
Aminah terduduk di dalam kamar hotel, terdiam memandangi dirinya di depan cermin rias.
Lama menatap diri dihadapan cermin bening dengan penuh hiasan lengkap dari emas yang tergantung mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Aminah memalingkan wajahnya ke arah lain saat dia berada di depan cermin.
Merasa bahwa dirinya telah berubah dan bukan lagi dirinya yang sama seperti dulu.
Aminah mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas kain yang menutupi tempat tidurnya.
CRING... CRING... CRING...
Suara gemerincing gelang terdengar dari arah kedua tangannya saat dia gerakkan.
"Mathair...", gumam Aminah lirih.
Memejamkan kedua matanya yang beriaskan make-up lengkap di wajahnya yang bening.
"Seharusnya aku tidak melanjutkan sandiwara cinta ini..., dan tidak terlalu dalam memainkan lakon sebagai calon menantu yang patuh...", ucapnya.
Aminah kembali memandangi dirinya di depan cermin yang berada lurus di hadapannya.
"Apakah yang aku lakukan semua ini adalah benar ? Atau aku telah berkhianat pada baba ?", kata Aminah.
Satu jam yang lalu, Shaheer Sheikh baru saja mengantar dirinya ke kamar hotel dari acara pesta di Novotel untuk beristirahat.
Shaheer Sheikh menyampaikan permintaan maafnya berkali-kali pada Aminah atas ketidaknyamanan yang terjadi di acara pesza tadi. Dan berharap Aminah memakluminya.
Pria tampan itu telah pergi dari kamar Aminah setelah mereka berdua lama bercakap-cakap, menghabiskan waktu di dalam kamar hotel beberapa jam lalu Shaheer Sheikh kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sikap Shaheer Sheikh sangat berbeda hari ini bahkan dia terkesan memanjakan Aminah tadi.
Aminah sendiri menikmati perlakuan spesial Shaheer Sheikh padanya dan turut tenggelam dalam permainan cinta pria tampan itu.
Merasakan kenyamanan atas sikap Shaheer Sheikh yang ditujukkannya secara khusus hingga membuat Aminah melupakan segalanya.
Aminah melepaskan perhiasan yang menempel dari rambutnya yang acak-acakan, masih terlihat keringat bercucuran dari atas keningnya.
Membersihkan pulasan lipstik merah dari bibirnya kemudian melepaskan seluruh perhiasan yang masih melekat di badannya.
Gaun yang terasa berat saat dia kenakan mulai Aminah tanggalkan satu per satu.
Keringat terus membasahi badannya hingga dia merasakan gerah karena panas lalu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang tersedia di dalam kamar hotel.
CRING... CRING... CRING...
Suara dari gelang kaki terdengar setiap Aminah melangkahkan kakinya.
Dia sengaja tidak melepaskannya karena Aminah sudah tidak sabar untuk segera membersihkan dirinya.
Dibukanya shower mandi agar memenuhi bathtub mandi sebelum Aminah berendam.
Diambilnya wewangian dari atas rak untuk dituangkan ke dalam air bathtub agar aroma air bertambah menyegarkan.
Aminah melangkahkan kakinya ke dalam bathtub yang berisi air beraroma wangi saat dirinya hendak berendam didalamnya.
"Ah... !?", Aminah mendesah lirih ketika tubuhnya telah terendam sepenuhnya di dalam bathtub berisi air beraroma wangi.
Konon salah satu manfaat berendam dalam air hangat adalah membantu meredakan ketegangan tubuh dan pikiran.
Efek menenangkan dari air hangat dan memijat bisa membantu kita meredakan stres, emosional, dan mental.
__ADS_1
"Rasanya penat ditubuhku semuanya langsung hilang sekejap saja saat berendam di air hangat", ucap Aminah.
Aminah menggosok badannya dengan air hangat sembari menikmati kehangatan di dalam bathtub selama dia berendam.
Tubuhnya terasa ringan selepas menghadiri acara pesta yang begitu melelahkan baginya setelah semalam datang ke Novotel tanpa beristirahat yang cukup.
Wajah Aminah langsung berubah berseri-seri saat menikmati kehangatan saat dia berendam di dalam bathtub berisi air hangat.
Aroma wewangian yang berasal dari air menambah ringannya tubuh Aminah selama berendam.
Tak sadar Aminah mulai bersenandung pelan, mendendangkan lirik lagu bertema cinta.
Suaranya yang merdu terdengar hingga ke seluruh ruang kamar, enak didengar oleh telinga seperti layaknya sebuah lagu yang tengah diputar dari alat musik.
Aminah terus mendendangkan lagu cinta sepanjang dirinya berendam di dalam bathtub, menghabiskan waktu berlama-lama untuk memanjakan dirinya.
"La... La... La... La... ", senandungnya senang.
Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar kamar mandi terdengar cukup keras.
TOK... ! TOK... ! TOK... !
Sejenak Aminah tidak memperdulikan suara ketukan pintu dan tetap asyik menikmati kegiatannya berendam di dalam bathtub.
Terus saja bersenandung riang melantunkan syair-syair cinta.
TOK... ! TOK... ! TOK... !
Suara ketukan pintu kamar kembali terdengar dan suaranya lebih keras dari sebelumnya.
Aminah tersentak saat dia mendengar suara ketukan pintu kamar seraya memalingkan muka dari arah air bathtub ke arah luar pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
Aminah mengernyitkan dahinya lalu terdiam sejenak, berpikir siapa yang datang ke kamarnya.
"Apa Shaheer Sheikh ?", ucap Aminah.
Aminah terburu-buru meraih handuk di samping bathtub lalu berdiri cepat sambil melilitkan handuk di tubuhnya.
Melangkahkan kakinya keluar dari dalam bathtub segera mengeringkan badannya.
Aminah bergegas mengenakan pakaian panjangnya serta hijab di kepalanya berwarna putih motif bunga mawar.
"Untuk apa Shaheer Sheikh datang lagi ? Bukankah dia berkata hendak beristirahat setelah acara pesta ini", kata Aminah.
Ditepuknya kedua pipinya pelan sambil menjawab suara ketukan pintu yang berasal dari arah luar kamar.
TOK... ! TOK... ! TOK... !
"Tunggu !", ucap Aminah bersuara keras.
Aminah berjalan tergesa-gesa ke arah pintu kamar hotel dan hampir terjatuh.
"Aduh... !?", ucapnya kaget.
Ditariknya kain panjang gaun gamisnya berwarna putih dengan asal sembari melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah pintu kamar.
KLEK... !
Aminah menarik pegangan pintu kamar lalu membukanya lebar.
Berdiri seorang wanita mengenakan kain saree merah dengan kerudung warna senada di depan kamar.
__ADS_1
Menatap Aminah dengan tatapan seriusnya lalu berkata pada gadis berhijab itu.
"Aminah, boleh kita bicara sebentar ?", kata Jannah Sheikh.
Aminah tertegun memandang ke arah Jannah Sheikh yang berdiri dihadapannya seraya tersenyum tipis.
"Silahkan masuk, mathair...", sahut Aminah.
Aminah mempersilahkan masuk Jannah Sheikh ke dalam kamarnya.
"Terimakasih, Aminah", ucap Jannah Sheikh.
Jannah Sheikh melangkahkan kakinya masuk sembari memegangi ujung kerudungnya dengan jari jemari tangannya yang berhias cincin berlian.
Gadis bernama Aminah berjalan mengikuti langkah Jannah Sheikh yang melangkah lebih dulu darinya.
"Bisakah kita bicara dengan suasana tenang !?", kata Jannah Sheikh.
"Ehk !?", ucap Aminah teesentak kaget lalu teringat dengan suara air yang berasal dari dalam kamar mandi.
Aminah lupa tidak mematikan keran air sebelum dia selesai mandi karena tergesa-gesa membukakan pintu kamar untuk Jannah Sheikh.
"Maaf, aku akan segera mematikan keran air, permisi, mathair...", sahut Aminah.
Aminah dengan cepat berlari kembali masuk ke dalam kamar mandi dan segera mematikan keran air yang meluap hingga membanjiri kamar mandi.
"Aduh !? Kenapa aku bisa seceroboh ini !? Lupa mematikan keran air sebelum keluar dari kamar mandi !?", ucap Aminah.
Seusai mematikan keran air di kamar mandi, Aminah kembali menemui Jannah Sheikh yang menunggunya diluar kamar mandi.
Tampak Jannah Sheikh telah duduk di pinggir tempat tidur yang berukuran besar seraya menatap ke arah Aminah yang berjalan mendekat.
"Duduklah, Aminah !", ucap Jannah Sheikh.
"Baik, mathair...", sahut Aminah.
Aminah menganggukkan kepalanya pelan kemudian duduk tak jauh dari Jannah Sheikh duduk.
"Aku sebenarnya tidak enak mengatakannya karena bagiku ini sangatlah tidak terdengar baik untuk kita", ucap Jannah Sheikh.
"Apa yang ingin mathair sampaikan kepadaku ?", sahut Aminah.
"Terlalu rumit kedengarannya tetapi aku harus membahasnya denganmu", lanjut Jannah Sheikh.
Aminah terdiam tapi pandangannya tertuju lurus ke arah Jannah Sheikh yang duduk di dekatnya.
"Aku sungkan atas sikap Ameeta padamu tadi, seharusnya kata-kata itu tidak tersampaikan kepadamu...", ucap Jannah Sheikh.
Aminah menahan nafasnya sembari menatap serius ke arah Jannah Sheikh.
"Aku tidak tahu harus menjelaskannya darimana perihal itu, bukan maksud Ameeta untuk berkata-kata menyakitimu...", lanjut Jannah Sheikh.
Jannah Sheikh hanya menundukkan pandangannya saat dia mencoba mengungkapkan kata-kata yang ingin dia sampaikan pada Aminah.
"Tapi..., bukankah itu semua yang Ameeta katakan adalah benar...", kata Aminah.
Jannah Sheikh tersentak sesaat lalu menolehkan kepalanya ke arah Aminah.
Tidak banyak kata yang ingin Jannah Sheikh utarakan perihal masalah yang terjadi di acara pesta tadi tapi ucapan Aminah membuatnya tersadar bahwa gadis berhijab itu meminta sebuah penjelasan dari dirinya.
Hal yang selama ini dikhawatirkan oleh Jannah Sheikh apabila Aminah akhirnya mengetahui perjodohan itu dipaksakan diantara Aminah dan Shaheer Sheikh.
__ADS_1