
Aminah dibuat tertegun lama dengan perkelahian yang terjadi antara pria sangar dengan Shaheer Sheikh.
Gadis berhijab itu berdiri gemetaran dengan kedua tangan menggenggam kuat tas miliknya.
Tatapan mata Aminah terbelalak lebar ke arah pria sangar yang jatuh tersungkur di lantai gudang dengan memegangi perutnya yang terkena pukulan Shaheer Sheikh.
Kedua kaki Aminah bergetar kuat hingga dia ambruk jatuh terduduk ke atas lantai.
Deru nafas Aminah memburu cepat sedangkan kedua matanya terus terbelalak lebar penuh rasa ketakutan yang tidak dapat dia sembunyikan dari pancaran matanya yang indah.
Terlihat dari kejauhan pria sangar yang mencoba berusaha beranjak berdiri tertatih-tatih dari tempatnya jatuh tersungkur.
Sorot kedua mata pria sangar tampak tajam menatap ke arah Shaheer Sheikh.
''Apa alasanmu menyerang kami ? Apa salah satu diantara kami telah melakukan kesalahan kepadamu ?'', tanya Shaheer Sheikh.
Pria sangar tertawa kencang sehingga membuat Shaheer Sheikh terlihat sangat marah dengan sikap pria sangar.
Shaheer Sheikh berlari cepat ke arah pria sangar sembari mencengkeram kuat kerah baju pria sangar dengan tangannya.
Menatapnya lekat-lekat seraya menarik dagu pria itu penuh amarah.
''Apa yang kamu tertawa kan ? Hah !?'', bentak Shaheer Sheikh.
''Ha... Ha... Ha... Ha... !'', pria berwajah sangar itu tertawa lepas.
''Diam !'', ucap Shaheer Sheikh marah.
Ditariknya kerah baju pria sangar dengan kedua tangannya yang bergetar hebat sedangkan salah satu tangannya terangkat ke atas seakan-akan hendak melayangkan pukulan tangannya.
''Pukul Lah aku ! Ayo ! Pukul aku keras-keras !'', ucap pria sangar itu mengejek.
''Kau !?'', sahut Shaheer Sheikh menatap tajam.
''Kenapa ? Takut ? Kau takut memukulku ?'', ejek pria itu sembari menyeringai lebar.
Shaheer Sheikh hendak melayangkan pukulannya ke arah pria berwajah sangar itu tetapi ditahannya cepat-cepat.
''Aku tidak pernah takut pada apapun yang ada di dunia ini bahkan jika aku harus berhadapan dengan maut sekalipun aku tidak akan takut sedikitpun ! Kamu paham itu !'', sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menarik kerah baju pria berwajah sangar dengan kedua tangannya yang mencengkram kuat.
Ditariknya pria sangar itu menuju keluar gudang pelabuhan seraya berteriak keras kepada Aminah yang duduk lemas di belakangnya.
''Aminah ! Ayo, kita segera pergi dari sini !''
Aminah tersentak ketika Shaheer Sheikh menyuruhnya untuk segera pergi dari dalam gudang pelabuhan.
Dia terlihat kesulitan untuk beranjak berdiri dari tempatnya duduk karena kedua kakinya yang lemas gemetaran.
__ADS_1
''I--iya... !?'', sahut Aminah gugup.
''Ayo, Aminah ! Kita masih harus mengurus orang tolol ini dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan kita kembali ke pelabuhan lainnya !'', kata Shaheer Sheikh yang telah berada di luar gudang.
''Ba--baik...'', kata Aminah.
Gadis berhijab itu mengikuti langkah kaki Shaheer Sheikh yang telah berjalan keluar dari gudang pelabuhan.
''Dia akan membawa kemana pria sangar itu ? Bukankah hari sudah mulai gelap ?'', ucap Aminah bergumam sendirian.
Tampak Shaheer Sheikh berjalan menuju ke arah mobil miliknya yang terparkir di luar pelabuhan dekat kedai makanan yang tutup.
Dia membekap mulut pria sangar dengan kain saputangan miliknya kemudian mereka masuk kedalam mobil.
Aminah berlari cepat menuju mobil Shaheer Sheikh kemudian dia duduk didalam mobil setelah menutup pintu mobil.
Dari arah belakang kursi mobil, Shaheer Sheikh berkata pada Aminah.
''Kau bisa menyetir, Aminah ?''
''Aku ?'', sahut Aminah kaget.
''Iya, kamu ! Apa aku harus mengulang pertanyaanku lagi ?'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah melirik ke arah Shaheer Sheikh dari kaca spion depan mobil.
''Artinya kamu bisa menyetir mobil ! Dan kamu bisa membawa mobil ini ! Setirlah !'', kata Shaheer Sheikh.
''T--tapi ini berbeda dengan pick-up ! Aku tidak tahu cara mengemudikan mobil jenis ini !'', sahut Aminah.
''Sama saja caranya ! Aku akan menuntunmu cara mengemudikan mobil ini ! Berpindahlah sekarang ke kursi kemudi lalu setirlah !'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah terdiam sejenak kemudian berpindah tempat dari jok penumpang ke kursi kemudi mobil.
Dia mengemudikan mobil sesuai dengan petunjuk dari Shaheer Sheikh.
Mobil mulai bergerak merambat pelan melewati jalan pelabuhan menuju ke arah jalan utama.
Shaheer Sheikh terus membimbing Aminah mengemudikan mobil dengan cara memberinya arahan lewat kata-kata.
Mobil terus melaju melewati jalan raya serta mulai jauh meninggalkan kawasan pelabuhan.
Sekitar satu jam mobil bergerak lambat di jalanan utama.
Akhirnya Aminah mampu melajukan mobil yang dia kendarai jauh meninggalkan pelabuhan serta berhasil membuat mobil itu berjalan stabil di jalan utama kota.
Shaheer Sheikh berkata pada Aminah seraya memberikan alamat yang tertera pada layar i-phone miliknya.
''Tolong kamu bawa mobil ini ke alamat yang ada di layar i-phone ! Kita akan mampir kesana untuk menurunkan manusia bedebah gila ini !'', kata Shaheer Sheikh.
__ADS_1
''Ehk !? B--baik, Shaheer... !?'', sahut Aminah gugup.
Dia meraih i-phone milik Shaheer Sheikh lalu meletakkannya di atas dashboard mobil depan.
Amimah terus menyetir mobil seraya sesekali melirik ke arah layar i-phone milik Shaheer Sheikhm
Mobil bergerak cepat menuju ke alamat yang tertera pada layar i-phone sambil memperhatikan peta yang ada di layar komputer mobil.
''Apa benar ini alamatnya, Shaheer ?'', tanya Aminah.
Aminah memutar setir kemudi mobil ke sebuah jalan landai yang menuju ke kawasan pabrik.
''Ini pabrik !?'', ucap Aminah.
''Hmmm..., benar sekali !'', sahut Shaheer Sheikh datar.
''Untuk apa kita membawanya ke pabrik ? Ini pabrik milikmu ?'', tanya Aminah.
Aminah menolehkan pandangannya ke arah luar kaca mobil lalu menurunkannya perlahan-lahan.
''Tepatnya milik kakekku !'', sahut Shaheer Sheikh.
''Kau punya pabrik selain perusahaan milik kakek Salman Sheikh yang harus kamu kelola lalu bagaimana caranya kamu membagi waktumu ?'', kata Aminah.
Aminah memutar mobil menuju ke halaman luas dekat bangunan yang dikhususkan untuk kantor pabrik.
Dia menarik tuas sedikit yang ada pada tombol rem.
''Kita parkir mobil disini saja... Bagaimana menurutmu ?'', ucap Aminah.
''Baiklah... Aku pikir itu idea yang baik... Rupanya kamu pintar juga memilih tempat parkir, Aminah...'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tidak juga'', kata Aminah singkat.
''Kau tunggu disini atau ikut kami masuk kedalam sana, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Aku ikut kalian masuk kesana ! Rasanya menunggu lama sendirian didalam mobil sangat membosankan !'', sahut Aminah.
''Baiklah !'', ucap Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh membuka pintu mobil seraya menarik paksa pria sangar yang tidak diketahui identitasnya keluar mobil.
''Ayo, turun !'', kata Shaheer Sheikh sambil membuka ikatan kain saputangan dari mulut pria sangar. ''Ikut aku !''
''Kau akan membawaku kemana, bedebah ?'', sahut pria sangar sambil tertawa.
''Kamu tidak perlu tahu, tolol ! Karena ini bukan urusanmu !'', jawab Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menarik turun pria sangar yang ditutupi kedua matanya dengan kain sehingga pria itu hanya bisa mendengar suara diluar tanpa melihatnya, dia memaksa turun pria itu dari dalam mobil kemudian membawanya menuju ke suatu area yang jauh dari arah halaman depan pabrik.
__ADS_1