Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Alangkah Baiknya


__ADS_3

Aminah menyerahkan bingkai foto yang baru dia temukan di dalam ruangan kelima kepada Shaheer Sheikh.


Tanpa ragu-ragu dia menunjukkan foto lawas yang sangat familiar itu.


''Apa ini ?'', tanya Shaheer Sheikh.


Dilihatnya bingkai foto yang baru diberikan kepada dirinya.


Shaheer Sheikh tersentak kaget saat melihat foto yang ditunjukkan oleh Aminah.


''Ini foto kakek !'', ucapnya.


''Apakah kamu mengenal orang yang bersama dengan kakek di foto ini ?'', tanya Aminah.


Gadis berhijab itu menunjuk ke arah foto seorang pria berpakaian kurta putih dengan turban warna senada berdiri di dekat pria dengan kumis tipisnya.


''Aku tidak mengenalnya !'', sahut Shaheer Sheikh.


''Benarkah ?'', kata Aminah.


''Iya, aku tidak mengenalnya ! Kenapa ?'', jawab Shaheer Sheikh.


''Hhhh...'', hela nafas Aminah.


''Ada apa ?'', kata Shaheer Sheikh.


''Apa kau benar-benar tidak tahu siapa orang ini ?'', tanya Aminah mengulang pertanyaannya.


''Tidak !'', sahut Shaheer Sheikh. ''Kenapa ?'', sambungnya.


''Apa kamu mengenal babaku saat kamu antar kembali pulang ke Janakpur ?'', ucap Aminah.


''Iya, tentu saja aku mengenal baba mu, Aminah !'', sahut Shaheer Sheikh.


''Apa kamu benar-benar mengenal baba Kapoor dengan benar ?'', tanya Aminah.


''Mmmm..., iya..., tapi..., tidak terlalu kenal secara akrab karena aku hanya bertemu baba Kapoor saat mengantarnya pulang ke Janakpur...'', sahut Shaheer Sheikh.


''Mmmm..., baiklah. Aku mengerti, Shaheer !'', kata Aminah.


Aminah mengambil kembali bingkai foto dari tangan Shaheer Sheikh lalu menggenggamnya erat seraya menatap ke arah pria tampan itu dengan tatapan serius.


''Lantas siapakah pria yang satunya lagi yang ada di dalam foto ini ?'', kata Aminah.


''Aku tidak tahu secara pasti orang-orang yang dekat dengan kakek Salman Sheikh karena kakek tidak pernah memperkenalkan rekan-rekan bisnisnya secara pribadi'', sahut Shaheer Sheikh.


''Apa mungkin kamu tidak pernah melihat mereka dalam acara perjamuan makan yang diadakan oleh kakek Salman ?'', tanya Aminah.


''Tidak pernah !'', sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh memandang ke arah Aminah dengan tatapan teduhnya lalu tersenyum.


''Aku bukanlah orang yang paling disayangi oleh Kakek Salman karena hal pribadi yang membuat kami tidak terlalu dekat'', kata Shaheer Sheikh.


''Tapi setidaknya kamu mengenal salah satu rekan bisnis kakekmu !? Bukankah kamu yang diandalkan dalam mengurusi perusahaan kakek ?'', tanya Aminah.


''Aku memang pemegang kendali pimpinan perusahaan milik Keluarga besar Sheikh tapi karena kakekku adalah anak tiri maka aku hanya sebagai alat menjalankan roda bisnis perusahaan bukan sepenuhnya pemiliknya'', sahut Shaheer Sheikh.

__ADS_1


''Apa kamu tidak mengenal teman dekat kakek Salman seorangpun ?'', tanya Aminah.


''Tidak pernah !'', sahut Shaheer Sheikh.


''Benarkah ?'', kata Aminah.


''Yah !'', sahut Shaheer Sheikh. ''Karena setiap kali ada pesta perayaan yang diadakan oleh Kakek Salman Sheikh, aku tidak pernah hadir di acara-acara itu'', sambungnya.


Shaheer Sheikh menghentakkan sepatunya beberapa kali ke atas lantai yang terbuat dari baja.


''Kau kemana ?'', kata Aminah.


''Aku !?'', jawab Shaheer Sheikh.


''Iya, kamu...'', ucap Aminah sambil menganggukkan kepalanya.


''Aku selalu keluar bersama teman-temanku ke suatu tempat dimana biasa kami berkumpul beramai-ramai'', sahut Shaheer Sheikh.


''Apakah kau keluar hingga larut malam ?'', tanya Aminah.


''Terkadang aku tidak pernah pulang ke rumah...'', sahut Shaheer Sheikh.


''Kamu menginap ? Dengan siapa ?'', kata Aminah.


''Aku biasanya tidur dirumah milik ayahku'', sahut Shaheer Sheikh.


Kembali Shaheer Sheikh menatap lurus ke arah Aminah.


''Aku tidak pernah menginap dengan orang lain atau menghabiskan malamku dengan wanita lain meski aku sangat menyukai wanita'', sahut Shaheer Sheikh.


''Adakah pertanyaan lainnya lagi ?'', kata Shaheer Sheikh.


''Oh, tidak !'', sahut Aminah.


''Aku tidak menyangka jika gudang dipelabuhan ini milik rekan kakek Salman !?'', kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan gudang dilantai dua ini.


Pandangannya terlihat sangat serius ketika dia memperhatikan setiap sudut ruangan di lantai dua dimana mereka berada.


''Apakah ini ada kaitannya dengan kecelakaan kapal yang menimpa baba ?'', ucap Aminah.


''Aku rasa tidak mungkin tetapi ada kemungkinan kecil kalau ini juga berkenaan dengan kecelakaan kapal itu'', sahut Shaheer Sheikh.


''Apa kecelakaan ini sengaja ataukah terencana ?'', kata Aminah.


''Entahlah, Aminah !? Aku sendiri tidak mengetahuinya secara pasti peristiwa itu ?'', sahut Shaheer Sheikh.


''Alangkah baiknya jika kita segera keluar dari gudang ini karena kita telah menemukan bukti foto ini, Shaheer'', lanjut Aminah.


''Apa kamu bermaksud membawa foto itu bersamamu ?'', tanya Shaheer Sheikh kaget.


''Tentu saja karena ini merupakan salah satu petunjuk yang mungkin dapat menunjukkan sesuatu bukti yang mengacu pada kecelakaan kapal itu'', sahut Aminah.


''Hmmm..., baiklah...'', ucap Shaheer Sheikh.


Pria tampan itu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan memberi tanda setuju atas pendapat Aminah yang membawa serta bingkai berisi foto lawas.

__ADS_1


Mungkin saja dari foto itu akan ada bukti kuat yang mengarah kepada peristiwa kecelakaan kapal yang terjadi pada ayah Aminah.


''Bawa saja foto itu dan mungkin saja akan berguna untuk penyelidikan selanjutnya'', saran Shaheer Sheikh.


''Iya, aku sependapat denganmu. Dan aku akan menyimpannya sampai peristiwa kecelakaan itu terungkap'', sahut Aminah.


''Mari kita pergi dari tempat ini sebelum penjahat itu menemukan kita disini !'', kata Shaheer Sheikh lagi.


''Apakah kita tidak berkeliling hingga lantai atas ?'', tanya Aminah. ''Mungkin saja ada petunjuk baru lainnya disana yang akan kita temukan !?'', sambungnya seraya menatap ke arah atas.


Dimana lantai ketiga di ruangan itu belum mereka lihat.


''Tidak !", sahut Shaheer Sheikh. "Sebaiknya kita tidak kesana karena waktu kita tidak cukup banyak untuk naik ke lantai atas !"


"Apakah kita akan pergi ?", tanya Aminah.


"Alangkah baiknya kita segera pergi dari gudang ini secepatnya karena masih ada beberapa pelabuhan yang belum kita kunjungi", sahut Shaheer Sheikh.


"Tapi ini kesempatan kita untuk melihatnya. Dan alangkah baiknya jika kita naik ke atas sana, Shaheer ?", kata Aminah.


"Hmmm... !?", gumam Shaheer Sheikh.


Tampak keraguan dari ekspresi wajah Shaheer Sheikh ketika melihat ke arah lantai atas.


Dia berpikir waktu mereka hari ini sangatlah singkat masih ada pelabuhan lainnya yang belum mereka kunjungi.


"Apakah tidak akan membuang waktu kita ?", tanya Shaheer Sheikh.


"Cukup sepuluh menit kita naik ke lantai tiga untuk memastikan keadaan disana !", sahut Aminah.


"Baiklah !", ucap Shaheer Sheikh.


Aminah menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Shaheer Sheikh.


Mereka kemudian berjalan menuju ke arah lantai atas dimana lantai ketiga dari ruangan baja ini terletak.


"Cepatlah karena kita sudah satu jam di gudang ini ! Dan penjahat itu rupanya tidak akan kemari menyusul kita !", kata Shaheer Sheikh.


"Iya, aku mengerti...", sahut Aminah.


Keduanya melangkah naik melewati sebuah tangga dari kerangka baja dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar bunyi langkah mereka saat naik ke atas.


Pada saat mereka sampai ke lantai tiga, Aminah bergumam pelan dalam hatinya.


"Bagaimana mungkin Shaheer Sheikh tidak mengenali wajah baba sedangkan baba acapkali ke Delhi untuk urusan bisnis yang berhubungan dengan keluarga besar Sheikh ?"


Aminah setengah melirik ke arah Shaheer Sheikh yang berjalan melewatinya.


"Apakah ada yang sengaja disembunyikan oleh Shaheer Sheikh dengan tidak mengatakan bahwa dia tidak mengenal pria yang ada di foto lawas itu ?"


Aminah tertegun sembari mempererat genggaman tangannya pada tas yang dibawanya.


"Ataukah dia memang sengaja berbohong ? Apakah Shaheer Sheikh sedang berbohong ? Kenapa ?''


Aminah tiba-tiba menghentikan langkah kakinya sesaat pikirannya melayang kepada foto yang dia temukan di ruangan kelima tadi.


"Alangkah baiknya aku tidak mengatakan padanya bahwa pria yang ada didalam foto itu adalah baba..."

__ADS_1


__ADS_2