
Tiba-tiba Jannah Sheikh mencegat langkah keduanya saat mereka berjalan menuju pintu masuk.
''Shaheer !'', panggil Jannah Sheikh. ''Kamu akan pergi keluar ?'', tanyanya.
Jannah Sheikh menoleh ke arah Aminah yang berdiri disebelah putranya.
''Kamu juga pergi bersama Aminah ?'', kata Jannah Sheikh.
''Iya, mathair. Kami berencana keluar rumah karena ada urusan penting yang kami cari'', jawab Shaheer Sheikh.
''Urusan penting apa hingga membuatmu harus keluar rumah ? Bukankah kalian tinggal memesan atau menelpon dari rumah tanpa susah-susah keluar rumah ?'', kata Jannah Sheikh.
''Bukan urusan yang penting sebenarnya, kami hanya ingin berjalan-jalan bersama sebelum pertunangan kami, mathair'', sahut Shaheer Sheikh.
''Itu kedengarannya sangat bagus dan aku rasa itu adalah idea yang baik untuk kalian berdua agar lebih dekat lagi dan akrab'', kata Jannah Sheikh.
Sebentuk senyuman tersungging di sudut bibir Jannah Sheikh saat dia melihat kedekatan diantara putranya dengan Aminah.
Tampak raut wajah bahagia terpancar dari wajah Jannah Sheikh bahkan dia tidak tanggung-tanggung mengeluarkan sebuah kartu ATM kepada Aminah.
''Bawalah kartu ATM ini ! Dan berbelanja lah sesuka kalian diluar sana ! Beli semua keperluan kalian atau kesukaan kalian !'', kata Jannah Sheikh.
Aminah tersentak kaget saat menerima kartu ATM pemberian Jannah Sheikh yang menurutnya hadiah itu sangat berlebihan baginya sedangkan mereka hanya berniat pergi keluar untuk mencari informasi terkait kecelakaan kapal yang menimpa ayahnya.
Bukan berencana keluar untuk jalan-jalan atau membeli sesuatu yang seperti dikatakan oleh Shaheer Sheikh kepada ibunya.
''Mathair, aku tidak dapat menerimanya karena kami hanya sekedar jalan-jalan untuk mencari suasana baru sebelum acara pertunangan kami nanti'', kata Aminah.
''Iya, aku mengerti, sayang ! Tidak apa-apa jika aku memberikannya sebagai hadiah dan bentuk syukurku atas kedekatan kalian'', sahut Jannah Sheikh.
Wanita cantik yang selalu mengenakan saree itu serta kerudung di kepalanya mengusap lembut wajah Aminah seraya tersenyum.
''Aku sangat bahagia melihat kalian akhirnya bisa dekat dan bersama-sama meski aku tahu itu tidaklah mudah bagi kalian untuk melakukannya'', sahut Jannah Sheikh.
''Mathair...'', ucap Aminah canggung.
''Aku berterimakasih sekali atas kesediaan kalian untuk saling menerima satu dengan lainnya karena memang inilah yang aku inginkan dari hubungan kalian berdua'', kata Jannah Sheikh.
''Mathair...'', sahut Aminah malu-malu.
__ADS_1
''Semoga kebahagian ini tidaklah berhenti sampai disini saja. Dan aku sangat berharap kalian semakin akrab hingga selesai acara pertunangan nanti'', lanjut Jannah Sheikh.
Dipeluknya erat Aminah sembari tersenyum senang.
''Semoga Allah SWT senantiasa merestui kalian berdua hingga maut memisahkan kalian ! Amien !'', harap Jannah Sheikh.
Jannah Sheikh melepaskan pelukannya kemudian memandangi Aminah dengan tatapan lembutnya.
''Pergilah !'', ucap Jannah Sheikh. ''Sebelum malam tiba karena aku sudah tidak sabar menunggu kalian berdua segera pulang ke rumah dan membawa kabar yang menggembirakan'', sambungnya.
Ditengoknya putra kesayangannya yang sejak tadi diam memandangi mereka tanpa bersuara.
''Cepatlah pergi ! Dan jagalah Aminah ku ini baik-baik, Shaheer !'', kata Jannah Sheikh kepada putranya.
''Tentu, mathair. Aku akan menjaganya selalu sesuai pesanmu bahkan aku akan melindungi dirinya tanpa ragu'', sahut Shaheer Sheikh.
''Nah, kalau begitu segeralah berangkat ! Berhati-hatilah dalam perjalanan !'', kata Jannah Sheikh.
''Iya, mathair !'', sahut keduanya kompak.
Terlihat mereka berdua mencium tangan Jannah Sheikh secara bergantian sebelum berangkat.
''Apakah kamu menyetir sendiri, Shaheer ?'', tanya ibunya.
''Apa tidak sebaiknya kamu pergi dengan sopir ? Akan meringankan mu dan membantumu jika kamu lelah nanti, nak ?'', tanya Jannah Sheikh.
''Tidak, mathair. Aku dan Aminah banyak tempat yang akan kami singgahi nanti jika memakai sopir akan merepotkan bagi kami bergerak bebas'', sahut Shaheer Sheikh.
''Bebas ? Kalian mau pergi kemana hingga kehadiran seorang sopir buat kalian menjadi terganggu ?'', tanya Jannah Sheikh.
Raut wajah Shaheer Sheikh berubah merah padam dan sedikit kebingungan.
''A--pa maksud mathair ?'', sahut Shaheer Sheikh gugup. ''Kami hanya sekedar keluar untuk jalan-jalan saja'', sambungnya.
''Oh, ya sudah jika itu yang kalian inginkan maka aku tidak akan memaksa kalian pergi bersama dengan seorang sopir'', kata Jannah Sheikh.
Jannah Sheikh menarik tangan Aminah lalu dia raih tangan putranya agar mereka berdua saling berpegangan tangan.
''Cepatlah segera berangkat agar tidak kesiangan dijalan !'', ucap Jannah Sheikh.
__ADS_1
''Ehk !? Iya, mathair...'', sahut Aminah.
''Kami berangkat dulu !'', kata Shaheer Sheikh.
''Iya, iya ! Pergilah !'', ucap Jannah Sheikh.
Wanita cantik itu lalu mendorong tubuh keduanya keluar dari rumah hingga ke teras tepat di depan mobil yang sudah terparkir.
''Jangan lupa untuk segera pulang ke rumah ! Apa kalian berniat untuk menginap hingga larut malam ?'', lanjut Jannah Sheikh.
''Menginap ?'', kata Aminah. ''Oh, tidak ! Tidak ! Kami tidak menginap, mathair !'', sambungnya kaget.
''Sudahlah ! Jangan terlalu dipikirkan lagi segeralah berangkat dan bawalah buah tangan jika kalian sempat !'', kata Jannah Sheikh.
Senyum menghiasi wajah Jannah Sheikh saat melihat keduanya gugup serta malu ketika dirinya menggoda mereka.
Mendorong tubuh keduanya hingga mendekat ke mobil.
''Pergilah ! Hati-hatilah di jalan !'', kata Jannah Sheikh seraya melambaikan tangannya.
''Ehh... Iya, iya, mathair...'', sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Aminah masuk kemudian dia berlari kecil menuju pintu mobil lainnya dan segera masuk ke dalam mobil berwarna putih metalik itu.
Terlihat Mobil mulai bergerak pelan-pelan meninggalkan halaman rumah milik keluarga Sheikh sedangkan Jannah Sheikh berdiri di depan pintu masuk rumah sambil melambaikan tangannya.
Senyum terus menghiasi wajah Jannah Sheikh hingga mobil yang dinaiki oleh Aminah serta Shaheer Sheikh berlalu dari hadapannya.
''Akhirnya aku dapat melihat mereka berdua bersama-sama. Dan aku berharap mereka bisa lebih akrab dan dekat lagi !'', ucap Jannah Sheikh seraya menengadahkan kepalanya ke atas.
Mengucapkan rasa syukur yang teramat sangat ketika melihat perubahan yang terjadi diantara Shaheer Sheikh dengan Aminah saat ini.
''Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik bagi keduanya untuk selamanya, Amien !'', gumamnya penuh harap dengan kedua tangan saling berpegangan erat.
Wanita cantik yang kesehariannya selalu mengenakan saree serta kerudung yang menutupi kepalanya masih setia berdiri di depan pintu rumah dengan wajah bahagia penuh senyuman.
Shaheer Sheikh hanya diam mematung saat dia mengemudikan mobilnya sedangkan Aminah tertunduk malu memandangi kedua tangannya yang menggenggam kain selendangnya.
Keduanya saling terdiam diri tanpa mampu berkata-kata, mendadak rasa canggung kembali hadir dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Bukan karena ucapan Jannah Sheikh yang menggoda keduanya melainkan mereka merasa malu karena hal ini sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka jika hubungan antara mereka akan berkembang menjadi lebih dekat dan akrab.
Ditambah lagi kedekatan mereka tercium oleh Jannah Sheikh yang memang menginginkan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Dan itu bukanlah tugas yang ringan karena mereka harus mampu mempertahankan hubungan antara mereka lebih baik lagi kedepannya sesuai harapan Jannah Sheikh yang merupakan seorang ibu yang mereka hormati selama ini.