Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aku bukanlah cintamu


__ADS_3

Saat musik berputar semakin cepat tanpa sadar Aminah memutar tubuhnya sangat kencang sehingga menabrak lilin yang menghiasi meja pesta.


Aminah tidak menyadari jika gaunnya menyambar api lilin.


"Aminah !", teriak Ibu.


Ibu berlari mengambil air minuman di atas meja.


Aminah hanya berdiri melamun sedangkan api mulai merambat ke gaunnya.


"Ya Allah ! Aminah ! Lihatlah dirimu !", teriak bibi Jamilah.


Aminah hanya menoleh ke arah gaunnya dan tanpa dia sadari api telah membakar ujung gaunnya.


"Oh tidak...", pekik Aminah tertahan.


Seseorang berlari cepat ke arah Aminah sambil mengguyurkan air berisi bunga ke tubuh Aminah.


"BYUR !"


Api yang menyambar kain gaun Aminah berhasil dipadamkan.


"Ya Allah !"


Terdengar suara semua tamu yang hadir berseru panik di acara lamaran saat melihat peristiwa yang menegangkan itu.


"Aminah ! Bagaimana keadaanmu, sayang ?", ucap Ibu ketakutan.


"A-aku... A-aku tidak apa-apa, mathair...", sahut Aminah.


Aminah merasakan tubuhnya menggigil kedinginan karena basah.


"Terimakasih, nak atas bantuanmu ! Jika bukan karenamu mungkin api itu telah membakar putriku... Aku ucapkan terimakasih..., terimakasih...", ucap Ibu.

__ADS_1


Yasmina Kapoor menangkupkan kedua telapak tangannya menatap pria muda berambut ikal dihadapannya.


"Ini sudah menjadi kewajibanku, bibi", sahut pria berwajah sangat tampan itu sambil memegangi tangan Yasmina Kapoor.


"Tidak, nak ! Aku berutang budi padamu karena kamu telah menyelamatkan putri kesayanganku, Aminah dari marabahaya", ucap Ibu berkaca-kaca.


"Tidak, bibi... Allahlah yang telah menyelamatkan putrimu, aku hanyalah seorang perantara...", sahut pria muda itu kembali.


Pria berpakaian sherwani merah tampak sumringah sambil membimbing Yasmina Kapoor berjalan mendekati Aminah.


"Mahesa Sheikh !"


Seseorang memanggil pria tampan itu.


"Kapan kamu datang ?", sapa Jannah Sheikh.


Pria yang dipanggil dengan nama Mahesa Sheikh menolehkan kepalanya ke arah Jannah Sheikh.


"Iya...", sahut Mahesa Sheikh.


"Aku baru datang dan langsung menyusul kalian ke Janakpur, baba memberitahukan padaku bahwa Shaheer Sheikh tengah melamar seorang gadis", sahut Mahesa Sheikh.


"Iya, kami memang mengadakan acara lamaran untuk Shaheer Sheikh", ucap Jannah Sheikh.


"Mahesa Sheikh, kapan kamu kembali dari Amerika, paman", sapa Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh menjabat tangan pria berwajah sangat tampan itu erat-erat kemudian memeluknya.


"Tadi malam", sahut Mahesa Sheikh.


Kedua pria itu berangkulan akrab sambil tertawa ceria.


"Hai, bung ! Rupanya kamu telah dewasa sekarang ! Bagaimana bisa kamu melangkahi paman tampanmu ini !?", ucap Mahesa Sheikh sambil tertawa renyah.

__ADS_1


"Ah..., itu karena kamu tidak pernah melihat sekitarmu, paman dan hanya fokus pada pekerjaanmu serta bisnismu saja karena itu kamu tidak melihat seorang gadis satupun disampingmu, Mahesa", sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh memukul dada Mahesa Sheikh pelan.


"Iya..., iya..., ya..., kamu memang lebih hebat dariku dalam urusan wanita, Shaheer", sahut Mahesa Sheikh tersenyum tipis.


Mahesa Sheikh menatap ke arah Aminah yang duduk dengan tubuh gemetaran serta masih mengenakan kain tipis putih yang menutupi wajahnya.


"Kamu sangat beruntung...", ucap Mahesa Sheikh. "Dia gadis yang baik untukmu, Shaheer", sambungnya.


Shaheer Sheikh terdiam dan melirik sekilas ke arah Aminah.


Pria yang juga berwajah tampan dengan memakai sherwani putih itu hanya diam tanpa menjawab ucapan Mahesa Sheikh.


Dia langsung menundukkan pandangannya cepat-cepat saat Mahesa Sheikh menoleh ke arahnya.


"Keponakanku ini ternyata hebat juga memilih calon pendamping", ucap Mahesa Sheikh.


Shaheer Sheikh tetap diam tanpa merespon, tiba-tiba Jannah Sheikh menyela pembicaraan kedua pria tampan itu.


"Bagaimana jika kamu mengajak Mahesa menikmati hidangan pesta ini, nak !?", ucap Jannah Sheikh.


"Oh iya, kita nikmati makanan lezat yang ada disini, Mahesa ! Bukankah perutmu belum terisi kudapan lezat khas India sejak dari Amerika", sahut Shaheer Sheikh buru-buru.


"Kamu bisa saja !", jawab Mahesa Sheikh.


Mahesa Sheikh tersenyum simpul mendengar ucapan keponakannya sedangkan Shaheer Sheikh langsung merangkul pamannya menuju ke arah meja yang penuh hidangan lezat khas Janakpur.


Keduanya tampak menikmati suguhan acara lamaran dan sesekali mereka bersenda gurau.


Aminah Kapoor hanya terdiam memandangi Shaheer Sheikh dari kejauhan.


Sesuatu dihatinya terasa sakit ketika dia menyadari bahwa pria yang akan menjadi calon suaminya tak pernah sedikitpun memperdulikannya.

__ADS_1


Bahkan saat dia dalam bahaya, Shaheer Sheikh sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatannya.


Aminah menatap kosong Shaheer Sheikh dari balik kain tipisnya, tanpa dia sadari gadis muda itu menangis kala menyadari bahwa dirinya bukanlah cinta Shaheer Sheikh.


__ADS_2