
Aminah mengikuti langkah Shaheer Sheikh saat mereka menuruni tangga menuju ke bawah.
Kembali turun ke lantai bawah gudang di pelabuhan.
''Kita tidak mungkin kembali ke rumah sekarang karena hari ini kita akan melanjutkan perjalanan kita ke pelabuhan lainnya'', ucap Shaheer Sheikh.
''Tapi hari mulai menjelang sore, mungkinkah kita dapat menyelesaikan rencana kita ?'', sahut Aminah.
''Entahlah, Aminah... Aku juga tidak tahu tetapi aku akan berusaha supaya kita bisa sampai ke sana'', kata Shaheer Sheikh.
''Maafkan aku karena aku telah merepotkanmu dan membuat waktumu terbuang sia-sia, Shaheer Sheikh'', ucap Aminah.
''Tidak, Aminah ! Tidak apa-apa, aku tidak merasa bahwa ini merepotkanku'', kata Shaheer Sheikh.
''Terimakasih telah membantuku mencari informasi tentang baba'', ucap Aminah.
Aminah berjalan sambil menundukkan kepalanya dengan salah satu tangan menggenggam erat tas miliknya.
Shaheer Sheikh hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Aminah.
''Aku merasa tidak enak hati kepadamu, Shaheer atas semua kejadian di hari ini'', kata Aminah.
''Percayalah padaku, Aminah ! Aku senang dengan ini semua karena aku juga penasaran tentang kecelakaan kapal itu !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Terimakasih...'', ucap Aminah sekali lagi.
''Sama-sama, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
Keduanya terus berjalan melewati ruang di gudang pelabuhan sembari terus bersikap penuh waspada.
Terlihat Shaheer Sheikh menolehkan kepalanya ke arah samping kanan dan kiri berulang-ulang.
Memastikan keadaan di gudang pelabuhan cukup aman bagi mereka berdua.
''Tetaplah berhati-hati, Aminah !'', kata Shaheer Sheikh sambil menolehkan kepalanya. ''Kita tidak tahu apakah disini masih aman ataukah tidak karena mungkin saja penjahat itu akan kembali datang tak terduga'', sambungnya.
''Iya, Shaheer... Aku mengerti !'', sahut Aminah.
Aminah melangkahkan kakinya dengan hati-hati tanpa lupa untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya.
''Apakah kita akan pergi jauh dari kota Delhi, Shaheer ?'', tanya Aminah.
''Mungkin saja karena perjalanan yang akan kita tempuh nanti lumayan jauh karena pelabuhan selanjutnya yang akan kita datangi tidak berada satu kota dengan tempat kita tinggal, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
''Itu artinya kita akan menginap, Shaheer ?'', kata Aminah terkejut.
''Jika itu harus kita lakukan karena jarak yang cukup jauh maka kita terpaksa menginap'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi...'', gumam Aminah bimbang.
''Aku tidak akan memaksamu untuk tidur bersamaku dalam satu kamar meski kita telah terikat hubungan yang kuat dan aku telah melamarmu, Aminah'', ucap Shaheer Sheikh.
''Ekh !?'', Aminah tersentak.
Gadis cantik itu mendongakkan kepalanya ke arah Shaheer Sheikh yang berjalan didepannya.
__ADS_1
''Jangan takut kepadaku, Aminah ! Aku ini termasuk pria baik-baik !'', lanjut Shaheer Sheikh.
Senyum membayang di wajah pria tampan itu saat dia berhasil menggoda Aminah.
''Maaf...'', sahut Aminah tersipu malu.
''Meskipun aku tergoda oleh kepolosanmu serta kecantikanmu yang mempesona, aku akan menjagamu hingga kita menikah nanti'', kata Shaheer Sheikh.
''M--menikah ?'', kata Aminah tertegun.
''Iya, kita tidak mungkin hanya bertunangan saja, bukan ? Karena aku akan melegalkan hubungan ini hingga ke pernikahan nanti, Aminah'', ucap Shaheer Sheikh.
''T--tapi bukankah kamu mengatakan bahwa kita akan berpisah setelah acara pertunangan kita selesai... Kenapa kamu berubah pikiran, Shaheer ?'', kata Aminah panik.
''Iya, itu rencanaku sebelumnya. Dan aku telah mengubah keputusanku itu setelah aku memikirkannya kembali, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.
''Mmmm... !?'', gumam Aminah. ''Bagaimana bisa terjadi secepat itu !? Bukankah kamu mengatakan perasaanmu yang tidak menyetujui hubungan kita !?''
Aminah menghentikan langkah kakinya sejenak sambil berpikir.
''Itu tidak benar, Shaheer...'', ucap Aminah.
Shaheer Sheikh langsung ikut berhenti seraya berdiri terdiam menatap ke arah lantai gudang.
''Kamu tidak mungkin mengubah rencanamu yang telah kamu susun dengan terencana itu karena merasa iba padaku, bukan ?'', kata Aminah.
Tatapan Aminah yang sendu serta tidak bergerak dari arah lantai gudang menyiratkan bahwa dirinya merasa enggan dengan keputusan Shaheer Sheikh yang berubah.
Karena Aminah terlanjur mengeraskan hatinya untuk tidak membuat hubungannya dengan Shaheer Sheikh lebih dekat apalagi menikah.
''Diantara kita tidak ada rasa tertarik satu sama lainnya dan aku rasa kita tidak saling memiliki cinta'', kata Aminah.
''Bukan karena itu, Shaheer...'', jawab Aminah.
Shaheer Sheikh memejamkan kedua matanya seraya mengatupkan bibirnya hingga rahang-rahangnya terlihat menonjol.
Dia tahu bahwa dirinya telah banyak menyakiti hati Aminah pada saat pertama kali mereka bertemu.
Meski menyesal tapi Shaheer Sheikh sadar kalau Aminah cukup kecewa dengan sikap yang telah dia perbuat sebelumnya.
''Aku mengerti, Aminah... Aku mengerti itu...'', ucap Shaheer Sheikh.
Sebelum sempat Shaheer Sheikh menyelesaikan ucapannya tiba-tiba datang seseorang masuk ke gudang lalu berlari ke arah mereka yang tengah berdiri di tengah-tengah ruangan gudang.
''HAI KAMU !!!''
Teriak seorang pria bertubuh kekar saat memasuki area gudang dengan membawa kayu.
Pria itu berlari cepat ke arah Shaheer Sheikh serta Aminah dengan mengayunkan sebatang kayu ditangannya.
Shaheer Sheikh tersentak saat melihat pria yang tadi menyerangnya di pelabuhan.
''Shaheer Awas !!!'', teriak Aminah.
''Menjauh Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh.
__ADS_1
Shaheer Sheikh menghadang pria dengan kayu ditangannya itu.
''Siapa kamu ?'', tanya Shaheer Sheikh geram.
''Jangan banyak tanya ! Kau harus segera pergi ke neraka !'', sahut pria sangar.
''Pergi ke neraka katamu ? Apa kamu bosan hidup ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Sialan !'', ucap pria sangar marah.
Dia berusaha menarik kayu yang ada di tangan Shaheer Sheikh tetapi gagal.
Shaheer Sheikh menghempaskan kayu dari tangan pria sangar kuat-kuat sehingga penjahat itu tersingkirkan.
''Kamu cukup kuat juga pria kaya !'', kata pria sangar.
Pria berpakaian kurta biru tua itu berdiri tegak sembari memperkuat genggaman kayu yang ada ditangannya.
''Tapi sayangnya hidupmu harus berakhir sampai disini !'', ucap pria sangar.
Pria itu tersenyum mengejek ke arah Shaheer Sheikh sambil meludah.
''Berani juga dia...'', gumam Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menatap lurus ke arah pria sangar yang agak jauh dari hadapannya.
Sorot mata Shaheer Sheikh tajam dengan ekspresi wajah serius ketika melihat pria sangar itu berdiri dengan kayu di tangannya.
Shaheer Sheikh hanya berdiri santai dengan salah satu tangan berada di dalam saku celananya sedangkan salah satu tangannya yang lainnya mengusap pakaiannya yang terkena serpihan kayu.
''Maju saja kalau kamu punya nyali dan bosan hidup !'', ucap Shaheer Sheikh.
''Apa !? Kau ! Kau ! Kau berani menantangku ?'', sahut pria sangar emosi.
''Kenapa ? Takut ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Sialan ! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang ???''', kata pria sangar marah.
''Masa bodoh !'', sahut Shaheer Sheikh. ''Apa peduliku ?'', sambungnya datar.
Pria sangar berlari cepat ke arah Shaheer Sheikh sembari mengayunkan kayu panjang ditangannya.
Dia memukulkan beberapa kali gerakan ke arah Shaheer Sheikh sedangkan pria tampan itu terus menghindari serangan-serangan pria sangar.
Tampak pria sangar mulai bertambah emosi dan marah.
Dia semakin gencar menyerang Shaheer Sheikh dengan pukulan kayu yang ada ditangannya sehingga Shaheer Sheikh cukup membuatnya bergerak dari posisinya berdiri.
Shaheer Sheikh hanya menghindari serangan pukulan kayu dari pria sangar tanpa melakukan balasan.
Pria sangar merasa dipermainkan oleh Shaheer Sheikh yang sejak tadi hanya menghindari setiap serangan-serangan darinya.
Dia semakin menambah kekuatannya dengan mengayunkan pukulan kayu ke arah Shaheer Sheikh tanpa hentinya.
Serangannya membabi buta sehingga memaksa Shaheer Sheikh melayangkan pukulannya ke arah pria sangar.
__ADS_1
DUASHHH...
Satu pukulan mengenai bagian tubuh pria sangar dan membuat pria itu jatuh seraya merintih kesakitan.