Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Akh ! Sakit !


__ADS_3

Aminah terus berlarian sepanjang jalan koridor yang menghubungkan ke arah ruangan lainnya di rumah keluarga Sheikh dari area ruangan dimana acara pesta pertunangan diadakan.


Koridor itu sengaja dibuka untuk jalan alternatif bagi keluarga kedua pasangan agar lebih mudah sampai ke ruangan pesta, biasanya koridor itu tidak pernah dipakai atau dilalui oleh siapapun karena seluruh keluarga di rumah akan melewati area lainnya jika ke ruangan-ruangan di rumah ini.


Langkah Aminah terasa berat saat dia berlari dengan gaun yang dia kenakan ditambah terdengar selentingan gosip tentang Shaheer Sheikh dan Anjali.


Hari ini adalah hari pertunangannya, mana mungkin Shaheer Sheikh berdua-duaan dengan wanita lainnya.


Terbersit pikiran buruk dalam benak Aminah saat dia memikirkan kedua orang itu.


Hatinya mulai terasa perih tertusuk sembilu bila mengingat kejadian di restauran dimana Shaheer Sheikh dan Anjali sedang bersama-sama saling bermesraan.


Keringat mulai membasahi wajah Aminah saat dia berlari.


Ekspresinya tegang dan wajahnya merah padam sedangkan bibirnya mengatup erat hingga melukai bibir bagian bawah.


Pandangan Aminah mulai samar, rasa lelah menghinggapi dirinya hingga dia tidak mampu lagi untuk bertahan bahkan air matanya terasa mengering jika membayangkan saat-saat Shaheer Sheikh bersama dengan Anjali.


Senyum keduanya seakan-akan menjadikan panah beracun bagi Aminah jika mengingatnya.


Hatinya semakin gelisah, detak jantungnxa bertambah cepat hingga dia kesulitan bernafas normal.


Aminah terus berlari melewati koridor yang panjang.


Terdengar langkah kakinya menggema keras di seluruh area koridor ruangan saat dia berlari.


"Apa yang sebenarnya aku kejar... Cinta..., Asa..., Mimpi..., Masa depan..., ataukah luka yang tidak bisa aku bayangkan... !?"


Aminah bergumam di dalam hatinya saat ini sedangkan hatinya terus berkecamuk keras antara memberontak ataukah menerima semua ini dengan lapang dada.


"Siapa yang aku kejar... ? Siapa yang aku cari... ? Siapa yang menjadi tujuanku saat ini... ? Siapa... ??? Siapa... ???"


Batin Aminah terus memberontak tak terima.


Kedua matanya mulai kabur sedangkan suhu tubuhnya menurun dingin.


Merasakan hatinya yang terus berkecamuk keras, membayangkan gambaran yang nanti akan dia lihat.


Hatinya tak sanggup menerimanya, jujur itu sangat menyakitkan dirinya bahkan mencabik-cabik tubuhnya serta jiwanya seperti pisau tajam yang melukai.


Perih...


Sakit...


Hanya dua kata itu yang kini mampu menggambarkan batin Aminah saat ini.


Meskipun dia terus mencoba menampik semua luka yang datang secara tiba-tiba dalam hatinya tetapi dia tidak mampu menutupi jika dia terluka.


Luka dalam yang amat perih serta mengiris hati.


Perasaan yang tersakiti akibat kesedihan karena orang yang dia harapkan saat ini telah berubah, melupakan janjinya serta tekadnya untuk bersama dengan dirinya.


Bagaimana Aminah tidak terluka dan bersedih.


Janji-janji yang selalu dia dengar dari orang yang paling dia percayai akan selalu bersama dengannya.


Namun, pada akhirnya semua janji itu kosong dan lenyap seiring waktu.


Mengembun lalu menghilang diantara hembusan udara, seperti air yang menguap dan membentuk awan lalu turun hujan.


Yah..., seperti itulah kisah cintaku...


Mirip dengan air yang nenguap lalu turun hujan deras dalam jiwaku yang menangis sedih tapi tak bisa aku luapkan keluar hanya bisa aku tahan dalam hatiku.

__ADS_1


Orang yang aku harapkan telah menjadi bumerang dan berbalik melukaiku.


Dia dekat tetapi terasa jauh sekali dariku, meski aku mampu menggapainya dengan tangan ini tetapi dia tetap tidak bisa aku miliki.


Mengapa perumpamaan itu selalu benar...


Orang terdekat lah yang paling memiliki peluang untuk menyakiti.


Tidak adakah pilihan lainnya...


Seandainya Tuhan memberikan dua pilihan maka mana yang akan aku pilih.


Dekat lalu terluka...


Ataukah jauh tetapi pada akhirnya saling memiliki dan bahagia...


Deru nafas Aminah terasa semakin berat bahkan nyaris membuatnya sulit untuk menghela meski itu pelan.


Aminah mulai merasakan tubuhnya melemah meski seluruh tenaganya sangat penuh untuk dia melawan dan berlari.


Ujung jari-jemari kakinya terasa kaku, mulai mati rasa, tak lagi dia rasakan, sakit yang menggores kedua tumitnya dengan permukaan lantai.


"Apa yang sebenarnya aku cari sekarang ini ??? Harapan palsu ataukah masa depan yang nyata ???"


Ucap batin Aminah yang terus berkecamuk keras, membuat luka semakin terasa dalam hatinya.


"Ilusi... Yah, ini hanya ilusi cinta..., yang tak bisa aku sentuh dengan hati ini..., hanya asa kosong yang cuma memberi keyakinan sesaat..., jika cinta kami lekang..."


Terus hati Aminah berguncang keras saat membayangkan hal yang akan terjadi nanti dan dia akan temui.


Shaheer...


Dimana janji yang kau ucapkan saat itu...


Apa yang telah terjadi ?


Dimana letak salahku hingga kau lupa akan janjimu padaku untuk tetap bersamaku.


Bukankah kau telah berjanji untuk tidak pernah membuatku sendirian di rumah ini.


Kemana semua itu, Shaheer ?


Sudahkah kau lupa akan janji itu ataukah kau sengaja merencanakan semua ini agar aku terbuai dalam semua janjimu hingga membuatku lupa akan tujuanku.


Apa semua ini merupakan siasatmu sejak awal hanya untuk menutupi peristiwa kecelakaan yang menimpa baba.


Ataukah ini semua hanyalah sebuah sandiwara buatanmu seakan-akan kau tetap bersamaku dan menemaniku tetapi sebenarnya kau jauh, tidak mendukungku.


Apakah aku yang tenggelam dalam lamunan palsu yang sifatnya hanya sekedar ilusi.


Terbuai akan janji-janji yang penuh meyakinkan serta rayuan-rayuan yang ternyata hanya sementara saja, singgah sesaat lalu pergi menghilang.


Apakah sebenarnya ini cinta sesaat, semenit, sedetik atau semalam, sehari lalu menghilang !?


Raida yang ada dibelakang Aminah tak sanggup lagi untuk mengejar, dia mulai kehabisan nafas saat dia lari.


Disandarkannya tangannya ke arah dinding koridor panjang yang ada disisi kanan-kirinya saat dia berdiri diantara area koridor.


Nafas Raida tersengal-sengal saat dia berhenti.


Dilihatnya Aminah yang masih berlarian sepanjang area koridor, area yang seperti tidak ada ujungnya ini.


Raida menyeka keringatnya yang bercucuran membasahi wajahnya yang kemerah-merahan karena letih sehabis berlari.

__ADS_1


"Apa nona muda tidak pernah kehabisan energinya !?", ucap Raida.


Raida lantas menoleh ke arah samping kanan dan kirinya secara bergantian lalu kembali melihat ke arah depan.


Tiba-tiba Aminah menjerit keras dan berhenti dengan tubuh condong ke dinding koridor.


"Aakh ! Sakit ! Sakit sekali !!!", teriak Aminah.


Raida yang melihatnya langsung berlari menyusul Aminah dengan terburu-buru.


"Nona Aminah !!!", panggil Raida.


Aminah tidak menjawab panggilan Raida ataupun menoleh ke arah Raida, hanya bersandar di dinding sembari memegangi perutnya.


Tampak kedua tangan Aminah mendekap erat bagian perutnya sedangkan wajahnya berubah memucat.


"Nona Aminah... !", panggil Raida sekali lagi.


Raida dengan cepatnya menghampiri Aminah yang bersandar di dinding koridor, rasa panik mulai merambati hati Raida.


"Nona Aminah ! Apa kau baik-baik saja ?", tanya Raida cemas.


"Uhk... !? Sakit...", sahut Aminah.


"Sebaiknya kita urungkan saja niat kita untuk mencari tuan Shaheer sekarang", ucap Raida.


"Tidak....", sahut Aminah terengah-engah.


"Tapi ingatlah kesehatanmu saat ini, nona Aminah ! Tidak baik kau paksakan, akan berakibat buruk padamu !", ucap Raida.


Raida memegangi kedua lengan Aminah untuk melindunginya agar Aminah tak terjatuh karena pingsan.


"Tidak..., aku harus melihatnya...", sahut Aminah dengan tekad kuat.


"Bagaimana bisa nona paksakan jika tubuh anda lemah seperti ini ?", ucap Raida kebingungan.


"Tidak..., Raida..., Tidak... !", sahut Aminah.


Aminah memegangi tangan Raida kuat-kuat seraya beupaya berdiri tegak kembali tetapi rasa nyeri di perutnya terasa semakin bertambah kuat.


Rasa sakit yang menjalar hingga membuat tubuhnya bergetar kuat, merasakan sakit yang bertubi-tubi menghantam bagian perutnya.


"Ini tidak baik, nona Aminah ! Ingatlah akan kesehatanmu !", kata Raida kembali mengingatkan.


"Tidak, Raida...", sahut Aminah.


Aminah menatap nanar ke arah Raida sembari menggeleng pelan.


Kedua tangannya terus mendekap erat perutnya yang terasa sakit hingga dia tak mampu lagi berlari.


"Aku harus menemukannya, Raida...", ucap Aminah.


Nafasnya tersengal-sengal sedangkan kedua ujung matanya berair.


"Aku harus melihatnya sendiri..., Raida... !?", ucap Aminah.


"Tapi kondisi nona tidak memungkinkan jika harus dipaksakan lagi..., saya takut akan membahayakan kondisi nona dan semakin bertambah parah...", sahut Raida cemas.


"Tidak ! Aku harus melanjutkannya, Raida !", jawab Aminah.


"Mengalahlah kali ini, nona ! Demi dirimu sendiri ! Jangan terus kamu paksakan ! Ini tidak baik untukmu, nona Aminah !!!", ucap Raida.


"Dengarkan aku, Raida ! Apapun yang terjadi padaku, jangan sampai ada yang tahu tentang kondisiku saat ini !", kata Aminah.

__ADS_1


"Tapi..., nona Aminah...", sahut Raida bertambah cemas, namun dia tidak kuasa untuk menghentikan Aminah yang terus bertekad menemukan Shaheer Sheikh dan hanya bisa menuruti kemauan Aminah yang begitu besar melihat


__ADS_2