Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Arsip Yang Ganjil


__ADS_3

Kedua tangan Aminah bergetar hebat saat memegangi dokumen yang ada ditangannya saat dia membacanya.


Pandangan Aminah langsung berubah asing serta tersirat kemarahan dari dalam kedua mata gadis berhijab itu.


''Ini... Ini tidak mungkin terjadi !", ucap Aminah bergetar hebat.


Dibaliknya lembar demi lembar dokumen pada map itu dengan tatapan gelisah.


"A-apa ini ??? A--pa ini ???'', ucapnya terbata-bata.


Aminah terus saja membolak-balikkan setiap halaman pada arsip berupa dokumen penting yang ada didalam map.


Gerakan tangannya kacau serta penuh kecemasan saat dia membuka tiap halaman arsip itu.


Hampir Aminah tidak mampu berkata-kata lagi ketika mengetahui isi dalam arsip.


''Ini tidak mungkin ??? Apa yang terjadi ???'', ucap Aminah.


Aminah langsung duduk tegak dengan pandangan yang menandakan dirinya benar-benar bingung.


Tangannya gemetaran saat memegangi map yang telah selesai dia baca.


''Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa ada catatan perjalanan bisnis milik baba ? Dan...'', ucap Aminah.


Aminah kembali membuka map ditangannya lalu membacanya lagi dengan teliti.


Lembar demi lembar dibukanya sembari terus membaca arsip itu tetapi pandangan Aminah telah kabur serta berubah aneh.


''Baba...'', gumam Aminah berkaca-kaca.


Menahan air matanya yang hendak tumpah karena membaca arsip ditangannya.


''Ini riwayat kematian baba !? Kenapa disini dikatakan bahwa baba mati bukan karena sakit seperti yang dikabarkan pihak rumah sakit lalu siapa baba yang ada di rumah sakit selama ini ?'', kata Aminah.


Ingatan Aminah melayang ke peristiwa dimana baba dirawat saat sakit setelah perjalanan terakhir bisnisnya dari New Delhi.


Baba jatuh sakit kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat karena kondisinya yang kritis akibat infeksi lambung akut menyebabkan baba tidak mampu bertahan lama hingga menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.


Hanya saja saat itu yang berada di rumah sakit adalah baba tetapi disini diriwayatkan baba meninggal karena kecelakaan kapal.


''Ini arsip yang ganjil !? Apa maksud dari ini semua ? Apakah ini misteri ?'', kata Aminah.


Aminah tanpa sadar menjatuhkan arsip yang dia pegang ditangannya hingga jatuh ke atas lantai.


Dia tersentak kaget kemudian cepat-cepat membereskan arsip di map itu.


''Sebaiknya aku cepat mencari jalan keluar dari tempat ini sebelum ada yang tahu aku disini'', kata Aminah.


Aminah langsung berdiri serta tergesa-gesa turun dari lantai atas aula itu.


''Emm ? Aku bawa saja arsip itu dan menyimpannya kemudian mencari tahu kebenarannya'', ucap Aminah.


Aminah menoleh kembali ke map yang berada di atas meja terburu-buru dia naik ke atas untuk mengambil map tersebut.


Terdengar langkah kaki orang sedang berjalan memasuki area aula.


''Ada orang ? Bagaimana ini ?'', gumam Aminah kalut.

__ADS_1


Suara pria sedang bercakap-cakap ketika masuk ke aula.


Aminah bingung harus bersembunyi dimana sedangkan ruangan itu terbuka luas dan memungkinkan orang akan melihatnya di lantai atas.


''Apa yang harus aku lakukan sekarang ?'', gumam Aminah cemas.


Aminah semakin gelisah hingga dia tidak mampu berpikir jernih serta memaksanya untuk waspada jika orang itu akan menemukannya disini.


Dia lantas berjongkok bersembunyi di balik meja ketika orang itu masuk ke dalam aula.


''Tidak ! Aku akan segera menyelesaikannya, bukan kendala besar !'', suara orang berbicara.


Aminah mengintip dari balik meja.


Alangkah kagetnya dia ketika mengetahui siapa orang yang masuk ke dalam aula itu.


''Tuan Salman !'', gumam Aminah berkeringat dingin.


Kedua tangan Aminah bergetar hebat sambil memegang map.


Tuan Salman Sheikh sedang berbicara di telepon ketika dia berada di aula.


Pria tua itu lalu memutar badannya seperti sedang mencari sesuatu di ruangan ini. Sambil terus berbicara di telepon, tuan Salman berjalan mengelilingi lemari.


Berhenti tepat di depan lemari besar seraya melihatnya.


''Saya akan mengirim laporannya untuk proyek itu mungkin butuh beberapa hari sampai ke tempat anda'', ucap tuan Salman Sheikh.


Pria berturban dengan telepon seluler ditangannya meraih arsip dari lemari.


Dilihatnya map yang dia pegang kemudian ditutupnya telepon.


Pria tua itu memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu membuka map ditangannya.


''Ini dokumen yang aku butuhkan untuk proyek itu'', ucap tuan Salman Sheikh.


Tuan Salman Sheikh lalu melangkah pergi dari ruangan aula dengan membawa map ditangannya.


Tiba-tiba pria tua itu berhenti seraya memutar badannya ke arah sekitar aula.


Memperhatikan aula yang sepi tanpa seorangpun berada di aula itu.


Tuan Salman Sheikh melangkahkan kakinya pelan-pelan menuju tengah ruangan aula dengan pandangannya terarah lurus ke depan.


Dia sepertinya mencurigai sesuatu di lantai atas aula.


Namun, suara telepon miliknya berdering keras dari arah sakunya sehingga memaksanya untuk berhenti.


KRING... KRING... KRING...


Bunyi telepon selulernya berdering nyaring, membuat pria tua itu mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai atas aula.


Tergesa-gesa diambilnya telepon miliknya lalu menjawab panggilan telepon sambil berbalik, meninggalkan ruangan aula cepat-cepat.


Aminah menghela nafas panjang ketika tuan Salman Sheikh tidak jadi memeriksa aula.


''Aku harus pergi dari aula ini sebelum pria tua itu kembali kemari'', gumam Aminah.

__ADS_1


Ditolehnya sekitar ruangan aula serta lemari yang ada dibelakangnya.


Aminah melihat celah didinding kemudian dia berdiri cepat, melangkah menuju dinding yang ada dibelakangnya.


Memeriksanya seraya meraba dinding yang bercelah itu.


''Sepertinya ada ruangan lain di balik dinding ini'', ucap Aminah.


Aminah mencoba melihat celah didinding tanpa sengaja dia menempelkan badannya ke lemari didepannya.


KRAK !


Lemari itu terbuka lebar sehingga menyebabkan Aminah jatuh terdorong ke sisi lain ruangan.


Pada saat Aminah berada di ruangan lain, lemari yang ada dibelakangnya langsung tertutup kembali.


Hanya ada dinding putih yang terlihat dihadapannya sedangkan lemari yang tadi terbuka, tidak tampak lagi.


Aminah terdiam melamun memandangi dinding polos didepannya tanpa dia sangka akan melihat hal langka dan seunik itu.


''Apa ini ?'', gumam Aminah.


Dia melangkah ke arah dinding sembari menyentuh permukaan dinding putih didepannya.


''Ini pintu rahasia...'', ucapnya.


Aminah membalik badannya dan dilihatnya ruangan luas yang terhubung ke rumah.


''Aku rupanya telah kembali ke dalam rumah lagi'', katanya lega.


Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang.


''Sebaiknya aku cepat ke kamarku agar tidak ada yang melihatku disini'', ucapnya seraya menyembunyikan map ditangannya dari balik kain hijabnya.


Aminah melangkah cepat menuju kamarnya tanpa menoleh kembali.


Setengah berlari kecil sambil mempercepat langkah kakinya ke kamar tidurnya.


Dibukanya cepat-cepat pintu kamar tidurnya kemudian masuk ke dalam kamar dengan tidak lupa menutupnya kembali.


KRIET...


Aminah berjalan ke arah tempat tidurnya lalu duduk sambil mengeluarkan map yang dia sembunyikan dari balik kain hijabnya.


''Apa yang terjadi padamu baba ?'', gumam Aminah.


Gadis itu memandangi map yang dia bawa dari aula dengan cukup lama.


Termenung sesaat kemudian membukanya perlahan seraya membaca arsip ditangannya itu kembali dengan serius.


''Aku harus mencari tahu kejadian yang sebenarnya yang terjadi padamu baba dan menemukan kunci misteri itu'', kata Aminah.


Pandangan Aminah sendu, mengenang kembali peristiwa saat baba dikirim ke rumah sakit setelah perjalanan bisnisnya tanpa sempat pulang ke rumah.


Saat itu baba langsung dirawat di rumah sakit setelah datang dari New Delhi dalam keadaan kritis dan dilarikan ke rumah sakit.


Tidak ada firasat apa-apa yang dialami oleh mathair maupun Aminah saat itu.

__ADS_1


__ADS_2