Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Asa Di Hati


__ADS_3

Aminah berjalan menghampiri meja rias hotel sambil mematut diri di depan cermin.


Mengenakan saree serta hijab warna merah, Aminah terlihat sangat anggun sekali pagi itu.


Kedua tangannya berhiaskan gelang-gelang emas bertaburan permata mewah nan cantik, sebuah kalung emas menjuntai di leher Aminah yang tertutup oleh hijab.


Dipandanginya wajahnya yang cantik didepan cermin cukup lama.


Hampir tidak ada senyuman menghiasi wajahnya yang bening serta kemerah-merahan saat Aminah mematut dirinya depan cermin rias.


Lama Aminah mematut dirinya di depan cermin seraya bergumam pelan.


"Kebahagiaan itu perlu daripada hidup dalam sangkar emas yang penuh sandiwara, mungkin aku tidak akan dapat keluar dari sangkar emas ini meski aku telah bersikeras untuk lepas dari jeratan sangkar emas ini tetapi aku tetap tidak bisa melakukannya karena aku telah terikat sumpah", ucap Aminah sendu.


Diusapkannya lipstik warna merah di atas bibirnya yang mungil tanpa ekspresi di wajah sedangkan kedua tangannya bergetar keras saat dia mengusapkan lipstik ke arah bibirnya yang merekah indah.


Terdengar suara pintu diketuk dari luar serta suara memanggil dirinya.


"Aminah...", ucap suara tersebut.


Aminah terdiam sejenak lalu meletakkan lipstik di tangannya ke atas meja rias kemudian berjalan mendekati pintu kamar yang tertutup rapat.


"Iya..., sebentar...", sahut Aminah.


Dibukanya pintu kamar hotel perlahan-lahan lalu menengadahkan kepalanya ke arah datangnya suara yang memanggil dirinya.


Shaheer Sheikh berdiri di hadapannya sambil tersenyum riang.


"Selamat pagi..., bagaimana tidur mu semalam ?", sapa Shaheer Sheikh.


Aminah hanya terdiam lalu menjawab ucapan Shaheer Sheikh dengan tatapan serius.


"Selamat pagi, syukurlah tidurku semalam sangat nyenyak sekali... lalu bagaimana dengan mu ?", jawab Aminah.


Shaheer Sheikh menghela nafasnya seraya mengusapkan kedua telapak tangannya.


"Kabarku sangat baik bahkan aku tidur sangat lelap sekali, aku tidak sabar lagi menunggu waktu pesta ini, Aminah", kata Shaheer Sheikh.


"Benarkah !?", sahut Aminah dingin.


"Lihatlah diriku ! Aku sudah sangat rapi sekali dan bersiap-siap menghadiri acara pesta hari ini !", kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh memutar tubuhnya sembari merentangkan kedua tangannya ke arah samping serta tertawa riang.


"Bagaimana, Aminah ?", lanjut Shaheer Sheikh. "Apa penampilan ku sangat hebat pagi ini ?", sambungnya.


Shaheer Sheikh yang pagi itu mengenakan Sherwani lengkap warna merah yang sama dengan gaun yang di pakai oleh Aminah tampak sangat tampan dan gagah.


Senyuman menghiasi wajahnya yang berseri-seri senang.


Aminah sejenak melupakan semua tentang pikirannya yang terpusat pada kejadian misteri yang menimpa ayahnya.


Tersenyum tipis kemudian berkata kepada Shaheer Sheikh.


"Pagi ini kamu terlihat sangat berbeda sekali, Shaheer Sheikh", ucap Aminah.


"Berbeda !?", sahut Shaheer Sheikh sambil menaikkan salah satu alisnya ke atas. "Apa yang berbeda dari penampilanku, Aminah !?"


Aminah agak menundukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


"Tentu saja kamu berbeda dari pria manapun karena kamu sangat tampan serta kaya raya dibandingkan dari pria di India", kata Aminah.


Shaheer Sheikh langsung berubah wajahnya, tidak terlihat senyum mengembang di wajah tampannya ketika mendengar ucapan Aminah.


"Kenapa denganmu ?", kata Shaheer Sheikh. "Kau baik-baik saja, bukan !?"


Tatapan Shaheer Sheikh terlihat sangat serius seraya memperhatikan seluruh penampilan Aminah pagi ini.


"Aku akan selalu dalam kondisi baik-baik saja, apapun itu situasinya yang terjadi di sekitarku dan aku pastikan bahwa aku akan baik-baik saja tanpa harus aku bergantung pada siapapun", kata Aminah.


Shaheer Sheikh mengernyitkan keningnya seraya menatap Aminah tajam.


"Itu bukanlah suatu pernyataan sindiran, bukan !?", ucap Shaheer Sheikh.


"Tidak..., karena pada kenyataannya bahwa itu memanglah benar adanya...", sahut Aminah.


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan hubungan kita atau kamu ingin menyampaikan tentang perasaan yang sedang kamu rasakan hari ini, Aminah !?", kata Shaheer Sheikh.


"Tidak...", sahut Aminah.


Aminah menjawab sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu menutup pintu kamarnya.


"Apa kita akan pergi ke tempat acara pesta sekarang, Shaheer ?", kata Aminah tanpa melanjutkan ucapannya tadi.


"Kau tidak ingin berterus-terang mengenai perasaan yang kamu rasakan saat ini, Aminah !?", sahut Shaheer Sheikh.


"Tidak ada yang aku rasakan saat ini dan aku dalam kondisi baik-baik saja bahkan aku merasa bersemangat", ucap Aminah.


"Tentu saja tidak, kau mengatakannya dengan hati yang sangat berat, seberat pikiranmu saat ini, Aminah", kata Shaheer Sheikh.


"Maaf !?", sahut Aminah.


"Maaf, aku tidak mengerti sama sekali dengan yang kamu ucapkan bahkan aku tidak merasa pikiranku terganggu saat ini", lanjut Aminah.


Shaheer Sheikh lantas tertawa mendengar ucapan Aminah yang terdengar kurang bersahabat dan cenderung menunjukkan mengenai perasaan yang dia rasakan saat ini.


"Jelas ! Dan sangat jelas bahwa kamu tidak dalam kondisi baik-baik saja sekarang, Aminah !", kata Shaheer Sheikh.


"Apa maksud mu ?", ucap Aminah.


"Aku sangat kenal sekali denganmu meski kamu tidak mengatakannya apapun padaku, aku akan segera tahu bahwa kamu sekarang sedang kesal, Aminah", sahut Shaheer Sheikh.


"Itu tidak benar, Shaheer !", jawab Aminah.


"Tidak benar !? Atau kau sedang berpura-pura padaku sekarang ini ??", kata Shaheer Sheikh.


"Itu juga tidaklah benar, Shaheer !", jawab Aminah.


"Tapi ekspresi wajah serta ucapan mu mewakili perasaan yang sedang kamu rasakan saat ini bahkan aku sangat memahami mu, Aminah", kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh tidak mengerti dengan sikap Aminah yang selalu berubah-ubah hingga membuat Shaheer Sheikh kebingungan.


"Semalam kamu terlihat baik-baik saja tapi sekarang kamu berbeda, ada apa denganmu ?", ucap Shaheer Sheikh.


Aminah hanya menggelengkan kepalanya pelan seraya menjawab ucapan pria tampan itu.


"Aku hanya merasakan tubuhku kurang sehat, mungkin itulah yang menyebabkan perasaanku cenderung berubah-ubah", sahut Aminah.


"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu sebelum acara pesta dimulai", kata Shaheer Sheikh.

__ADS_1


Shaheer Sheikh mengambil ponsel dari dalam saku sherwaninya tetapi langsung dicegah oleh Aminah.


"Jangan ! Tidak usah memanggil dokter ! Aku sudah meminum obat generik semalam mungkin nanti akan kembali sehat", sahut Aminah.


Aminah menahan tangan Shaheer Sheikh ketika pria tampan itu hendak menelpon dokter.


"Bagaimana bisa kamu pergi ke pesta dengan badan kurang sehat ? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu, Aminah", ucap Shaheer Sheikh.


"Aku sudah agak baikan sekarang, memang tubuhku agak demam serta berkeringat dingin tapi nanti hilang juga", sahut Aminah.


"Tapi aku meragukannya, Aminah", ucap Shaheer Sheikh.


"Tidak apa-apa, aku benar-benar dalam kondisi baik sekarang meski badanku kurang enak badan", kata Aminah.


"Baiklah, baiklah... Setelah acara pesta selesai, kita pergi ke dokter terdekat disini", sahut Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan kondisi Aminah bahwa gadis berhijab itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa kamu sanggup berjalan sampai ke ruangan pesta ?", tanya Shaheer Sheikh.


Tatapan Shaheer Sheikh beralih ke arah Aminah yang mengenakan gaun dari saree warna merah yang tampak berat.


Gaun saree yang kini dipakai oleh Aminah terkesan menumpuk dan membuat tubuh Aminah yang langsing terlihat tenggelam dengan gaun sareenya.


Meski penampilan Aminah selalu tampak sangat cantik dengan memakai gaun apapun, menurut pandangan Shaheer Sheikh.


"Apa kamu sanggup berjalan sampai ke tempat pesta, Aminah ?", tanya Shaheer Sheikh mengulangi pertanyaannya lagi.


"Aku sanggup berjalan ke tempat pesta, tidak perlu khawatirkan hal itu karena aku masih kuat", ucap Aminah.


Shaheer Sheikh menghela nafas panjang berusaha sabar dengan sikap Aminah yang bersikeras untuk menolak diperiksa oleh dokter.


Dipandanginya Aminah dengan tatapan cemas tetapi Shaheer Sheikh hanya bisa pasrah saat Aminah mulai melangkah maju dari arah kamarnya.


"Apa kamu yakin baik-baik saja ?", kata Shaheer Sheikh.


"Iya, tentu aku baik-baik saja...", sahut Aminah sambil menganggukkan kepalanya tegas.


"Apa kamu yakin ?", ucap Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh memandangi Aminah dari arah kejauhan saat gadis berhijab itu melangkah pergi.


"Aminah !", panggil Shaheer Sheikh.


"Ayo, kita pergi ke pesta !", jawab Aminah seraya melambaikan tangannya.


"Aminah !", panggil Shaheer Sheikh ulang.


Aminah terus berjalan tanpa menoleh ke arah Shaheer Sheikh yang berdiri dibelakangnya sembari menatapnya cemas.


Tampak ekspresi kekhawatiran Shaheer Sheikh tidak dapat ditutupi oleh pria tampan itu kala melihat Aminah yang terkesan memaksakan dirinya untuk menghadiri acara pesta yang digelar oleh Jannah Sheikh, ibunya.


"Hufh !?", desah Shaheer Sheikh sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Dia benar-benar membuat orang panik sekali !?", sambungnya.


Shaheer Sheikh lalu berjalan mengikuti Aminah dari arah belakang dengan langkah panjang.


Tampak kecemasan jelas tergambar di raut wajah Shaheer Sheikh yang memikirkan kondisi Aminah sekarang ini.


Namun, pria tampan itu tidak dapat berbuat banyak karena Aminah menolak tawarannya untuk memeriksakan kondisinya ke dokter. Dan Shaheer Sheikh hanya bisa pasrah menuruti kemauan Aminah.

__ADS_1


__ADS_2