
Aminah masih duduk memandang jauh ke arah para pemusik yang sedang bermain, menghibur semua tamu undangan pesta.
Keinginannya sirna seketika untuk mencicipi hidangan pesta lainnya setelah mengingat rencananya yang akan pergi.
Hidangan-hidangan lezat yang tersaji di acara pesta pertunangannya tidak lagi membuatnya berminat untuk mencicipinya, tenggorokannya terasa kering sedangkan lidahnya pahit untuk menelan.
Aminah mengusap-usap kedua tangannya yang mulai dingin meski dia tengah mengenakan gaun pertunangan yang sangat berat dan terasa sangat panas di badannya tapi suhu udara di tubuhnya benar-benar terasa dingin sekali.
Pandangannya teralihkan pada Shaheer Sheikh yang berdiri di depan meja penuh hidangan, dengan tangan memegang sepiring makanan.
Tunangannya tampak menikmati menu makanan yang ada di piringnya, dia memakannya dengan lahap seraya menonton pertunjukkan band musik yang mengiringi acara pesta pertunangan mereka.
Kedua bibirnya membentuk senyuman yang menandakan bahwa pria bernama Shaheer Sheikh sangat terhibur.
Tiba-tiba dari arah samping, seseorang menyapa Aminah dengan sapaan penuh ceria, membuat gadis berhijab itu teralihkan perhatiannya dari Shaheer Sheikh.
Aminah menolehkan kepalanya ke arah samping, dilihatnya seorang pria mengenakan Sherwani lengkap warna ungu tua dengan hiasan penutup kepala sedang berdiri di samping kursi.
"Aminah", panggil suara seorang pria pada Aminah yang duduk di kursi pelaminan.
Aminah langsung tertegun ketika dia melihat pria yang memanggil namanya, sesaat dia terdiam tetapi pikirannya mulai pecah, tidak fokus dan penuh berbagai pertanyaan di kepalanya dengan sesosok pria yang berdiri di dekatnya.
"Mahesa Sheikh !? Rupanya dia datang ke acara pertunangan kami, aku pikir dia tidak akan menghadirinya dengan berbagai alasan yang mungkin akan dia ajukan pada kami tapi dia datang...", gumam batin Aminah saat dia melihat sosok Mahesa Sheikh muncul dihadapannya.
Aminah sedikit melamun tetapi cepat-cepat dia menangkis pikiran buruknya dengan berpikir positif.
Tidak pernah menyangka jika Mahesa Sheikh akan menghadiri acara pertunangannya.
Aminah berusaha beranjak berdiri tetapi Mahesa Sheikh menahannya dan meminta gadis berhijab itu tetap duduk di kursinya.
"Tidak perlu berdiri, duduklah !", ucap Mahesa Sheikh.
"Bagaimana kabarmu, Mahesa ?", kata Aminah.
Aminah kembali ke posisinya semula sembari merapikan gaun yang dia kenakan.
Pandangan mereka saling bertemu, sesaat, kemudian tatapan Mahesa Sheikh langsung tertuju pada cincin berlian yang melingkar di jari manis Aminah.
Ada perasaan lain yang dirasakan oleh Mahesa Sheikh saat melihat jari manis Aminah dihiasi oleh cincin pertunangan, entah kenapa hatinya terasa bimbang.
Mahesa Sheikh lalu tersenyum pada Aminah seraya berkata padanya.
__ADS_1
"Apa kau senang dengan pertunangan ini, Aminah ?", tanya Mahesa Sheikh.
Aminah sedikit tersentak kaget tapi dia dengan cepat menutupinya dan bersikap biasa saja saat Mahesa Sheikh bertanya akan perasaannya tentang pertunangan dirinya dengan Shaheer Sheikh yang merupakan saudara sepupu Mahesa Sheikh.
Diusapnya kembali ujung jari manisnya seraya tersenyum simpul.
"Tentu saja, aku sangat bahagia, Mahesa", sahut Aminah bersikap anggun.
"Syukurlah kalau kau merasa bahagia, Aminah...", ucap Mahesa Sheikh.
Pria paling tampan serta paling kaya di India itu langsung menundukkan pandangannya sembari tersenyum.
Mendadak hatinya terasa sakit seakan-akan dihujami oleh belati tajam yang menusuk dalam ke arah dadanya.
Mahesa Sheikh meraba dadanya dengan telapak tangannya, pelan-pelan, terapi dadanya justru terasa bertambah perih dia rasakan.
"Terimakasih telah bersedia hadir di acara pertunangan kami, Mahesa", ucap Aminah.
Aminah menatap Mahesa Sheikh dengan tatapan teduhnya sedangkan Mahesa Sheikh membalasnya dengan wajah dingin.
Kedua gerahamnya mengatup kuat saat menatap ke arah Aminah, rasa sakit semakin terasa mendalam di hati Mahesa Sheikh.
"Maaf, aku datang terlambat karena pesawatku tertunda di bandara transit tadi sehingga jam keberangkatanku ke New Delhi delay dua jam", sahut Mahesa Sheikh.
"Tidak apa-apa, aku merasa sangat bahagia bisa menghadiri acara pertunangan kalian meski agak terlambat", kata Mahesa Sheikh.
"Apa kau tidak ingin mencicipi hidangan di acara pesta ini, banyak hidangan-hidangan lezat yang tersaji disini, dan tidakkah kamu ingin mencicipinya, Mahesa ?", ucap Aminah.
"Yah, aku akan mencoba menu makanan di acara ini setelah aku menemui mu karena aku sudah bertemu denganmu maka aku berniat mencicipinya sekarang", sahut Mahesa Sheikh.
"Kenapa tidak sekarang saja kamu mencobanya, hidangan-hidangan di acara ini sungguh lezat, cobalah, Mahesa !", ucap Aminah mencoba tersenyum.
"Oh, iya...", kata Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh lantas mengeluarkan sekotak berbentuk persegi berwarna biru tua dari dalam saku celananya lalu terdiam sesaat, menatap ke arah Aminah.
"Aku punya sesuatu yang ingin aku berikan padamu sebagai hadiah, Aminah", kata Mahesa Sheikh.
"Hadiah apa, Mahesa ?", sahut Aminah membalas ucapan Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh menyodorkan kotak yang ada di tangannya ke arah Aminah.
__ADS_1
Ekspresi Aminah berubah saat Mahesa Sheikh memberinya sekotak hadiah di hari perunangannya, dia ingin menolaknya karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara Mahesa Sheikh dengan Shaheer Sheikh.
"Ambillah, Aminah ! Tidak perlu takut, dia tidak akan marah hanya dengan hadiah kecil ini, ambillah, jangan ragu !", ucap Mahesa Sheikh.
"Tapi...", sahut Aminah bimbang.
Aminah mengangkat tangannya ragu-ragu saat Mahesa Sheikh memberinya sekotak hadiah, sempat berpikir mengenai pendapat Shaheer Sheikh jika dia menerima pemberian hadiah dari seseorang yang merupakan pria yang pernah dijodohkan untuk Aminah.
Kepala Aminah menengadah ke arah Mahesa Sheikh yang berdiri dihadapannya sembari tersenyum serta menganggukkan kepalanya.
"Terimalah hadiah ini karena aku membelinya secara khusus untuk mu dan aku sengaja memesannya dari seorang ahli perhiasan ternama di luar negeri, hanya untukmu, Aminah", ucap Mahesa Sheikh.
"Terimakasih, Mahesa...", sahut Aminah.
Aminah menerima sekotak persegi dari beludru berwarna biru tua lalu membukanya pelan-pelan.
Sebuah jam tangan mewah berhiaskan permata serta berlian tampak berkilauan indah serta memantulkan cahaya kemilau di dalam kotak tersebut.
Aminah langsung menatap ke arah Mahesa Sheikh dengan tatapan haru sekaligus sedih.
"Oh, Mahesa...., seharusnya kau tidak perlu memberi hadiah semahal ini padaku karena aku merasa kehadiranmu merupakan hadiah spesial bagi kami dan aku juga merasa tidak enak padamu harus menerima hadiah semewah ini...", ucap Aminah.
"Tidak, Aminah", sahut Mahesa Sheikh.
Mahesa Sheikh lantas tertawa pelan seraya memakaikan jam tangan mewah pemberiannya ke tangan Aminah, sontak membuat gadis cantik itu terkejut kaget.
"Nah ! Sekarang kau sudah memakainya, itu artinya kau sudah menerima hadiah dariku jadi tidak ada lagi rasa sungkan diantara kita, kamu mengerti, Aminah", ucap Mahesa Sheikh.
"Terimakasih, Mahesa... Semoga kemurahan hatimu, Tuhan Yang Maha Kuasa membalasnya dengan ribuan kebaikan serta kebahagiaan...", sahut Aminah dengan kedua mata berkaca-kaca.
Mahesa Sheikh menyahutnya dengan tawa senang saat Aminah mengucapkan rasa terimakasih atas hadiah pemberiannya yang disertai doa akan kebahagiaan untuknya.
"Amien..., Amien..., Amien... ! Terimakasih atas doanya, Aminah...", ucap Mahesa Sheikh penuh riang.
Aminah membalasnya dengan derai tawa saat Mahesa Sheikh tersenyum bahagia.
Sesaat Mahesa Sheikh melupakan semua rasa sakit di hatinya ketika dia melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah Aminah meski dia tahu sangat lah sulit bagi Mahesa Sheikh secara pribadi untuk mengakuinya bahwa dirinya sangat mengagumi sosok Aminah yang penuh tanggung jawab dalam hidupnya.
Diam-diam rasa suka terhadap Aminah merambati hati seorang Mahesa Sheikh yang selama ini selalu menolak kaum wanita untuk singgah di hatinya meski itu hanyalah rasa kagum.
Namun saat dia mulai mengenal Aminah yang ternyata berbeda dari wanita lainnya, mampu membuat Mahesa Sheikh berubah cara berpikirnya saat dia memandang seorang wanita yang selama ini baginya wanita hanyalah merupakan sosok penghias bagi kaum pria tetapi kehadiran sosok Aminah telah mampu mencuri hatinya.
__ADS_1
Aminah yang mandiri, tangguh, polos, cantik serta sangat setia yang menjadikannya seorang wanita berprinsip kuat, hal itulah yang mampu membuat Mahesa Sheikh sangat kagum akan sosok Aminah.