
Aminah berjalan mengikuti langkah Shaheer Sheikh yang berjalan cepat menuju ke arah kamar hotel yang dipesan oleh Shaheer Sheikh untuk mereka menginap semalam.
Langkah kaki mereka terdengar berbunyi keras saat keduanya mencapai Lift untuk naik ke atas kamar hotel.
Sepuluh menit kemudian...
Keduanya telah sampai di depan pintu kamar hotel.
Shaheer Sheikh membuka pintu kamar hotel lalu masuk dengan langkah panjangnya ke dalam ruangan kamar yang luas serta sangat mewah.
Aminah berjalan mengikuti langkah Shaheer Sheikh dengan perlahan kemudian memperhatikan ruangan kamar hotel yang terasa lenggang.
BRUK... !
Shaheer Sheikh melemparkan badannya ke atas tempat tidur seraya merentangkan kedua tangannya lalu mendesah keras.
"FUIHHH... ! Ternyata melelahkan juga harus menyetir selama itu... !?", ucap Shaheer Sheikh.
"Apa kau perlu minuman ?", tanya Aminah.
"Tidak, aku cuma merasa lelah saja, bukan karena ingin minum sesuatu, Aminah", sahut Shaheer Sheikh.
"Jika kamu merasa lelah, aku akan membelikanmu minuman diluar...", kata Aminah.
Aminah hendak melangkah keluar dari kamar hotel tetapi Shaheer Sheikh lalu mencegahnya.
"Tidak perlu, Aminah ! Aku tidak menginginkannya !", sahut Shaheer Sheikh.
"Mmm..., baiklah..., katakan saja padaku jika kamu memerlukan sesuatu, Shaheer...", kata Aminah.
Aminah berjalan menuju ke arah sofa panjang yang ada di dekat dinding kamar hotel lalu duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih setelah seharian berbelanja di Mall.
Diletakkannya tas miliknya di atas meja dekat sofa lalu Aminah membaringkan tubuhnya terlentang di sofa panjang hotel.
Aminah berusaha memejamkan kedua matanya untuk tidur seraya membalik tubuhnya menghadap bahu sofa.
Shaheer Sheikh beranjak duduk serta memperhatikan Aminah yang lebih memilih berbaring di atas sofa serta menghadap ke arah bahu sofa membelakangi Shaheer Sheikh.
"Kenapa kamu memilih tidur di sofa ?'', tanya Shaheer Sheikh.
Tidak ada jawaban dari gadis cantik itu saat dia berbaring di sofa yang letaknya dekat dinding kamar.
''Aminah...", panggil Shaheer Sheikh.
Tetap tidak ada jawaban dari Aminah, tampak Shaheer Sheikh mulai tidak sabar dan beranjak berdiri dari atas tempat tidur.
Pria tampan itu lalu berjalan menghampiri sofa dimana Aminah tidur di atasnya.
"Apa kamu sudah tidur, Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah tidak menjawab ucapan Shaheer Sheikh dan tetap terbaring diam.
"Aminah !", panggil Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh lalu berjalan cepat ke arah dinding kamar kemudian menyalakan semua lampu kamar tidur hingga suasana kamar menjadi terang benderang.
Aminah tersentak kaget saat Shaheer Sheikh menarik tangannya kasar hingga dia hampir terjatuh dari atas sofa.
"AAAKHHH... !", jerit Aminah.
Gadis berhijab itu bersandar di pundak Shaheer Sheikh saat pria tampan itu menariknya dari sofa.
__ADS_1
BRUK !
Wajah Aminah menempel tepat di depan bahu Shaheer Sheikh dan berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu dari cengkraman tangannya.
Aminah menjauhkan dirinya dari Shaheer Sheikh tetapi pria tampan itu langsung menarik tangan Aminah kembali.
"Apa maumu Shaheer ? Kenapa kamu membangunkanku ?", kata Aminah.
Aminah meronta pelan seraya berusaha melepaskan tangannya dari Shaheer Sheikh.
"Lepaskan tanganku, Shaheer !", ucap Aminah.
"Kenapa kamu menghindariku, Aminah ?", kata Shaheer Sheikh.
"Apa maksudmu ?", tanya Aminah sambil menatap dalam Shaheer Sheikh.
"Bukankah kita sudah sama-sama mengerti isi hati kita masing-masing ?", kata Shaheer Sheikh.
Aminah terdiam dan hanya menatap wajah Shaheer Sheikh dengan wajah tanpa ekspresi sedangkan dirinya berusaha menjauh dari Shaheer Sheikh.
"Aku tidak mengerti, Shaheer", kata Aminah.
"Aminah ! Dengarkan aku !", sahut Shaheer Sheikh.
"Tidak, aku tidak mau !", ucap Aminah.
"Aku menaruh hati padamu dan ijinkanlah aku bersamamu, Aminah !", kata Shaheer Sheikh.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu !? Untuk apa kamu mengatakan hal itu sekarang ?", sahut Aminah.
"Tidak pahamkah dengan yang aku ucapkan padamu bahwa aku mulai menyukaimu saat kita dermaga waktu itu !?", tegas Shaheer Sheikh.
"Aku tahu itu, Shaheer...", ucap Aminah.
"Untuk apa aku mendengarkanmu ?", jawab Aminah.
"Kita bukan lagi pasangan anak muda yang baru mengenal akan cinta, Aminah", kata Shaheer Sheikh.
"Tapi kita tidak saling memiliki rasa itu, Shaheer... Tidak sama sekali...", sahut Aminah.
"Apa kau tidak mempercayaiku ? Apa kau tidak percaya akan ucapanku, Aminah ?", tanya Shaheer Sheikh.
"Apa yang harus aku percayai ? Dan apa yang harus dibuktikan sekarang, Shaheer ?", kata Aminah.
"Aku menyukaimu...", ucap Shaheer Sheikh.
Aminah hanya memandangi Shaheer Sheikh dengan tatapan sendu, berusaha untuk percaya akan ucapan pria yang akan menjadi tunangannya sebentar lagi.
Namun, hati kecil Aminah menolak untuk percaya padanya bahkan selalu berbisik bahwa mereka tidak mungkin bersama.
Aminah menundukkan wajahnya dari pandangan Shaheer Sheikh yang menatapnya lekat-lekat.
Gelisah saat Shaheer Sheikh terang-terangan menyukainya meski Aminah tahu bahwa itu tidaklah benar adanya.
Aminah menarik tangannya dari genggaman Shaheer Sheikh seraya menjauhkan dirinya dari pria tampan itu.
Hanya saja Shaheer Sheikh langsung menahannya lalu menarik Aminah kedalam pelukannya.
Mendekapnya erat seakan-akan tidak ingin melepaskan gadis cantik berhijab itu darinya.
Aminah menjadi bingung dengan sikap Shaheer Sheikh yang memperlihatkan seluruh perasaannya dengan memberikan perhatian lebih pada Aminah.
__ADS_1
''Ijinkanlah aku memilikimu, Aminah...", bisik lembut Shaheer Sheikh.
Aminah tersentak pelan saat Shaheer Sheikh membisikkan keinginannya untuk memiliki dirinya.
"Shaheer... Apa maksudmu ?", kata Aminah.
"Katakanlah bahwa kau juga menyukaiku dan menginginkanku, Aminah !", bisik Shaheer Sheikh.
"Tidak, Shaheer !", sahut Aminah.
Aminah berusaha melepaskan dekapan Shaheer Sheikh dan menarik dirinya menjauh dari pria tampan itu.
Shaheer Sheikh dengan cepatnya menarik tubuh Aminah kembali kedalam pelukannya.
"Berhentilah untuk terus-menerus menolakku, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh.
"Tidak..., aku tidak bisa, Shaheer...", sahut Aminah. "Aku tidak bisa...", sambungnya.
Aminah melepaskan dekapan Shaheer Sheikh seraya mencoba melangkah pergi tetapi Shaheer Sheikh selalu menahannya agar gadis cantik itu tetap bersama dengannya.
"Aku mohon padamu, Aminah...", bisik lembut Shaheer Sheikh.
"Apa ?", jawab Aminah dengan tatapan teduh.
"Tolong bersamaku ! Dan jangan menjauhiku, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menarik Aminah bersama dengannya ke arah tempat tidur agar dia mau berbaring bersamanya malam itu.
Aminah yang terlihat enggan lalu mencoba menahan tubuhnya agar tidak naik ke tempat tidur bersama Shaheer Sheikh.
"Percayalah padaku, Aminah !", bisik lembut Shaheer Sheikh.
"Tidak, Shaheer ! Ini tidak benar ! Kita tidak bisa melakukannya !", kata Aminah.
"Bulan safar nanti kita akan bertunangan yang artinya sebentar lagi kita bukan lagi pasangan biasa saja tetapi pasangan yang terikat tali pertunangan, Aminah", sahut Shaheer Sheikh.
"Shaheer Sheikh ! Aku tahu itu tetapi kita harus tetap bisa membedakan antara hubungan nyata dengan hubungan semu !", kata Aminah.
Shaheer Sheikh menatap Aminah dengan serius mencoba berusaha untuk menerima penjelasan kata-kata gadis cantik berhijab itu.
''Tapi aku tidak peduli akan semuanya, Aminah ! Karena yang aku pedulikan saat ini adalah kamu tetap bersama denganku, Aminah !", sahut Shaheer Sheikh.
"Aku tahu itu... Aku tahu itu, Shaheer...", kata Aminah.
"Lalu apa yang harus kamu pertanyakan lagi dari hubungan ini, Aminah ?", ucap Shaheer Sheikh.
"Entahlah, aku tidak tahu, Shaheer...", jawab Aminah.
''Jika kamu tidak tahu jawaban dari ucapanmu sendiri maka jangan pernah lagi untuk menolakku, Aminah !", sahut Shaheer Sheikh.
"Bukan aku yang menolakmu melainkan dirimu yang telah meragukanku, Shaheer", jawab Aminah.
"Meragukanmu ?", kata Shaheer Sheikh.
"Iya, hubungan ini palsu dan tidaklah nyata baik untukmu maupun untukku ! Dan kita sama-sama tahu bahwa kita selalu menjaga jarak satu dengan lainnya begitu kerasnya, Shaheer !", sahut Aminah.
"Tidak lagi... Tidak akan lagi aku melakukannya... Maafkan atas sikapku padamu, Aminah...", kata Shaheer Sheikh.
"Tapi semuanya sudah terlambat, Shaheer... Hubungan antara kita tidak bisa lagi diperbaiki maupun dipertahankan meski nantinya pertunangan akan tetap dilaksanakan, Shaheer...", ucap Aminah.
"Aminah...", sahut Shaheer Sheikh. "Tolonglah ! Jangan bersikap seperti itu, Aminah !", sambungnya.
__ADS_1
Aminah menggelengkan kepalanya berusaha menahan air matanya seraya menarik dirinya dari Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menarik kembali tangan Aminah serta memeluk tubuh gadis cantik itu dan membawanya ke atas tempat tidur untuk berbaring bersamanya, melepas penat letih malam itu di hotel mewah saat badai hujan menahan mereka yang telah menyebabkan keduanya tidak dapat kembali pulang ke rumah keluarga besar Sheikh.