Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Ambisi


__ADS_3

Terlihat Anjali berjalan mendekat ke arah Shaheer Sheikh yang tengah duduk di kursi khusus keluarga sembari menonton pertunjukkan band musik.


Duduk di dekatnya seraya menyilangkan kedua kakinya.


Anjali tidak terlalu banyak berkata-kata tetapi ekspresi wajahnya sangat murung saat dia memandang Shaheer Sheikh.


"Tampaknya kau sangat menikmati peran pengganti ini dan bahagia", ucap Anjali.


"Aku harap kau datang, bukan untuk mengacaukan semua acara ini", jawab Shaheer Sheikh dingin.


Shaheer Sheikh menjawab tanpa menolehkan pandangannya ke arah Anjali, tetap fokus memperhatikan ke arah band musik yang mengisi acara pesta pertunangannya.


"Kenapa kau selalu berpikir sama dengan mathair mu jika aku memiliki niat buruk terhadapmu ?", tanya Anjali.


"Tidak...", sahut Shaheer Sheikh.


"Kau bilang tidak tapi pada kenyataannya memang seperti itu cara berpikirmu tentang diriku", kata Anjali.


Anjali tertawa kecil seraya menundukkan kepalanya.


"Aku tidak pernah memikirkan dirimu sedikitpun lalu bagaimana aku bisa berpikir hal buruk tentang dirimu", lanjut Shaheer Sheikh.


"Kau selalu membuat lelucon, Shaheer", ucap Anjali.


"Apa kau tidak ingin mencicipi semua hidangan di pesta ini ? Sangat lezat dan aku rasa, kau akan menyukainya", kata Shaheer Sheikh.


Anjali tersenyum seraya memperbaiki letak gaunnya yang memiliki belahan panjang hingga memperlihatkan kedua kakinya yang jenjang.


"Makanan berlemak tidak terlalu baik bagi bentuk tubuhku sebagai seorang artis karena aku harus menjaganya ekstra ketat", sahut Anjali.


"Apa jadwal pemotretan mu sangat padat hingga kau harus menjaga bentuk tubuhmu terap ideal ?", tanya Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh melanjutkan acaranya dengan menyantap sepiring penuh samosa yang sedari tadi dia pegang.


"Samosa ini ternyata sangat lezat dibanding samosa yang ada di restauran dekat toko buku, cobalah ! Kau pasti akan menyukainya", ucap Shaheer Sheikh.


Anjali hanya menggelengkan kepalanya pelan seraya memegang samosa di tangannya.


"Aku jadi suka dengan samosa ini, rasanya gurih bahkan ringan, tidak terlalu berlemak dan cocok untukmu yang sedang menjaga bentuk tubuh", kata Shaheer Sheikh.


"Aku sudah mencicipi gulab jamum jadi aku harus sedikit mengurangi kadar gula dalam makanan ku", sahut Anjali.


"Hmm..., tapi samosa ini tidak memiliki kandungan gula yang tinggi, karena ini camilan ringan", kata Shaheer Sheikh.


"Sudahlah, Shaheer... Jangan terlalu memaksaku, aku tidak menginginkannya...", ucap Anjali.


Shaheer Sheikh tidak menjawab lagi hanya terdiam menatap samosa di tangannya.


Namun, pandangannya terlihat dingin saat memegang samosa, tidak ada senyum sedikitpun di wajah Shaheer Sheikh.


Anjali hanya memperhatikan ke arah band musik yang sedang menghibur para tamu undangan pesta seraya sesekali melirik ke arah meja yang menyediakan berbagai minuman.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin minum ?", tanya Anjali.


"Minum ?", sahut Shaheer Sheikh.


"Bukankah kamu sudah terlalu banyak mencicipi makanan gorengan, aku pikir tidak baik bagimu jika terlalu banyak minyak", ucap Anjali.


"Boleh, ambilkan saja aku minuman dingin karena tenggorokan ku terasa kering", sahut Shaheer Sheikh.


"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu", ucap Anjali penuh semangat.


"Jangan ditambahkan es lagi !", kata Shaheer Sheikh.


"Ya, aku mengerti", sahut Anjali seraya tersenyum.


Anjali bergegas berdiri dari tempatnya duduk lalu berjalan cepat ke arah meja yang tersedia berbagai minuman.


Diraihnya segelas minuman dingin rasa fanta serta jeruk manis untuknya dan Shaheer Sheikh.


Lama Anjali terdiam di pinggir meja sambil sesekali mengalihkan perhatiannya ke arah lainnya, kedua tangannya bergerak lincah saat menuangkan minuman dingin lalu menambahkan sesuatu dalam minuman yang di peruntukkan bagi Shaheer Sheikh.


Anjali mengaduk minuman dengan cara memutar cepat gelas di tangannya seraya membersihkan bekas-bekas yang tertinggal di sisi meja dengan kain tissu.


Sesaat Anjali terdiam, menunggu aliran minuman di tangannya bergerak turun seperti semula.


"Aku harus segera menyelesaikan tugasku sebelum pria itu memburu ku dan memaksaku pindah negara", gumam Anjali berbisik lirih.


Anjali memutar badannya dengan cepatnya tetapi dia melihat seseorang menghalangi jalannya.


"Apa kau tahu resiko pekerjaan mu ini jika kau sampai gagal ?", ucap seorang pria gagah yang berdiri dihadapannya.


"Mahesa Sheikh... !?", ucapnya panik.


"Kenapa masih begitu lamanya aku harus menunggu rencana berjalan ?", kata Mahesa Sheikh.


Sorot mata Mahesa Sheikh terlihat tajam saat menatap ke arah Anjali yang memandanginya dengan tatapan gelisah.


"A-aku masih akan melakukannya karena aku harus menunggu saat waktu yang tepat karena banyak tamu disini dan itu menyulitkan gerakanku untuk mendekatinya", sahut Anjali.


"Sudah lama aku menunggu puncak dari acara ini, dan aku berharap banyak padamu untuk segera menyelesaikan rencana itu", ucap Mahesa Sheikh.


"Ya, aku paham, Mahesa", sahut Anjali.


"Lalu apalagi yang sedang kamu tunggu ? Cepatlah ! Karena waktu mu tidak banyak, saat bagi kedua pasangan untuk segera beristirahat", ucap Mahesa Sheikh.


"Aku mengerti, Mahesa", kata Anjali.


Mahesa Sheikh menggeser badannya ke arah lain agar Anjali dapat berjalan kembali sedangkan dirinya sibuk menuangkan minuman dingin ke dalam gelas.


"Pergilah !", bisik Mahesa Sheikh.


"Baik...", sahut Anjali seraya menganggukkan kepalanya cepat.

__ADS_1


Anjali bergegas pergi, melanjutkan kembali langkah kakinya menuju ke arah Shaheer Sheikh duduk yang menikmati samosa.


Kedua jari-jemari tangannya yang berhiaskan kuku-kuku panjang berwarna merah tengah menggenggam erat kedua gelas berisi minuman dingin.


Langkah kaki Anjali terlihat tergesa-gesa saat dia melangkahkan kakinya.


Hampir membuat isi gelas ditangannya tumpah keluar, raut wajah Anjali sedikit tegang saat langkah kakinya mulai mendekati arah kursi tempat Shaheer Sheikh duduk.


Pegangan tangan Anjali semakin kuat saat dirinya menggenggam erat kedua gelas yang ada ditangannya, agak bergetar ketika langkahnya terhenti tepat disisi Shaheer Sheikh yang sedang duduk, menikmati sepiring samosa yang hampir habis.


Shaheer Sheikh mengalihkan pandangannya ke arah Anjali yang sedang berdiri sembari memegang kedua gelas minuman dingin.


"Ada apa ?", tanyanya saat menoleh ke arah Anjali.


"Tidak apa-apa...", sahut Anjali segera duduk.


Shaheer Sheikh mengerutkan keningnya saat melihat wajah Anjali yang berubah tegang sembari menyodorkan segelas minuman dingin di tangannya kepada dirinya.


"Kau baik-baik saja, Anjali ?", tanya Shaheer Sheikh.


"A-aku !?", sahut Anjali. "Tentu saja, aku baik-baik saja !? Kenapa ?", sambungnya.


"Aku lihat wajahmu sedikit berubah, agak tegang ! Karena itulah aku menanyakannya padamu, apa kau baik-baik saja saat ini", sahut Shaheer Sheikh.


"Mungkin aku agak letih karena semalam aku baru pulang dari mengisi acara di televisi nasional", ucap Anjali.


"Oh... !? Jangan lupa menjaga kesehatanmu karena sudah tidak ada lagi orang yang akan memperhatikanmu...", sahut Shaheer Sheikh.


"Kau akan kemana ? Bukankah kau tidak akan pindah kewarganegaraan lain dan masih tetap berada di India lalu kenapa kau mengatakan hal itu padaku ?", kata Anjali.


"Maksudku, aku sudah bertunangan sekarang dan tidak mungkin lagi aku akan memiliki waktu luang untuk memperhatikanmu lagi seperti dulu", jawab Shaheer Sheikh.


"Bukan masalah, karena aku akan terus menghubungimu jika itu memungkinkan", ucap Anjali.


"Aku tahu kau masih mengharapkan hubungan kita lebih serius tetapi aku tidak pernah memiliki rasa padamu, baik sebelum kita dekat hingga sekarang", sahut Shaheer Sheikh.


"Setidaknya aku menjadi temanmu dan bagiku itu sudah cukup berarti jika kita hanya memiliki hubungan pertemanan, Shaheer", ucap Anjali.


"Jangan konyol, Anjali ! Bukalah cara berpikirmu ! Sudah waktunya kau mencari seorang pasangan yang terbaik untukmu", kata Shaheer Sheikh.


"Tapi hingga detik ini, hanya kamulah pasangan yang terbaik untukku, tidak mungkin ada yang lainnya, Shaheer Sheikh", sahut Anjali seraya memutar gelas ditangannya.


"Ambisi mu terlalu besar untuk memiliki hal yang tidak mungkin kamu raih karena aku tidak mungkin memberikan mu kesempatan itu", ucap Shaheer Sheikh.


"Kita lihat saja, Shaheer ! Siapa yang akan akhirnya menjadi pemilikmu, nanti", kata Anjali.


"Jangan berambisi berlebihan karena itu tidaklah baik untukmu...", sahut Shaheer Sheikh berusaha mengingatkan Anjali.


"Kau tidak perlu meragukanku, Shaheer Sheiikh", jawab Anjali.


Anjali langsung menenggak minuman dinginnya dengan cepat tetapi tangannya gemetaran.

__ADS_1


Shaheer Sheiikh hanya memperhatikannya sekilas lalu meminum minuman dingin miliknya.


Tanpa ada keraguan ataupun rasa curiga saat meminum segelas minuman dingin di tangannya.


__ADS_2