
Aminah tidak mampu menutupi kecemasannya karena pertanyaan yang diajukan oleh Shaheer Sheikh padanya sangat mengena keras.
Dia langsung berdiri tegak dengan menggenggam erat tas ditangannya.
Memandang ke arah Shaheer Sheikh dengan sorot mata tak terkendali serta panik penuh gelisah.
"Apa yang harus aku katakan ?"
Bisik hati kecil Aminah ketika Shaheer Sheikh bertanya perihal kepergiannya ke kantor polisi secara diam-diam.
Pandangannya tiba-tiba kabur tetapi dia tetap bertahan untuk sadar.
''Apa maksud pertanyaanmu itu ?''
Aminah berkata seraya menatap lurus ke arah Shaheer Sheikh.
''Jujurlah padaku jika kamu pergi ke kantor polisi tadi'', sahut Shaheer Sheikh.
''Aku ?'', sahut Aminah.
''Yah..., apa perlu aku tunjukkan bukti padamu ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Bukti ? Apa ?'', sahut Aminah.
''Hmmm !?'', gumam Shaheer Sheikh.
Dia memandangi Aminah yang berdiri tegak menghadap padanya.
Shaheer Sheikh mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja kerjanya kemudian meletakkan sebuah map ke atas meja.
PLAK !
''Itu adalah buktinya jika kamu pergi ke kantor polisi tadi ! Ini hasil rekaman video dari anak buahku yang mengikuti mu''
Shaheer Sheikh menyahut ucapan Aminah dengan menunjukkan sebuah bukti pada gadis itu.
''Aku tidak mengerti maksud mu, Shaheer !?'', kata Aminah.
''Tidak mengerti ? Tidak mengerti bagaimana ? Coba kamu lihat hasil rekaman video ini !'', jawab Shaheer Sheikh.
''Untuk apa !? Apa perlu aku melihatnya ?'', kata Aminah.
''Aminah !''
Shaheer Sheikh beranjak berdiri lalu menggebrak meja.
BRAK !
Pria tampan itu menatap tajam Aminah dengan ekspresi wajah serius.
''Apa kamu tahu ? Jika dirimu dalam keadaan yang berbahaya saat ini !''
Shaheer Sheikh berkata dengan penuh emosi pada gadis berhijab itu.
''Maksudmu ?'', sahut Aminah.
''Sudah aku beritahukan padamu jika tidak seorangpun di rumah ini yang dapat dipercaya, Aminah !''
Ucapan Shaheer Sheikh membuat Aminah mengernyitkan keningnya.
''Termasuk kamu ?'', sahut Aminah.
''Tidak ! Jangan samakan aku dengan yang lainnya ! Kamu mengerti !'', jawab Shaheer Sheikh.
''Kau pikir aku percaya padamu ? Tidak !'', kata Aminah.
''Ck !'', decak Shaheer Sheikh kesal.
Shaheer Sheikh melangkah cepat ke arah Aminah lalu meraih tangan gadis itu.
__ADS_1
''Shaheer !'', jerit Aminah.
''Lihat baik-baik aku !'', ucap Shaheer Sheikh.
''Emmm... Lepaskan aku !'', sahut Aminah.
''Tidak ! Dengarkan aku Aminah !'', kata Shaheer Sheikh.
''Apa maumu Shaheer ?'', jawab Aminah.
Aminah menatap tajam ke arah Shaheer Sheikh.
''Aku tahu kamu baru masuk ke ruang rahasia di rumah ini, Aminah !''
Perkataan Shaheer Sheikh membuat Aminah terhenyak kaget lalu terdiam.
Shaheer Sheikh menggertakkan gerahamnya menahan emosi.
''Setelah itu kamu pergi diam-diam ke kantor polisi dan semua aku mengetahuinya, Aminah'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah memalingkan muka dari Shaheer Sheikh ke arah lain.
Terdiam sambil tertunduk bingung.
''Aku berusaha melindungimu dari kakek Salman Sheikh karena kau tidak tahu bagaimana kejamnya dia, Aminah'', kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menghela nafas panjang sambil mendongakkan kepalanya.
Menatap kembali Aminah dengan tatapan serius.
''Jika dia tahu kamu dari aula rahasia miliknya itu maka dia tidak akan melepaskanmu hidup-hidup, Aminah !''
Kata-kata Shaheer Sheikh semakin membuat gadis itu terkejut.
''Bagaimana kamu tahu kalau aku baru dari aula rahasia itu ?'', tanya Aminah.
Shaheer Sheikh terdiam masih menggenggam erat tangan Aminah.
Giliran Shaheer Sheikh yang tersentak kaget dan bingung harus menjawab pertanyaan Aminah.
''Kau mengawasiku ? Apa aku bagimu, Shaheer ? Pencuri ? Penjahat ? Ataukah kamu masih mencurigaiku ?''
Aminah mencerca Shaheer Sheikh dengan berbagai pertanyaan.
Shaheer Sheikh menarik nafasnya dalam-dalam lalu berkata.
''Ya... Aku memang mengawasimu, Aminah...''
Pria tampan itu memejamkan matanya sambil melepaskan genggaman tangannya dari Aminah.
''Aku muak padamu ! Aku muak, Shaheer !!!''
Aminah menangis seraya mendorong tubuh Shaheer Sheikh.
Memalingkan wajahnya dari pria tampan itu sambil sesenggukan.
''Aminah..., maafkan aku !'', jawab Shaheer Sheikh.
Aminah hanya diam dengan kepala tertunduk sedih.
''Aku tidak bermaksud mencurigaimu, Aminah...'', kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menyisir rambutnya dengan gelisah.
''Tolong dengarkan aku, Aminah ! Tolong sekali ini kamu mendengarkan perkataanku !'', kata Shaheer Sheikh.
''Untuk apa ?'', sahut Aminah dengan berurai mata.
Shaheer Sheikh memegangi kedua pundak Aminah berusaha meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
''Aku memang menaruh curiga padamu karena terus terang babamu dan kakek Salman adalah rekan bisnis yang saling akrab'', kata Shaheer Sheikh.
''Lantas ? Apa hubunganku dengan kakek mu itu ? Dan untuk apa kamu mencurigaiku ?'', sahut Aminah.
Shaheer Sheikh terdiam memandangi Aminah dengan serius.
''Jangan katakan bahwa keluargaku bersengkongkol dengan kakekmu untuk menjatuhkanmu, Shaheer !''
Sahut Aminah menatap tajam Shaheer Sheikh dengan kedua mata berlinangan air mata.
''Aminah..., ini hal yang rumit dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, kau tidak akan pernah tahu masalah yang terjadi pada kami...'', kata Shaheer Sheikh.
''Aku tahu itu, Shaheer !'', jawab Aminah.
Shaheer Sheikh tersentak kaget mendengar jawaban Aminah.
Dia mundur menjauh dengan terus memandangi Aminah yang menatapnya tajam.
''Apa yang kamu tahu ?'', tanyanya.
Terlihat jelas sikap Shaheer Sheikh yang sangat berhati-hati.
''Aku tahu akan cerita kematian kakekmu Safwan Sheikh, saudara tiri dari kakek Salman Sheikh...'', jawab Aminah.
Shaheer Sheikh tertegun memandangi Aminah.
Seakan-akan seluruh waktu berhenti berputar dan dia mulai merasakan rasa ngeri menjalar dalam pikirannya.
Shaheer Sheikh berjalan menghampiri Aminah yang memandanginya, di raihnya Aminah lalu memeluknya.
''Aminah..., maafkan aku...'', bisik Shaheer Sheikh.
Aminah terbelalak kaget saat pria dingin yang selalu memusuhinya itu mendadak bersikap hangat dan memeluknya.
''Seharusnya aku tidak mencampurbaurkan keadaan ini dengan rencana pernikahan kita karena aku hanya berpikir bahwa semua ini berkaitan erat''
Kata-kata Shaheer Sheikh seolah-olah mengandung penyesalan atas sikapnya selama ini terhadap Aminah.
''Aku tahu akan kematian kakek Safwan Sheikh dari cerita Raaida... Apakah karena itu kamu memusuhiku dan bersikap dingin padaku ?''
Pertanyaan Aminah langsung menohok Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu semakin mengeratkan pelukannya pada Aminah.
''Maafkan aku..., aku hanya merasa rumah ini penuh muslihat yang mungkin suatu saat nanti aku atau keluargaku bernasib sama dengan kakek Safwan...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi apa hubungannya babaku dengan ini semua jika kamu tahu yang terjadi sebenarnya pada babaku, Shaheer ?''
Kata-kata Aminah kali ini mampu mengejutkan Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh melepaskan pelukannya lalu menatap Aminah dengan serius.
''Maksudmu apa ? Apa yang terjadi pada babamu, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh curiga.
''Dapatkah aku mempercayaimu Shaheer ? Bukankah katamu tak seorangpun di rumah ini bisa aku percayai termasuk dirimu ?''
Aminah menyahut pertanyaan Shaheer Sheikh seraya menatapnya dengan tatapan sendu.
Tak seorangpun tahu jika hati gadis cantik itu sangat terluka dan tercabik-cabik perih.
Aminah melanjutkan ucapannya dengan bibir bergetar.
''Dia mati bukan karena sakit yang dideritanya tetapi dia mati dalam kecelakaan kapal...''
Shaheer Sheikh terhenyak kebingungan seraya berjalan mundur hingga tubuhnya terbentur meja kerja yang ada di belakangnya.
Dia berdiri terpaku diam menatap Aminah tanpa mampu berkata-kata.
Suhu tubuhnya langsung turun drastis merasakan rasa dingin disekujur tubuhnya yang terbalut setelan Sherwani merah maroon itu mendadak lemas.
__ADS_1
Shaheer Sheikh hanya bisa memandangi Aminah yang berdiri dihadapannya dengan hati hancur.
Rasa sesal di dalam dada Shaheer Sheikh semakin bertambah besar karena sikapnya terhadap Aminah yang selalu dia musuhi selama ini hanya karena faktor kedekatan ayah Aminah dengan kakek Salman Sheikh, orang yang paling dibencinya.