Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Amol Khan Namanya


__ADS_3

Aminah menatap lama pria yang duduk di hadapannya, menunggu jawabannya untuk menyebutkan namanya.


Pri tampan itu lalu tersenyum simpul sambil mengucapkan namanya secara lengkap.


"Amol Khan..., namaku Amol Khan", ucapnya dengan nada serius.


"Amol Khan, nama yang sangat bermakna", sahut Aminah.


"Tentu saja karena setiap nama akan memiliki makna yang sangat penting serta berharga bagi pemiliknya", lanjut Amol Khan.


"Dan tiap nama memiliki rangkaian yang sangat indah dan berarti bagi pemilik nama, sayangnya kebahagiaan terkadang tidak selalu menyertainya", kata Aminah.


"Tidak juga karena kebahagiaan kitalah yang mencarinya bukan orang lain, Aminah", sahut Amol Khan.


"Itu yang aku inginkan, tuan Amol", kata Aminah.


Amol Khan langsung tertawa renyah ketika mendengar ucapan Aminah.


"Jangan memanggilku dengan "tuan", cukup memanggilku dengan Amol atau Amol Khan, tidak enak kedengarannya", sahut Amol Khan.


"Sepantasnya aku memanggil mu dengan sebutan tuan Amol, bukankah seharusnya demikian yang harus aku lakukan pada tuan pemilik hotel termewah ini", sambung Aminah.


Amol Khan kembali tertawa dan tawanya terdengar keras dari sebelumnya.


"Kau bisa saja menghiburku, Aminah", kata Amol Khan.


"Yah, memang seharusnya yang harus aku lakukan...", ucap Aminah.


Aminah membalas ucapan Amol Khan dengan senyuman manis.


Terdengar suara ponsel milik Aminah berbunyi nyaring dari arah tas genggamnya yang terletak disamping kanannya.


Aminah lalu menoleh ke arah tasnya dan terdiam sesaat.


"Kenapa tidak diangkat telponnya ?", kata Amol Khan.


Aminah kembali menoleh ke arah Amol Khan seraya tersenyum tipis.


"Aku pikir sekarang saatnya aku harus kembali ke kamarku, sepertinya ada yang sedang mencariku disana", sahut Aminah.


"Apa mereka mencarimu ?", tanya Amol Khan.


Aminah lalu mengerlingkan kedua matanya sambil tersenyum.


"Mungkin... Karena sejak tadi aku menghilang dari mereka dan kemungkinan sekarang mereka mencariku", sahut Aminah.


"Kenapa tidak sekarang saja kau lari dari mereka, bukankah sekarang ini adalah kesempatan baik untukmu melarikan diri dari keluarga itu ?", kata Amol Khan.


"Sulit... Untuk saat ini sangatlah sulit karena ada hal penting yang harus aku lakukan, Amol", sahut Aminah.


"Kesulitan apa yang kamu miliki hingga menunda kesempatan baik ini pergi darimu, Aminah ?", ucap Amol Khan.


Aminah terdiam sambil menundukkan pandangannya.


Lama terdiam menatap meja yang ada dihadapannya kemudian menyahut ucapan Amol Khan.


"Ada hal yang selama ini menjadi rahasiaku dalam keluarga Sheikh dan aku harus mendapatkan bukti kuat untuk mengungkapkan kebenarannya karena itulah aku masih bertahan hingga sekarang", kata Aminah.


Aminah mengetuk pelan meja didepannya, bergeming seraya menatap keluar ruangan.

__ADS_1


Memandangi kebun yang ada diluar restoran sambil duduk termenung, memikirkan misteri tentang kematian ayahnya yang hingga sekarang menjadi rahasianya dan membuatnya semakin penasaran.


Terdengar kembali dering ponsel dari arah tas miliknya.


KRING... KRING... KRING...


Suara panggilan telepon menyadarkan Aminah dari lamunan sesaatnya kemudian dia memalingkan mukanya dari arah jendela restoran ke arah tas yang dia letakkan disampingnya.


"Angkat saja ! Tidak perlu sungkan padaku, membuat orang lain menunggu terlalu lama", ucap Amol Khan.


Amol Khan berkata sambil menikmati secangkir Chai Tea di tangannya. Dia sengaja memesan lagi Chai Tea setelah menghabiskannya tadi.


"Maaf, telah membuatmu terganggu tapi sebaiknya aku segera kembali ke kamarku", kata Aminah.


Aminah terburu-buru mengambil tas miliknya lalu bersiap untuk pergi.


"Aku akan disini sebentar...karena aku masih ingin menikmati suasana di restoran ini, kau pergilah cepat, sepertinya dia telah lama mencarimu...", ucap Amol Khan.


Aminah terdian sesaat sembari memandangi Amol Khan yang masih duduk dengan menikmati secangkir Chai Tea-nya.


"Benar, kau tidak akan pergi sekarang ? Maaf, aku tidak bisa lama-lama menemanimu disini karena aku harus segera kembali ke kamarku", kata Aminah.


Aminah mengeluarkan dompet dari dalam tasnya untuk membayar makanan yang tadi dipesannya.


Saat Aminah hendak melangkah pergi untuk membayar tagihan makanannya, terdengar Amol Khan melarangnya.


"Biar aku yang membayar sarapan ini !", ucapnya dengan secangkir Chai Tea di depan wajahnya.


"Tidak, ini sarapanku dan aku harus membayarnya karena aku membelinya, bukan kewajibanmu untuk membayar tagihannya", sahut Aminah.


"Biar aku saja dan anggap saja ini adalah traktiran dariku untuk sarapan hari ini", sambung Amol Khan.


"Traktiran !? Maaf, aku tidak tahu jika kamu berniat mentraktirku, Amol...", sahut Aminah.


Amol Khan meminum Chai Tea tanpa menoleh ke arah Aminah yang telah berdiri untuk pergi.


"Baiklah..., aku ucapkan banyak terimakasih telah mentraktirku hari ini, mungkin lainkali aku akan membalasnya", ucap Aminah.


Aminah tergesa-gesa memasukkan dompet miliknya kembali ke dalam tas yang dia sampirkan di pundaknya kemudian menatap ke arah Amol Khan.


"Aku pamit pergi dulu, dan sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas traktirannya", kata Aminah. "Semoga kebaikanmu ini, Tuhan yang membalas ketulusanmu ini", sambungnya.


Aminah lalu melangkah pergi setelah berpamitan pada Amol Khan.


Tampak gadis berhijab itu berjalan menjauh menuju ke arah pintu keluar restoran sedangkan Amol Khan masih duduk sembari menikmati secangkir panas Chai Tea.


Setengah jam kemudian...


Aminah telah sampai di area kamarnya setelah dia pergi untuk sarapan.


Terlihat seseorang dari kejauhan seperti sedang menunggu di depan pintu kamarnya sembari terus berjalan kian-kemari dengan ponsel genggam ditangannya.


Aminah langsung mengenali sosok di depan kamarnya menginap di Novotel, sosok itu tak lain adalah Shaheer Sheikh.


Ekspresi wajah Shaheer Sheikh terlihat gelisah saat dia menunggu jawaban telepon.


"Shaheer...", panggil Aminah.


Aminah melangkah cepat ke arah Shaheer Sheikh lalu menyapanya ramah.

__ADS_1


"Selamat pagi, Shaheer", ucapnya sembari mencoba tersenyum.


Shaheer Sheikh menatap Aminah dan berhenti tepat di depan pintu kamar hotel dengan ponsel masih tergenggam erat ditangannya.


"Darimana saja seharian ? Kenapa tidak mengangkat telpon dariku ?", kata Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh langsung bertanya secara beruntun ketika melihat Aminah datang yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa tidak mengangkat telpon ?", tanya ulang Shaheer Sheikh.


Aminah tidak menjawabnya dan hanya berjalan ke arah pintu kamarnya lalu membukanya.


"Aku jalan-jalan tadi..., dan mencari sarapan sambil berkeliling di Novotel ini...", sahut Aminah kemudian.


Aminah berdiri terdiam di depan kamar sembari menunggu jawaban Shaheer Sheikh.


"Kenapa tidak mengajakku ? Atau memberitahuku jika kau berniat mencari sarapan dan jalan-jalan berkeliling di Novotel ?", tanya Shaheer Sheikh.


"Karena aku berencana seperti itu...", sahut Aminah.


Aminah melangkah masuk tanpa menoleh sedangkan Shaheer Sheikh masih berdiri dengan sikap pasrah.


"Tuhan...", gumam pria tampan itu.


Shaheer Sheikh hanya menggelengkan kepalanya seraya mendesah pelan.


Tidak tahu harus bersikap apa terhadap jawaban Aminah atas pertanyaannya.


Shaheer Sheikh lalu mengikuti langkah Aminah masuk ke dalam kamar hotel dengan langkah panjangnya serta sedikit berderap keras.


Di dalam kamar hotel...


Aminah menuangkan segelas air minuman kemudian memberikannya kepada Shaheer Sheikh yang berjalan mendekatinya.


"Tidak, terimakasih", ucap Shaheer Sheikh yang menolak segelas minuman dari Aminah.


Aminah meletakkkan segelas air minuman di atas meja kecil kamar hotel lalu berjalan ke arah tempat tidurnya kemudian duduk disana.


BRUK...


Aminah menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk sembari meletakkan tasnya di sampingnya.


"Apa kau belum sarapan ?", tanya Aminah.


"Belum...", sahut Shaheer Sheikh sambil menggelengkan kepalanya dengan melirik ke arah Aminah.


"Belum !?", kata Aminah keheranan.


"Yah, aku ingin sarapan tapi orang yang aku ajak untuk sarapan ternyata sudah sarapan lalu bagaimana aku akan menikmati sarapanku sekarang ?", ucap Shaheer Sheikh.


"Bagaimana jika aku memesannya lewat telepon hotel agar petugas hotel membawakan sarapan untukmu ?", sahut Aminah.


"Rasanya tidak berselera karena tidak ada yang menemaniku sarapan hari ini, sebaiknya tidak usah memesan", kata Shaheer Sheikh.


Tampak Shaheer Sheikh masih berdiri tak jauh dari tempat tidur dimana Aminah duduk seraya memandanginya.


"Aku akan memesan sekotak roti untuk sarapan agar kau mau makan", lanjut Aminah. "Bagaimana menurutmu ?", sambungnya.


Shaheer Sheikh masih terdiam sambil menatap serius gadis berhijab di depannya kemudian menjawabnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Baiklah..., kau pesan saja aku sarapan dengan menu utama !", sahut pria tampan itu.


Terlihat ekspresi wajah Shaheer Sheikh yang langsung berubah senang saat mendengar ucapan Aminah yang berkenan menemaninya sarapan hari ini dengan memesan sekotak roti kemudian pria tampan itu ikut duduk di dekat gadis berhijab cantik yang dia tunggu sejak tadi.


__ADS_2