Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Apakah ini semua


__ADS_3

Aminah mengikuti ketiga petugas keamanan dengan atasan merah menuju masuk ke sebuah taman penuh bunga yang terdapat tanaman menjalar di dindingnya.


Salah satu pria melangkah mendekati dinding dengan tanaman menjalar kemudian menyibakkan tanaman hijau itu.


Tak butuh waktu lama, dinding yang dipenuhi oleh tanaman menjalar bergeser perlahan.


DRRRT...


Dinding dengan tanaman menjalar itu terbuka lebar.


Sebuah lorong gelap berada di dinding itu, sangat sunyi dan suram.


''Mari kita masuk ke dalam sana, nona Aminah !", ucap petugas keamanan.


"Tidak ! Aku tidak akan ikut kalian !", ucap Aminah.


Aminah berusaha lari dari ketiga petugas keamanan yang mengenakan atasan merah tetapi mereka mampu menahannya cepat.


"Jangan kabur, nona Aminah !", kata salah seorang dari mereka.


"Tidak ! Kalian pasti berniat jahat padaku !", teriak Aminah.


"Tidak, nona Aminah ! Ini benar-benar perintah dari tuan Shaheer Sheikh agar membawa anda kemari !", kata petugas tersebut.


"Kalian bohong ! Kalian bohong !", tolak Aminah sambil terus berteriak keras.


"Kami tidak berbohong, dan jangan takut karena kami tidak berniat jahat pada anda", kata mereka.


"Lepaskan aku !", teriak Aminah lagi.


Salah satu pria dari mereka menahan Aminah dengan memegangi tangan gadis berhijab itu agar dia tidak dapat kabur dari mereka.


"Percayalah pada kami ! Dan ikutlah kami karena ini adalah perintah dari tuan Shaheer Sheikh, jika anda tidak ikut bersama kami maka tuan muda akan memecat kami bertiga", kata pria petugas itu.


"Kalian pasti berbohong, bukan ? Ada yang kalian sembunyikan ! Dan aku rasa ini bukan perintah dari Shaheer Sheikh !", sahut Aminah.


Aminah menatap tajam ke arah ketiga petugas keamanan yang ada di hadapannya.


"Tidak ! Itu tidak benar !", ucap petugas itu.


"Apa yang tidak benar ? Katakanlah dimana Shaheer Sheikh ? Kenapa aku tidak melihatnya ?", kata Aminah.


"Tuan muda ada didalam sana dan telah menunggu anda di tempat yang ada di dalam ruangan dinding menjalar ini !", sahut petugas itu.


"Dia di dalam sana ?", tanya Aminah terkejut kaget.


"Benar ! Tuan Shaheer Sheikh sudah menunggu kedatangan anda dan berpesan jika kami harus membawa anda kepadanya secepatnya", sahut salah satu petugas itu.


"Mana buktinya jika dia memang Shaheer Sheikh ?", ucap Aminah lantang.


"Ini ! Benda ini adalah buktinya !", kata mereka.


Salah seorang dari petugas keamanan itu menyerahkan sebuah benda berupa simbol matahari kepada Aminah.

__ADS_1


Aminah langsung tertawa saat mereka menunjukkan benda itu padanya.


"Kamu pikir dengan menunjukkan benda aneh seperti itu maka aku akan langsung percaya padamu kalau Shaheer Sheikh bersama kalian ?", kata Aminah.


Aminah tertawa mengejek kepada ketiga petugas keamanan itu.


Ketiga pria bertubuh kekar itu saling berpandangan satu dengan lainnya lalu saling menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, saya akan menelpon tuan Shaheer Sheikh'', sahut petugas itu.


"Silahkan ! Kalau memang itu dia ! Dan tunjukkan pada ku jika kamu sudah menelponnya via video !", kata Aminah.


"Baik, saya segera menghubungi tuan muda sekarang !", sahut petugas itu.


Petugas keamanan itu lalu menghubungi Shaheer Sheikh melalui telepon selulernya.


Terdengar suara dari balik telepon genggamnya seorang pria menjawab panggilan telepon petugas itu.


"Nona Aminah ingin berbicara langsung dengan anda, tuan Shaheer Sheikh !", kata petugas itu.


"Baiklah, berikan telepon milikmu kepada Aminah !", sahut suara dari dalam telepon.


"Siap, tuan Shaheer Sheikh !", kata petugas itu lagi.


Petugas keamanan itu memberikan telepon selulernya kepada Aminah.


Sebuah panggilan video telah berlangsung saat petugas itu menyerahkan telepon selulernya pada Aminah yang berdiri diam.


"Silahkan anda langsung berbicara pada tuan Shaheer Sheikh'', kata petugas itu.


Aminah menerima telepon seluler dari petugas itu kemudian membalikkan telepon di tangannya menghadap ke arah dirinya.


Dilihatnya wajah Shaheer Sheikh didalam layar telepon seluler sedang menatapnya tajam.


"Kenapa kamu tidak segera masuk ? Cepat masuk ! Aku menunggu mu didalam sini !", kata Shaheer Sheikh


Shaheer Sheikh terlihat marah saat berbicara lewat video call dengan Aminah yang ngotot untuk menolak masuk menemuinya.


"Kenapa ? Apa harus ?", sahut Aminah.


"Apa aku harus mengulangi ucapanku lagi dan berulang-ulang mengatakannya ?'', kata Shaheer Sheikh.


''Untuk apa aku menuruti perintah mu ? Memangnya ada yang perlu kita bicarakan dengan serius ?'', sahut Aminah.


''Dengar ! Dan ikuti ketiga petugas itu sekarang ! Masuklah bersama mereka cepat ! Jangan membantah lagi !'', kata Shaheer Sheikh.


TUT... TUT... TUT...


Bunyi suara telepon terputus dan gambaran wajah Shaheer Sheikh yang barusan ada di layar ponsel lalu menghilang dari pandangan Aminah.


''A--apa !?'', sahut Aminah tertegun.


Aminah tidak menyangka kalau Shaheer Sheikh akan memutuskan panggilan telepon tanpa pemberitahuan.

__ADS_1


''Mari ikut kami masuk kedalam sana, nona Aminah !'', kata petugas itu ramah.


''Hmmm...'', hela nafas Aminah. ''Baiklah, aku akan menuruti perintah kalian dan ikut masuk ke dalam sana'', sambungnya.


Aminah lalu melangkah masuk ke dalam lorong gelap yang ada di dinding taman belakang.


Disusul oleh ketiga petugas keamanan yang ikut masuk ke dalam lorong gelap itu.


Ketika mereka telah masuk ke dalam lorong gelap, dinding yang ada di belakang mereka yang tadinya terbuka lebar-lebar itu langsung tertutup dengan sendirinya.


DRRRT... DRRRT... DRRRT...


Dinding dengan tanaman menjalar yang menempel di tembok halaman kembali semula.


Tidak terlihat jejak jika dinding tanaman menjalar yang ditumbuhi bunga-bunga kecil itu adalah sebuah dinding yang memiliki lorong dibaliknya.


''Nyalakan lampu ! Dan jangan lupa aktifkan tanda keamanan di area lorong !'', ucap salah seorang pria dengan kumis tipis pada salah satu rekannya.


''Baik, aku akan menyalakan lampu sepanjang lorong ini serta alarm keamanan'', sahut pria agak kurus.


''Kita tidak bisa menunda waktu kita karena tuan Shaheer Sheikh menugaskan kita segera menyelesaikan pekerjaan ini'', kata pria berkumis tipis itu.


''Iya, aku mengerti'', jawab pria kekar agak kurus.


''Cepatlah ! Lorong ini sangat gelap dan kita tidak bisa melihat jalan didepan sana'', kata pria berkumis tipis memberi perintah.


Rupanya pria berkumis tipis itu merupakan ketua team mereka karena kedua petugas keamanan yang lainnya sangat mematuhi setiap ucapannya.


Petugas itu lalu mengeluarkan senter dari sakunya kemudian menyalakan senter ditangannya.


Diarahkannya lampu senter itu ke dinding lorong untuk mencari letak tombol menghidupkan lampu.


Kedua petugas keamanan yang lainnya berjalan maju mengikuti Aminah yang telah berjalan terlebih dahulu dari mereka.


Suara langkah sepatu keempat orang terdengar menggema saat mereka masuk kedalam lorong yang mulai tidak gelap karena salah seorang dari petugas keamanan itu menyalakan lampu yang ada di lorong itu.


Tampak deretan lampu-lampu gantung yang menempel di sepanjang dinding ruangan lorong yang dindingnya dihiasi oleh marmer utuh.


Membuat tempat itu tidak seperti layaknya sebuah lorong yang suram seperti gua tapi ruangan yang khusus penuh kemewahan.


Aminah terus berjalan memasuki lorong yang terasa sejuk dan nyaman.


Lorong itu cukup panjang ukurannya sehingga memaksa Aminah harus melangkahkan kedua kakinya sepanjang lorong agak lama.


Hampir setengah jam mereka berjalan di dalam lorong yang dingin dan mewah itu.


Di hadapan mereka tampak sebuah pintu berukuran besar tengah berada di depan mereka saat ini.


Tak lama kemudian keempatnya berhenti tepat di depan pintu seperti pintu lift itu.


Salah satu dari petugas keamanan menekan tombol untuk membuka pintu lift didepan mereka.


Menunggu agak lama lift itu terbuka sekitar lima menit.

__ADS_1


Daun pintu lift kemudian terbuka perlahan-lahan dan keempatnya langsung segera masuk kedalam lift.


Meninggalkan ruangan lorong yang tampak sunyi tetapi terasa nyaman, menuju ke lantai atas ke tempat dimana Shaheer Sheikh berada saat ini.


__ADS_2