
Aminah duduk didepan meja makan seraya menatap hambar makanan di atas meja sedangkan dari arah samping terlihat Shaheer Sheikh duduk.
Raaida menuangkan kuah kare ke atas piring Aminah dengan dua potong roti Chapati sebagai pelengkapnya.
Datang Jannah Sheikh ke dalam ruangan makan sambil tertawa senang ketika melihat Aminah dan Shaheer Sheikh kembali bersama-sama.
Wanita yang gemar mengenakan saree itu berjalan cepat menghampiri Shaheer Sheikh seraya mencium kepala putranya penuh kasih sayang.
''Selamat pagi, mathair !'', ucap Shaheer Sheikh.
''Selamat pagi, nak ! Semoga berkat pagi Allah SWT terus mengikutimu, nak !'', sahut Jannah Sheikh.
''Terimakasih, mathair'', kata Shaheer Sheikh.
''Apa kabarmu ? Aku tidak melihatmu selama dua hari ini ? Kemana saja ?'', tanya Jannah Sheikh.
''Aku pergi ke kantor klien untuk mengurus pekerjaan karena klien menginginkan aku menyelesaikan tugas darinya dalam waktu dua hari'', sahut Shaheer Sheikh.
''Apakah sekretarismu tidak membantumu hingga kau pergi dari rumah selama dua hari ?'', kata Jannah Sheikh serius. ''Aku pikir kau sedang bertengkar dengan Aminah ?'', sambungnya.
Shaheer Sheikh lantas melirik ke arah Aminah yang duduk di meja makan yang sedang melahap sarapannya tanpa berkata-kata kemudian pria tampan itu kembali memperhatikan piring makannya.
Tampak Jannah Sheikh menarik kursi makan lalu duduk di sebelah Shaheer Sheikh dengan posisi menghadap ke meja makan tepat di depan Aminah.
Diambilnya piring kosong seraya memerintahkan kepada Raaida untuk mengisinya dengan hidangan sarapan.
''Tolong tuangkan kuah karee serta tiga potong roti Chapati untukku, Raaida !'', kata Jannah Sheikh.
''Baik, nyonya Jannah !'', sahut Raaida sembari menuangkan kuah karee pedas serta daging domba ke atas piring Jannah Sheikh lalu memberikan tiga potong roti Chapati.
''Terimakasih !'', ucap Jannah Sheikh.
Raaida lalu bergegas pergi kembali ke ruang dapur sedangkan Jannah Sheikh terlihat menyobek roti Chapati lalu mencelupnya ke dalam kuah karee.
Dilahapnya roti Chapati dengan daging kuah karee pedas ke dalam mulutnya yang merah berhias lipstik.
''Apa kau tidak bertengkar dengan Aminah ?'', kata Jannah Sheikh dengan mulut penuh makanan.
''Tidak !'', sahut Shaheer Sheikh acuh seraya terus melahap sarapannya tanpa menoleh.
''Aku kira kalian bertengkar lagi karena perjodohan ini, kau tidak memiliki rencana lain dengan Aminah hari ini ?'', ucap Jannah Sheikh.
Jannah Sheikh sibuk menyuapkan roti Chapati dengan daging domba karee pedas ke dalam mulutnya lalu melirik ke arah Aminah yang terlihat menikmati sarapannya.
''Aminah, seandainya aku menyuruhmu pergi bersama Shaheer Sheikh untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, apakah kau mau, nak ?'', kata Jannah Sheikh.
Aminah menghentikan gerakan tangannya lalu memandang ke arah Jannah Sheikh.
''Apa yang perlu kami beli, mathair ?'', tanya Aminah.
__ADS_1
''Baiklah, aku akan menuliskan semua kebutuhan sehari-hari di buku jurnal lalu kau bawa untuk membeli semua yang aku tulis di buku itu !'', sahut Jannah Sheikh.
''Iya, mathair...'', jawab Aminah.
''Apa kau tidak keberatan, Shaheer ?'', ucap Jannah Sheikh yang bertanya kepada putranya.
''Aku tidak keberatan, mathair'', sahut Shaheer Sheikh.
''Jika begitu setelah sarapan ini, aku akan menyuruh pak Amir Khan untuk mempersiapkan mobil agar bisa kau bawa, Shaheer !'', kata Jannah Sheikh.
''Aku lebih suka membawa mobilku sendiri dan biarkan pak Amir Khan memanasinya, mathair'', lanjut Shaheer Sheikh.
''Baiklah, baiklah, aku akan meminta pak Amir Khan sesuai permintaanmu'', sahut Jannah Sheikh.
Semua kembali diam sembari menikmati sarapan mereka masing-masing tanpa berkata-kata lagi.
Meski terkadang Jannah Sheikh sesekali menggoda Aminah dan Shaheer Sheikh dengan pertanyaan-pertanyaan penuh canda ria akan hubungan mereka berdua.
Namun semua itu dijawab oleh Shaheer Sheikh hanya dengan senyuman.
Aminah merasakan acara sarapan pagi ini benar-benar terasa membosankan baginya dengan senyum yang penuh kepura-puraan saat Jannah Sheikh acapkali bertanya tentang hubungannya dengan Shaheer Sheikh.
Gadis berhijab itu harus memainkan perannya yang terkadang penuh sandiwara agar tampak meyakinkan bahwa mereka saling akrab dihadapan Jannah Sheikh.
Shaheer Sheikh melirik kembali Aminah lalu menghela nafas panjang.
Acara sarapan pagi ini dilewati Aminah penuh tekanan karena dia harus menjaga sikapnya terhadap Jannah Sheikh.
Akhirnya selesai juga acara sarapan bersama-sama pagi itu.
Bergegas Shaheer Sheikh melangkah keluar ruangan makan menuju ruang depan untuk mempersiapkan mobil yang akan dia bawa untuk pergi berbelanja bersama Aminah.
Jannah Sheikh berjalan menghampiri Aminah sambil menulis di buku jurnal kecil catatan-catatan tentang barang-barang apa saja yang hendak dibeli.
''Aku telah mencatat semua kebutuhan yang harus kau beli pada buku jurnal ini untuk sehari-hari. Jangan lupa kau membeli sekotak Ladoo manis dari toko oleh-oleh dekat tempat perbelanjaan nanti'', kata Jannah Sheikh.
''Baik, mathair'', sahut Aminah seraya menerima sebuah buku jurnal kecil dari tangan Jannah Sheikh.
Aminah lalu membuka lembar demi lembar kertas di buku jurnal dengan membacanya teliti.
''Biar Shaheer Sheikh yang mengantarmu membeli camilan-camilan manis itu karena dia yang paham benar toko yang menjual makanan-makanan itu'', lanjut Jannah Sheikh.
''Iya, mathair...'', sahut Aminah.
Wanita bersaree mewah itu lalu menggandeng tangan Aminah seraya mengajaknya berjalan ke arah luar ruangan makan menuju ruang utama rumah.
''Kau juga berbelanjalah keperluan sehari-hari untukmu, nak ! Aku akan memberikan kartu kredit tak terbatas ini kepadamu !'', ucap Jannah Sheikh.
''Aku tidak berniat membeli apa-apa untukku, mathair karena tidak ada yang perlu aku beli saat ini'', sahut Aminah.
__ADS_1
''Tidak apa-apa, nak !', ucap Jannah Sheikh. ''Kau dapat membeli apa saja barang yang kau mau sekarang dengan kartu hitam itu tanpa merasa ragu-ragu lagi'', sambungnya.
''Tapi, mathair...'', sahut Aminah.
''Sudahlah, tidak perlu kamu memikirkan apa-apa ! Belanjalah sekarang ! Dan belilah sesuatu yang kamu inginkan, nak !'', kata Jannah Sheikh.
Aminah hanya terdiam karena dia tidak terlalu suka untuk berbelanja tetapi calon ibu mertuanya tetap memaksanya untuk membeli sesuatu dan memintanya untuk menunjukkan kepadanya barang yang dia beli nanti.
Terpaksa Aminah harus melaksanakan perintah Jannah Sheikh meski dia tidak tahu barang apa yang akan dia beli.
Di depan mobil sedan mewah tampak Shaheer Sheikh tengah berdiri bersandar di dekat mobil sambil melipat kedua tangannya di dada serta menatap ke arah Aminah yang berjalan ke arahnya.
''Kenapa lama sekali ?'', kata Shaheer Sheikh kepada Aminah.
''Ak--aku harus menunggu, mathair, selesai mencatat di buku jurnal keperluan yang harus kita beli'', sahut Aminah.
''Kalau begitu, kita pergi sekarang !'', ucap Shaheer Sheikh.
''Baik...'', sahut Aminah seraya berlari memutari mobil untuk masuk ke dalam mobil.
''Kami pergi dulu, mathair !'', sapa Shaheer Sheikh kepada ibunya.
''Iya, nak !'', sahut Jannah Sheikh yang berdiri di depan pintu rumah sambil melambaikan tangannya. ''Hati-hati, dijalan !''
''Daaaghhh, mathair !'', ucap Shaheer Sheikh seraya masuk ke dalam mobil.
''Daaghhhh !!!'', sahut Jannah Sheikh senang.
Mobil sedan mewah bergerak lambat menuruni jalan terhubung ke pintu keluar yang ada di halaman rumah keluarga besar Sheikh.
Dari kejauhan Jannah Sheikh masih berdiri memandangi kepergian mobil yang membawa Shaheer Sheikh dan Aminah.
Beberapa penjaga berlarian kecil sembari membuka pintu gerbang saat mobil yang dikendarai oleh Shaheer Sheikh bergerak pergi dari arah rumah menuju keluar lalu bergerak pelan mulai memasuki area jalan raya.
Mobil sedan terus melaju kencang meninggalkan kawasan perumahan elit ke jalan yang mengarah ke pusat kota.
Tidak banyak kata yang keluar dari keduanya saat mobil yang mereka naiki melesat cepat melewati jalan-jalan di kota.
Shaheer Sheikh terlihat lebih diam dari biasanya dan dia sangat serius saat dia menyetir mobil sedangkan Aminah menatap ke arah samping kaca jendela mobil tanpa bersuara.
Seakan-akan keduanya tenggelam pada masing-masing pikiran mereka.
''Apa kau baik-baik saja ?'', tanya Shaheer Sheikh seraya melirik ke arah spion depan.
''Kau sedang bertanya padaku ?'', sahut Aminah.
''Tidak, aku hanya iseng saja !'', sanggah Shaheer Sheikh lalu mempercepat laju mobilnya dan terdiam kembali.
Suasana di dalam mobil benar-benar terasa sunyi dan kaku, dan hubungan mereka berdua kembali dingin seperti semula.
__ADS_1