Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aku Tidak Tahu Haruskah Menerimanya


__ADS_3

Setelah pertemuan dirinya dengan Shaheer Sheikh di ruangan rahasia sepulang Aminah dari kantor polisi untuk menanyakan perihal ayahnya.


Mereka berdua berjanji untuk pergi keluar mencari informasi tentang kecelakaan kapal yang dialami oleh ayah Aminah.


Aminah berjalan menuruni tangga setengah berlari kecil.


Tiba-tiba terdengar suara memanggil dirinya dari arah belakang.


''Aminah !''


Aminah langsung menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya.


Betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang tadi memanggilnya.


"Kakek Salman Sheikh !? Ada apa dia sepagi ini menemui ku ?"


Batin Aminah seraya menghentikan langkah kakinya.


Dia terdiam berdiri menatap lurus ke arah kakek Salman Sheikh yang berjalan mendekati dirinya.


''Pagi-pagi begini, kamu akan pergi kemana ?'', tanya kakek Salman Sheikh.


''Ehk !?", gumam Aminah.


Tampak kedua tangan Aminah bergetar hebat saat pria tua itu bertanya padanya.


''Aku... Aku... Aku hendak jalan-jalan bersama Shaheer Sheikh, kakek...'', sahut Aminah gugup.


''Dengan Shaheer Sheikh ? Kemana ? Tidak biasanya kalian pergi bersama-sama... Apa ada yang kalian butuhkan ?'', tanya kakek Salman Sheikh.


''Tidak, kakek, kami hanya ingin berbelanja dan berjalan-jalan berduaan di luar rumah'', sahut Aminah.


Aminah berpikir keras mencari jawaban dari pertanyaan kakek Salman Sheikh dan dia mencoba berhati-hati terhadap sikapnya terhadap pria tua itu.


Walaupun Aminah tahu bahwa kakek Salman Sheikh yang mengatur serta merencanakan hubungannya dengan Shaheer Sheikh tetapi dia tetap menjaga sikapnya terlebih setelah dia tahu akan kecelakaan yang menimpa ayahnya.


''Apa dia mau menemanimu keluar rumah untuk berbelanja ? Biasanya dia tidak suka dengan hal yang berkaitan dengan ku...'', sahut kakek Salman Sheikh.


''Shaheer yang menginginkannya, kami pergi bersama-sama keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan pertunangan kami, kakek'', lanjut Aminah.


''Benarkah ?'', sahut kakek Salman Sheikh. ''Apa benar itu ?'', sambungnya.


Tampak wajahnya yang menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap ucapan Aminah yang mengatakan bahwa Shaheer Sheikh mengajaknya keluar rumah bersama-sama.


''Benar, kakek. Kenapa kakek menanyakan hal itu ? Apakah ada yang aneh dari sikap Shaheer Sheikh ?''


Aminah mencoba bertanya sembari mendalami ekspresi wajah kakek Salman Sheikh.


''Tidak ! Tidak ada yang aneh sebenarnya tetapi berhati-hatilah karena hari pertunangan kalian sebentar lagi akan tiba'', sahut kakek Salman Sheikh.


''Berhati-hati, kakek ? Apa maksudnya ?'', kata Aminah.

__ADS_1


''Bukankah kalian akan pergi keluar rumah sedangkan hari pertunangan kalian akan diadakan pada bulan Safar nanti dan itu tinggal beberapa hari lagi, nak'', sahut kakek Salman Sheikh.


''Oh, iya, kakek ! Aku tahu itu dan kami pasti berhati-hati saat kami keluar rumah nanti'', ucap Aminah.


Aminah mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya saat kakek Salman Sheikh tiba-tiba mendekati dirinya.


Dalam benak Aminah terbersit akan arsip penting yang berisi mengenai catatan kecelakaan kapal yang terjadi pada ayahnya sehingga Bhasayate Kapoor meninggal dunia.


''Aku akan sedikit tenang mendengar jika Shaheer akan bersedia menjaga dirimu, Aminah'', kata kakek Salman Sheikh.


''Emm !?'', gumam Aminah.


Aminah mengangkat kepalanya lurus tegak menghadap ke arah Salman Sheikh yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Ketika mereka berdua sedang berbicara tentang rencana Aminah yang akan pergi keluar rumah dengan Shaheer Sheikh.


Meskipun dirinya masih meragukan serta menaruh curiga yang besar terhadap kakek Salman Sheikh tetapi perhatian yang diberikan oleh pria tua itu mampu meluluhkan hati Aminah.


Tidak seorangpun yang bersikap sebaik kakek Salman Sheikh saat awal dirinya menginjakkan kaki ke dalam rumah ini bahkan sikap Shaheer Sheikh yang awalnya memusuhinya tidak sebanding dengan kebaikan serta perhatian kakek Salman Sheikh.


Aminah menaruh hormat pada kakek Salman Sheikh dan berusaha menepis rasa curiganya akan kecelakaan kapal yang terjadi pada ayahnya.


Dia lalu tersenyum lembut pada pria tua itu seraya berkata padanya.


''Shaheer akan menjagaku dengan baik, kakek. Apapun yang terjadi nanti, dia pasti akan menjaga diriku sebaik-baiknya...'', kata Aminah.


Kakek Salman Sheikh tersenyum simpul lalu mengeluarkan dompet kulit asli dari saku celananya kemudian mengeluarkan kartu kredit dan memberikannya kepada Aminah.


''Oh, tidak, kakek ! Ini terlalu berlebihan untukku ! Aku tidak memerlukannya, kakek...'', tolak Aminah.


''Tidak ! Tidak ! Tidak, Aminah ! Ambillah kartu kredit ini dan pakailah untuk berbelanja diluar !'', sahut kakek Salman Sheikh.


''Tapi kakek...'', ucap Aminah bingung.


Diterimanya kartu kredit pemberian kakek Salman Sheikh lalu berdiri menundukkan kepalanya.


"Apakah aku telah keliru mencurigai kakek Salman Sheikh ? Atau hanya aku terlalu terbawa emosi sesaat setelah menemukan arsip rahasia itu ?"


Aminah berkata dalam hati kecilnya sembari menatap terus ke arah kartu kredit yang ada ditangannya.


"Tidak ! Ini tidak mungkin..., aku tidak boleh terlalu hanyut dalam kesenangan sesaat ini..., aku harus lebih waspada dengan ini semua, baik itu terhadap kakek Salman Sheikh maupun pada Shaheer Sheikh..."


Kata Aminah bergumam dalam hati sembari menengadahkan kepalanya ke arah kakek tua itu.


''Baiklah, nak ! Kakek mau pergi dulu sebab masih banyak pekerjaan di kantor yang harus kakek urus'', kata kakek Salman Sheikh.


''Terimakasih, kakek, atas kebaikanmu padaku dan aku akan selalu mendoakanmu agar Allah SWT senantiasa melindungimu'', ucap Aminah.


''Ha... Ha... Ha..., amien ! Semoga Allah SWT memberkatimu, nak'', sahut kakek seraya tertawa senang.


Pria tua itu lalu pergi berlalu dari hadapan Aminah sedangkan gadis berhijab itu hanya termenung sendirian menatap kartu kredit ditangannya.

__ADS_1


''Sebaiknya aku segera menemui Shaheer di ruang makan sekarang karena dia sedang menungguku disana'', kata Aminah.


Pada saat Aminah hendak melangkah ke arah ruang makan terdengar suara dering iphone miliknya dari dalam tas.


KRING... KRING... KRING...


Aminah mengeluarkan iphone dari tasnya lalu mengangkat telepon.


''Apa kabar mathair ?'', sapa Aminah senang.


''Aminah ! Bagaimana kabarmu, nak ?'', sahut suara wanita dari arah iphone miliknya.


''Kabarku baik-baik saja, mathair'', kata Aminah.


''Acara pertunangan tinggal beberapa hari lagi, sayangku... Apa kamu sudah siap, nak ?'', ucap ibu.


''Aku, mathair ? Apa mathair menanyakan perihal itu padaku ?'', jawab Aminah.


''Ya, benar... Aku selalu memikirkanmu di rumah itu, nak, sejak aku melihat sikap dingin calon tunanganmu itu, aku sangat mencemaskan keadaanmu...'', kata ibu.


''Aku baik-baik saja, mathair'', sahut Aminah.


''Tapi... Apakah laki-laki itu tidak menyakitimu, Aminah ? Kau tahu, bukan, jika dia sangat dingin terhadapmu...'', ucap ibu dari balik telepon.


''Aku tahu itu, mathair..., tapi aku akan tetap kuat dan bertahan di rumah ini sampai pertunangan kami selesai...'', sahut Aminah.


''Apakah kamu berencana pergi dari keluarga Sheikh ?'', tanya ibu.


''Entahlah, mathair..., aku masih belum memikirkannya lagi...'', sahut Aminah.


''Jika ada hal yang ingin kamu bicarakan padaku sampaikanlah tanpa kamu perlu merasa sungkan, nak'', kata ibu.


''Baik, mathair. Kapan mathair ke New Delhi ?'', tanya Aminah.


''Mungkin minggu depan, aku dan Chandra akan pergi ke New Delhi tapi naik pesawat dan tidak lagi mengendarai mobil karena bagiku itu terlalu melelahkan'', sahut ibu.


''Apakah Kalini akan ikut bersama kalian ke New Delhi ?'', tanya Aminah. ''Aku sangat merindukan gadis kecil itu, mathair'', sambungnya.


''Aku masih mempertimbangkannya lagi sebab Kalini akan masuk sekolah bulan depan, nak'', jawab ibu.


''Oh, baiklah..., aku mengerti, mathair'', ucap Aminah.


''Aku tutup dulu teleponnya, sayang. Sampai ketemu minggu depan, nak'', kata ibu.


''Iya, mathair..., terimakasih telah menelponku...'', jawab Aminah.


''Daaagh, Aminah !'', sahut ibu.


KLEK...


Telepon di tutup.

__ADS_1


Aminah termenung setelah menerima telepon dari ibunya. Dan dia baru mengingat bahwa ibunya masih berada di Janakpur, dia tidak bisa membayangkan yang terjadi pada ibunya jika dia tahu perihal kecelakaan kapal yang dialami ayahnya.


__ADS_2