
Aminah hanya bisa pasrah saat Shaheer Sheikh mengusap wajahnya berulangkali dengan kedua tangannya.
Saat ujung jari Shaheer Sheikh hendak menyentuh bibirnya dengan cepat Aminah menarik wajahnya dari jangkauan tangan Shaheer Sheikh.
''Apa yang kamu lakukan Shaheer ?'', ucap Aminah.
''Tidak... Aku hanya terpesona pada kecantikan wajah mu, Aminah...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Jangan, Shaheer !'', kata Aminah.
Aminah mundur tetapi dia tidak dapat melakukannya karena posisi dirinya berada menempel di dinding ruangan penuh marmer utuh itu.
''Aku tidak ingin mengakui bahwa diriku mulai tidak terkendali oleh mu, seluruh daya pikat yang kamu miliki telah mengalihkan seluruh perhatianku padamu, Aminah...'', ucap Shaheer Sheikh.
Kata-kata yang keluar dari mulut Shaheer Sheikh seolah-olah hendak membius Aminah untuk larut dalam buaian ucapannya
''Aku tidak mudah tergoda dengan kata-kata manis, Shaheer'', sahut Aminah.
Aminah tidak berkutik saat Shaheer Sheikh merapatkan dirinya ke arah Aminah.
''Apa yang kamu lakukan, Shaheer Sheikh ?'', ucap Aminah tersentak.
Gadis cantik berhijab itu berusaha mendorong tubuh Shaheer Sheikh kuat-kuat agar tidak mendekat padanya.
''Kita telah menjadi pasangan meski status ku hanyalah seorang pengganti untuk mu tapi kita telah resmi berpasangan dan sebentar lagi kita akan resmi bertunangan'', kata Shaheer Sheikh.
''Tidak Shaheer Sheikh ! Kita bukanlah pasangan karena kita bukanlah pasangan yang terikat oleh cinta...'', sahut Aminah.
Aminah memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menjauhkan dirinya dari jangkauan Shaheer Sheikh.
''Apa kamu masih menginginkan perpisahan itu ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Ya, aku tegaskan aku ingin berpisah dari mu setelah pertunangan itu !'', tegas Aminah.
''Aminah...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Cukup bagiku untuk menyukai seseorang sekali dalam hidupku dan aku tidak akan pernah kembali untuk mengharapkannya lagi'', kata Aminah.
''Aku tidak butuh filosofi hidupmu karena yang aku butuhkan adalah dirimu saat ini, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Kamu berbeda sekarang tidak seperti yang kamu katakan sebelumnya saat kamu membenciku dengan kata-kata mu yang menyakitkan'', kata Aminah.
''Aku tahu itu kalau aku keterlaluan padamu dan bersikap buruk sangka terhadapmu tapi itu dulu sebelum aku tahu yang sebenarnya terjadi pada babamu yang aku anggap bekerja sama untuk menghancurkan keluarga ku'', sahut Shaheer Sheikh.
''Jika itu yang ada dalam pikiran mu maka teruslah untuk berpikir seperti itu agar kita tidak pernah menjadi dekat karena kekeliruan yang terjadi pada kita'', kata Aminah.
__ADS_1
''Tidak Aminah ! Karena aku telah keliru untuk bersikap padamu dan aku mohon berilah aku kesempatan itu agar aku bisa memperbaikinya'', sahut Shaheer Sheikh.
''Kesempatan apa Shaheer Sheikh ?'', kata Aminah.
Gadis berhijab itu memandangi wajah Shaheer Sheikh dengan sendu.
''Kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sangat serius dengan mu'', jawab Shaheer Sheikh.
''Serius ?'', kata Aminah. ''Aku tidak tahu harus berkata apa padamu tentang kita tapi aku telah melepas harapanku yang sirna untuk bertahan bersama dengan mu, Shaheer Sheikh...'', sambungnya.
''Tidak adakah pintu untuk masuk kembali, Aminah ?'', sahut Shaheer Sheikh.
''Pintu itu telah terkunci dan aku membuang kunci itu jauh ke dalam hatiku agar tidak ada yang bisa mengetuknya kembali'', kata Aminah.
''Aku mengerti..., tapi aku akan tetap menolong mu untuk mendapatkan bukti kuat akan kecelakaan kapal yang menimpa babamu, Aminah...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Bukti kuat apa ?'', tanya Aminah.
Aminah menggenggam erat tas yang ada ditangannya seraya terus bersikap waspada terhadap Shaheer Sheikh.
Dia merasa ini adalah sebuah rencana untuk menjebaknya dan dia harus lebih berhati-hati dengan sikapnya sendiri.
''Aku tidak tahu bukti apa yang akan kita dapatkan nanti tapi aku mohon padamu berilah aku kesempatan untuk membantumu mencari bukti itu'', kata Shaheer Sheikh.
''Bisakah aku mempercayaimu ?'', tanya Aminah.
''Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku ? Katakanlah !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Entahlah..., aku tidak tahu jawabannya, Shaheer Sheikh...'', kata Aminah.
''Bagaimana kamu bisa keluar dari ruangan rahasia itu tanpa diketahui oleh kakek Salman ?'', tanya Shaheer Sheikh.
Aminah langsung terdiam tapi dia mulai curiga arah dari pembicaraan ini.
''Kenapa kamu menanyakannya ?'', sahut Aminah.
''Aku hanya penasaran saja sebab tidak seorangpun yang dapat masuk kedalam ruangan rahasia itu selain kakek Salman Sheikh sendiri'', kata Shaheer Sheikh.
''Itu tidak benar, Shaheer...'', ucap Aminah.
''Apa yang tidak benar ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Terus terang aku tidak pernah masuk kedalam ruangan rahasia itu, Shaheer Sheikh'', sahut Aminah.
Aminah menolehkan kepalanya ke arah Shaheer Sheikh lalu menatapnya sedih.
__ADS_1
''Apa !?'', ucap Shaheer Sheikh.
''Yang dilihat oleh mu bukanlah aku !'', sahut Aminah.
''Bukan kamu ? Lalu siapa ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Jika kamu tahu itu aku maka kamu tidak akan menanyakannya kepadaku hal itu karena kamu pasti akan menyusul ku masuk kedalam ruangan rahasia itu tanpa berteka-teki lagi'', sahut Aminah.
''Teka-teki !?'', tanya Shaheer Sheikh. ''Apa maksud mu, Aminah ? Aku tidak mengerti !'', sambungnya bingung.
''Jika kamu melihatku masuk kedalam ruangan rahasia itu lantas kenapa kamu tidak mengikuti ku kesana ? Dan untuk apa kamu bertanya lagi ?'', kata Aminah.
''Ya Tuhan !'', seru Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu lalu menyisir rambutnya ke arah belakang dengan asal kemudian kembali menatap Aminah.
''Kamu tahu kenapa ?'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah terdiam kemudian menjawabnya.
''Ya, kenapa ?'', kata Aminah.
''Karena saat itu kakek Salman Sheikh datang entah darimana aku tidak tahu tapi dia tiba-tiba muncul kemudian masuk ke dalam ruangan rahasia itu tanpa aku sempat menyusul mu'', sahut Shaheer Sheikh.
Aminah tidak langsung percaya pada ucapan Shaheer Sheikh, dia hanya memandang ke arah pria tampan itu dengan sorot mata tajam.
''Tidak semua yang kamu katakan itu benar bukan ?'', ucap Aminah.
''Kau tidak mempercayaiku ?'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tidak seorangpun setelah aku tahu rahasia dibalik kematian baba dan seseorang dikirim ke Janakpur menyamar sebagai baba'', kata Aminah.
''Tapi aku tidak tahu menahu soal itu bahkan aku tidak pernah menyangka jika baba mu telah meninggal sebelum pulang ke Janakpur, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
Tiba-tiba Shaheer Sheikh terdiam sejenak lalu berpikir keras dengan ucapannya.
''Atau mungkin ini adalah siasat untuk menjebak ku agar aku terlihat bersama dengan tuan Kapoor saat itu dan ketika masalah ini terungkap maka bukti akan langsung mengarah kepada ku !?'', kata Shaheer Sheikh.
Wajah Shaheer Sheikh langsung berubah serius ketika dia mulai menyadari peristiwa itu.
Shaheer Sheikh mundur kembali lalu duduk ke atas sofa dengan kedua tangan menghadap ke wajahnya.
''Ini pasti jebakan yang memang direncanakan untuk ku...'', gumam Shaheer Sheikh.
''Apa ? Mana mungkin ini sebuah perangkap untukmu ? Itu tidak mungkin Shaheer Sheikh...'', sahut Aminah.
__ADS_1
Keduanya hanya saling berpandangan dan terdiam. Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua.
Suasana di dalam ruangan berhias marmer utuh itu langsung sepi sunyi tanpa seorangpun dari mereka yang berbicara.