Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Apa !?


__ADS_3

Aminah berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kamarnya dengan wajah panik.


Kedua tangannya berulangkali mengusap-usap pelan kain penutup kepalanya berwarna merah.


Kecemasan mulai merambati hati Aminah saat dia hanya sendirian di dalam kamar tidurnya.


Bergumam lirih lalu berdiri terdiam di sisi jendela kamar sambil menatap ke arah luar.


"Bagaimana aku bisa pergi malam ini ke Novotel berdua saja dengan Shaheer Sheikh !?", ucap Aminah.


Aminah kembali mengusap wajahnya dengan hati cemas.


"Aku tidak mungkin terus-menerus bersandiwara dihadapan mereka semua..., karena aku tidak pernah menginginkannya...", ucap Aminah.


Aminah berdiri dengan tubuh sempoyongan kemudian bersandar di dekat jendela kamar sedangkan tatapan kedua matanya benar-benar kosong.


Tidak mencerminkan suasana hati Aminah yang bahagia.


"Apa niat Jannah Sheikh sebenarnya ?", ucap Aminah.


Ekspresi wajah Aminah tampak dingin sekali dan terlihat jika dia tidak menikmati suasana malam ini.


Disilangkannya kedua tangannya tepat di depan dada sambil menghela nafas panjang.


Pandangan Aminah tidak terlihat senang ketika Jannah Sheikh hendak menggelar pesta besar di Novotel besok hari.


Aminah menganggap Jannah Sheikh hanya memainkan perannya sebagai seorang tokoh yang pandai bersandiwara.


Seolah-olah dialah yang membuat hubungan antara Aminah dengan Shaheer Sheikh bertambah dekat.


Aminah tidak menyukai peran Jannah Sheikh yang memainkan perannya sebagai calon mertua penuh kehangatan.


"Apa yang mereka inginkan dari hubungan ini sedangkan sebelumnya Shaheer Sheikh berencana membuangku jauh-jauh dari hidupnya !?", ucap Aminah.


Aminah masih menyandarkan tubuhnya ke sisi jendela kamarnya sedangkan pandangannya tertuju bebas ke arah luar.


Sorot mata Aminah langsung berubah dingin ketika dia masuk ke dalam kamarnya sesaat setelah dia usai memainkan sandiwara cintanya dengan Shaheer Sheikh.


Senyum langsung menghilang dari wajah Aminah saat dia berada di dalam kamarnya.


"Tidak segampang itu membuatku jatuh dalam permainan sandiwara keluarga ini setelah aku mengetahui rahasia kematian baba yang mereka sengaja sembunyikan", ucap Aminah.


Aminah berjalan kembali menuju ke arah lemari kamarnya kemudian berdiri tertegun memandangi lemari di depannya.


Diulurkannya kedua tangannya ke arah pintu lemari.


Menghentikan sejenak gerakan tangannya kemudian melanjutkan kembali membuka pintu lemari.


Terlihat deretan gaun panjang milik Aminah yang tersimpan rapi di dalam rak gantung lemari, diambilnya koper besar daro dalam lemari lalu dilemparkannya koper itu dengan asal.


BRAK... !!!


Suara keras dari arah koper berukuran besar saat Aminah melemparknnya secara asal ke atas lantai kamarnya.


Aminah melanjutkan kembali aktivitasnya dengan mengambil beberapa setelan gaun panjang mewah lengkap dengan kain hijab dari dalam lemari lalu dilemparkannya semua gaun-gaun mahal itu ke arah lantai.

__ADS_1


Berdiri terdiam dengan ekspresi wajah dingin saat menatap ke arah lemari yang ada dihadapannya.


Hampir kosong isi lemari pakaian di kamar Aminah seusai gadis berhijab itu mengeluarkan sebagian setelan gaun-gaun miliknya secara asal.


"Haruskah aku merasa bahagia !? Ataukah aku harus merasa bahwa ini hanyalah sandiwara kami !?", ucap Aminah.


Aminah menutup pintu lemari pakaiannya kemudian dia melangkah cepat mendekati tumpukan setelan gaun-gaun mahalnya yang berserakan di sekitar koper.


Berdiri termenung dengan tatapan dinginnya serta memandangi gaun-gaun miliknya dengan hampa.


"Kalian kira sandiwara ini akan berjalan sesuai keinginan skenario kalian ?", ucap Aminah. "Tidak ! Tidak akan pernah !!!"


Aminah menggertakkan kedua gerahamnya kuat-kuat kemudian berjalan menjauh dari tumpukan gaun-gaun mahalnya yang berserakan di atas lantai kamarnya.


Duduk dengan menahan emosi seraya mengingat kembali tentang arsip yang berisi tentang berita acara kecelakaan kapal yang dialami oleh ayahnya.


Tidak seorangpun tahu akan peristiwa nahas itu terjadi pada ayahnya sedangkan keluarga besar Sheikh ini seakan-akan menyembunyikan tragedi maut itu dari keluarganya.


Aminah tidak mampu menyembunyikan rasa marahnya saat melihat kebahagian terus mengelilingi kehidupan keluarga Sheikh.


Gadis berhijab itu menarik selimut dari atas tempat tidurnya lalu melemparkannya ke arah lantai dengan penuh emosi.


"Aku akan pastikan misteri tentang kecelakaan yang dialami oleh baba terkuak cepat ! Dan aku tidak akan membiarkan yang terlibat di dalam peristiwa kecelakaan itu bebas, baba !!!", ucap Aminah.


Aminah menatap ke arah lantai kamarnya yang dipenuhi oleh serakan barang-barang miliknya berupa tumpukan setelan gaun serta selimut.


Pintu diketuk dari arah luar kamar sehingga menyentakkan Aminah.


Tok... Tok... Tok...


''Tunggu sebentar !'', sahut Aminah.


Saat terdengar kembali suara pintu kamarnya diketuk dari arah luar.


Tok ! Tok ! Tok !


Suara seorang perempuan memanggil nama Aminah dari luar kamar sedangkan Aminah terlihat terburu-buru mengemas seluruh gaun panjangnya kedalam koper dengan asal-asalan.


Diangkatnya koper dari atas lantai kamarnya kemudian Aminah memposisikan koper miliknya berdiri tegak di dekat tempat tidurnya.


''Nona Aminah ! Apakah nona baik-baik saja didalam sana ?", kata suara perempuan dari arah luar kamar.


"Iya, aku baik-baik saja ! Tunggu sebentar ! Aku akan segera membuka pintu !", sahut Aminah.


"Baiklah..., saya akan menunggu diluar...", sahut suara perempuan dari arah luar kamar.


"Apakah kau Raida ?", tanya Aminah.


"Benar, nona, saya Raida ! Apa anda baik-baik saja di dalam ? Saya sengaja kemari setelah mendengar nyonya Jannah Sheikh berbicara dengan tuan muda akan rencana kalian pergi ke Novotel malam ini...", jawab Raaida dari luar.


"Tunggu Raaida ! Aku akan membukakan pintu kamar ini, tunggulah sebentar karena aku masih berbenah !", ucap Aminah.


Aminah memperhatikan arah sekitar ruangan kamarnya lalu kembali memastikan keadaan kamar tidurnya dalam kondisi yang rapi sebelum dia membuatnya berantakan tadi.


Gadis berhijab itu lalu melangkah mendekati pintu kamar seraya membukanya.

__ADS_1


Berdiri Raaida di depan kamar seraya menatap Aminah serius.


"Ada apa Raaida ?", ucap Aminah.


"Saya sengaja menyempatkan diri saya ke kamar nona karena saya bermaksud membantu anda berbenah malam ini", jawab Raaida.


"Oh !?", kata Aminah. "Tapi aku sudah bersiap-siap untuk pergi, Raaida", sambungnya.


"Baiklah, jika nona sudah menyiapkan keperluan nona ke Novotel malam ini", ucap Raaida.


Raaida melirik ke arah koper besar yang berada dekat tempat tidur tetapi dia melihat sehelai kain muncul menyembul dari sisi koper.


"Nona tidak bermaksud merusak gaun-gaun nona yang berharga mahal itu, bukan !?", ucap Raaida sambil melirik ke arah Aminah.


"Maksudmu, Raaida !?", sahut Aminah.


Raaida menunjuk ke arah koper besar di dekat sisi tempat tidur Aminah dengan sehelai kain menyembul keluar dari dalam koper.


Aminah langsung terkejut ketika Raaida memberitahukannya mengenai kecerobohan yang dilakukan oleh Aminah yang tergesa-gesa menaruh gaun-gaun mahalnya di dalam koper secara asal-asalan.


"Sebaiknya saya membantu nona untuk melipat rapi gaun-gaun mahal milik nona supaya tidak cepat rusak", ucap Raaida.


Raaida berjalan masuk ke dalam kamar Aminah seraya menghampiri koper besar di dekat tempat tidur.


Membuka kembali koper milik Aminah kemudian melipat gaun-gaun mahal kepunyaan Aminah dengan sangat rapi di dalam koper.


"Kau tidak perlu melakukannya, Raaida...", kata Aminah. "Ini bukan tugas sambilanmu", sambungnya.


"Bukan lantaran saya seorang pelayan di keluarga ini tetapi saya melakukannya karena saya menyukai melayani anda, nona Aminah", sahut Raaida.


"Bukankah masih ada mathair dan anggota keluarga lainnya di rumah ini ? Kenapa kamu harus melayaniku ?", kata Aminah.


''Kau satu-satunya yang sangat baik dan menganggapku ada di rumah ini, nona Aminah'', ucap Raaida.


Aminah lantas terdiam dengan kepala setengah tertunduk menghadap ke arah lantai kamarnya.


''Tapi aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Raaida karena banyak di dalam hatiku tersimpan sesuatu rahasia yang tersembunyi dan itu jahat'', kata Aminah.


''Meski nona akan berubah menjadi sangat jahat dan kejam tetapi saya yakin anda tidak akan tega menyakiti orang-orang terdekat nona yang paling nona sayangi'', sahut Raaida.


Raaida melipat gaun-gaun panjang Aminah lalu menatanya ulang kedalam koper besar yang terbuka di depannya.


''Apakah kau percaya padaku, Raaida ?'', kata Aminah.


''Tentu saja, saya sangat mempercayai nona Aminah ! Karena bagi saya, hanyalah nona Aminah yang baik kepada saya'', ucap Raaida.


''Bukankah mereka membayarmu cukup tinggi untuk sekedar bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Sheikh ini, Raaida !?'', kata Aminah. ''Apakah itu tidak cukup untukmu !?''


''Sangat cukup untuk saya, nona Aminah ! Bahkan lebih dari sangat cukup, nona Aminah !'', ucap Raaida.


''Benarkah !? Lantas kenapa kamu masih terus mengatakan bahwa sikap keluarga Sheikh ini tidak baik padamu daripada aku sedangkan aku tidak pernah membayarmu sepeserpun, Raaida !?'', kata Aminah.


''Jujur jika saya tidak mengharap gaji tinggi dan itu bohong kalau saya tidak menginginkannya tapi perasaan saya mengatakan bahwa anda adalah orang yang paling baik didalam keluarga ini, nona Aminah...'', sahut Raaida.


Raaida tersenyum menatap Aminah yang duduk di atas tempat tidur didekat Raaida yang tengah sibuk menyiapkan keperluan Aminah untuk pergi ke Novotel malam ini.

__ADS_1


Gadis berhijab bernama Aminah tidak membalas senyuman Raaida dan hanya terdiam saja memperhatikan letak koper miliknya yang telah disiapkan oleh Raaida khusus untuknya.


__ADS_2