Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Asmaraku


__ADS_3

Aminah terdiam selama perjalanan menuju ke Novotel saat dia berada di mobil bersama Shaheer Sheikh.


Lain halnya Shaheer Sheikh yang lebih agresif seraya menggenggam tangan Aminah sepanjang perjalanan ke Novotel.


Kali ini Shaheer Sheikh tidak menyetir mobilnya sendirian melainkan dengan menggunakan jasa sopir pribadi.


Mobil sedan hitam bergerak cepat melewati jalan-jalan utama kota New Delhi menuju ke airport internasional yang jaraknya cukup jauh dari kediaman keluarga Sheikh.


Pandangan Aminah mengarah keluar kaca mobil yang membawanya menuju ke jalan besar.


Pemandangan malam yang gelap dan hanya diterangi oleh sinar cahaya lampu jalan yang berderet sepanjang pinggir jalan tampak bersinar terang menghiasi jalan-jalan utama kota New Delhi.


Mobil sedan berwarna hitam mulai memasuki jalan tol yang ada di jalan utama kota New Delhi menuju ke Novotel hotel yang jaraknya sekitar 10, 7 km dari pusat kota New Delhi.


Aminah tampak larut dalam lamunannya saat memandang keluar kaca mobil.


Pikirannya terfokus kepada pembicaraan antara dirinya dengan Raaida di kamarnya di rumah keluarga Sheikh.


Aminah tidak mengerti arah pembicaraan Raaida yang mengatakan bahwa hanya dirinyalah satu-satunya orang paling baik di rumah keluarga Sheikh karena setahu dia bahwa Jannah Sheikh maupun anggota keluarga Sheikh lainnya termasuk Shaheer Sheikh sangatlah baik sikapnya terhadap siapapun juga.


''Kenapa sedari tadi kamu diam saja, Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.


''Aku hanya berpikir akan rencana mathair yang mengadakan pesta secara mendadak di Hotel Novotel, apakah tidak terlalu mahal jika hanya sekedar menggelar acara pesta yang kurasa tidak terlalu penting ?'', ucap Aminah.


''Kau selalu menganggap hubungan kita tidak penting, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


''Bukan mengenai hubungan kita tetapi ini beda urusannya dan berkaitan dengan acara pesta, Shaheer...'', kata Aminah.


''Tetapi acara pesta ini diperuntukkan kepada kita karena mathair merasa bahagia melihat perkembangan hubungan diantara kita, Aminah'', ucap Shaheer Sheikh.


''Perkembangan apa ?'', sahut Aminah.


''Perkembangan apa !? Menurutmu !?'', kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh menatap ke arah Aminah yang duduk disebelahnya lalu melanjutkan ucapannya.


''Apakah kau tidak pernah berpikir akan hubungan di antara kita ?'', kata Shaheer Sheikh.


''Sejak awal pertemuan kita di Janakpur, aku sangat mengharapkan hubungan diantara kita berjalan baik bahkan aku selalu menaruh harapan kepadamu dan kau tahu itu, bukan Shaheer ?'', sahut Aminah.


''Itu sudah lama sekali, Aminah ! Dan kenapa kamu masih mengungkitnya !'', kata Shaheer Sheikh.


''Kau menyalahkanku atas ketidakpastian diantara hubungan ini dan kau juga yang menginginkannya bahwa setelah pertunangan terjadi antara kita, kau akan langsung memutuskannya'', sahut Aminah.


''Tapi..., tidak Aminah, bukan seperti itu maksud dari tujuanku karena saat itu aku berpikir bahwa kau dan Mahesa Sheikh memiliki keterkaitan yang erat...'', ucap Shaheer Sheikh.


''Kau menuduhku bahwa aku masih memiliki hubungan dengan Mahesa hanya lantaran ayahku menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan Sheikh, dan itu milik kakek Salman Sheikh'', sahut Aminah.


''Bisakah kamu tidak membicarakan tentang itu lagi ? Dan tetap berpikiran positif mengenaiku ?'', kata Shaheer Sheikh.

__ADS_1


''Aku selalu positif tetapi aku masih mengingatnya bahwa kamu akan berencana membuangku sejauh-jauhnya seusai acara pertunangan kita'', kata Aminah.


''Bagaimana caranya aku akan melepaskanmu setelah acara pertunangan kita, Aminah ?'', sahut Shaheer Sheikh.


''Aku tidak tahu, bagaimana cara kamu akan membuangku tapi yang perlu kau ketahui bahwa akan tidak mudah untuk mengenyahkanku dari keluarga Sheikh, Shaheer'', kata Aminah.


''Aminah ! Apa maksud perkataanmu ?'', ucap Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh tersentak kaget saat mendengar jawaban dari Aminah yang tidak pernah dia duga sebelumnya bahwa dia tidak akan mudah untuk disingkirkan dari keluarga Sheikh.


''Aminah ! Apa yang sedang kamu rencanakan sebenarnya ? Apa yang ada didalam pikiranmu itu, Aminah ?'', ucap Shaheer Sheikh.


''Tidak ada...'', jawab Aminah.


Kedua mata Aminah terbuka lebar serta berbinar-binar indah ketika Shaheer Sheikh menanyakan maksud ucapannya.


Tatapan polos Aminah yang telah membuat hati Shaheer Sheikh luluh, tidak dapat dengan mudah untuk dilupakan oleh Shaheer Sheikh begitu mudahnya.


''Aminah, aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu tetapi aku mohon jangan pernah melibatkan dirimu dengan kakek Salman Sheikh'', kata Shaheer Sheikh.


''Kau lagi-lagi menuduhku, Shaheer Sheikh !'', sahut Aminah.


''Tidak ! Aku tidak pernah menuduhmu, Aminah ! Aku hanya tidak ingin kau tersakiti lebih dalam lagi, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan mobil seraya memerintahkan kepada sopir untuk menutup bagian tengah mobil.


Perlahan-lahan penutup yang ada di bagian tengah menutup secara sepenuhnya hingga bagian depan mobil tidak terlihat lagi.


Saat penutup bagian tengah mobil tertutup secara seluruhnya hingga keberadaan sopir tidak terlihat lagi.


Shaheer Sheikh lalu menarik tangan Aminah hingga mereka saling berhadap-hadapan.


"Aminah, aku sarankan agar kau tidak berbuat macam-macam dengan keluarga besar Sheikh ! Terutama kakek Salman ! Aku mengatakan ini karena aku benar-benar mencemaskanmu, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh.


Keduanya saling berpandangan serta terdiam dengan ekspresi serius saat dalam perjalanan ke Novotel.


"Aku akan terus mengingatkanmu bahwa jangan pernah kamu menyentuh kakek Salman Sheikh sedikitpun, Aminah", ucap Shaheer Sheikh.


Aminah hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Shaheer Sheikh.


Namun, dilubuk hati kecilnya, Aminah menangis sedih saat menyadari Shaheer Sheikh, orang yang dia percayai akan selalu membantunya ternyata lebih memilih untuk melindungi kakek Salman Sheikh daripada dirinya.


"Aku tidak pernah menuntutmu untuk selalu ada tapi aku hanya ingin kau mengerti bahwa seorang betina akan memberontak pada pejantan yang menyakitinya apapun itu bentuknya, Shaheer...", sahut Aminah.


Kedua mata Aminah tampak berkaca-kaca tetapi dengan cepatnya gadis berhijab itu menyembunyikan wajahnya dari pandangan mata Shaheer Sheikh.


Aminah langsung menundukkan wajahnya agar Shaheer Sheikh tidak dapat membaca kesedihan hatinya.


"Aminah..., maafkan aku jika perbuatanku malam ini agak keterlaluan dan kasar padamu...", sahut Shaheer Sheikh.

__ADS_1


Shaheer Sheikh menarik Aminah ke dalam pelukannya seraya mengusap lembut kepala gadis cantik itu.


''Aku hanya tidak ingin mereka mencelakanmu seperti yang terjadi pada ayahmu, tuan Kapoor'', kata Shaheer Sheikh. ''Dan aku berharap kau akan selalu dalam keadaan bahagia, Aminah...'', sambungnya.


Perhatian Shaheer Sheikh tampak jelas bahwa dia menginginkan kehidupan Aminah senantiasa bahagia selama gadis itu hidup dalam naungan keluarga besar Sheikh.


Keinginan dari Shaheer Sheikh hanya satu yaitu ketenangan untuk Aminah.


Meski pada awalnya dia tidak menaruh hati kepada Aminah tetapi hal yang saat ini dia inginkan adalah memperbaiki hubungan diantara dirinya dengan Aminah.


Tujuan dari hidup Shaheer Sheikh dimasa depan adalah berbahagia bersama dengan Aminah hingga akhir hayat mereka berdua.


Melepaskan bayang-bayang nama keluarga Sheikh yang selalu mengikuti kehidupan Shaheer Sheikh selama ini.


Shaheer Sheikh berencana berniat melepaskan kehidupannya dalam keluarga Sheikh karena itu dia terus bekerja keras agar cita-citanya tercapai.


Membangun perusahaannya sendiri pelan-pelan seusai dia menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan milik keluarga Sheikh.


Tidak ingin lagi menjadi bawahan yang selalu melaksanakan semua urusan perusahaan milik keluarga Sheikh yang diserahkannya kepada dirinya sebagai pihak penanggung jawab tanpa diakui keberadaannya sebagai bagian anggota keluarga Sheikh sepenuhnya.


''Jujur aku ingin selalu bersamamu dan menghabiskan seluruh waktuku denganmu tapi aku memiliki urusan yang sama pentingnya dan ini menyangkut masa depan'', kata Shaheer Sheikh.


''Aku tidak ingin membuat waktumu terbuang karenaku, aku juga tidak ingin kau selalu mencemaskanku karena aku akan selalu baik-baik saja'', sahut Aminah.


''Percayalah padaku, Aminah ! Bahwa aku sangat mengingingkan kebahagian diantara kita serta masa depan yang lebih baik untuk kita berdua, Aminah !'', kata Shaheer Sheikh.


Tampak Shaheer Sheikh bersungguh-sungguh mengatakan semua keinginannya kepada Aminah yang menginginkan kebahagian mereka berdua di masa depan.


''Aku hanya tidak tahu cara aku memposisikan diriku dalam hubungan kita ini, Shaheer...'', ucap Aminah.


''Yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah menata serta memperbaiki hubungan kita berdua tetap selalu bersama hingga kita menikah nanti, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


''Aku tidak tahu, Shaheer...'', ucap Aminah berbisik pelan.


''Percayalah padaku, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh mencoba meyakinkan Aminah.


''Berilah aku sedikit waktu untuk berpikir...'', ucap Aminah.


''Aku tahu kau akan memahamiku perlahan-lahan dan mengerti dengan keputusan yang aku ambil untuk kebaikan masa depan kita nantinya, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


''Tolonglah aku untuk mengerti itu...'', bisik pelan Aminah.


''Kau akan mengerti suatu hari nanti, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


Aminah masih menundukkan wajahnya dengan muram, semua yang diucapkan oleh Shaheer Sheikh terasa hambar.


Seakan-akan janji yang diucapkan oleh Shaheer Sheikh terasa bagaikan sebuah impian belaka yang mustahil akan hubungan mereka berdua di masa depan.


Tidak ada lagi harapan dari hubungan mereka ke depannya karena yang Aminah rasakan saat ini adalah rasa kecewa yang teramat dalam.

__ADS_1


Bukan lantaran Shaheer Sheikh sudah tidak menginginkannya tetapi Aminah merasakan bahwa hubungan diantara mereka tidak dapat lagi dia pertahankan.


Batas lelah mulai dirasakan oleh Aminah dan dia mulai menyerah akan panjangnya hubungan ini.


__ADS_2