
Shaheer Sheikh memarkir mobil di halaman hotel karena ada berita jalan menuju ke perumahan tempat tinggal keluarga besar Sheikh kini tertutup oleh hujan lebat yang menumbangkan pohon-pohon hingga menutupi area jalan raya menuju rumah.
Mengambil payung yang selalu tersedia di dalam mobil sambil berkata pada Aminah.
"Ayo, Aminah ! Kita keluar sekarang dari dalam mobil karena kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan kita pulang !", kata Shaheer Sheikh.
Aminah terburu-buru membuka pintu mobil seraya keluar dengan membuka payung.
Gadis berhijab itu berlari mengikuti Shaheer Sheikh dari arah belakang menuju ke arah hotel mewah yang ada di depannya.
Shaheer Sheikh masuk ke dalam hotel sembari menutup payung lalu melangkah menuju ke arah meja resepsionis untuk memesan kamar.
"Selamat malam, pak ! Selamat datang di hotel kami... Ada yang bisa kami bantu pak ?", sapa seorang pria di meja resepsionis ramah.
"Selamat malam..., aku ingin memesan dua kamar untuk kami berdua, hanya semalam saja. Apakah masih ada kamar kosong ?", sahut Shaheer Sheikh.
"Tunggu sebentar, pak. Akan saya lihat dulu, apa masih ada kamar kosong untuk anda", kata resepsionis hotel.
"Ya, aku akan menunggunya", jawab Shaheer Sheikh.
Petugas hotel itu lalu mulai memeriksa kamar yang masih tersedia di hotel sedangkan Shaheer Sheikh berdiri menunggu di depan meja resepsionis.
Pria tampan itu mengibaskan rambutnya yang basah oleh air hujan saat dia berdiri di dekat meja penerimaan tamu hotel.
Aminah berjalan menghampiri Shaheer Sheikh dengan raut wajah gelisah.
"Apa kita akan menginap di hotel ?", tanya Aminah tegang.
Shaheer Sheikh lalu menghentikan gerakan tangannya seraya melirik ke arah Aminah yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa ?", sahut singkat Shaheer Sheikh.
"Kenapa ? Maksudmu ?", tanya Aminah.
"Bukankah kamu bertanya padaku, apakah kita akan menginap di hotel ?", sahut Shaheer Sheikh.
"Iya, lalu...", kata Aminah gugup.
"Lalu !? Lalu apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Aminah ? Dan apa yang sedang kamu pikirkan ?", sahut Shaheer Sheikh.
"Mmmm... !?'', gumam Aminah gelisah.
Shaheer Sheikh memandangi Aminah yang berdiri di hadapannya dengan mengerutkan dahinya.
"Apa kamu berpikir bahwa aku akan mengajakmu tidur bersamaku dalam satu kamar ?", tanya Shaheer Sheikh.
"Tidak...", jawab Aminah.
"Lantas kenapa kamu masih terlihat kebingungan seperti itu ?", kata Shaheer Sheikh.
__ADS_1
"Aku !?", ucap Aminah bingung.
"Iya, lalu siapa yang sedang berbicara denganku sekarang ? Dengan makhluk asing dari luar angkasa ? Ataukah sosok tak kasat mata ?", kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh terlihat gemas saat melihat Aminah yang polos serta berpikiran dangkal terhadap dirinya.
"Seharusnya aku tidak membawa sebuah boneka hidup !?", kata Shaheer Sheikh.
Aminah langsung menengadahkan pandangannya ke arah Shaheer Sheikh dengan wajah merah padam ketika mendengar jawaban dari pria maskulin itu.
"Apa maksudmu ?", ucap Aminah.
Sebelum Shaheer Sheikh menjawab perkataan Aminah, terdengar suara memanggil dari arah meja resepsionis.
"Maaf, pak !", kata petugas hotel.
"Iya, ada apa ?", sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh lalu menolehkan kepalanya ke arah petugas hotel.
"Setelah kami melihat kamar yang tersedia untuk malam ini ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa di ruang VIP, pak", terang petugas hotel.
"Satu kamar !?", kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh lantas melirik ke arah Aminah yang berdiri disampingnya sambil melihat ke arah petugas resepsionis hotel.
"Maaf, pak... Hanya ada satu kamar dan itupun sudah dipesan untuk besok pagi, dan anda hanya bisa menginap hanya sampai jam 4 pagi, pak...", sahut petugas hotel.
"Astaga !?", keluh Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh mengusap salah satu matanya kemudian menyahut ucapan petugas hotel.
"Apa jadi memesannya, pak ?", tanya petugas resepsionis lagi.
"Tentu saja, aku harus memesan kamar di hotel ini karena aku harus menginap sampai besok pagi", sahut Shaheer Sheikh cepat.
"Baiklah, kami akan mengurus semua keperluan administrasi anda untuk menginap di hotel kami, pak", kata petugas hotel.
Petugas hotel segera mengurus administrasi untuk menginap agar Shaheer Sheikh dan Aminah dapat secepatnya mendapatkan kamar di hotel.
Aminah semakin gugup serta gelisah saat mendengar pembicaraan antara Shaheer Sheikh dan petugas hotel.
Momen ini adalah momen untuk pertama kalinya bagi Aminah menginap bersama seorang pria di hotel meski Shaheer Sheikh bukan pria asing tetap Aminah tidak dapat menutupi rasa canggungnya serta kegelisahannya saat dia harus menghabiskan malam bersama, hanya berdua dengan Shaheer Sheikh di dalam satu kamar.
Aminah berkali-kali menata kain hijabnya yang kerap bergeser dari kepalanya dengan kedua tangan gemetaran.
Dilihatnya Shaheer Sheikh yang hanya diam tanpa ekspresi sedang menyelesaikan urusan menginap di meja resepsionis hotel.
Tidak terlihat jika Shaheer Sheikh akan bersikap canggung meski mereka berdua akan menginap dalam satu kamar sedangkan Aminah mulai dilanda kecemasan yang berlebihan saat mengetahui bahwa dirinya dan Shaheer Sheikh akan menghabiskan waktu malam mereka dalam satu kamar.
__ADS_1
"Ini tidak benar... Bagaimana aku dapat menginap satu kamar di hotel ini bersama seorang pria ? Meski pria itu adalah Shaheer Sheikh, calon tunanganku... !?"
Aminah bergumam lirih sambil memperhatikan Shaheer Sheikh yang telah selesai mengurus urusan administrasi menginap di hotel ini.
"Apakah aku sebaiknya menolaknya dan memilih tidak tidur satu kamar dengannya tapi aku akan tidur dimana sekarang sedangkan hujan badai masih terus berlangsung, entah sampai kapan !?"
Batin hati Aminah saat melihat Shaheer Sheikh yang telah berjalan meninggalkan area meja resepsionis.
"Aminah !", panggil pria tampan itu.
Shaheer Sheikh menghentikan langkah kakinya seraya menoleh ke arah Aminah yang masih berdiri termenung dekat meja resepsionis hotel.
"Apa kamu akan terus berdiri diam mematung sampai esok hari disana, Aminah ?"
Kata-kata Shaheer Sheikh langsung membuyarkan lamunan Aminah yang tergesa-gesa berjalan ke arah Shaheer Sheikh.
"A-aku..., sebaiknya tidur didalam mobil saja...karena aku tidak mungkin tidur dalam satu kamar denganmu...", ucap Aminah gugup.
Pandangan Shaheer Sheikh langsung terangkat dengan kedua mata menatap dingin Aminah.
"Kau tidak berpikiran bahwa aku akan menidurimu, bukan ?", kata Shaheer Sheikh.
Aminah langsung tersentak kaget dan hampir tidak percaya mendengar ucapan Shaheer Sheikh yang menuduhnya bahwa dia mencurigai pria tampan itu.
"Shaheer..., bukan begitu maksud ucapanku !? Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku menaruh curiga kepadamu...", sahut Aminah.
"Lantas kenapa kamu enggan tidur satu kamar denganku ? Apa yang kamu pikirkan, Aminah ?", kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menatap Aminah dengan memicingkan kedua matanya sambil berdecak cepat.
"Ck... ! Tidak ada pikiran ku untuk melakukannya kepadamu karena aku akan menjaga diriku sendiri dari hal buruk...", lanjut Shaheer Sheikh.
"Maafkan aku...", sahut Aminah.
Wajah Aminah langsung berubah memerah ketika mendengar jawaban yang diucapkan oleh Shaheer Sheikh.
"Pikirkan saja sekarang bahwa kita akan beristirahat ! Itu saja ! Dan jangan berpikir yang tidak-tidak lagi !", kata Shaheer Sheikh.
"Mmm..., aku mengerti...", sahut Aminah.
Aminah tetap tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya serta canggungnya saat dia harus mengetahui bahwa dia akan satu kamar dengan Shaheer Sheikh.
Hujan badai malam itu telah menjebak mereka harus terpaksa menghentikan perjalanan mereka menuju pulang ke rumah keluarga besar Sheikh setelah mereka berbelanja di Mall untuk membeli barang-barang belanjaan pesanan Jannah Sheikh.
Jalan-jalan yang menuju ke arah kediaman keluarga besar Sheikh semuanya telah tertutup oleh pohon-pohon yang tumbang ke jalan sehingga pihak petugas terpaksa menutup jalan yang menuju ke arah rumah.
Badai hujan yang lebat malam itu memaksa Aminah dan Shaheer Sheikh harus menginap di hotel karena hal itu tidak memungkinkan bagi mereka berdua untuk terus melanjutkan perjalanan mereka pulang malam itu.
Shaheer Sheikh memesan kamar hotel untuk mereka berdua menginap karena mereka tidak mungkin akan tidur di dalam mobil yang tentunya akan membahayakan keselamatan mereka jika nekat tinggal di dalam mobil saat cuaca buruk melanda New Delhi.
__ADS_1