
Aminah dan Shaheer Sheikh lantas melanjutkan tujuan mereka untuk berbelanja keperluan lain yang dipesan oleh Jannah Sheikh.
Shaheer Sheikh membaca ulang buku jurnal berisi daftar belanjaan yang ada di tangannya setelah dia mengeluarkannya dari dalam saku celananya.
Berjalan sambil memperhatikan sisi-sisi jalan yang ada di Mall.
Shaheer Sheikh berhenti di sebuah toko perbelanjaan yang menjual bahan-bahan makanan tradisional serta siap saji.
Pria tampan yang selalu mengenakan Sherwani setiap dia keluar dan membiasakan dirinya sendiri untuk memakai pakaian Sherwani lengkap yang menjadi kebiasaan bagi Shaheer Sheikh lalu melangkah masuk ke dalam toko perbelanjaan yang menjual bahan-bahan makanan tradisional serta siap saji sedangkan Aminah berjalan dari arah belakang.
BRUK !
Aminah membentur tubuh Shaheer Sheikh saat dia mengikutinya dari arah belakang lalu terdiam sejenak seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat benturan keras.
Shaheer Sheikh berdiri terdiam sambil mengucapkan kata kepada Aminah.
''Kau tahu apa yang harus kita beli sekarang ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Emmm..., tentu saja tidak karena aku tidak dapat mengingat semua daftar belanjaan sebanyak itu yang dipesan oleh mathair Jannah'', sahut Aminah.
''Kalau begitu kamu ikuti aku saja dan kita beli barang yang ada di toko ini sesuka hati kita !'', kata Shaheer Sheikh.
''Sesuka hati kita !? Lalu bagaimana dengan pesanan mathair di daftar belanjaan itu !?'', tanya Aminah.
''Tidak usah kita memperdulikannya lagi isi dari daftar belanjaan yang ada di dalam buku ini, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi jika mathair menanyakan hal ini !? Apa yang akan kamu katakan kepadanya ?'', ucap Aminah.
''Katakan saja kalau kita kehabisan stok barang yang dipesan oleh mathair Jannah'', sahut Shaheer Sheikh datar. ''Dan kita katakan padanya bahwa barang pesanannya sudah habis terjual serta ada yang tidak berproduksi lagi'', sambungnya.
''Tapi bukan aku yang akan menjelaskan tentang hal itu kepada mathair Jannah ! Karena aku tidak ingin berbohong kepada mathair tentang hal yang akan kamu katakan itu !'', ucap Aminah.
''Baiklah, aku saja yang akan memberitahukan kepada mathair tentang rencana kita dan biarkan aku saja yang berbelanja sekarang'', sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh melanjutkan langkah kakinya kembali masuk ke dalam toko perbelanjaan untuk membeli barang yang dipesan oleh Jannah Sheikh dan bermaksud membeli barang lainnya.
Dia terlihat berjalan menuju rak yang menyediakan bahan-bahan makanan tradisional lengkap.
Aminah meraih kereta belanjaan lalu mendorongnya ke arah Shaheer Sheikh agar dia bisa meletakkan semua barang belanjaan ke dalam kereta.
''Kau tanggap juga, terimakasih telah mengambilkan aku kereta belanjaan supaya aku dapat menaruh barang-barang ini'', kata Shaheer Sheikh.
__ADS_1
''Aku hanya berpikir sederhana jika kita akan berbelanja sesuatu dalam jumlah banyak maka kita akan membutuhkan kereta belanja untuk membawa semua barang'', sahut Aminah.
''Kau cerdas juga kalau berkenaan dengan yang namanya belanja, kau suka sekali pergi ke Mall, Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Di Janakpur tidak tersedia Mall besar seperti di New Delhi karena itu aku biasa belanja di pusat perbelanjaan yang tidak menjual barang-barang berharga tinggi seperti orang-orang di New Delhi yang biasa belanja di Mall besar'', sahut Aminah.
''Artinya kau suka belanja meski tempatnya berbeda, Aminah ! Tetap saja tempatnya sama yaitu toko !'', kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menyerahkan barang berupa bahan-bahan makanan kepada Aminah untuk diletakkan ke dalam kereta belanja.
Beberapa bahan-bahan makanan tradisional di beli oleh Shaheer Sheikh secara asal tanpa lagi melihat daftar belanjaan yang ada di buku jurnal milik Jannah Sheikh.
''Apa ini tidak terlalu berlebihan, kita belanja dalam jumlah sangat banyak, Shaheer Sheikh !?'', kata Aminah terkejut.
''Coba kamu lihat ke dalam kereta belanja yang ada di hadapanmu ! Sudah melebihi batas kereta belum ?'', sahut Shaheer Sheikh.
''Ehk !?'', Aminah lalu menundukkan kepalanya ke arah kereta belanja yang ada di hadapannya. ''Maksudmu ? Aku kurang paham dengan yang kamu katakan itu, Shaheer !?'', sambungnya.
''Sudahlah, dijelaskan juga kamu tidak akan paham daripada pusing untuk memahami hal yang tidak bisa kamu pahami. Mari kita belanja yang lainnya saja, Aminah !'', kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh lalu melewati Aminah dan berjalan pergi darinya tanpa menoleh ke arah gadis berhijab itu.
Aminah terdiam sambil mendorong kereta belanja mengikuti langkah Shaheer Sheikh yang berjalan di depannya sambil menoleh ke arah sampingnya secara bergantian.
Mereka tiba di depan rak besar yang menjual bahan makanan siap saji, berhenti sejenak seraya menatap ke arah rak yang ada di hadapannya.
Shaheer Sheikh berpikir sejenak lalu mengambil beberapa barang dari rak barang dengan acuh kemudian meletakkan semua barang ke dalam kereta belanja yang Aminah bawa.
''Kita pasti memerlukan semua barang-barang ini ! Dan aku yakin kalau mathair akan menyetujui pilihan yang aku ambil ini !'', kata Shaheer Sheikh.
''Apa kau sudah mempertimbangkannya untuk membeli semua barang ini, Shaheer Sheikh ?'', tanya Aminah kebingungan karena pria tampan itu tidak membaca kembali daftar belanjaan yang harus mereka beli.
''Anggap saja berbelanja seperti halnya sama dengan mengatur management perusahaan dan organisasi, terencana terkadang kita perlu langkah berani untuk mengambil keputusan'', kata Shaheer Sheikh.
''Tetapi ini terlalu berlebihan !? Tidakkah ini sesuai diluar dari daftar kebutuhan belanjaan yang harus kita beli, Shaheer ?'', ucap Aminah panik.
''Tidak ! Tidak ! Ini sudah benar, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Ta--tapi...'', kata Aminah cemas.
''Tidak usah di pikirkan lagi ! Dan kita akan menghabiskan waktu kita di Mall ini sampai waktu makan malam tiba !'', sahut Shaheer Sheikh.
__ADS_1
''Bagaimana jika mathair menanyakan kita ?'', ucap Aminah.
''Tidak mungkin, justru mathair berharap kita menghabiskan waktu diluar lama daripada dia tidak melihat kita bersama-sama'', sahut Shaheer Sheikh.
''Oh, baiklah...'', ucap Aminah bergumam pelan.
Gadis berhijab itu terus berjalan sambil mendorong kereta belanjaan mengikuti Shaheer Sheikh yang berjalan lebih dahulu darinya.
Langkah kaki Shaheer Sheikh terlihat panjang serta tergesa-gesa ke arah kasir.
Aminah yang mengikutinya dari arah belakang tampak kewalahan saat dia mendorong kereta belanjaan yang penuh dengan barang-barang.
Shaheer Sheikh mengambil barang-barang belanjaan dari kereta yang di dorong oleh Aminah lalu meletakkannya ke atas meja kasir untuk dihitung.
Tampak petugas kasir terlihat sangat sibuk ketika menghitung harga belanjaan milik Shaheer Sheikh yang jumlahnya cukup banyak.
''Tolong kalian taruh di dalam kotak kardus !'', kata Shaheer Sheikh kepada petugas kasir.
''Baik, akan kami bungkus semua barang belanjaan anda di dalam kotak kardus'', sahut petugas kasir.
''Terimakasih...'', ucap Shaheer Sheikh.
Beberapa menit kemudian...
Barang-barang belanjaan mereka telah berada di meja penitipan barang karena Shaheer Sheikh hendak melanjutkan acara belanja di Mall ini ke tempat lainnya.
Shaheer Sheikh terus berjalan sepanjang jalan di Mall sedangkan Aminah yang ada disampingnya berjalan beriringan mengikuti langkah pria tampan itu.
Mereka melanjutkan berbelanja ke sebuah toko yang menjual pakaian-pakaian bagus dengan bahan-bahan terbaik.
Shaheer Sheikh memilih toko yang menjual pakaian dengan edisi terbatas.
Tampak sebuah toko mewah dihadapan mereka dengan dilengkapi kaca-kaca lebar di depan toko.
Berjejer pakaian India yang elegan mulai dari pakaian pria hingga pakaian wanita di dalam etalase kaca di depan toko pakaian.
Shaheer Sheikh masuk bersama Aminah yang berjalan mengiringinya seraya gadis berhijab itu memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Ruangan toko yang lapang dan terlihat mewah dengan dilengkapi mesin pendingin ruangan serta kamera pengawas yang ada di setiap sudut toko.
Seorang pelayan toko menghampiri mereka seraya menawarkan jasa kepada Shaheer Sheikh saat mereka berada di dalam toko tersebut.
__ADS_1
Shaheer Sheikh terlihat menolak secara halus tawaran dari pelayan toko untuk melayaninya karena dia masih ingin melihat-lihat pakaian yang dijual di toko dan masih belum berniat untuk membeli sedangkan Aminah hanya diam melihatnya tanpa mengeluarkan pendapatnya.