
Aminah terus menerus mengembangkan senyumannya selama pesta pertunangannya dengan Shaheer Sheikh berlangsung khidmat di kediaman keluarga besar Sheikh di New Delhi.
Pesta yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan makanan khas India tersaji lengkap di atas meja khusus tamu.
Acara Meriah dipandu oleh musik khas India yang terdengar rancak dan bersemangat.
Alunan lagu yang penuh irama riang gembira memenuhi seluruh ruangan acara pesta pertunangan, sesekali tamu ikut bergoyang mengikuti irama lagu seraya tertawa bahagia.
Aminah kembali duduk di tempatnya bersama Shaheer Sheikh sembari menikmati makanan pesta khusus bagi kedua pasangan.
Sepiring Kofta dengan Naan mampu mengisi perut Aminah menjadi kenyang setelah seharian hanya diisi oleh Gulab Jamum serta kulfi.
Sesekali Shaheer Sheikh menoleh ke arah dirinya yang menikmati suapan terakhir Kofta miliknya.
"Kofta ini sangat nikmat sekali, mau ditambah lagi dengan menu lainnya ?", tanya Shaheer Sheikh.
"Tidak, aku cukup kenyang dengan Kofta dan Naan, nanti saja aku mencicipi hidangan yang lainnya", sahut Aminah.
"Baiklah, aku masih ingin mencoba menu makanan lainnya selama pesta karena kapan lagi kita menikmati makanan-makanan selezat ini di hari-hari biasanya", sambung Shaheer Sheikh.
"Silahkan, jika kamu menginginkan nya, kau bisa mencobanya tanpa aku", kata Aminah.
"Tapi aku pikir makanan sedikit seperti itu tidaklah cukup untuk mengisi perut mu, tambah lah beberapa menu lainnya, Aminah", ucap Shaheer Sheikh.
"Nanti saja, Shaheer, aku masih kenyang", sahut Aminah.
"Hanya sepiring Kofta, kau sudah merasa kekenyangan ?", ucap Shaheer Sheikh.
"Tidak Kofta saja yang aku makan tetapi aku juga sudah menghabiskan Kulfi serta gulab jamum beberapa piring makan", kata Aminah.
"Aku rasa tidak cukup untukmu jika hanya sepiring Kofta atau beberapa Kulfi atau Gulab Jamum, perlu makanan yang lainnya agar menambah asupan gizi serta energi untukmu", ucap Shaheer Sheikh.
"Ya, nanti, aku akan memakan hidangan lainnya tapi tidak sekarang ini", kata Aminah.
__ADS_1
"Yah, baik, baiklah !", ucap Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke arah meja yang tersedia oleh berbagai macam hidangan makanan khas India.
Mulai Kofta, Naan, Ayam Makhani, Samosa, Tıkka Masala hingga nasi biryani khas India tersaji lengkap di atas meja khusus mempelai pasangan.
Ada juga hidangan manisan lainnya yang menggunggah selera seperti Gulab Jamum yang biasa dihidangkan saat adanya perayaan pesta seperti acara pertunangan, ada laddu dan dhokla serta Kulfi, makanan Kulfi sendiri memiliki bentuk seperti es krim yang bisa membantu menghilangkan dahaga dikala cuaca panas. Makanan India yang satu ini terbuat dari susu yang dicampur dengan kacang-kacangan.
Aminah paling suka dengan Kulfi karena dia menyukai es krim dan Kulfi sendiri memiliki bentuk seperti es krim pada umumnya meski cara penyajiannya sangat jauh berbeda.
Tampak Shaheer Sheikh bersemangat saat mencoba mencicipi salah satu makanan khas India yang tersaji di atas meja dekat tempat duduk khusus mempelai pasangan.
Shaheer Sheikh begitu lahapnya memakan Tıkka Masala kesukaannya bahkan seakan-akan dia tidak melihat siapapun di ruangan pesta ini.
Aminah tersenyum tanpa dia sadari saat memandangi Shaheer Sheikh dari arah tempatnya duduk lalu mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang yang tengah bermain musik, dimana disamping para pemain musik berdiri barisan tamu yang sedang menonton pertunjukan permainan musik mereka.
Musik yang indah serta berciri khas tema perayaan mampu menyedot perhatian seluruh tamu undangan pesta, begitu pula dengan Aminah yang semakin bertambah tertarik untuk mendalami musik serta lagu.
Aminah kembali melirik ke arah jari manisnya yang tersematkan sebuah cincin berlian.
Cincin bertahtakan berlian mahal dengan ukiran kecil atas namanya dengan Shaheer Sheikh melingkar cantik di jari tangannya mulai dirasakan oleh Aminah sebagai beban berat.
Berat melepaskan cincin tunangannya karena telah terpatri kuat di jari manisnya, juga berat untuk berpisah dari Shaheer Sheikh karena dia tidak ingin sejatinya pergi dari sisi tunangannya yang mulai dia cintai dan teramat dia sayangi dalam hidupnya.
Aminah tak sanggup membayangkan hari itu datang sehingga membuatnya terpaksa memejamkan kedua matanya.
Tangannya tak terasa bergetar saat dia mengingat rencananya yang akan pergi meninggalkan rumah besar keluarga Sheikh.
Hari-hari yang telah dia lalui di rumah keluarga besar Sheikh ini bersama Shaheer Sheikh.
Mendekatkan mereka berdua saat pertama kalinya mereka bertemu di acara lamaran mereka serta saat dia berangkat dari rumah Janakpur menuju ke New Delhi untuk tinggal bersama di rumah keluarga besar Sheikh sebagai seorang calon mantu sampai detik ini. Dimana saat terakhir waktu kebersamaan mereka berdua seusai acara pesta pertunangan ini dihelat secara besar-besaran dan mewah.
Semuanya telah mengingatkan Aminah akan rasa yang ada tumbuh di dalam hatinya mulai tertanam dalam hingga dia sendiri tidak mampu untuk melepaskan dirinya dari semua kenangan yang telah terjadi di rumah keluarga besar Sheikh.
__ADS_1
Sakit...
Mungkin kini yang Aminah rasakan tetapi keputusan nya telah membulat untuk melepaskan sandiwara cinta ini.
Harus tegas pada diri sendiri mana yang terbaik harus dia pilih untuk mencari kebahagiaan di masa depannya, tidak mungkin hidup dalam bayangan kepalsuan sedangkan hatinya menolak untuk itu.
Aminah semakin mencengkram erat jari manisnya yang melingkar sebuah cincin tunangan bertahtakan berlian mewah, membuat bekas tajam di area tangannya yang dihiasi oleh mehendi warna putih senada dengan tema perayaan pertunangan mereka.
Selaras dengan gaun tunangan yang dia kenakan saat ini.
Warna putih yang diharapkan sebagai warna suci serta penuh harapan akan kebahagiaan bagi Aminah atas pertunangannya dengan Shaheer Sheikh justru menghadapkan dirinya pada titik nisbi untuk mengambil sebuah keputusan berat.
Aminah mendesah berulangkali sampai dia tidak kuat lagi menahan dirinya untuk tidak bergumam sesuatu.
"Mana mungkin aku bisa sekuat ini meninggalkan dirinya sedangkan aku menyimpan cinta besar terhadapnya...", gumam Aminah labil.
Aminah menoleh ke arah ibunya yang duduk tak jauh darinya, di sebuah bantalan mewah yang agak tinggi posisinya dari tempat dudukan lainnya.
Terlihat ibunya sedang menikmati acara pesta yang berlangsung meriah dengan berbagai acara hiburan serta ditemani oleh beberapa hidangan makanan lezat yang tersedia di atas meja yang ada didekatnya.
Perasaan Aminah bertambah sakit serta merasakan sedih yang teramat dalam saat dia melihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah ibunya yang mengharapkan acara pertunangan ini datang.
Menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan, hanya ingin melihat dirinya resmi bertunangan dengan Shaheer Sheikh tetapi semua itu harus terhapus dalam hitungan detik.
Aminah kembali terpejam tetapi kali ini dia sambil menundukkan kepalanya sedih.
Tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menjelaskan niatnya setelah ini kepada ibunya yang amat dia sayangi sedangkan ibunya menaruh harapan besar pada pertunangannya dengan Shaheer Sheikh hingga ke jenjang pernikahan nanti.
Dirinya justru memilih untuk melepaskan ikatan yang mulai resmi antara dirinya dengan Shaheer Sheikh dalam ikatan tali pertunangan ini.
Aminah mengusap sudut matanya yang berair, ada perasaan haru serta bercampur kesedihan yang mendalam di hati gadis cantik itu saat dia harus menunggu detik-detik terakhir perpisahannya dengan Shaheer Sheikh setelah acara pertunangan ini selesai, karena malam ini dia berniat melarikan diri dari kediaman keluarga besar Sheikh.
Tangan Aminah mengepal erat di atas pangkuannya sedangkan tatapannya masih tertunduk dalam dengan menahan isakan tangisnya yang akan pecah.
__ADS_1