
Shaheer Sheikh membawa pria sangar ke sebuah gudang yang ada di belakang pabrik.
Beberapa orang pria berbadan besar tengah berdiri di depan gudang lalu menyambut Shaheer Sheikh yang datang.
Shaheer Sheikh mendorong pria sangar kepada anak buahnya.
''Tanyai dia ! Siapa yang telah menyuruhnya untuk menguntit ku dan Aminah ke pelabuhan ! Buat dia sampai mengaku !''
Perintah Shaheer Sheikh kepada pria-pria berbadan besar.
''Baik, bos !'', sahut salah satu dari mereka.
Mereka membawa pria sangar ke dalam gudang untuk di interogasi.
Aminah berjalan menghampiri Shaheer Sheikh yang berdiri menghadap ke arah gudang pabrik dengan tatapan tajam.
''Aku kira kau akan ikut menanyainya dan mencari tahu dalang dibalik kejadian itu... Kenapa kau tidak ikut bersama mereka ?'', tanya Aminah.
Shaheer Sheikh menoleh ke arah Aminah yang berdiri di sebelahnya.
''Aku tidak suka jika kedua tangan ku ini harus kotor ternodai oleh manusia semacam dia ! Aku termasuk orang dengan julukan si tangan tak berkuman !''
Shaheer Sheikh membersihkan kedua tangannya dengan saputangan sutra saat dia menjawab pertanyaan dari Aminah.
''Kau tidak suka dengan pertanyaan ku, Shaheer ?'', kata Aminah.
Aminah memandang ke arah gudang pabrik di depannya dengan tatapan mata serius.
Ekspresi wajah Aminah seakan-akan menunjukkan bahwa dia sedang berpikir sesuatu yang penting dan ada pertanyaan dari sikap diamnya.
Tangan Aminah lalu menggenggam erat tas ditangannya dengan kepala masih lurus menghadap ke arah gudang pabrik.
''Bukan tidak suka dengan pertanyaan mu tapi memang tidak ada yang perlu aku pusingkan dari masalah ini, lagipula sudah ada anak buahku yang menginterogasi dia...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi... Bukankah lebih baik kita serahkan pria itu kepada pihak berwajib daripada kita main hakim sendiri... Urusan akan lebih panjang jika kau melakukan kesalahan fatal, Shaheer...'', kata Aminah.
''Tidak ! Jika urusan ini kita serahkan kepada pihak berwajib maka akan semakin rumit dan kompleks permasalahannya nanti ! Kemungkinan besar justru akan membuat musuh semakin bersembunyi'', jawab Shaheer Sheikh.
''Musuh tidak nampak nyata bagimu tetapi musuh yang sebenarnya adalah diri kita karena terkadang kita tidak pernah bisa melawan hawa nafsu dalam diri kita untuk menjadi orang yang lebih baik...'', kata Aminah.
Shaheer Sheikh terdiam sambil menatap ke arah Aminah sembari mengernyitkan keningnya.
''Kau tidak bermaksud untuk menyindir ku, bukan Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Tidak... Aku hanya sekedar berkata-kata tanpa arti...'', sahut Aminah.
Aminah membalikkan badannya ke arah lain lalu berjalan kembali menuju tempat mobil terparkir di halaman depan pabrik.
__ADS_1
''Apa kau ingin mendengar mereka menginterogasi pria bodoh itu ? Aminah !'', ucap Shaheer Sheikh setengah berteriak.
Saat Aminah berjalan pelan menjauh dari area gudang pabrik yang ada di belakangnya.
''Aminah !'', panggil Shaheer Sheikh.
Aminah menghentikan langkah kakinya lalu terdiam tanpa menoleh.
''Aminah !'', panggil Shaheer Sheikh lagi.
Tiba-tiba gadis cantik berhijab itu mengangkat salah satu tangannya seraya berkata pada Shaheer Sheikh.
''Aku tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain yang bukan menjadi urusan ku karena itu tidak penting bagiku... Lagipula bukankah ada kamu yang mampu menyelesaikannya !?'', sahut Aminah.
Aminah lantas menolehkan kepalanya ke arah Shaheer Sheikh yang berdiri tak jauh di belakangnya dengan sorot mata tajam.
Senyum tipis Aminah menghiasi wajah cantiknya saat dia memandang Shaheer Sheikh.
Sebuah senyuman yang mengandung misteri tersembunyi dan hanya dia yang memahami senyumannya.
''Kau mencurigai ku... Aminah... ??'', ucap Shaheer Sheikh.
''Tidak !'', sahut Aminah.
Aminah menggelengkan kepalanya cepat dengan masih tersenyum tipis.
''J--jika kau ingin mendengar mereka menginterogasi pria itu maka aku akan mengijinkannya ! Tetapi... Kau akan melihat kekerasan terjadi disana...'', jawab Shaheer Sheikh.
''Mmmm... !?'', gumam Aminah pelan.
Aminah lalu membalikkan badannya lurus ke depan menghadap ke arah Shaheer Sheikh dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya.
''Kenapa ? Kau ragu, Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah kembali menggeleng pelan kemudian dia berkata.
''Aku tidak suka melihat kekerasan terjadi di depan kedua mata ku... Dan aku tidak ingin melihatnya..., Shaheer...'', jawab Aminah.
Kali ini sorot mata Aminah terlihat lebih tajam saat memandang Shaheer Sheikh yang berdiri di depan pintu gudang pabrik tak jauh dari posisinya berdiri.
''Kau tidak ingin melihatnya... ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Tidak ! Aku akan kembali ke mobil dan menunggu di dalam sana !'', ucap Aminah.
''Baiklah..., kau boleh kembali ke mobil karena aku akan menyusul mu setelah interogasi ini selesai !'', ucap Shaheer Sheikh.
''Kau akan ikut menginterogasi pria itu ?'', tanya Aminah.
__ADS_1
''Tidak ! Aku hanya akan menunggu di tempat lainnya... Apa kamu mau ikut menemani bersama ku, Aminah ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Ehk !?'', gumam Aminah.
Aminah tertegun sesaat lalu berpikir cepat saat Shaheer Sheikh menawarkan suatu tempat untuk mereka beristirahat.
"Sebaiknya aku ikut dia menunggu di tempat lain karena mungkin saja aku akan mendapatkan informasi penting terkait kecelakaan kapal yang terjadi pada baba...", gumam Aminah dalam hatinya.
Aminah menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
''Baiklah, aku akan ikut bersama mu. Karena aku berpikir kalau kita perlu untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan yang cukup melelahkan ini'', sahut Aminah.
''Hmmmm... Kau bisa juga bersikap santai...'', kata Shaheer Sheikh.
Pria tampan itu tersenyum lembut kepada Aminah seraya berjalan mendekati gadis berhijab cantik itu.
''Apa ada tawaran untuk minum kopi atau teh atau sekedar mencicipi makanan ringan ? Tidakkah kau menawarkan sesuatu saat kita beristirahat ?'', ucap Aminah.
Shaheer Sheikh tertawa kecil kemudian berdiri tegak dihadapan Aminah.
''Boleh juga idea pintar mu itu, aku akan menyuruh petugas pantry pabrik untuk menyediakan jasa layanan istirahat untuk kita !'', kata Shaheer Sheikh.
''Baiklah, kalau begitu aku akan dengan senang hati ikut bersama mu'', sahut Aminah.
Keduanya saling melempar senyuman kemudian berjalan bersama-sama menuju ke arah suatu tempat yang agak jauh lokasinya dari gudang pabrik.
Terlihat mereka berdua saling bercakap-cakap akrab saat melangkah ke sebuah bangunan kecil di salah satu bangunan yang ada di area pabrik dengan taman asri.
Aminah berdiri tepat di depan bangunan kecil dengan pandangan tertuju sepenuhnya ke arah bangunan itu lalu mengagumi keindahan taman asri yang melengkapinya.
''Ini sangat cantik sekali ! Ternyata ada tempat semenarik ini disini !'', ucap Aminah kagum.
''Kau menyukainya ? Ini kantin pabrik ! Hanya kantin !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi ini cantik sekali dan aku sangat suka berada disini dibanding tinggal di rumah mewah tetapi kosong...'', kata Aminah.
Shaheer Sheikh terdiam sejenak dan menghentikan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kantin pabrik di depannya.
Aminah melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam bangunan kecil yang merupakan kantin pabrik sedangkan Shaheer Sheikh hanya berdiri diam seraya memandangi Aminah yang berjalan melewati dirinya.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menghinggapi hati Shaheer Sheikh setelah mendengar ucapan dari Aminah tentang arti sebuah rumah tempat mereka berdua tinggal selama ini.
Shaheer Sheikh sedikit tersindir dengan ucapan Aminah yang seakan-akan tertuju untuknya. Dan kata-kata Aminah mencoba untuk mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja hingga detik ini.
Pria tampan itu menghela nafas panjangnya sembari mendongakkan kepalanya ke atas dan berusaha memahami isi hati Aminah.
Dia sedikit merasa bersalah pada gadis cantik berhijab itu atas perbuatannya dan sikapnya terhadap Aminah selama mereka berdua bersama.
__ADS_1
Dilihatnya kantin pabrik yang ada di depannya seraya mencoba mengerti dengan ucapan yang diutarakan oleh Aminah bahwa tempat yang dipandangnya sebelah mata itu ternyata merupakan tempat paling nyaman untuk Aminah, gadis cantik yang telah menarik seluruh perhatian Shaheer Sheikh.