Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Andai saja


__ADS_3

Aminah terdiam saat Jannah Sheikh menggenggam tangannya, berusaha meyakinkan keadaan tidaklah seperti yang ia pikirkan.


Namun, ucapan-ucapan Ameeta telah membuka pikiran Aminah bahwa semua yang diucapkan oleh Shaheer Sheikh semuanya benar.


Jannah Sheikh mengelus pelan tangan Aminah seraya menghela nafas.


"Aku harap kau tidak terbawa ucapan Ameeta karena dia masihlah belum benar-benar dewasa", ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menundukkan pandangannya saat berkata lalu kembali menatap Aminah dengan lembut.


Diusapnya kepala Aminah sambil berucap pelan.


"Semoga semua yang telah terjadi tidak mematahkan semangat mu untuk tetap mendampingi Shaheer Sheikh...", bisik Jannah Sheikh.


"Tidak, mathair..., aku tidak akan mungkin meninggalkannya apapun yang terjadi pada kami dan akan tetap bersamanya...", ucap Aminah.


"Aku harap ucapan mu sungguh-sungguh dari dalam hatimu, dan aku juga ingin kau mengerti bahwa ucapan Ameeta jangan pernah kau pikirkan", kata Jannah Sheikh.


Aminah hanya tersenyum tapi hatinya berkata lain saat mendengar ucapan Jannah Sheikh yang meyakinkan.


"Aku tidak tahu alasan Ameeta mengatakan hal demikian padamu secara terang-terangan tanpa berpikir panjang", ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menunddukkan pandangannya kembali sembari menepuk pelan tangan Aminah.


"Biarkan saja omongan Ameeta berlalu dan aku harap kau tidak memasukkannya dalam hatimu, nak", lanjut Jannah Sheikh.


Senyum menghias wajah Jannah Sheikh seraya mengusap lembut tangan Aminah.


"Aku sudah menganggapmu seperti putri ku sendiri bahkan tidak terlintas olehku untuk menyakiti perasaanmu, Aminah", ucap Jannah Sheikh.


"Aku mengerti, mathair...", sahut Aminah.


"Bisakah kau memaafkan kami atas kelancangan Ameeta yang tidak berpikiran dewasa", ucap Jannah Sheikh.


"Tapi yang Ameeta katakan adalah benar, mathair...", sahut Aminah.


"Tidak ! Tidak, Aminah ! Itu tidaklah benar, nak !", kata Jannah Sheikh gelisah.


"Benarkah, mathair ?", ucap Aminah.


"Benar atau tidak, aku harap kau tidak memikirkannya dengan serius karena tidak ada gunanya hal itu bagi kami semua, nak", kata Jannah Sheikh.


"Aku berharap demikian, mathair", sahut Aminah.


"Tidak berharap, nak ! Tapi yakinlah bahwa apa yang aku katakan adalah benar dan jangan pernah kau memikirkan ucapan orang lain selain kau percaya pada dirimu sendiri, Aminah !", kata Jannah Sheikh.


"Mathair..., keyakinanku selalu kuat selama ini tetapi penegasan ucapan Ameeta telah menyadarkanku akan kebenaran bahwa perjodohan ini hanyalah rekayasa semata", lanjut Aminah.

__ADS_1


"Itu tidaklah benar, nak", sahut Jannah Sheikh.


Raut wajah Jannah Sheikh langsung berubah memucat ketika mendengar jawaban Aminah tentang pendapatnya akan perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua belah pihak keluarga besar Sheikh dan Kapoor.


Jannah Sheikh merasa takut jika Kakek Salman Sheikh akan mendengar perihal ini karena rencana ini adalah keinginan pria tua itu agar Aminah berjodoh dengan Shaheer Sheikh.


"Aminah ! Dengarkan aku kali ini, nak ! Aku mohon padamu untuk tidak membahasnya lagi masalah ucapan Ameeta tadi", kata Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh mendekatkan dirinya ke arah Aminah saat mereka sama-sama duduk di pinggir ranjang.


"Apapun alasannya itu, aku harap kau tidak mengungkitnya lagi dihadapan siapapun juga jika tidak semua akan hancur dan keselamatan Shaheer Sheikh akan benar-benar terancam, nak", kata Jannah Sheikh.


Tatapan wanita yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang mulai senja itu terlihat sungguh-sungguh saat dia mengatakan ucapannya pada Aminah.


Mendadak senyumnya yang cerah lenyap dari wajahny yang cantik jelita.


"Kumohon, Aminah ! Tolong lupakanlah semua kejadian di Novotel ini ! Dan anggaplah itu semua hanyalah sebuah mimpi yang tak nyata, nak", pinta Jannah Sheikh.


Sekali lagi pandangan Jannah Sheikh penuh permohonan pada Aminah untuk tidak mengungkapkan semua kejadian di Novotel secara publik.


Jannah Sheikh meraih kedua tangan Aminah lalu membalikkan tangan gadis hijab itu seraya mengusap-usap telapak tangannya.


"Tolong lakukan ini untuk Shaheer Sheikh apapun alasanmu untuk marah atau membenci kami atas kesalahan Ameeta tapi tetaplah kau pikirkan Shaheer", kata Jannah Sheikh.


Aminah menarik nafas dalam-dalam kemudian memejamkan kedua matanya.


"Mathair, andai saja ucapan Ameeta adalah kebohongan maka aku tidak akan mempermasalahkannya...", sahut Aminah.


"Apa maksudmu, nak ?", kata Jannah Sheikh.


"Tidak, mathair, aku tidak bermaksud apa-apa tetapi ucapan Ameeta seakan-akan menekankan bahwa aku lah yang telah membuat hancur kehidupan Shaheer Sheikh", ucap Aminah.


Aminah mendesah pelan kemudian menatap Jannah Sheikh disampingnya.


"Andai saja itu hanyalah kebohongan, mungkin aku tidak akan pernah mempercayainya...", kata Aminah.


"Tapi Aminah...", sambung Jannah Sheikh mulai merasa cemas. "Apakah kau akan mengadukan hal ini kepada kakek Salman hanya untuk meluapkan kemarahanmu atas Ameeta !?"


"Tidak, mathair bukan seperti itu tapi Ameeta menyalahkanku atas perjodohan diantara aku dan Shaheer", sahut Aminah.


Aminah menjawab sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu apa yang kau inginkan ?", kata Jannah Sheikh.


"Tidak ada yang aku inginkan, tidak ada mathair...", sahut Aminah terkejut.


"Tapi kau sepertinya menyimpan sesuatu yang telah membuat mu kecewa, nak", kata Jannah Sheikh.

__ADS_1


Aminah mendesah pelan sembari berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rahasia dalam hatinya.


"Aku tidak berkeinginan untuk mengatakan hal yang terjadi disini kepada siapapun atau pada kakek Salman, mathair", sahut Aminah.


"Benarkah itu !?", tanya Jannah Sheikh berusaha yakin.


"Iya, mahair", jawab Aminah.


Aminah segera menjawabnya dengan anggukkan kepala sedangkan ekspresi wajah Jannah Sheikh langsung berubah lega setelah mendengar ucapan gadis berhijab itu.


"Syukurlah... Aku sangat bersyukur kau tidak akan mengungkapkannya pada baba karena aku sendiri tidak tahu bagaimana nanti tanggapan baba jika dia mendengarnya", ucap Jannah Sheikh.


Aminah terdiam tetapi dia telah menebak pembicaraan akan berakhir seperti ini. Dia tahu jika kedatangan Jannah Sheikh kemari hanya untuk mempertegas dirinya sendiri jika Aminah tidak membuka kejadian yang dilakukan oleh Ameeta padanya tadi.


Andai saja Aminah tidak segera menutupi akan rahasia hatinya yang dia simpan rapat-rapat atas semua kejadian yang dia alami di dalam keluarga besar Sheikh ini mungkin saja Jannah Sheikh akan secepatnya menyingkirkannya jika wanita itu membaca sikap Aminah.


Kedua tangan Aminah saling menggenggam erat serta bergetar hebat dengan tergesa-gesa gadis berparas cantik itu menutupinya dengan kain lengannya.


"Percayalah padaku, aku akan menyimpan masalah ini dan merahasiakannya", kata Aminah.


"Terimakasih, nak ! Terimakasih atas kemurahan hatimu, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa atas kebaikan hatimu, Aminah", ucap Jannah Sheikh.


Tampak Jannah Sheikh sangat lega mendengar ucapan Aminah yang akan berjanji untuk tidak membahas masalah tentang ucapan Ameeta.


"Baiklah, aku akan kembali ke acara pesta karena pesta masih berlangsung hingga larut malam", ucap Jannah Sheikh.


Wanita yang selalu mengenakan kain saree mewah itu tampak sangat senang serta bahagia atas sikap bijaksana Aminah dalam mengambil keputusan dalam masalah Ameeta.


Jannah Sheikh lalu beranjak berdiri serta berdiri tepat di dekat Aminah.


"Beristirahatlah, nak... Dan nikmatilah suasana hotel selama kamu disini karena kita akan tinggal satu atau dua hari lagi di Novotel", lanjut Jannah Sheikh.


Aminah hanya mendongakkan kepalanya ke arah Jannah Sheikh tanpa tersenyum, hanya berpikir bahwa calon mertuanya sedang merencanakan sesuatu yang mungkin untuk membuat suasana kelihatan kembali normal.


Gadis berhijab itu hanya diam di tempatnya duduk tanpa sedikitpun hendak beranjak.


Jannah Sheikh kembali menghela nafas lega seraya tersenyum, kali ini senyumannya benar-benar terlihat penuh kelegaan.


Raut wajah Jannah Sheikh yang sangat senang karena Aminah telah berjanji untuk tidak mengungkapkan kejadian atas Ameeta kepada kakek Salman Sheikh atau pada orang lain yang tidak mengetahui apapun masalah di Novotel.


"Aku pergi dulu, Aminah... Selamat beristirahat, nak...", ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh memutar badannya ke arah Aminah lalu melanjutkan kembali langkah kakinya menuju ke pintu kamar untuk keluar.


Meninggalkan Aminah yang masih duduk terdiam di pinggir tempat tidurnya dengan wajah menghadap ke bawah sedangkan kedua tangannya terlihat bergetar hebat sehingga berkeringat dingin.


Andai saja Jannah Sheikh tahu bahwa Shaheer Sheikh yang telah mengatakan perjodohan ini adalah sandiwara dan hanyalah kebohongan mungkinkah wanita itu akan diam saja saat mendengarnya.

__ADS_1


Pandangan Aminah mendadak kabur sedangkan hatinya mulai pelan-pelan berubah dingin, tak terasa air matanya mengalir turun dari kedua matanya yang indah.


__ADS_2