Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Ada yang tidak biasa


__ADS_3

Aminah berdiri tepat di depan meja panjang yang ada di kantor polisi dengan penuh harap.


Ketika petugas berseragam itu memanggilnya kembali.


''Mohon maaf sebelumnya buat nona Aminah Kapoor, kami selaku pihak kepolisian tidak menerima laporan yang terkait dengan ayah anda mengenai berita kematiannya'', kata petugas itu.


''Nama ayah saya Bhasayate Kapoor, apa tidak ada laporan masuk tentang ayah saya ?'', sahut Aminah resah.


''Sekali lagi saya mohon maaf atas segala kekurangan kami tapi disini memang tidak ada laporan mengenai berita ayah anda yang bernama Bhasayate Kapoor'', kata petugas itu.


''Bagaimana mungkin ?'', ucap Aminah kalut.


''Apa ada yang ingin anda sampaikan mengenai berita kematian ayah anda atau ada hal yang mencurigakan, mungkin ?'', kata petugas itu.


Aminah tersentak kaget dan langsung menyadari akan sesuatu yang aneh dalam kasus ayahnya.


''Oh, t--tidak... Tidak, pak polisi ! Tidak ada yang mencurigakan...'', ucap Aminah.


Aminah meralat ucapannya agar tidak terendus hal yang membuat petugas itu curiga.


''Baiklah, saya mohon pamit, mungkin ini dikarenakan pikiran saya sedang kacau, saya mohon maaf'', kata Aminah.


''Apa benar tidak ada yang ingin nona sampaikan lagi ?'', jawab petugas itu.


''I--iya, tidak ada...'', kata Aminah.


''Jangan takut untuk melaporkan kepada kami jika ada yang membuat anda terancam, silahkan laporkan saja pada kami'', ucap petugas itu.


''Iya...'', sahut Aminah gugup.


''Anda juga bisa meminta bantuan pihak polisi untuk menyelidiki kasus kematian ayah anda, akan ada pihak penyelidik yang akan membantu anda'', ucap petugas berseragam itu.


''Terimakasih atas informasinya pada saya tapi benar tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan saat ini'', sahut Aminah.


''Benar begitu ?'', ucap petugas berseragam itu.


Ekspresi wajah pria berseragam lengkap itu berubah seketika serius saat menyampaikan bantuan pada Aminah.


''Benar, pak polisi'', kata Aminah lalu terdiam sejenak. ''Tidak ada yang perlu dicurigai atau dilaporkan lagi karena saya hanya ingin memastikan saja laporan yang berkaitan dengan ayah saya''.


''Baiklah, jika tidak ada yang lagi ingin disampaikan atau dilaporkan lagi kepada kami. Dan kami akan dengan senang hati menerima laporan anda selama 24 jam nonstop'', sahut petugas itu.


Aminah bergegas pergi dari kantor polisi setelah berpamitan kepada petugas berseragam itu.


Dia melangkah panjang meninggalkan kantor tersebut dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Namun, di dalam benaknya Aminah mulai berpikir tentang kematian ayahnya yang dia rasa ganjil dan tidak biasa.


''Ini bukan hanya informasi kematian yang fiktif tetapi juga ada yang tidak biasa pada kematian baba''.


Aminah bergumam sendiri sembari terus berjalan melewati jalan yang ada dengan terus menggenggam erat tas di tangannya erat-erat.


''Aku akan memikirkan lagi langkah selanjutnya lagi setelah ini karena aku tidak bisa berpikir jernih sekarang'', ucapnya letih.


Dilihatnya kendaraan umum yang terparkir agak jauh darinya.


Aminah dengan cepat melangkah ke arah kendaraan umum itu lalu segera masuk kedalam dan mencari tempat duduk di pojok.


Hanya terlihat beberapa penumpang yang bisa dihitung dengan jari, mungkin ada tiga atau empat penumpang yang ada di dalam kendaraan bersama dengan Aminah.


Aminah segera mengalihkan posisi tasnya dari samping ke atas pangkuannya lalu menggenggamnya erat.


Sedikit bergetar saat dia memegangnya, ada rasa cemas yang berlebihan dalam diri Aminah.


Sesekali dia menyeka keringat yang mengalir ke wajahnya dengan kain yang melekat pada lengannya.


Kendaraan umum mulai bergerak maju meninggalkan jalan di area keramaian kota, sopir melajukan cepat kendaraan yang dia kendarai sedangkan semua penumpang yang ada hanya diam mengikuti laju kendaraan yang mereka naiki dengan santai.


Aminah menyandarkan kepalanya ke kaca belakang seraya menatap ke arah atas dan sesekali terpejam.


Bagaikan layar televisi yang menayangkan sebuah adegan film.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat tanpa Aminah sadari kendaraan umum yang dia naiki telah tiba di pemberhentian yang ada.


Tepat tak jauh dari area lokasi rumah keluarga Sheikh.


Aminah turun setelah membayar ongkos kendaraan kemudian dia berjalan kaki kembali pulang ke rumah keluarga Sheikh.


Kembali dengan segudang pertanyaan dalam benaknya tentang berita kematian ayahnya yang tidak biasa. Dan dirasakan oleh Aminah sangat tidak wajar.


''Akhirnya aku telah sampai ke rumah keluarga besar Sheikh dan sebaiknya aku langsung masuk ke kamar'', ucapnya.


Aminah sedikit mempercepat langkah kakinya saat dirinya telah dekat berada di dekat area rumah.


Terlihat beberapa petugas keamanan di rumah keluarga besar Sheikh berlalu lalang serta tampak sibuk berjaga-jaga.


''Sepertinya penjagaan di perketat...'', gumam Aminah.


Aminah lalu membuka pintu gerbang masuk tetapi seorang petugas segera mendekat padanya.


''Nona Aminah, anda dicari tuan Shaheer Sheikh ! Dia menyuruh kami berjaga-jaga disini agar kami bisa segera memberitahukan kepada anda secara langsung'', ucap pria kekar dengan atasan merah.

__ADS_1


''Shaheer Sheikh ? Dia ?'', kata Aminah kaget.


''Benar, anda ikuti saya sekarang karena tuan Shaheer Sheikh sedang menunggu anda di tempat rahasia'', sahut pria kekar itu.


''Apa ? Untuk apa aku harus menemuinya di tempat rahasia ?'', kata Aminah.


Aminah menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu gerbang masuk rumah.


Dia mengernyitkan keningnya saat menatap petugas yang mencegahnya masuk kedalam rumah dan menyuruhnya untuk mengikuti petugas keamanan itu.


''Ini perintah tuan Shaheer Sheikh karena dia tidak ingin anda terlihat keluar tanpa pengawasan darinya, ini penting nona Aminah'', kata petugas itu.


''Jika aku menolaknya, apa yang akan kalian lakukan ? Apakah kalian akan memaksaku ?'', tanya Aminah.


Aminah menatap tajam dengan ekspresi wajah yang tidak ramah pada beberapa petugas keamanan yang sedang berjaga-jaga itu.


''Ini berhubungan dengan keselamatan anda, nona Aminah'', sahut pria itu.


Aminah menoleh ke arah masing-masing petugas yang berdiri di sekitarnya dengan sikap waspada.


''Keselamatanku !?'', tanya Aminah tidak percaya.


''Benar, nona Aminah ! Dan tolong kerjasama anda untuk menuruti perintah tuan Shaheer Sheikh !'', kata salah satu petugas keamanan serius.


''Apa yang kalian katakan itu benar ?'', tanya Aminah ragu-ragu.


''Percayalah kepada kami karena kami adalah petugas keamanan yang bekerja secara khusus untuk tuan Shaheer Sheikh'', sahut petugas itu.


Aminah bergumam pelan seraya mengeratkan pegangan tangannya pada tas yang ada dalam genggaman tangannya.


''Baiklah..., aku akan ikut kalian...'', kata Aminah.


Tangan Aminah terlihat gemetaran saat dia berdiri di depan petugas-petugas itu tetapi dia tidak dapat menghindari mereka saat itu.


"Aku harus mencari akal untuk segera lari dari mereka sekarang dan secepatnya masuk ke rumah..."


Aminah menundukkan pandangannya sambil bergumam dalam hatinya.


Dia mengikuti langkah petugas keamanan itu tetapi dia sesekali mencuri pandang ke arah lain untuk mencari kesempatan lari dari mereka.


Ketika Aminah mulai merasa agak dekat dengan rumah, dia melirik ke arah sekitarnya tetapi tiga petugas keamanan berjalan bersama dengannya, satu di depannya serta dua dibelakangnya sehingga sangat kecil memungkinkan baginya untuk lari dari mereka.


Aminah hanya bisa pasrah serta menarik nafasnya dalam-dalam seraya menggenggam erat tas yang dia bawa karena di dalam tas tersebut tersimpan arsip penting yang dia dapatkan secara tak sengaja di aula rahasia yang berisi mengenai catatan kematian ayah tercintanya.


Ketiga petugas keamanan yang semuanya mengenakan atasan merah serta celana kain putih terus berjalan ke sebuah jalan yang tidak pernah Aminah lihat sebelumnya sedangkan gadis berhijab itu hanya bisa mengikuti mereka tanpa mampu melawannya.

__ADS_1


__ADS_2