
Aminah terlihat duduk di depan cermin rias miliknya seraya memasangkan jarum pentul ke kain hijab warna tosca dengan hati-hati.
Dipandanginya wajahnya yang kemerah-merahan terkena paparan sinar matahari yang merasuk masuk ke dalam ruangan kamar tidurnya.
Aminah mengingat ucapan Shaheer Sheikh saat mereka terakhir kalinya di dermaga pelabuhan, tempat terakhir yang mereka datangi setelah dari pabrik.
''Alasan aku membantumu adalah aku mulai tertarik padamu...'', ucap Shaheer Sheikh kala itu.
Saat itu Aminah hanya menjawab ucapan Shaheer Sheikh.
"Alasan kenapa kamu masuk ke dalam hatiku !?'', kata Aminah saat mereka berdua berada di dermaga pelabuhan terakhir yang mereka kunjungi.
Shaheer Sheikh hanya terdiam kala itu saat mendengar jawaban atas pernyataan cintanya kepada Aminah.
Keduanya berada berdiri bersama-sama di ujung dermaga pelabuhan seraya saling berpandangan dengan diiringi oleh debur ombak laut yang ada disekitar dermaga kala itu.
"Kau telah membuat ku merasa sangat nyaman saat aku berada bersama dengan mu... Aku mengganggap mu pilar utama yang menjadi tempat ter-kokoh untukku bersandar...", ucap Aminah.
Shaheer Sheikh tersenyum mendengar ucapan Aminah kala itu lalu berjalan menghampiri gadis berhijab itu seraya memeluknya erat-erat.
Keduanya saling berpelukan erat di atas dermaga pelabuhan dengan suara deburan ombak laut yang mengiringi mereka.
Shaheer Sheikh mengusap lembut kepala Aminah yang tertutup rapat oleh hijab lalu dikecupnya dahi gadis cantik itu.
"*Kau sebentar lagi akan menjadi milikku, bukan lagi sebagai pasangan pengganti untuk mu atau untuk ku, Aminah... Kau akan menjadikanku seseorang yang paling berharga serta paling sempurna karena kau di sisiku melengkapi ku...", bisik lembut Shaheer Sheikh.
"Apa kau benar-benar mencintai ku, Shaheer Sheikh ?", ucap Aminah.
"Haruskah aku menjabarkan perasaan ku dalam hitungan kabisat atau algoritma cinta...", sahut Shaheer Sheikh.
"Dapatkah kita akan terus bersama selamanya, Shaheer Sheikh ?", kata Aminah kala itu.
"Kenapa kau menanyakan perihal itu kepada ku, Aminah ?", jawab Shaheer Sheikh menatap teduh.
"Entahlah... Aku hanya merasa semua ini akan segera berlalu pergi dalam waktu yang singkat diantara kita... Firasatku berkata demikian...", ucap Aminah*.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Shaheer Sheikh kala mereka di dermaga pelabuhan tempat terakhir yang mereka kunjungi untuk mencari informasi tentang kecelakaan kapal yang dialami oleh ayah Aminah.
Mereka hanya berpelukan erat seakan tidak terpisahkan satu dengan lainnya.
Shaheer Sheikh menggandeng tangan Aminah pergi dari arah dermaga pelabuhan meninggalkan tempat itu karena informasi yang mereka cari di sana tidak mereka dapatkan.
Keduanya lantas sepakat untuk kembali pulang ke New Delhi hari itu juga meski harus menempuh perjalanan jauh tetapi mereka memilih untuk pergi.
Kejadian di dermaga pelabuhan kala itu telah berlalu selang dua hari lamanya. Dan semenjak itu, mereka jarang lagi bertemu atau bertatap muka.
Entah apa yang dilakukan oleh Shaheer Sheikh saat sekembalinya mereka dari dermaga yang Aminah tahu sekarang adalah mereka tidak lagi bertemu muka sesering dulu.
Aminah segera merapikan alat-alat make-upnya yang berserakan di atas meja rias seraya memasukkan semua benda tersebut ke dalam laci meja rias.
__ADS_1
Ditepuk-tepuk nya berulangkali wajah Aminah yang memerah dengan kedua telapak tangannya.
Aminah lalu bergegas pergi dari meja rias menuju keluar kamar sembari berjalan cepat menuruni tangga rumah yang melingkar lebar.
''Aminah !'', sapa seseorang dari arah belakang ketika Aminah hendak masuk ke dalam ruangan dapur.
Aminah lantas menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara yang memanggil dirinya lalu berhenti berjalan.
''Mathair... Selamat pagi... !?'', sahut Aminah.
Seorang wanita ber-saree cantik warna kuning motif bunga menghampiri Aminah yang berdiri di hadapannya termenung.
''Pagi, Aminah ! Bagaimana kabar mu ?'', ucap Jannah Sheikh sambil tersenyum lembut.
Jannah Sheikh berjalan mendekati Aminah seraya mengusap lembut wajah gadis berhijab itu.
''Sejak kalian pergi bersama-sama dari luar, aku tidak lagi melihat kalian berdua... Kenapa ? Apakah kalian sedang bertengkar ?'', ucap Jannah Sheikh.
Pikiran Aminah langsung berputar cepat saat Jannah Sheikh bertanya kepada dirinya tentang Shaheer Sheikh yang sudah dua hari ini tidak dia lihat lagi sejak dari dermaga pelabuhan.
''Maksud mathair ? Apakah yang mathair maksudkan adalah Shaheer Sheikh ?'', tanya Aminah.
''Iya, aku tidak melihat kalian keluar berdua-duaan lagi'', sahut Jannah Sheikh. ''Mengapa ?''
''A--aku tidak tahu, mathair..., sebab dia tidak memberitahukan kepada ku akan kesibukannya dan kami tidak bertemu lagi sejak dua hari yang lalu...'', ucap Aminah.
''Apa kalian bertengkar ?'', tanya Jannah Sheikh.
''Hmmm, baiklah ! Kalau begitu kau boleh pergi... Dan..., oh, iya... Raaida telah memasak menu sarapan pagi yang sangat lezat ! Aku yakin kau pasti menyukainya, Aminah !'', ucap Jannah Sheikh.
''Terimakasih, mathair'', sahut Aminah.
''Sama-sama, sayang ! Dan pergilah segera ke sana ! Mintalah, Raaida untuk memberi mu makanan lezat itu !'', kata Jannah Sheikh yang berlalu pergi.
Aminah terdiam menatap punggung Jannah Sheikh yang berjalan pergi darinya menuju ke arah ruangan rumah lainnya.
Tidak banyak kata yang terucap dari bibir Aminah saat Jannah Sheikh bertanya tentang kabar Shaheer Sheikh yang tidak lagi bersama-sama dengannya.
Aminah melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah dapur rumah yang letaknya di belakang dekat jalan menuju ke ruangan tengah.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati dirinya kemudian dengan cepat mendekapnya erat.
Sontak hal itu membuat Aminah kaget tak karuan kemudian dia menolehkan kepalanya ke arah datangnya orang yang memeluknya itu.
Dilihatnya Shaheer Sheikh yang sedang berdiri dengan wajah tertunduk dalam sembari mendekap erat tubuh Aminah.
''Shaheer Sheikh !?'', ucap Aminah berbisik lembut.
''Hmmm... !?'', hanya suara bergumam yang keluar dari Shaheer Sheikh.
__ADS_1
''Apa kabarmu ?'', tanya Aminah gugup.
''Baik !'', sahut singkat Shaheer Sheikh.
Aminah lantas terdiam tanpa bertanya lagi kepada Shaheer Sheikh sedangkan pria tampan itu masih saja mendekapnya erat.
''Kau tidak merindukanku, Aminah ?'', bisik Shaheer Sheikh.
''K--kenapa kau bertanya demikian ?'', sahut Aminah gugup.
''Tentu saja aku bertanya kepada mu tentang itu karena hal itu sangatlah wajar bagi sepasang kekasih yang saling mencintai...'', ucap Shaheer Sheikh.
''Oh... !?'', sahut Aminah bingung.
''Apa kau tidak merindukanku ? Sudah dua hari ini kita tidak bertemu lagi !? Dan kenapa kamu tidak pernah mencari ku atau menghubungi ku ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Maksudmu !?'', sahut Aminah seraya menoleh ke arah Shaheer Sheikh.
Pada saat keduanya saling berpandangan hampir mereka saling berciuman.
Aminah dengan cepat menjauhkan pandangannya dari Shaheer Sheikh lalu melepaskan dekapan pria tampan itu.
''A--aku lapar... Dan aku ingin sarapan pagi ini...'', ucap Aminah panik.
''Kau sengaja menghindar dari ku, Aminah ! Mengapa ?'', sahut Shaheer Sheikh lalu menarik tangan Aminah kemudian kembali memeluk erat tubuh gadis berhijab itu.
''Tidak, Shaheer Sheikh ! Ini tidak dibenarkan karena kita masih belum terikat hubungan yang resmi ! Dan aku tinggal di sini karena saran kakek'', kata Aminah.
Namun, dekapan Shaheer Sheikh sangat kuat di tubuh Aminah hingga gadis cantik itu tidak dapat melepaskan pelukan pria berwajah menawan itu dari dirinya.
''Kita akan sarapan bersama-sama tetapi aku ingin kita berdua saja di dalam ruangan rahasia dimana kita pertama kalinya bersama, Aminah'', ucap Shaheer Sheikh.
''Didalam ruangan rahasia di balik dinding taman itu ?'', tanya Aminah kaget. ''Kenapa kita tidak sarapan pagi di rumah saja ? Akankah lebih baik karena mathair Jannah Sheikh bisa melihat keakraban kita ?''
''Apa maksud mu ?'', sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh lalu melepaskan dekapannya dari Aminah seraya menjauh kemudian berkata.
''Kau sengaja mengajak ku memulai pertengkaran lagi, Aminah !?''
Aminah menggelengkan kepalanya lalu menjawab ucapan Shaheer Sheikh.
''Tidak, aku tidak bermaksud bertengkar dengan mu tetapi tadi mathair Jannah bertanya tentang kita...''
''Kita !?'', ucap Shaheer Sheikh seraya mengangkat salah satu alisnya ke atas.
''Yah... Apa kau keberatan ?'', sahut Aminah.
Keduanya saling berpandangan serius tanpa ada yang bersuara dan sama-sama terdiam.
__ADS_1
Suasana di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi sunyi. Dan kembali keadaan diantara keduanya menjadi dingin.