Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aula tersembunyi


__ADS_3

Aminah melangkah keluar kamar menuju ruang makan untuk menyiapkan sarapan pagi itu.


Saat dia melewati jalan menuju ruang makan, dia melihat sebuah lorong yang terbuka.


Aminah mencoba mencari tahu lalu berbelok untuk memastikannya.


''Lorong apakah ini ?", gumam Aminah.


Aminah masuk ke dalam lorong itu, ruangan tersembunyi yang ada di balik pintu.


''Sepertinya aku belum pernah melihat tempat ini ?'', ucap Aminah.


Saat Aminah melangkahkan kakinya ke dalam lorong tiba-tiba dinding di belakang Aminah tertutup dengan sendirinya.


BLESH !


Dinding itu seperti pintu yang menghubungkan lorong di ruangan rumah tapi tidak ada yang tahu jika itu adalah ruangan tersembunyi.


''Oh, tidak !? Bagaimana caranya aku keluar nanti !?'', gumam Aminah panik.


Aminah meraba-raba dinding yang tertutup itu tapi tetap dia tidak menemukan cara untuk membukanya.


''Oh, tidak...'', ucap Aminah.


Aminah mencari-cari sesuatu di sekitar dinding yang tertutup itu dan sekali lagi dia tidak menemukan caranya.


Lorong itu juga cukup gelap hanya ada sinar remang yang berasal dari sebuah lampu tempel di dinding sedangkan lorong itu sangatlah panjang.


''Haruskah aku melanjutkan langkahku atau hanya diam disini sampai seseorang membukakannya ?'', kata Aminah pelan.


Aminah melangkahkan kakinya pelan melanjutkan niatnya untuk memeriksa lorong tersembunyi itu.


''Jika aku tetap menunggu disini maka aku akan mati kehabisan nafas...'', ucap Aminah.


Gadis berhijab itu lalu kembali berjalan seraya menolehkan kepalanya ke arah sekitar lorong yang tampak sunyi.


Sesekali diusapnya wajahnya yang mulai berkeringat.


''Tuhan..., tolonglah aku !'', gumam Aminah.


Digenggamnya kain hijab yang menutupi dadanya erat-erat seraya berjalan fokus ke arah depan.


''Mudah-mudahan aku menemukan jalan keluar dari sini atau setidaknya aku mendapatkan sesuatu petunjuk berharga'', ucap Aminah.


Aminah melangkah hati-hati sambil terus memperhatikan sekitarnya dengan sikap waspada.


Dia keluar dari lorong panjang kemudian melihat sebuah ruangan luas di depannya yang bercahaya terang.


''Ada ruang khusus di lorong ini dan ruangan ini sangat luas seperti ruangan yang terdapat di bagian lain rumah'', kata Aminah.


Aminah kembali berjalan lalu dia melihat lagi sebuah jalan kecil yang menghubungkan suatu ruangan yang terbuka pintunya.


''Apakah aku harus masuk kesana !?'', ucap Aminah.


Gadis itu ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya karena dia takut akan ada orang yang melihatnya.

__ADS_1


''Tapi jika aku tetap disini maka aku tidak akan pernah dapat keluar dari ruangan tersembunyi ini'', kata Aminah.


Aminah mencoba untuk menata hatinya yang sangat cemas tapi dia menepisnya.


''Tidak ! Tidak ! Aku harus keluar dari sini ! Karena jika aku tidak segera keluar dari tempat ini maka aku akan terjebak disini selamanya tanpa makanan'', ucap Aminah.


Aminah menarik nafas dalam-dalam sembari menata pikirannya untuk berpikir jernih.


''Dan mungkin aku akan mati kelaparan di ruangan ini...'', kata Aminah.


Gadis itu melangkah perlahan-lahan dengan lebih meningkatkan kewaspadaannya.


Pandangannya lurus ke arah depan, melihat dengan fokus ruangan di depannya.


Aminah masuk ke ruangan itu ternyata kosong, tidak ada satupun benda ataupun orang yang ada di ruangan itu.


Dia berdiri tertegun menatap ruangan kosong dihadapannya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


''Kosong ? Tempat apakah ini ?'', gumam Aminah bingung.


Aminah berjalan hingga tengah ruangan kosong lalu berdiri diam memandangi ruangan itu.


''Aneh ??? Tidak ada siapapun disini ataupun barang apapun di ruang ini ? Benar-benar kosong !", kata Aminah.


Dia memutar badannya sembari terus memperhatikan keadaan di sana.


"Hanya ada sebuah lampu gantung di atas terbuat dari lampu kristal yang menyala terang", ucap Aminah.


Aminah kebingungan dan hanya berputar-putar mengedarkan pandangannya di ruangan kosong itu.


"Lalu bagaimana caranya aku keluar dari sini !?", gumam Aminah.


Dia melihat sebuah tombol seperti tombol untuk menghidupkan lampu.


"Hanya ada tombol lampu dan ini hanya untuk menyalakan lampu di ruangan ini", kata Aminah.


Aminah menekan tombol lampu itu kemudian dinding di depannya bergerak cepat lalu teebuka lebar.


Ada sebuah ruangan lagi di bali dinding itu dan sepertinya itu adalah tempat khusus menyimpan dokumen.


Beberapa lemari tertata rapi dengan deretan dokumen yang tersusun di dalamnya.


''Tempat apakah ini ?'', kata Aminah.


Aminah berjalan masuk ke ruangan yang mirip aula tidak mirip tempat penyimpanan dokumen khusus.


''Banyak lemari berisi dokumen di ruangan luas ini bahkan ada satu set kursi dan meja lengkap disini'', ucap Aminah.


Sebuah tangga panjang beroda khusus untuk memanjat agar memudahkan siapapun mengambil dokumen yang tersimpan di lemari yang rata-rata semuanya berukuran tinggi dan besar.


Ada tangga yang menghubungkan ke sebuah ruangan lain di aula tersembunyi itu.


''Apakah ini ruangan kerja atau semacam perpustakaan rahasia ?'', kata Aminah.


Aminah melangkah di sepanjang lemari besar yang berada menempel di dinding ruangan aula seraya memperhatikan dengan seksama.

__ADS_1


Lemari-lemari besar yang menjulang tinggi hingga atap ruangan itu menyimpan banyak deretan dokumen di dalamnya.


Tertata sempurna dengan tanda kode di tiap-tiap dokumen yang memudahkan pencarian.


''Dokumen apakah ini ?'', gumam Aminah.


Aminah terus berjalan sepanjang deretan lemari yang menjulang tinggi itu seraya mengaguminya.


Dia belum pernah melihat banyak deretan lemari besar yang berisi dokumen-dokumen tertata serapi itu.


Aminah menoleh ke arah seberang dimana juga terdapat lemari tapi tidak sebanyak deretan lemari di sisi tempat dia berada sekarang.


''Di sisi lain sana lemarinya tidak sebanyak lemari yang ada disini...'', gumam Aminah.


Gadis itu lalu mendongakkan kepalanya ke arah lantai atas tapi tidak terlalu tinggi letaknya hanya ada beberapa anak tangga yang terhubung di ruangan atas itu.


''Ruangan apa lagi disana ?'', gumam Aminah.


Aminah seperti penasaran sehingga dia melanjutkan niatnya untuk ke ruangan di atas sana.


Dia menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi hanya ada tujuh anak tangga yang dilapisi permadani.


DAK... DAK... DAK...


Suara langkah kaki Aminah ketika menaiki anak-anak tangga di ruangan itu.


Dilihatnya sebuah lemari panjang yang tertutup rapat di ruangan itu, tidak seperti lemari yang ada di lantai bawah sana yang tidak memiliki pintu ataupun kaca lemari.


''Ruangan ini lain dari ruangan di bawah sana, hanya ada satu lemari panjang yang menempel di dinding dan...'', ucapan Aminah terhenti.


Dia melihat sebuah jendela !


''Jendela ?'', kata Aminah kaget.


Ada jendela di sudut ruangan atas yang berukuran besar dengan tirai yang tersampir di kedua sisi.


Cahaya dari luar masuk ke dalam ruangan di lantai atas dan ruangan yang berbeda dengan ruang lainnya itu terasa sangat hangat sekali.


Tidak seperti di ruang bawah sana yang terlihat dingin dan kaku.


Ada tempat duduk disana serta sebuah meja kaca yang diatasnya terdapat tumpukan beberapa dokumen.


''Bangku ini sangat nyaman, sebaiknya aku beristirahat sejenak'', gumam Aminah.


Aminah duduk di atas bangku terbuat dari sofa sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan di atas dengan sedikit lega.


''Hmmm..., ruangan ini hangat tetapi tetap saja sepi...'', kata Aminah.


Dia menoleh ke arah meja kaca di hadapannya.


''Apa ini ?'', ucap Aminah.


Aminah meraih sebuah map kuning lalu membukanya serta mulai membaca isi di dalam map itu.


''Ini seperti dokumen penting tapi seharusnya aku tidak melihatnya'', kata Aminah.

__ADS_1


Aminah membuka lembar demi lembar dokumen di dalam map kuning itu dan saat dia melihat ke halaman lainnya.


Tatapan Aminah langsung terkejut kaget sedangkan kedua tangannya bergetar hebat ketika dia membaca isi dokumen itu.


__ADS_2