
Aminah pamit pergi ke supermarket kepada Jannah Sheikh pagi itu.
Sengaja beralasan bahwa dirinya ingin berbelanja sesuatu untuk keperluan pribadinya.
''Mathair, aku hendak pergi ke supermarket dan aku minta ijin padamu'', kata Aminah.
''Kau akan ke supermarket dimana ? Apa perlu Raaida menemanimu ?'', jawab Jannah Sheikh.
''Tidak, tidak perlu karena aku akan pergi sendirian ke supermarket'', kata Aminah.
''Baiklah, jika kamu ingin pergi tapi perlukah Shaheer Sheikh menemanimu ?'', tanya Jannah Sheikh.
''Apa !?'', Aminah langsung tertegun. ''Oh, tidak ! Tidak ! Aku bisa pergi sendiri !'', sambungnya.
''Mmm..., tapi aku mengkhawatirkan mu yang sendirian keluar rumah tanpa teman, lebih baik aku panggil Shaheer Sheikh, tunggu ya !'', kata Jannah Sheikh.
''Tidak, mathair ! Tidak perlu, mathair !'', sahut Aminah.
''Tidak apa-apa, sebentar aku panggil dia'', kata Jannah Sheikh.
''Mathair...'', ucap Aminah.
Jannah Sheikh keluar dari ruang dapur rumah menuju ke ruangan lain di rumah itu seraya melangkah cepat-cepat.
''Ya ampun...'', gumam Aminah.
Aminah menjadi bingung karena jika dia ditemani oleh Shaheer Sheikh maka dia tidak dapat leluasa bergerak ataupun pergi ke kantor polisi untuk mencari informasi di sana.
''Sebaiknya aku segera pergi dari rumah secepatnya tanpa mereka ketahui'', ucap Aminah.
Aminah langsung berlari tergesa-gesa menuju pintu utama rumah seraya membukanya dan keluar.
Tidak sempat berpamitan lagi pada Jannah Sheikh yang pergi mencari Shaheer Sheikh.
Aminah berlarian ke arah gerbang masuk rumah seraya meminta ijin pada penjaga keamanan yang ada di rumah.
Penjaga keamanan lalu membukakan pintu gerbang masuk agar Aminah dapat keluar dari sana.
Aminah tidak dapat menghubungi taksi saat itu karena jika dia menunggu taksi akan semakin lama dia berada didepan rumah.
Itu akan memudahkan dirinya segera ditemukan oleh Jannah Sheikh serta Shaheer Sheikh. Dan rencananya untuk menyelidiki kasus kematian ayahnya akan tertunda dan terhalangi oleh kehadiran Shaheer Sheikh bersama dengannya.
Aminah terus berjalan cepat sambil setengah berlari kecil sepanjang jalan meninggalkan area rumah keluarga Sheikh.
''Aku harus pergi, waktuku tidak banyak untuk berpergian bahkan kesempatan itu akan sedikit untukku'', ucap Aminah.
Aminah terus melangkahkan kakinya cepat-cepat.
Dia berjalan sembari menggenggam tali tasnya erat-erat seraya menoleh ke arah belakang, khawatir jika Shaheer Sheikh akan mengejarnya.
Di sudut jalan besar, sebuah kendaraan umum tengah parkir menunggu penumpang.
Tidak disia-siakannya kesempatan itu untuk naik ke dalam kendaraan umum oleh Aminah.
''Pak, apa masih lama menunggu penumpang lainnya ?'', tanya Aminah.
__ADS_1
''Tidak, hanya sekitar lima menit saja, sebentar lagi akan jalan'', sahut sopir umum itu.
''Apa tidak bisa berangkat sekarang ?'', kata Aminah lagi.
''Sebentar...., lima menit lagi...'', sahut sopir umum itu sambil menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya.
''Baiklah !?'', ucap Aminah.
Namun, Aminah tidak bisa menutupi kecemasannya karena dia takut kalau Shaheer Sheikh akan mendapati dirinya didalam kendaraan umum.
''Bagaimana ini ? Kalau Shaheer menemukanku disini !?'', ucap Aminah.
Aminah memandangi ke arah luar kendaraan umum dari balik kaca sembari menggenggam tali tasnya dengan tangan bergetar.
''Aduh ! Bagaimana ini ?'', gumam Aminah.
Pandangan gadis berhijab itu terus teralihkan keluar dengan hati was-was serta penuh kecemasan.
Akhirnya kendaraan umum yang dinaiki oleh Aminah mulai bergerak pelan-pelan.
Ekspresi wajah gadis cantik itu langsung berubah lega saat dilihatnya kendaraan itu berjalan pergi dari area lokasi jalan besar meninggalkan wilayah perumahan elit keluarga Sheikh.
''Syukurlah...'', hela nafas Aminah.
Kendaraan umum terus bergerak pergi menjauh menuju ke arah jalan raya.
''Mudah-mudahan mereka tidak marah padaku karena hal ini'', gumam Aminah.
Didalam kendaraan umum tidak seorangpun yang berada bersama dengan Aminah karena hanya dia yang ada didalam sendirian.
Aminah terus menatap ke arah luar kaca kendaraan yang dia naiki sedang memperhatikan area sekitar jalan yang dilewati oleh kendaraan tersebut.
''Aku harus sampai ke kantor polisi untuk mencari informasi baba tapi apakah aku akan mudah menemukan informasi itu di sana ?'', kata Aminah sendirian.
Aminah lalu mengeluarkan kertas berupa arsip dari dalam tasnya setelah dia mengeluarkannya dari map agar memudahkan dirinya untuk membawanya kemana-mana.
Dibacanya kembali arsip ditangannya itu dengan pandangan sendu.
''Apa yang terjadi padamu, baba ?'', gumam Aminah.
Kedua mata Aminah tampak berkaca-kaca saat membaca kertas berupa arsip itu dengan menahan kesedihannya yang dalam.
''Bagaimana ini bisa terjadi padamu baba ?'', ucap Aminah bergetar. ''Seandainya aku ikut bersamamu maka aku dapat mencegahnya sehingga kamu tidak mengalami hal itu !'', sambungnya.
Kendaraan umum itu lalu berhenti di sebuah kawasan umum seperti pasar tradisional yang kumuh.
Terdengar suara riuh rendah dari arah luar kendaraan umum.
Beberapa orang disana tengah berteriak mencari penumpang lainnya serta pedagang keliling yang sedang menjajakan dagangannya.
Aminah segera turun dari dalam kendaraan umum yang dia naiki setelah membayar biaya kendaraan umum.
Digenggamnya tali tasnya erat-erat sambil terus berjalan menjauh dari tempat dimana kendaraan umum itu berhenti.
Langkah Aminah terlihat sangat cepat menuju ke sebuah tempat seperti kantor.
__ADS_1
Dia langsung masuk ke dalam kantor tersebut dengan langkah pasti tanpa menoleh sedikitpun.
Didalam ruangan terdapat beberapa orang tengah duduk di depan meja panjang tempat menerima keluhan atau laporan umum.
''Selamat siang !'', sapa Aminah.
Aminah segera mendekat ke arah meja panjang dimana seorang pria berseragam lengkap tengah duduk menghadap padanya.
''Selamat siang...'', sahut pria berseragam itu.
''Bisakah saya bertanya tentang tuan Kapoor ?'', kata Aminah.
''Tuan Kapoor ? Apa ada yang hendak dilaporkan perihal tuan Kapoor ?'', sahut pria berseragam itu.
''Iya, aku ingin bertanya tentang kematiannya yang terjadi tiga Minggu yang lalu'', kata Aminah.
''Maaf, siapa tuan Kapoor ? Bisa dijelaskan lebih jelas lagi tentang beliau ?'', tanya petugas kepolisian itu.
''Dia babaku ! Namanya Bhasayate Kapoor !'', kata Aminah.
''Bhasayate Kapoor ?'', jawab petugas itu sambil berpikir sesuatu. ''Sebentar, akan saya tanyakan terlebih dahulu pada bagian informasi'', sambungnya.
''Terimakasih !'', jawab Aminah.
''Apa ada foto yang menjelaskan tentang Bhasayate Kapoor, mungkin ?'', tanya pria itu lagi.
''Ada, aku membawa beberapa foto baba'', sahut Aminah tanggap.
Aminah mencari-cari dompet miliknya yang tersimpan di dalam tasnya lalu mengeluarkan dompet yang bersi beberapa foto ayahnya.
Diserahkannya foto yang ada di tangannya kepada petugas kepolisian itu.
''Ini foto baba'', kata Aminah.
''Baiklah ! Duduklah dahulu disana ! Nanti saya panggil !'', kata petugas berseragam itu.
''Iya, baik'', jawab Aminah.
''Kalau boleh saya tahu siapa nama nona ?'', tanya petugas kepolisian itu.
''Saya Aminah... Aminah Kapoor...'', sahut Aminah.
''Baiklah, akan saya panggil kembali ! Tunggu sebentar !'', kata petugas itu kemudian pada gadis berhijab itu.
''Iya, pak !'', kata Aminah singkat.
Aminah berjalan ke sebuah bangku kayu yang ada di ruangan kantor polisi kemudian dia duduk dengan gusar.
''Mudah-mudahan aku dapat menemukan sesuatu disini sebagai bukti yang membukakan kebenaran akan kematian baba'', gumam Aminah.
Aminah kembali menghela nafasnya seraya memandangi kertas arsip yang dia pegang.
Terlihat pria berseragam yang tadi dia temui berjalan mondar mandir di ruangan dalam yang dapat dilihat dari tempat Aminah duduk sekarang.
Pria itu sedang memegang sesuatu ditangannya kemudian berjalan kembali ke tempatnya semula.
__ADS_1
Cukup lama pria berseragam lengkap itu berada didepan meja panjang seraya menundukkan kepalanya sedangkan Aminah hanya duduk termangu menanti panggilan dari pria berseragam itu.
Tidak lama kemudian pria yang bertugas di kantor tersebut memanggil Aminah untuk segera mendekat ke meja panjang.