
Rumah makan India...
Seorang wanita cantik duduk di sudut ruangan sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Didepannya seorang pria berwajah tampan duduk menikmati samosa.
Keduanya sama-sama saling diam serta tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Wanita cantik berpakaian serba bling-bling warna kuning menyala menghisap rokok ditangannya dalam-dalam, seakan-akan hari untuk menikmati waktu santainya tinggal hari ini saja.
"Bulan ini Shaheer Sheikh akan bertunangan lalu apa yang akan kamu lakukan dengannya ?", ucap pria tampan.
"Sebagai seseorang yang menaruh hati padanya, sebenarnya itu bukanlah urusanku lagipula dia bukan kekasihku meski aku menyukainya", sahut wanita cantik.
"Apa kau akan menganggap dirimu hanya lah teman pribadi saat dia merasa kesepian atau di kala dia bosan ?", kata pria tampan.
"Meski dia menganggap ku wanita simpanan atau hanya teman biasa, aku tidak memperdulikannya karena tidak ada untungnya bagiku, toh, dia akan kembali lagi kepada ku", sahut wanita cantik.
"Kau membiarkannya dia semena-mena padamu..., Anjali ?", kata pria tampan.
"Apa yang bisa aku lakukan terhadap dirinya !? Dia hanya menganggap ku teman pribadi nya disaat dia bosan setelah itu dia akan pergi", sahut wanita yang akrab dipanggil dengan Anjali.
"Kau bodoh atau memang tidak memiliki otak di kepala untuk berpikir !?", kata pria tampan.
"Tentu saja aku memiliki pikiran meski aku tidak perlu menggunakan otak di kepala ku", sahut Anjali.
"Bukankah itu sama saja dengan tindakan bodoh ? Cobalah untuk berpikir baik buruknya situasi yang ada saat ini, carilah pria tampan yang kaya sebagai pendamping hidup mu", ucap pria tampan.
"Bukankah sudah ada dirimu sekarang ?", kata Anjali.
"Aku seorang pria yang tidak suka bertele-tele, jika tidak ada titik terang dalam sebuah hubungan maka aku tidak akan pernah mengharapkannya", sahut pria tampan.
"Mahesa, bukankah awalnya kau yang seharusnya menikah dengan Aminah dan bukannya Shaheer Sheikh", kata Anjali.
"Memang benar, awalnya aku yang seharusnya menikah dengan Aminah bukannya Shaheer Sheikh tapi saudara sepupu ku itu terpaksa menjadi pendamping pengganti karena aku merasa belumlah siap untuk menikah waktu itu", sahut pria tampan.
"Lantas apa sekarang kau menyesalinya ?", kata Anjali.
"Menyesal tentu saja tidak tapi aku merasa bahwa aku tidak bertanggung jawab saja pada Aminah dan aku menyesali nya karena gadis itu terpaksa berdampingan dengan Shaheer Sheikh", sahut Mahesa Sheikh.
"Apa kau berubah pikiran ?", tanya Anjali.
"Tentu tidak..., aku hanya ingin dia bahagia dalam hidupnya dan memiliki sebuah masa depan yang lebih baik tanpa harus menikahi siapapun diantara kami berdua...", jawab Mahesa Sheikh.
"Tidak biasanya kamu menemui ku terkadang kau tidak pernah bisa dihubungi ataupun tidak pernah muncul di muka umum secara terang-terangan seperti ini, Mahesa", ucap Anjali.
"Yah, aku ada sedikit urusan penting menemui mu, Anjali", kata Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh memberikan segelas minuman kepada Anjali lalu membantunya menyalakan api rokok.
"Seharusnya kau menjaga kesehatan mu dan kurangilah merokok, Anjali", sahut Mahesa Sheikh.
__ADS_1
Anjali hanya tertawa kecil seraya meniupkan asap rokok dari mulutnya.
"Wajar ! Kau mencemaskan ku karena tanpa ku, kau tidak akan bahagia dan selalu sendirian, Mahesa", sahut Anjali.
"Kau bercanda, Anjali", ucap Mahesa Sheikh.
"Tidak, aku tidak pernah bercanda pada siapapun juga lalu kenapa kau menelepon ku untuk menemui mu disini ?", sahut Anjali.
Mahesa Sheikh meraih samosa kesukaan nya dari atas piring lalu memakannya dengan lahap.
Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Anjali karena Mahesa terlihat sangat menikmati samosa nya.
Anjali yang melihat sikap Mahesa Sheikh langsung mengambil keputusan saat itu juga lalu berkata pada pria tampan yang ada di hadapannya.
"Baiklah, jika tidak ada hal penting sebab aku harus segera pergi, ada acara pemotretan di studio jadi aku harus menghadirinya tepat waktu", ucap Anjali.
"Lupakanlah acara itu !", sahut Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh lalu mengeluarkan kartu ATM dari dalam saku kemejanya seraya menyerahkannya kepada Anjali yang duduk didepannya.
"Ambillah ini !", ucap Mahesa Sheikh.
"Apa ini ?", sahut Anjali heran.
"Kartu ini berisi sejumlah uang agar bisa kamu gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup mu, pakailah sesukamu jika perlu kau habiskan saja", kata Mahesa Sheikh.
"Untukku !?", tanya Anjali terkejut.
"Untuk apa kau memberikan sejumlah uang padaku ?", kata Anjali bingung.
"Yah, untuk kamu pakai sehari-hari, sesukamu, Anjali", sahut Mahesa Sheikh.
"Kau tidak sedang bercanda, bukan ?", kata Anjali.
"Untuk apa aku bercanda, Anjali ? Tidak ada gunanya, nona, percuma saja jika aku harus bersikap tidak serius", sambung Mahesa Sheikh.
"Lantas kenapa kamu memberi ku uang sedangkan tidak ada jasa yang telah aku kerjakan untuk mu ?", kata Anjali.
"Percayalah padaku, aku memberikan ini semuanya karena aku memang menginginkannya, Anjali", sahut Mahesa Sheikh.
Anjali menatap serius ke arah Mahesa Sheikh yang duduk didepannya sambil bersandar pada bahu kursi kemudian meletakkan puntung rokok ke dalam asbak.
"Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, Mahesa Sheikh", ucap Anjali.
Anjali lalu melipat kedua tangannya ke arah depan dada seraya menatap tajam Mahesa Sheikh.
"Aku tidak pernah menganggap mu orang yang bodoh atau tidak berkompeten tetapi aku melakukannya karena aku ingin memberimu uang, itu saja, Anjali", sahut Mahesa Sheikh.
"A Ha ! BINGO !", jawab Anjali.
"Kenapa !?", kata Mahesa Sheikh.
__ADS_1
Mahesa Sheikh menatap lurus Anjali sembari mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Aku tidak percaya padamu, Mahesa Sheikh", sahut Anjali.
"Tidak percaya ? Kenapa kau tidak mempercayai ku lalu apa alasannya ?", ucap Mahesa Sheikh.
Anjali lalu berdiri dihadapan Mahesa Sheikh sembari berpose menantang.
Senyum merekah menghias wajah Anjali seraya berkata.
"Bagian yang mana dari tubuh ku yang sangat kamu inginkan ? Bukankah aku harus membayar uang dari mu dengan tubuh ku ?", ucap Anjali.
"Kau pikir aku sangat menginginkan dirimu ? Tidak ada dari bagian tubuh mu yang aku sukai bahkan untuk dijual pun aku rasa tidaklah ada yang akan membelinya !", sahut Mahesa Sheikh.
"Astaga !?", ucap Anjali kaget.
"Apa ??? Hah !?", sahut Mahesa Sheikh mengernyitkan dahinya.
"Yang benar saja !? Apa kau ini benar-benar pria tulen !? Atau bukan pria normal ?", tanya Anjali kesal.
"Kau sengaja mengajak ku bertengkar ?", sahut Mahesa Sheikh.
"Cobalah kau lihat ! Bagaimana indahnya tubuh ku ini !?", ucap Anjali.
Anjali semakin berani memperagakan tubuhnya dihadapan Mahesa Sheikh, berputar seraya menggoyangkan pinggulnya yang indah dan menantang tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di ruangan rumah makan.
"Apa ini termasuk sesi pemotretan ???", tanya Mahesa Sheikh.
"Kau ini ! Benar-benar sangat menyebalkan, Mahesa Sheikh !!!", sahut Anjali emosi.
Tubuh cantik Anjali terpampang jelas di depan mata Mahesa Sheikh sehingga setiap orang yang ada di sekitar mereka langsung teralihkan perhatiannya kepada Anjali yang berdiri di hadapan pria tampan kaya raya itu.
"Jangan bodoh ! Aku harus pergi sekarang, ada urusan penting yang harus aku selesaikan", lanjut Mahesa Sheikh.
"Kau ini !!!", kata Anjali bertambah kesal.
"Ambillah kartu ATM ini ! Dan tidak usah banyak bertanya lagi karena aku paling tidak suka pada orang yang terlalu cerewet dengan urusan ku ! Kau paham, Anjali ?", sahut Mahesa Sheikh.
Anjali terdiam membatu, terburu-buru dia kembali duduk di kursinya sedangkan wajahnya berubah pias memucat.
Merasa ucapan Mahesa Sheikh merupakan sebuah ancaman keras bagi dirinya kemudian Anjali mengambil kartu ATM dari atas meja dan memasukkannya kedalam tas miliknya.
"Aku sudah membayar mu maka apa yang akan aku lakukan nanti, kau harus menerimanya dengan hati lapang dada, apapun itu situasinya", kata Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh beranjak dari tempat duduknya lalu merapikan pakaiannya kemudian melangkah pergi.
Meninggalkan Anjali yang hanya duduk mematung tanpa mampu menjawab ucapan dari Mahesa Sheikh dan hanya bisa menerima perintah pria tampan yang sangat berpengaruh di India itu.
Tiba-tiba tubuh Anjali berguncang hebat setelah kepergian Mahesa Sheikh, seluruh badannya menjadi panas dan demam.
Hal aneh yang sulit dikatakan, mendadak dirasakan oleh Anjali, selama ini dia tidak pernah merasakan kecanggungan jika berhadapan dengan seorang pria manapun tapi saat dia bertemu dengan Mahesa Sheikh, hal aneh terjadi pada dirinya.
__ADS_1