
Aminah turun dari dalam mobil sedan hitam saat mobil terparkir di depan teras depan pintu masuk ke hotel yang memasuki area halaman Hotel Novotel yang luas serta asri.
Kekaguman terlihat jelas dari raut wajah Aminah ketika dia menyaksikan keadaan sekeliling Novotel.
Pemandangan yang dipenuhi kemewahan tergambar dari Hotel Novotel yang sarat keindahan bahkan tidak ada yang menandinginya.
Shaheer Sheikh berjalan pelan sembari merapikan setelan Sherwaninya seraya berkata kepada sopir untuk segera membawakan koper-koper kedalam hotel.
Sopir pribadi Shaheer Sheikh segera mengiyakan perintah atasannya kemudian dia berpamitan pergi menuju ke tempat parkir untuk memarkir mobil ke area yang disediakan oleh hotel.
Shaheer Sheikh lalu menghampiri Aminah yang berdiri di teras depan menuju pintu masuk Hotel Novotel.
''Kau senang ?'', ucap Shaheer Sheikh.
Aminah hanya menatap sekilas Shaheer Sheikh lalu menganggukkan kepalanya sedikit malas.
''Kenapa kau tampak kurang bersemangat setelah kita sampai di Novotel ?'', kata Shaheer Sheikh.
''Tidak apa-apa, aku hanya merasa agak pusing karena perjalanan ini begitu mendadak sekali'', kata Aminah.
''Apa kau merasa kurang enak badan sekarang, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh.
''Mungkin, karena aku merasakan sedari tadi tubuhku terus berkeringat dingin...'', sahut Aminah.
''Coba aku lihat !'', ucap Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh menarik tangan Aminah mendekat agar dia dapat melihat keadaan kedua telapak tangan gadis berhijab itu dengan teliti.
Dirabanya telapak tangan Aminah yang basah berkeringat serta terasa dingin sekali kemudian Shaheer Sheikh meletakkan tangannya di atas kening Aminah.
Suhu badan tubuh Aminah terasa sedikit panas dirasakan oleh Shaheer Sheikh.
Dipeluknya erat-erat tubuh Aminah dengan penuh perasaan yang bercampur rasa cemas akan kondisi Aminah saat ini.
''Aminah, sebaiknya kita segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup lama dari rumah kemari'', pesan Shaheer Sheikh kepada Aminah.
Aminah tidak langsung menuruti perkataan yang diucapkan oleh Shaheer Sheikh dan memilih tetap melanjutkan niatnya menuju ke tempat acara pesta untuk besok hari.
''Tidak, Shaheer Sheikh, aku tidak ingin beristirahat karena aku masih ingin melihat keadaan ruangan pesta'', sahut Aminah.
''Untuk apa kamu kesana ? Dan melihat ruangan itu, Aminah ?'', tanya Shaheer Sheikh keheranan.
''Aku hanya ingin memastikan saja, gaun yang akan aku kenakan esok hari di acara pesta, Shaheer'', sahut Aminah.
''Tidak usah dipikirkan masalah itu karena mathair telah menyiapkan saree khusus untukmu buat dikenakan ke acara pesta besok, Aminah'', kata Shaheer Sheikh.
Sudut bibir Shaheer Sheikh membentuk senyuman ketika menjelaskan tentang rencana esok hari.
Diusapnya wajah cantik Aminah dengan lembut kemudian berkata padanya.
''Acara besok tidak perlu dipikirkan lagi, sudah ada pihak yang mengurusnya. Kamu tinggal menyiapkan dirimu dengan baik buat acara pesta nanti, beristirahat lalu tidur nyenyak !'', kata Shaheer Sheikh.
"Baiklah...", sahut Aminah menyerah.
__ADS_1
"Apa kau masih ingin melihat-lihat area hotel ini ? Atau langsung beristirahat di kamar ?", kata Shaheer Sheikh.
"Aku rasa sebaiknya langsung beristirahat karena aku agak kurang sehat sejak kemarin", jawab Aminah.
"Apa aku harus menggendongmu agar kamu merasa baikan, Aminah ?", kata Shaheer Sheikh.
"Tidak usah, aku masih kuat untuk berjalan sampai di kamar hotel, Shaheer", sahut Aminah.
"Tapi aku melihat wajahmu sangat pucat sebaiknya aku meminta pihak hotel mengambilkan kursi dorong untukmu, Aminah", kata Shaheer Sheikh.
Terlihat sekali bahwa Shaheer Sheikh mencemaskan keadaan Aminah.
Aminah menggenggam erat lengan Shaheer Sheikh seraya tersenyum serta berusaha menahannya untuk tidak pergi dari hadapannya.
"Tidak perlu, Shaheer ! Aku baik-baik saja !", ucap Aminah.
Tampak Aminah sedikit memaksakan senyuman di wajahnya lalu berjalan ke dalam hotel sambil menundukkan kepalanya.
Shaheer Sheikh memandangi Aminah dari jauh dengan tatapan cemas saat melihat kondisi yang dialami oleh gadis berhijab itu.
Namun, Shaheer Sheikh tidak dapat berbuat banyak karena dia tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk membantu Aminah sedangkan gadis cantik itu menolak saran darinya.
Shaheer Sheikh hanya berpikir bahwa Aminah malu untuk mengakui dirinya sakit.
"Hufh... !?", desah Shaheer Sheikh pelan.
Diusapnya rambut hitamnya berulangkali sambil menolehkan kepalanya ke arah lain lalu berjalan menyusul Aminah ke dalam hotel Novotel.
Seorang pria berkemeja hitam berlari ke arah Shaheer Sheikh dengan tergopoh-gopoh kemudian memberi hormat.
"Selamat datang, tuan Shaheer !", sapa pria berkemeja hitam.
"Selamat malam, Rajesh", sahut Shaheer Sheikh.
"Kami sudah lama menunggu anda sampai di Novotel, tadi nyonya Jannah menelpon kami untuk menyambut anda dan nyonya muda jika sampai disini", kata pria berkemeja hitam.
Pria yang dipanggil namanya dengan Rajesh lalu berjalan mengiringi langkah Shaheer Sheikh.
"Terimakasih atas sambutanmu, Rajesh ! Kami sekarang hendak beristirahat di kamar, aku harap kamu sudah mengurus urusan menginap kami di hotel ini !", sahut Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh setengah melirik ke arah Aminah yang berdiri menunggu dirinya.
"Saya sudah mengurus keperluan anda di hotel ini sesuai perintah nyonya Jannah Sheikh", ucap Rajesh.
"Baiklah, aku akan langsung menuju kamar karena besok kita ada acara kalau kamu sudah mengurus semuanya berarti aku tidak perlu repot-repot lagi untuk pergi ke lobby hotel, bukan ?", kata Shaheer Sheikh.
"Benar, tuan Shaheer ! Semua sudah diurus oleh kami dan anda tinggal menginap tanpa harus memintanya lagi kepada pihak hotel", sahut Rajesh.
Shaheer Sheikh berjalan menghampiri Aminah seraya menggandeng tangan gadis cantik itu sambil tersenyum lembut.
"Ayo, Aminah ! Kita segera beristirahat malam ini ! Besok, akan ada acara yang padat hingga tengah malam nanti", kata Shaheer Sheikh.
"Iya, Shaheer", sahut Aminah.
__ADS_1
Shaheer Sheikh menggandeng tangan Aminah seraya mengikuti langkah kaki Rajesh yang berjalan di depannya.
Mereka melangkah menuju sebuah lift hotel menuju kamar tempat mereka menginap di Novotel.
Selang beberapa menit kemudian, Rajesh telah membawa keduanya sampai di kamar mereka, tempat mereka berdua akan menginap di Novotel malam itu.
Rajesh lalu berpamitan kepada keduanya setelah memberikan kunci kamar hotel kemudian berjalan pergi.
"Kita sudah sampai di kamar hotel, Aminah, dan segeralah kamu beristirahat malam ini", kata Shaheer Sheikh.
Shaheer Sheikh membukakan pintu untuk Aminah agar gadis berhijab itu segera masuk ke kamar hotel untuk istirahat setelah perjalanan jauh yang mereka tempuh dari pusat kota New Delhi menuju ke Novotel.
Perjalanan yang cukup memakan waktu lama serta terasa berat karena harus pergi di malam hari.
Aminah menganggukkan kepalanya pelan saat menjawab ucapan Shaheer Sheikh lalu masuk ke dalam kamar hotel.
"Jangan lupa segera tidur ! Dan jangan berpikir berat malam ini, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh.
"Iya, aku mengerti, dan terimakasih atas perhatiannya", jawab Aminah.
"Tidurlah !", kata Shaheer Sheikh.
Aminah tersenyum lembut lalu menutup pintu kamar perlahan-lahan.
"Tunggu, Aminah !", ucap Shaheer Sheikh tiba-tiba.
Aminah langsung menghentikan pintu kamar yang akan menutup lalu membukanya kembali saat Shaheer Sheikh mencegahnya.
Terlihat tatapan Aminah yang penuh tanda tanya ketika Shaheer Sheikh mencegahnya untuk menutup pintu kamar.
"Ada apa ?", tanya Aminah.
"Tunggu, aku melupakan sesuatu, Aminah !", sahut Shaheer Sheikh.
"Apa ?", tanya Aminah kembali.
"Aku belum mengucapkan selamat malam padamu karena itu aku mencegahmu tadi", sahut Shaheer Sheikh.
"Oh... !?", kata Aminah polos.
"Boleh bukan jika aku mengucapkan kata-kata selamat malam sebelum kau tidur, Aminah ?", ucap Shaheer Sheikh.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak boleh ?", jawab Aminah.
"Kalau begitu aku akan mengucapkan kata selamat malam dan selamat beristirahat", kata Shaheer Sheikh.
Tiba-tiba Shaheer Sheikh melangkah cepat menghampiri Aminah seraya memeluk erat tubuh Aminah.
Sontak Aminah terkejut dengan sikap Shaheer Sheikh tetapi Aminah tahu kalau pria tampan itu sangat mencemaskan dirinya sekarang ini.
Senyum mengembang di wajah Aminah lalu membalas pelukan Shaheer Sheikh sambil berkata padanya.
"Selamat malam juga untukmu, Shaheer ! Dan selamat beristirahat !"
__ADS_1