Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aminah pergi ke pusat perbelanjaan


__ADS_3

Aminah hanya diam saat Shaheer Sheikh membukakan pintu mobil untuknya saat tiba di sebuah tempat perbelanjaan besar di tengah-tengah kota.


Gadis berhijab itu lalu turun dari dalam mobil seraya merapikan letak gaun panjangnya.


Shaheer Sheikh melirik Aminah yang tengah sibuk menata hijabnya yang panjang dengan mimik serius.


Aminah melangkah mendahului Shaheer Sheikh yang masih berdiri di dekat mobil seraya menutup pintu mobil.


Mereka berjalan berjauhan seperti orang yang sedang bertengkar menuju ke mall lewat lift yang tersedia di area parkir.


Shaheer Sheikh menekan tombol naik lift saat mereka hendak masuk ke mall.


Diliriknya kembali gadis berhijab disampingnya seraya berkata.


''Apa kau baik-baik saja ?'', Shaheer Sheikh berkata sambil menatap ke arah pintu lift. ''Sedari tadi kau tampak cemberut !? Apa ada yang mengganggu pikiranmu ?''


''Tidak ada, tidak ada yang aku pikirkan...'', sahut Aminah datar.


''Tidak ada yang kau pikirkan tetapi wajahmu itu menunjukkan rasa tidak senangmu kepadaku'', kata Shaheer Sheikh.


''Sudah aku katakan bahwa aku baik-baik saja dan tidak ada yang aku pikirkan saat ini'', sahut Aminah.


''Benarkah !?'', kata Shaheer Sheikh berusaha melihat Aminah yang hanya berdiri tanpa melihatnya.


''Haruskah aku menjelaskan kepadamu hal yang tidak perlu !? Sudah aku katakan bahwa aku baik-baik saja, Shaheer !'', ucap Aminah.


''Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi padamu, hanya saja kau sejak tadi hanya merengut dan bersikap dingin...'', kata Shaheer Sheikh.


''Bisakah kamu tidak menanyakan hal aneh lagi padaku ? Karena aku ingin segera menyelesaikan acara berbelanja ini secepatnya, Shaheer !'', jawab Aminah.


''Baiklah, baiklah... Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi... Dan mari kita pergi belanja sekarang...'', ucap Shaheer Sheikh.


Aminah tidak menjawabnya lalu melangkah masuk ke dalam lift seraya memalingkan mukanya saat Shaheer Sheikh menatapnya.


Keduanya masuk ke lift saat pintu lift terbuka lebar lalu menutup secara otomatis saat mereka berdua berada di dalam lift.


Lift bergerak naik ke atas menuju ke area pusat perbelanjaan yang letaknya di lantai dua dari gedung mall yang berukuran sangat luas.


Selama di dalam lift, terlihat Shaheer Sheikh dan Aminah hanya saling terdiam tanpa bertegur sapa hingga lift sampai ke lantai atas tempat area pusat perbelanjaan berada.


Aminah bergegas cepat keluar dari lift disusul oleh Shaheer Sheikh yang melangkah di belakangnya saat pintu terbuka.


Langkah kaki Aminah terkesan dipercepat saat dia berjalan di area sepanjang mall.


Melewati toko-toko yang ada disamping kanan dan kiri mereka saat mereka berjalan sepanjang mall yang ada.


Aminah membuka buku jurnal belanja yang dicatatkan oleh Jannah Sheikh lalu membacanya dengan seksama.

__ADS_1


SRRRRTTT... !!!


"Apa yang sedang kamu baca itu, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh.


''Ehk !?'', gumam Aminah terkejut.


Shaheer Sheikh menarik buku jurnal belanjaan dari tangan Aminah lalu membacanya sembari mengerutkan keningnya.


''Ini daftar belanjaan yang harus kita beli !?'', kata Shaheer Sheikh. ''Apa mathair tidak sedang bercanda ?'', sambungnya.


''Kenapa ? Ada yang salah dari daftar belanjaan itu atau ada yang kurang ?'', kata Aminah.


''Kau akan belanja sebanyak ini dengan daftar belanjaan setebal ini ???'', sahut Shaheer Sheikh. ''Apa tidak salah !?''


''Maksudmu !? Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan itu, Shaheer ?'', jawab Aminah heran.


''Coba kamu perhatikan daftar belanjaan yang harus kau beli yang dibuat oleh mathair ini ! Tidak wajar !'', kata Shaheer Sheikh mencoba menjelaskan.


''Tapi mathair Jannah yang mencatatkan daftar belanjaan itu dan memberikannya sendiri padaku lalu dimana letak kesalahannya ?'', sahut Aminah.


''Ya, Tuhan... Kau masih tidak mengerti, Aminah !'', ucap Shaheer Sheikh. ''Tidak mungkin kau akan membeli semua barang yang ada di mall ini !''


''Ta--tapi... Bukankah mathair yang menuliskan daftar belanjaan itu dan kita harus membelinya...'', kata Aminah.


''Tidak ! Tidak, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh. ''Ini tidak benar !'', sambungnya.


''Ini tidak perlu... Ini tidak penting... Ini juga tidak usah dibeli... Dan ini dibuang saja..., yang satu ini perlu dicoret !'', kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh terlihat sibuk seraya mengarahkan pulpennya di atas buku jurnal berisi daftar belanjaan yang akan mereka beli di mall, mencoret daftar-daftar belanjaan yang tidak penting.


''Ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan dari pekerjaan apapun yang ada, mathair benar-benar memberi kita pekerjaan tidak penting !'', kata Shaheer Sheikh mengeluh.


Pria tampan itu lalu menoleh ke arah Aminah sambil berkata padanya.


''Kau selalu saja menuruti perkataan orang lain yang seharusnya tidak perlu kamu lakukan, Aminah'', ucap Shaheer Sheikh.


''Bukan tidak menuruti permintaan orang lain saat mereka meminta tolong kepadamu, aku rasa wajar jika kita saling menolong, bukan !?'', sahut Aminah.


''Benar sekali yang kau katakan itu tetapi sebaiknya kau menelaah lagi semua permintaan yang datang kepadamu'', kata Shaheer Sheikh.


''Termasuk permintaan untuk menikah denganmu !?'', jawab Aminah.


Shaheer Sheikh terdiam dan hanya memandangi buku jurnal yang dia pegang sekarang.


Tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan yang dilontarkan oleh Aminah kepadanya.


Shaheer Sheikh menghela nafas panjangnya lalu berkata pada Aminah.

__ADS_1


''Baiklah, kita sebaiknya segera berbelanja karena aku pikir waktu kita disini tidak cukup untuk menghabiskan daftar belanjaan ini...'', sahut Shaheer Sheikh.


''Iya, baiklah...'', jawab Aminah pelan.


Shaheer Sheikh melanjutkan kembali langkah kakinya di area perbelanjaan yang ada di mall sembari terus membaca isi daftar pada buku jurnal yang dia pegang.


''Kita ke toko kue itu dulu !'', kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh berjalan seraya menunjuk ke arah sebuah toko mewah yang menjual kue-kue aneka rasa yang sangat lezat di lantai dasar.


Aminah menolehkan kepalanya ke arah toko yang menjual kue-kue di sebelah kanan mereka.


''Kita akan membeli kue pesanan mathair terlebih dahulu setelah itu kita belanja kebutuhan sehari-hari'', lanjut Shaheer Sheikh.


''Baiklah, kita membeli kue...'', ucap Aminah.


''Bagaimana kau setuju, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh.


''Iya, aku setuju dengan usulmu itu, Shaheer !'', sahut Aminah. ''Mari kita belanja kue-kue yang lezat itu !''


Aminah melangkah cepat menuju ke dalam sebuah toko kue yang cukup mewah untuk membeli kue pesanan mathair Jannah.


Didalam toko yang menjual beraneka macam jenis kue, Aminah berjalan menelusuri etalase toko yang berisi kue-kue lezat yang sangat cantik bentuknya.


Sesekali terdiam sembari berdiri menatap kue-kue yang ada di depannya lalu menanyakan kepada seorang penjual kue harga kue-kue yang dipajang di dalam etalase.


Seorang penjual kue menjawab pertanyaan dari Aminah dan memberitahukan tentang harga kue-kue berbentuk mewah nan cantik itu yang dijual oleh toko.


Alangkah terkejutnya Aminah saat dia mendengar harga-harga kue yang dijual oleh toko yang harganya sangat fantastis.


Harga sekotak kue mencapai ratusan ribu hingga jutaan.


Aminah lalu berjalan pergi dari etalase yang ada di hadapannya seraya menghela nafas panjang.


''Kenapa dia pergi !?'', ucap Shaheer Sheikh.


Ketika dia melihat Aminah yang pergi menjauh dari etalase toko kue lalu berdiri diam menatap ke arah rak-rak kue di depannya.


Shaheer Sheikh lalu memesan kue yang dipesan oleh ibunya dan meminta penjual toko kue untuk memasukkannya ke dalam kotak-kotak kue.


Membeli begitu banyak kue yang diinginkan oleh Jannah Sheikh sebagai persediaan di rumah jika ada tamu atau kakek yang kerap ingin memakan kue-kue lezat dari toko ini.


Keluarga Sheikh memang sering memesan beraneka kue-kue lezat dari toko di mall ini setiap minggu atau dua minggu.


Shaheer Sheikh meminta pada penjual toko kue untuk mengantarkan kotak-kotak kue berisi kue pesanannya ke rumah karena dia tidak mungkin membawanya dalam jumlah banyak.


Penjual toko kue lalu mencatat di dalam jurnal seraya memberikan kertas pesanan kepada Shaheer Sheikh dan berjanji pada pria berwajah tampan itu untuk mengantarkan kotak-kotak berisi kue ke rumah.

__ADS_1


Shaheer Sheikh mengambil kertas dari penjual toko kemudian memasukkannya ke dalam saku pakaiannya sambil berjalan menghampiri Aminah.


__ADS_2