dia melirik ke arah Shaheer Sheikh yang ada didepannya.
__ADS_1