
Aminah masih memegangi bagian perutnya yang terasa perih meski demikian dia mencoba memaksakan dirinya untuk berjalan kembali.
Disisi lain Raaida terus memegangi Aminah saat dia hendak melanjutkan langkah kakinya.
"Biarkan aku berjalan sendiri, Raaida !", ucap Aminah.
"Cobalah untuk tidak memaksakan dirimu, nona Aminah !", sahut Raaida.
"Tapi aku harus mencarinya...", ucap Aminah.
"Aku tahu itu tetapi kondisimu benar-benar mengkhawatirkan, tidak baik terus dipaksakan, nona", kata Raaida.
"Tidak..., Raaida...", sahut Aminah.
Aminah menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha menepis kecemasan Raaida padanya.
Mencoba kembali untuk berjalan meski tubuhnya terasa sakit.
"Uhk !?", ucap Aminah.
"Lihatlah ! Kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, nona Aminah !", sahut Raaida.
"Tidak apa-apa...", kata Aminah mencoba tersenyum.
"Coba lihat wajahmu, sangat pucat sekali, nona !", ucap Raaida panik.
"Percayalah padaku !", sahut Aminah.
Raaida tampak gelisah bahkan kedua tangannya turut gemetar saat memegangi Aminah.
Raut wajahnya sangat sedih, harus melihat kepedihan yang dialami oleh Aminah saat ini.
Bagi Raaida ini bukanlah hal yang sepatutnya diterima oleh Aminah karena Raaida menganggap nonanya merupakan orang yang paling baik.
Raaida mengikuti langkah Aminah yang berjalan disampingnya dengan langkah tertatih-tatih.
"Kita pergi kesana, Raaida !", ucap Aminah.
"Baik, nona Aminah", sahut Raaida.
Tatapan Raaida terarah lurus ke anak tangga yang berada bersembunyi disudut area sisi lain dari koridor.
"Bagaimana nona Aminah akan melanjutkan ini sedangkan dia harus melewati anak tangga yang begitu tingginya ?"
Gumam Raaida saat melihat ke arah tangga di sudut ruangan.
Raaida menoleh kembali ke arah Aminah yang berdiri disisi kanannya sedang berusaha untuk melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana nona akan kesana ?", tanya Raaida.
"Aku akan mencobanya naik ke atas sana, Raaida...", sahut Aminah.
"Ta--tapi..., nona harus menaiki tangga untuk sampai ke kamar tuan", ucap Raaida.
"Aku tahu itu...", ucap Aminah.
"Ya, Tuhan !!!", pekik Raaida.
"Tolong, bantu aku untuk berdiri, Raaida !", pinta Aminah.
"Baik, nona", jawab Raaida.
"Kita akan kesana, Raaida", ucap Aminah.
"Ya, aku tahu itu", sahut Raaida.
Aminah melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah menuju ke arah tangga di sudut ruangan koridor.
Berjalan sambil meraba permukaan dinding didekatnya saat dia mencoba mengangkat kedua kakinya.
__ADS_1
Berat...
Itu yang kini dirasakan oleh Aminah saat dia mencoba melangkahkan kedua kakinya, tidak terasa lagi ringan seperti saat pertama Aminah berjalan di awal acara pertunangannya.
Langkah kaki Aminah terasa sangat berat ketika dia mencoba berjalan kembali.
Keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya yang mulai memucat pasi, suhu dingin tubuhnya mulai meningkat seiring kaki-kakinya melangkah.
Kedua tangannya kebas, tak lagi dia rasakan sesuatu yang menyentuh tangannya bahkan saat Raaida menahannya karena hendak terjatuh, Aminah seolah-olah tak merasakan genggaman kencang di kedua lengannya.
"Hati-hati, nona Aminah !", ucap Raaida.
Raaida dengan sigapnya menahan tubuh Aminah yang hampir terjatuh saat akan berjalan menuju ke tangga.
"Maaf, aku kurang hati-hati...", sahut Aminah.
"Tidak apa-apa, tapi cobalah untuk tidak terlalu memaksakan dirimu, nona Aminah", ucap Raaida.
"Ya, aku mengerti...", sahut Aminah.
Aminah dan Raaida berjalan menuju tangga yang tersedia di sudut ruangan koridor.
Keduanya tampak melangkah mendekati anak-anak tangga menuju ke ruangan di lantai atas.
Aminah berpegangan pada kayu disisi-sisi tangga.
"Hati-hati, nona...", ucap Raaida.
"Iya, Raaida...", sahut Aminah.
Aminah mengangkat kedua kakinya ke atas tangga, mencoba berjalan menaiki anak-anak tangga.
Namun, dia merasakan kembali perih di bagian perutnya hingga menghentikan setengah langkahnya.
"Apa anda baik-baik saja ?", tanya Raaida.
"Yah, aku baik-baik saja", sahut Aminah.
"Perhatikan langkah kakimu, nona Aminah !", ucap Raaida.
"Ya, aku tahu itu", sahut Aminah.
"Kamar tuan Shaheer berada jauh diatas, apa nona masih bisa meneruskannya ?", kata Raaida.
"Tentu, aku masih bisa bertahan, percayalah, aku masih cukup kuat sampai kesana", sahut Aminah.
"Aku sepertinya yang harus berobat sekarang, kepalaku terasa pusing sekali dan aku tidak tahu cara untuk mengatasi sakit di kepalaku ini", ucap Raaida.
"Jika kau tidak mampu menemaniku, jangan kau coba paksakan, Raaida", kata Aminah
"Oh, tidak, tidak seperti itu !", sahut Raaida.
"Bisakah kita lanjutkan kembali tujuan kita karena aku tidak ingin terlambat untuk mengetahui yang terjadi, Raaida", ucap Aminah.
"Ya, tentu saja ! Aku akan bersemangat lebih dari sebelumnya !", sahut Raaida.
Aminah tersenyum tipis lalu melanjutkan kembali langkah kakinya menaiki anak-anak tangga.
Sebuah tangga yang dihiasi oleh permadani terhampar di atas permukaan anak-anak tangga di hadapan mereka saat keduanya naik.
Aminah terus berjalan sambil berpegangan tangan ke atas pegangan kayu yang ada di sisinya.
Tap... ! Tap... ! Tap... !
Terdengar suara langkah kaki Aminah dan Raaida saat mereka naik ke atas.
Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, Aminah mencoba memaksakan dirinya tetap menaiki tangga hingga mencapai lantai atas ruangan.
"Fuih !? Akhirnya sampai juga kita di lantai atas !", ucap Raaida.
__ADS_1
"Dimana kamar Shaheer ?", tanya Aminah.
Aminah mengedarkan pandangannya ke arah sekitar ruangan di lantai atas.
Dilihatnya ruangan luas yang kosong saat mereka sampai di lantai atas, tidak terlihat kamar-kamar satupun di sana.
Hanya ada hamparan lantai luas yang dikelilingi oleh dinding-dinding berwarna putih sedangkan di area sudut-sudut ruangan dihiasi vas-vas bunga dari keramik serta hiasan lampu yang menyala redup.
"Saya juga tidak tahu tepatnya letak ruangan kamar ruan Shaheer Sheikh jika dari tempat ini, nona Aminah", sahut Raaida.
"Kau tidak tahu ? Bukankah kau lama bekerja di rumah ini, Raaida ?", kata Aminah.
"Ya, itu benar sekali, saya memang telah lama bekerja disini tetapi untuk kemari, saya belum pernah, nona Aminah", sahut Raaida.
"Apa kau belum pernah kemari ?", tanya Aminah terkejut.
"Belum, belum pernah", sahut Raaida.
"Apa tempat ini tertutup untuk orang lain ?", tanya Aminah.
"Saya tidak tahu tepatnya alasannya tetapi yang saya tahu jika area ini jarang disentuh oleh pelayan atau orang-orang di keluarga ini", sahut Raaida.
"Apa ini semacam ruangan khusus yang sengaja diperuntukkan bagi orang spesial !?", kata Aminah.
"Saya juga jarang melihat koridor di bawah sana terbuka karena biasanya ada dinding yang menutupi area itu", ucap Raaida.
"Dinding pembatas !?", kata Aminah.
Aminah mengernyitkan keningnya saat menanyakan perihal tentang koridor yang baru mereka lalui tadi.
Pikiran Aminah mulai curiga dengan situasi saat ini.
Mulai dari tak terlihatnya Shaheer Sheikh dan isu kebersamaan Shaheer dengan Anjali hingga koridor misterius di bawah sana yang menghubungkan ke tangga ini.
Mungkinkah ini sebuah siasat atau taktik seseorang terhadap hubungan Aminah dan Shaheer Sheikh.
Ataukah ini semua rancangan yang telah disusun secara matang oleh seseorang di hari pertunangan Aminah.
Aminah terkesiap kaku lalu ingatannya kembali tertuju pada arsip rahasia yang berisi tentang laporan peristiwa kecelakaan kapal yang terjadi pada ayahnya.
Pikiran Aminah mendadak kacau bahkan tubuhnya terasa tak lagi berada di tempatnya saat ini.
Seolah-olah tengah melayang tak menentu dan nyaris kehilangan keseimbangannya saat dia berdiri.
Aminah mencengkeram tangan Raaida kuat-kuat hingga membekas dalam di lengan Raaida.
"Aduh, nona Aminah sakit !", rintih Raaida.
Aminah tersentak kaget lalu menjauhkan tangannya dari Raaida sembari mengucap kata maaf.
"Maafkan aku, Raaida !", kata Aminah gugup.
"Aduh !? Sakit !?", ucap Raaida.
"Tolong, maafkan aku sekali lagi, Raaida !", kata Aminah.
Aminah tampak kebingungan ketika dilihatnya raut wajah Raaida yang berubah memerah saat gadis itu menahan sakit di tangannya akibat genggaman kuat oleh Aminah.
Raaida berulangkali mengusap tangannya yang membekas oleh kuku jari-jari tangan Aminah, mencoba menghilangkan rasa nyeri yang tertinggal di tangannya.
"Maafkan aku, Raaida...", ucap Aminah menyesali perbuatannya.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu, nona", sahut Raaida.
"Biar aku melihatnya !", kata Aminah.
Aminah menarik tangan Raaida mendekat ke arahnya lalu meniup tangan Raaida untuk menghilangkan rasa sakit di tangan Raaida.
"Percayalah, aku baik-baik saja !", ucap Raaida.
__ADS_1
Raaida mencoba tersenyum pada Aminah, berusaha menenangkan hati Aminah yang gelisah.