Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Ameeta


__ADS_3

Aminah terdiam di depan meja khusus hidangan pesta bersama Shaheer Sheikh yang berdiri di sampingnya seraya mengambil beberapa menu makanan pesta untuknya.


Tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar suara panggilan seorang perempuan kepada Shaheer Sheikh.


"Shaheer Sheikh !", panggil suara seorang perempuan.


Aminah menoleh ke arah datangnya suara, dilihatnya seorang gadis cantik berlarian kecil ke arah mereka.


Sekilas melirik ke arah Aminah yang menatapnya kemudian berlalu tanpa memperdulikannya.


"Shaheer...", ucap gadis cantik.


Shaheer Sheikh hanya menoleh lalu terdiam memandangi gadis cantik yang berjalan cepat ke arah dirinya.


"Ameeta ?", gumamnya pelan.


Gadis cantik itu merentangkan kedua tangannya ke arah samping kanan dan kiri sembari terus menyunggingkan senyuman.


"Apa kabarmu Shaheer ?", ucap Ameeta.


"Wow !? Kapan kau datang gadis centil ?", sahut Shaheer Sheikh.


"Tadi malam, aku baru kembali ke New Delhi", ucap Ameeta.


"Kemari lah ! Sudah lama aku tidak bertemu dengan mu, Ameeta !", kata Shaheer Sheikh.


"Apa kabarmu kakakku ?", ucap Ameeta seraya tertawa.


Ameeta berjalan cepat lalu memeluk Shaheer Sheikh dengan perasaan bahagia.


"Aku harap kamu selalu dalam perlindunganNya dimanapun kamu berada, kakakku...", kata Ameeta.


"Terimakasih, Ameeta", ucap Shaheer Sheikh.


"Siapa dia, Shaheer ?", tanya Aminah.


Saat melihat keduanya saling berpelukan erat di depannya tanpa menghiraukan kehadirannya disana.


Shaheer Sheikh lalu melepaskan pelukannya dari Ameeta kemudian merangkul erat Aminah sembari tersenyum.


"Perkenalkan ini, Ameeta ! Adik perempuanku yang tinggal di Inggris bersama nenek ku", sahut Shaheer Sheikh.


"Ternyata kau memiliki adik perempuan, kenapa kamu baru mengatakannya ?", kata Aminah.


Aminah menatap Ameeta dengan pandangan penuh rasa penasaran saat dia mengetahui bahwa Shaheer Sheikh mempunyai seorang adik perempuan yang tidak tinggal bersama mereka di New Delhi melainkan tinggal bersama dengan nenek mereka.


"Apa dia gadis yang akan kamu nikahi, Shaheer ?", tanya Ameeta sambil melirik Aminah.


"Benar, ini Aminah ! Gadis yang dijodohkan dengan ku... Bagaimana cantik bukan ?", kata Shaheer Sheikh seraya mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Rupanya pilihan mathair Jannah benar-benar tepat sekali, tidak pernah sedikitpun salah mencarikan calon istri untukmu, Shaheer", ucap Ameeta.


Shaheer Sheikh tertawa sembari mengeratkan pelukannya ke Aminah. Membuat Aminah terkejut ketika Shaheer Sheikh memeluknya erat-erat sambil meminum segelas cocktail.


"Lalu bagaimana nasib Mahesa sekarang ? Apa dia datang ke acara pesta hari ini ?", kata Ameeta.


Tiba-tiba Shaheer Sheikh terdiam sambil meletakkan gelas minuman ke atas meja lalu menatap lurus ke arah Ameeta.


"Aku tidak tahu tapi kupikir kalau mathair telah mengundangnya ke acara pesta ini di Novotel...", sahut Shaheer Sheikh dingin.


"Benar dugaan ku kalau dia tidak akan datang atau mungkin sekarang dia sedang sibuk mengurusi hobinya", ucap Ameeta.


"Kamu tidak perlu menyinggungnya karena dia bukan urusan kita apalagi kita tidak memiliki hak kuasa atas Mahesa sebab dia lebih berkuasa di dalam keluarga ini, adikku", sahut Shaheer Sheikh.


"Setidaknya kehadirannya sebagai rasa terima kasihnya kepadamu yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria untuknya", kata Ameeta.


"Ameeta ! Jangan bicara soal itu lagi ! Hormati Aminah !", ucap Shaheer Sheikh. "Tolong... !", sambungnya.


Shaheer Sheikh menatap dengan serius ke arah Ameeta berusaha menenangkan hati adik perempuannya yang seolah-olah tidak terima dengan perlakuan keluarga besar Sheikh kepada kakak laki-lakinya yang dia rasa tidak adil sama sekali.


Gadis cantik berpenampilan modis dengan rambut pirang tergerai indah menundukkan kepalanya saat Shaheer Sheikh menatapnya.


"Kau seharusnya membuat acara pesta ini menjadi lebih ceria dengan kedatangan mu dan aku berharap kamu mengerti akan posisi mu di keluarga ini, Ameeta", ucap Shaheer Sheikh.


"Tapi..., Shaheer..., ini sangat tidak adil untukmu, kakak...", sahut Ameeta.


"Biarkan semua berjalan pada jalurnya dan semestinya, semua keputusan telah ditetapkan, bukan bagianmu untuk mengubahnya, ku harap kamu mengerti, Ameeta", kata Shaheer Sheikh.


"Ameeta !", ucap seorang wanita dari arah belakang.


Semua langsung menoleh ke arah suara wanita itu, terlihat Jannah Sheikh berdiri tegak di belakang Ameeta dengan pandangan mata tajam.


Ameeta tersentak seketika saat dia melihat Jannah Sheikh telah berada di dekatnya seraya menatapnya penuh emosi.


"Apa yang sedang kamu bicarakan ini ?", kata Jannah Sheikh.


"Mathair... !?", sahut Ameeta gugup.


"Kau tidak seharusnya berkata-kata demikian kepada Shaheer Sheikh, dia kakakmu, Ameeta ! Bagaimana kau tidak menghormati dia ?", ucap Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menarik tangan Ameeta dengan paksa agar gadis muda itu menghadap lurus ke arah dirinya.


"Jangan sekali-kali kamu mengungkit tentang perjodohan ini ! Atau berbicara mengenai Mahesa sekarang karena aku tidak suka mendengarnya, Ameeta !", kata Jannah Sheikh marah.


"Mathair..., maafkan aku...", sahut Ameeta malu.


"Dan jangan pernah kamu berbicara seperti itu dihadapan Shaheer Sheikh maupun Aminah ! Jangan pernah !", kata Jannah Sheikh. "Kamu paham, Ameeta !", sambungnya.


"I-iya, mathair...", kata Ameeta tertunduk takut.

__ADS_1


"Aku menyuruhmu pulang dari Inggris karena aku ingin sekali kamu melihat calon pendamping hidup kakakmu dan supaya kamu dapat menghadiri acara pertunangan mereka nanti", lanjut Jannah Sheikh.


"A-aku mengerti", sahut Ameeta.


"Dan bukannya untuk berkata hal terlarang seperti itu pada mereka berdua, jika aku mendengarnya sekali lagi kau berbicara seperti itu pada kakakmu maka aku akan memulangkan mu ke Inggris hari ini juga, Ameeta !", kata Jannah Sheikh.


"I-iya, mathair ! Dan aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi ! Tolong jangan mengirim ku kembali ke Inggris sekarang !", ucap Ameeta.


"Aku harap kau sadar akan kesalahan mu, dan sekarang mintalah maaf kepada Aminah atas ucapan mu kepadanya, Ameeta !", kata Jannah Sheikh.


"T-tapi, mathair..., ini tidak ada hubungannya dengan dia..., aku hanya berkata yang sejujurnya..., untuk apa aku meminta maaf kepada dia, mathair ???", sahut Ameeta tidak terima.


"Ameeta !!!", bentak Jannah Sheikh.


Jannah Sheikh menatap serius ke arah Ameeta agar gadis cantik itu segera mematuhi dirinya.


Ameeta terlihat enggan saat harus menuruti perintah Jannah Sheikh untuk meminta maaf kepada Aminah karena dia merasa jika dirinya tidak berbuat salah.


Gadis cantik itu berjalan lesu ke arah Aminah karena dia tidak ingin Jannah Sheikh menghukumnya.


"Ma-maafkan aku...", ucap Ameeta.


Aminah terdiam dan hanya memandang dingin ke arah Ameeta tetapi dia dengan cepat menutupi perasaannya yang sebenarnya sangat tidak suka dengan perlakuan Ameeta yang bersikap tidak menghormati dirinya.


Seakan-akan menyalahkan dirinya dengan adanya perjodohan yang dipaksakan antara dirinya dengan Shaheer Sheikh.


Menganggapnya sebagai masalah dalam keluarga besar Sheikh akan kehadirannya sebagai calon mantu untuk keluarga ini.


Aminah benar-benar berusaha menahan gejolak dalam batinnya dan meredam seluruh emosi yang membuncah kuat di dadanya saat mendengar ucapan Ameeta.


Kedua tangannya mengepal erat serta bergetar hebat tetapi dia berusaha keras untuk menahan luapan emosi di hatinya.


"Tidak apa-apa, Ameeta... Ini semua bukanlah kesalahan mu, dan aku rasa ucapan mu memang benar...", sahut Aminah.


Ameeta tersentak kaget dan langsung mengangkat kepalanya seraya menatap Aminah dengan tidak percaya jika gadis berhijab itu akan berbicara seperti itu.


"Aku tahu akan perasaan mu yang membela kakakmu tapi aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi kepadanya, Ameeta...", kata Aminah.


"Aminah...", sahut Shaheer Sheikh.


Aminah agak mendongakkan kepalanya seraya tersenyum.


"Aku juga tidak kuasa untuk menolak perjodohan ini karena pada awalnya aku tidak tahu menahu jika aku sebenarnya dijodohkan dengan Mahesa dan kakakmu menjadi penggantinya", lanjut Aminah dingin.


"Maaf..., maafkan aku...", sahut Ameeta.


"Tidak perlu meminta maaf karena ini juga bukan sepenuhnya kesalahanmu dan jika aku berada di posisi mu, mungkin aku juga akan bersikap sama dengan yang kamu lakukan", kata Aminah.


"Tolong, maafkan aku !", ucap Ameeta mulai menyesali ucapannya kepada Aminah. "Seharusnya aku tidak menyinggung perasaan mu dan menyalahkan mu, Aminah", sambungnya.

__ADS_1


Aminah hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menahan luapan emosi di dalam hatinya berusaha terlihat kuat dihadapan orang lain meski dia tahu jika dia sendiri tidak kuasa untuk menahan kesedihannya.


__ADS_2