
Tampak sebuah gudang tua di depan mereka saat Aminah dan Shaheer Sheikh berlari menghindari kejaran pria asing yang ada dibelakang mereka.
''Kita masuk ke dalam sana saja !'', ucap Aminah.
''Baiklah...'', sahut Shaheer Sheikh cepat.
Keduanya langsung masuk ke dalam gudang tua yang pintunya terbuka lebar.
''Apakah kita tidak menutup pintu gudang ini ?'', tanya Aminah.
Shaheer Sheikh terdiam sambil menatap ke arah pintu gudang yang berukuran besar dari tubuh manusia.
''Biarkan saja ! Lebih baik kita mencari tempat untuk bersembunyi sampai semuanya aman !'', sahut Shaheer Sheikh.
''T--tapi... Bagaimana kalau penjahat itu masuk kemari ? Dan menemukan kita disini ?'', ucap Aminah.
''Akan sulit baginya menemukan kita disini karena gudang ini sangatlah luas dan penuh barang-barang'', jawab Shaheer Sheikh.
''Mm Mm... Benar juga..., sebaiknya kita segera mencari tempat persembunyian sebelum penjahat itu menemukan kita'', kata Aminah.
''Iya...'', sahut Shaheer Sheikh. ''Kita naik ke atas sana ! Aku rasa itu tempat yang sangat aman untuk kita bersembunyi !'', sambungnya.
''Emmm, baiklah !'', kata Aminah.
Keduanya berlari menaiki tangga yang terbuat dari baja ke ruangan yang ada di atas gudang.
Terdengar suara langkah kaki mereka saat menaiki anak tangga.
DUANG... DUANG... DUANG...
Mereka berdua berlari cepat menuju sebuah tempat seperti ruangan kantor.
Tidak seorangpun berada di ruangan atas gudang.
Suasana sangat sepi sekali hanya ada Aminah dan Shaheer Sheikh yang ada di dalam ruangan atas gudang yang tampak langgeng.
''Tempat apakah ini ?'', tanya Aminah.
''Sepertinya ini gudang barang-barang dari pelabuhan'', sahut Shaheer Sheikh.
''Tapi aneh sekali, tidak ada orang disini'', kata Aminah.
''Mungkin mereka sedang beristirahat'', jawab Shaheer Sheikh.
''Bagaimana kalau ada yang datang kemari dan melihat kita disini ?'', tanya Aminah.
''Tidak mungkin ada yang bisa melihat kita karena sebelum petugas gudang ini datang kita sudah pergi dari sini'', sahut Shaheer Sheikh.
''Lalu penjahat itu ?'', kata Aminah.
Aminah menoleh ke arah bawah gudang sembari terus memperhatikan ke arah pintu masuk gudang yang terbuka.
__ADS_1
Dia merasa was-was karena takut jika penjahat itu akan masuk ke dalam gudang ini dan menemukan mereka.
''Bagaimana kalau penjahat itu datang kemari ?'', ucap Aminah.
Gadis berhijab itu menatap lurus ke arah bawah ruangan gudang yang luas serta sepi.
Hanya ada tumpukan barang-barang yang tertata rapi didalam ruangan gudang serta sebuah kendaraan khusus pengangkut barang.
''Kita akan kemana sekarang ?'', kata Aminah lagi.
''Kita cari tempat yang strategis untuk kita'', sahut Shaheer Sheikh.
''Dimana kita mencari tempat di atas sini ? Semua ruangan yang ada bersekat-sekat dan jika kita bersembunyi pasti akan ketahuan !?'', kata Aminah.
''Kita pasti menemukan tempat aman untuk kita ! Percayalah !'', ucap Shaheer Sheikh.
Terlihat beberapa drum besar berjejer di sepanjang jalan ruangan atas gudang.
Shaheer Sheikh memutuskan untuk naik ke atas lagi, ada tiga lantai ruangan di dalam gudang besar ini.
Ruangan-ruangan itu berada mengelilingi ruangan gudang dengan tangga yang terbuat dari bahan baja dan sangat kokoh sekali.
''Untuk apa kita naik ke atas lagi ? Bukankah ruangan di bawah sana cukup aman ?'', tanya Aminah.
''Aku rasa kita perlu naik ke atas lagi mungkin saja kita akan menemukan petunjuk disini'', sahut Shaheer Sheikh.
''Petunjuk !?'', kata Aminah bingung. ''Apa ?'', sambungnya.
''Petunjuk yang mungkin berkaitan dengan kecelakaan kapal yang menimpa ayahmu ! Mungkin saja kita dapat menemukan sesuatu disini !?'', jawab Shaheer Sheikh.
''Setidaknya kita telah mencoba mencari petunjuk disini'', jawab Shaheer Sheikh.
''Benar juga, aku harap kita menemukan petunjuk atau setidaknya sesuatu yang memberikan kita jalan untuk memecahkan kasus kecelakaan kapal itu'', kata Aminah.
''Hmmm..., iya...'', sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh terus berjalan ke arah atas sambil menengadahkan kepalanya ketika dia menaiki tangga menuju ke ruangan lantai kedua.
DUANG... DUANG... DUANG...
Langkah kaki keduanya terdengar kembali ketika mereka menaiki tangga baja.
Mereka berjalan kembali di sekitar jalan penghubung antara ruangan lantai kedua ke tempat luas yang ada di tengah-tengah ruangan.
Ada sekitar lima ruangan khusus di lantai kedua. Dan ditengahnya terdapat ruangan luas yang lapang.
''Aku rasa kita tidak akan bisa bersembunyi disini karena kita tidak melihat tempat yang bisa buat kita bersembunyi'', kata Aminah.
''Tenanglah, Aminah !'', jawab Shaheer Sheikh. ''Kita cari petunjuk saja disini sampai keadaan aman !'', sambungnya.
''Tapi... Coba lihatlah !'', kata Aminah. ''Ruangan di lantai dua ini sangatlah kosong dan tidak ada satupun petunjuk yang bisa kita temukan disini !''
__ADS_1
''Yah !?'', sahut Shaheer Sheikh.
Pria berwajah tampan itu hanya menghela nafas panjang sambil mendongakkan kepalanya serta memperhatikan sekitar ruangan di lantai dua dengan serius.
''Kita coba cari ! Mungkin kita akan menemukan sesuatu disini !'', lanjutnya.
''Baiklah, jika kamu merasa itu perlu kita lakukan...'', sahut Aminah.
Shaheer Sheikh hanya menganggukkan kepalanya seraya berdiri tegak menatap lurus ke sekitar ruangan.
''Aku akan cari ke arah sana ! Dan kamu cari di tempat lainnya ! Paham !'', kata Shaheer Sheikh.
''Iya, aku mengerti !'', jawab Aminah.
''Kita perlu bergerak lebih cepat sedikit karena kita harus secepatnya pergi dari gudang ini sebelum banyak yang berdatangan kemari'', kata Shaheer Sheikh.
Aminah menganggukkan kepalanya sambil berkata pelan.
''Aku akan mencari ke arah sana saja, mungkin ada petunjuk yang bisa aku temukan disana'', kata Aminah.
Gadis cantik itu menunjuk ke arah sisi kanan dari ruangan luas di lantai dua tepat terdapat lima ruangan yang ada disana.
Shaheer Sheikh hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju lalu melangkah ke arah yang berlawanan dengan Aminah.
Aminah mulai bergerak menyusuri sisi kanan ruangan di lantai dua.
Dia juga memeriksa satu persatu ruangan yang berjumlah lima yang bersekat-sekat letaknya dengan memasuki setiap ruangan yang ada di lantai dua itu.
KREK...
Aminah membuka pintu pada ruangan kelima di lantai dua.
Ruangan terakhir yang terlihat berbeda dari keempat ruangan lainnya itu terlihat aneh karena ruangan kelima ini memiliki pintu daripada ruangan lainnya.
Ditambah terdapat beberapa perabotan lengkap seperti layaknya kamar tidur khusus dengan rak-rak yang berjejer rapi di dalam ruangan kelima.
''Ini kamar ataukah kantor ?'', pikir Aminah. ''Tempat apakah ini ?'', sambungnya terheran-heran.
Aminah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan sangat hati-hati.
Pandangan Aminah tertuju pada sebuah rak dinding yang ada disebelah kiri ruangan.
Diraihnya sebuah pigura foto yang ada di atas rak.
Tiba-tiba raut wajah Aminah langsung berubah sedangkan kedua tangannya bergetar hebat saat memegangi pigura foto yang ada ditangannya.
''ASTAGA !?'', pekik Aminah tertahan. ''Ini..., ini..., ini... !?''
Aminah segera keluar ruangan dan berlari cepat menuju ke Shaheer Sheikh yang berdiri di depan sebuah peti kemas dengan memegang kayu.
''Shaheer Sheikh !'', panggil Aminah.
__ADS_1
Shaheer Sheikh menoleh ke arah Aminah yang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa sambil memegangi pigura foto.
Tampak ekspresi wajah Shaheer Sheikh yang terkejut ketika dia melihat Aminah menuju seraya melambaikan tangannya ke arahnya.