Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Alasan Yang Menghibur


__ADS_3

Aminah memejamkan kedua matanya serta berusaha pasrah. Meski hatinya tidak sepenuhnya dapat menerimanya, alasan apapun tentang Ameeta.


Gadis berhijab itu berjalan ke arah sofa panjang dengan langkah lesu.


Jannah Sheikh yang sedari tadi melihat yang terjadi antara Aminah dan Ameeta cepat-cepat menarik tangan Ameeta ke arah lain.


"Ameeta !!!", ucap Jannah Sheikh sedikit menjerit.


"Mathair... ?", sahut Ameeta tersentak.


"Apa yang kamu lakukan pada Aminah ? Dan apa tujuanmu sebenarnya datang jauh-jauh dari Inggris kemari ???", kata Jannah Sheikh kesal.


"Mathair !? Apa maksudnya ???", ucap Ameeta tertegun.


"Maksudnya !? Kau masih menanyakan maksud ucapanku ???", kata Jannah Sheikh.


"Karena aku tidak mengerti akan kemarahanmu, mathair", ucap Ameeta.


"Aku tidak mengerti, katamu ??? Ameeta ! Apa kau sadar dengan yang kau lakukan tadi ???", kata Jannah Sheikh.


"Mengerti apa ???", sahut Ameeta.


"Apa yang harus dimengerti ???", kata Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menarik tangan Ameeta lalu mengangkatnya sehingga gadis itu kesakitan.


"Coba kamu katakan padaku ! Apa nenekmu yang menyuruhmu berbicara lancang seperti itu pada Aminah ???", ucap Jannah Sheikh kasar.


"Aduh !? Aduh..., sakit sekali, mathair... Sakit sekali !!!", rintih Ameeta saat Jannah Sheikh mencengkeram tangannya.


Kuku-kuku Jannah Sheikh menancap dalam ke kulit tangan Ameeta dan membuat rasa sakit bertubi-tubi datang kepadanya.


Wajah Ameeta tampak kesakitan bahkan terdengar dia merintih lirih saat Jannah Sheikh semakin memperat saat mencengkeramnya.


"Mathair... Lepaskan ! Kau menyakitiku !", kata Ameeta.


"Semakin kau melawanku maka rasa sakit akan semakin kau rasakan, Ameeta !", sahut Jannah Sheikh.


"Tapi aku tidak berbuat salah apapun, mathair", kata Ameeta.


"Kau masih membantahku ?", ucap Jannah Sheikh marah.


"Tentu saja aku tidak berani membantahmu tapi yang aku katakan adalah kebenaran bukankah Aminah memang diperuntukkan bagi Mahesa Sheikh bukan untuk Shaheer Sheikh !?", jawab Ameeta.


"Selayaknya kau pulang ke Inggris atau menjauh dari kehidupan kami disini, Ameeta !", ucap Jannah Sheikh.


"Mathair ???", kata Ameeta.


"Berhentilah besandiwara karena akan sangat melelahkanmu, anggap saja ini hanyalah sebuah permainan anak-anak yang biasa kau perankan, Ameeta", ucap Jannah Sheikh.


"Tidak, mathair ! Tidak seperti itu maksudku..., aku hanya ingin Shaheer bahagia dalam hidupnya !", kata Ameeta.


"Kebahagiaan Shaheer hanya dia yang tahu, bukan kau, Ameeta !", sahut Jannah Sheikh.


"Tapi kebahagiaan kakak adalah lepas dari kekuarga ini ! Bukan tanggungjawab dia menikahi perempuan seperti Aminah karena dia tidak cocok bersanding bersama Shaheer !!!", kata Ameeta.


"Ameeta !!!", bentak Jannah Sheikh.


"Itu memang benar adanya ! Tidak adil bagi Shaheer harus menikah dengan gadis yang penampilannya terbelakang seperti Aminah !!!", teriak Ameeta.


Kemarahan Jannah Sheikh semakin menyulut besar saat Ameeta berkata hal yang memperolok-olok Aminah bahkan menyebabkan diri Jannah Sheikh merasa malu dengan ucapan Ameeta tentang calon iparnya.

__ADS_1


PLAAAK !!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ameeta sehingga gadis itu tersentak kaget tak percaya jika Jannah Sheikh akan melakukannya.


Ameeta memegangi pipinya yang memerah setelah ditampar oleh Jannah Sheikh.


Dipalingkannya pandangannya perlahan-lahan ke arah Jannah Sheikh yang berdiri menatapnya penuh kemarahan.


"Mathair... !?", gumam Ameeta.


"Kau seharusnya bisa menjaga perkataanmu tanpa harus menyebabkan masalah apapun dalam keluarga kami, Ameeta", kata Jannah Sheikh.


"Tapi mathair...", ucap Ameeta lirih.


Kedua mata Ameeta terlihat berkaca-kaca saat menatap ke arah Jannah Sheikh, perasaannya bercampur aduk tak menentu sekarang dan hanya bisa meneteskan air mata.


Harga dirinya ikut terluka atas perlakuan Jannah Sheikh yang dirasakannya tidak adil bagi Ameeta.


"Kenapa memukulku ? Dimana letak kesalahanku ??? Aku mengatakannya dengan benar, dan seharusnya aku ucapkan, mathair !", kata Ameeta.


"Tidak semuanya harus diungkapkan secara benar karena ini merupakan tugas Shaheer Sheikh dalam keluarga ini, Ameeta", sahut Jannah Sheikh.


"Bukan tugas Shaheer !!! Dia berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri !!!", teriak Ameeta.


"AMEETA !!!", bentak Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menoleh ke arah Shaheer Sheikh yang hanya terdiam lalu memberi tanda pada putranya untuk memanggil anak buahnya.


"Shaheer ! Panggil anak buahmu ! Tolong suruh mereka untuk membawa Ameeta ke kamarnya !", perintah Jannah Sheikh.


Shaheer Sheikh menatap Jannah Sheikh dengan tatapan muram tapi dia tidak dapat menolak perintah ibunya kemudian dia memanggil beberapa anak buahnya yang berdiri di sekitar pintu masuk ruangan pesta.


Tampak sejumlah pria berpakaian hitam berlarian kecil ke arah Shaheer Sheikh lalu berdiri di dekatnya seraya menatap Ameeta yang menangis sesenggukan dengan memegangi pipinya yang memerah.


"Tolong bawa Ameeta ke kamarnya ! Dan tolong pastikan tidak ada tamu yang melihatnya dalam keadaan seperti itu !", ucap Shaheer Sheikh.


"Baik, bos", sahut mereka tanggap.


Dua orang pria berjalan mendekati Ameeta lalu meraih tangan gadis itu serta membawanya pergi dari salah satu sudut ruangan yang ada di ruang pesta.


Namun, Ameeta memberontak keras seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan dua pria anak buah Shaheer Sheikh.


"Lepaskan aku !!!", teriak Ameeta.


Sejumlah pria berpakaian hitam lalu saling memberi kode kepada yang lainnya untuk mencari jalan keluar lainnya.


Mereka kemudian membawa Ameeta menuju ke arah sebuah lorong yang berada di sudut ruangan tanpa keluar ke ruang dimana pesta berlangsung.


"Shaheer !!! Tolong aku !!! Jangan biarkan mereka membawaku dan mengurungku !!! Kakak !!!", teriak Ameeta.


Ameeta menoleh ke arah Shaheer Sheikh yang memandanginya dengan sedih seraya menghela nafas panjang.


Sayangnya, Shaheer Sheikh tidak dapat melakukan apa-apa terhadap Ameeta karena dia tidak ingin acara pesta yang sedang berlangsung menjadi kacau karena ulah Ameeta.


Terutama Shaheer Sheikh tidak ingin Aminah semakin terluka akan sikap yang diperbuat oleh Ameeta yang telah menyakiti hati gadis dari Janakpur itu.


"Aku akan menemui para tamu di pesta, tolong kamu temani Aminah, nak", kata Jannah Sheikh.


"Baik, mathair...", sahut Shaheer Sheikh.


"Dan tolong sampaikan permintaan maafku padanya atas sikap Ameeta, aku tidak tahu harus bagaimana saat berhadapan dengannya sekarang ini...", lanjut Jannah Sheikh.

__ADS_1


"Mathair...", ucap Shaheer Sheikh sendu.


Jannah Sheikh tidak mampu menunjukkan wajahnya di hadapan putranya dan hanya menundukkan wajahnya seraya berlalu pergi dari Shaheer Sheikh yang berdiri di salah satu ruangan yang ada di ruangan pesta.


Wanita cantik yang selalu mengenakan kain saree di setiap kesehariannya, melangkah cepat seraya menarik kerudungnya untuk menutupi wajahnya saat dia berjalan.


Shaheer Sheikh menghela nafas kembali sembari mendongakkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruangan lain.


Melangkah cepat untuk mencari Aminah yang tidak terlihat kehadirannya di ruangan pesta.


"Aminah...", gumam Shaheer Sheikh pelan.


Pandangan Shaheer Sheikh teralihkan ke arah sekeliling ruangan pesta yang masih berlangsung meriah.


Berusaha menemukan sosok Aminah yang tiba-tiba raib dari acara pesta.


"Kemana perginya Aminah ???", ucap Shaheer Sheikh


Pria tampan itu lalu menyisir rambutnya yang tertata rapi dengan kedua tangannya.


Mengedarkan pandangannya untuk mencari Aminah yang tak terlihat keberadaannya di ruangan pesta di Novotel.


Tatapan Shaheer Sheikh tertuju langsung ke arah sudut meja yang menyediakan menu hidangan makanan pesta.


Shaheer Sheikh melihat sosok Aminah yang berdiri menghadap ke arah meja seraya memegang gelas berisi minuman.


"Aminah !", ucap Shaheer Sheikh terdiam.


Dilihatnya Aminah yang tengah menatap ke arah panggung sembari menikmati minumannya, seakan-akan kejadian tadi tidak terjadi.


Shaheer Sheikh berjalan ke arah Aminah lalu berhenti tepat disisinya seraya menyapanya.


"Apa kamu baik-baik saja, Aminah ?", tanya Shaheer Sheikh.


Aminah tidak lantas menjawab pertanyaan pria tampan itu dan hanya mengangkat gelasnya yang berisi minuman ke arah bibirnya yang merekah merah.


Diam bergeming sembari menikmati minumannya tanpa ekspresi.


"Kenapa ? Apa kau marah ?", kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh meraih segelas minuman yang telah disediakan di atas meja hidangan pesta lalu memutar gelas di tangannya dengan cepat.


Masih tidak ada jawaban dari Aminah yang tengah menikmati minumannya tanpa memperhatikan kehadiran Shaheer Sheikh di dekatnya.


"Aminah...", ucap Shaheer Sheikh kembali.


Aminah terdiam tapi Shaheer Sheikh terus mendesaknya agar gadis berhijab itu bicara padanya.


"Kenapa kau hanya diam saja ? Apa kau marah padaku dengan sikap Ameeta ?", tanya Shaheer Sheikh.


"Kemana dia sekarang ?", sahut Aminah.


Shaheer Sheikh tertegun sesaat lalu menjawab pertanyaan Aminah kepadanya.


"Dia sudah kembali ke kamarnya tadi, beberapa anak buahku membawanya agar dia tidak membuat ulah lagi...", sahut Shaheer Sheikh.


Aminah menghela nafasnya lalu menundukkan kepalanya.


"Alasan yang menghiburku saat ini adalah keadilan yang semestinya aku dapatkan atas ketidakadilan ini...", sahut Aminah.


"Aminah..., aku hanya ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Ameeta padamu karena dia terlalu membelaku...", kata Shaheer Sheikh.

__ADS_1


"Aku tahu itu dan mungkin aku dapat memahaminya tapi aku tidak tahu apa aku akan bersikap sama sebaik dulu lagi terhadap keluarga ini, Shaheer", sahut Aminah.


__ADS_2