Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Awal Mengenalnya


__ADS_3

Aminah memesan ayam Tandoori kesukaannya serta segelas ice cream strawberry vanila.


Dia melirik ke arah piring makan milik pria asing yang berisi penuh Tikka Masala.


Pria tampan yang belum memperkenalkan namanya juga memesan Chai Tea untuk dirinya.


Aminah meraih sepotong ayam Tandoori dengan garpu lalu memakannya dengan nasi hangat.


Menikmati hidangan istimewa dari restoran Novotel dengan pemandangan kebun yang melatarbelakangi, sungguh suatu kesempatan yang sangat langka.


Tidak ada rasa sehebat ini sebelumnya, merasa santai serta bebas dari segala masalah yang membebani pikiran.


Aminah melahap ayam Tandoori-nya tanpa sungkan, sehabis satu suapan langsung menyendok satu suapan lagi tanpa jeda.


Terdengar suara celetukan dari pria tampan yang tengah memperhatikan ke arah Aminah yang duduk di depannya.


"Kau sangat gemar ayam Tandoori sampai tidak memperdulikanku", ucap pria itu sambil berdehem pelan.


Semburat merah langsung muncul dari wajah Aminah seraya menjawab ucapan pria asing dengan gugup.


"Ma-maaf...", sahutnya singkat.


Pria yang tidak diketahui namanya itu lalu tertawa renyah, spontan memberikan selembar tissu pada Aminah.


"Apa !?", tanya Aminah dengan malu-malu.


Pria tampan tanpa nama menunjuk ke arah sudut bibirnya sembari mengulurkan selembar tissu, Aminah langsung tanggap dan segera mengambil tissu dari tangan pria itu.


Mengusap sudut bibirnya dengan tissu lalu mengambil segelas minuman ice cream yang ada disisi piring.


"Terimakasih...", ucap Aminah tersipu malu.


Aminah kembali melanjutkan kegiatannya menyantap ayam Tandoori favoritnya sedangkan pria tampan yang masih merahasiakan namanya mulai melahap kembali makanannya.


"Apa kau adalah salah satu anggota keluarga Sheikh ?", tanya pria tanpa nama itu.


"Ya, benar...", sahut Aminah singkat.


"Pantas saja kau selalu terlihat bersama-sama dengan mereka tapi kenapa sekarang kamu hanya sendirian disini tanpa mereka ?", kata pria tampan sambil menyuapkan satu sendok berisi Tikka Masala ke dalam mulutnya.


"Aku berniat menghabiskan waktuku hari ini dengan berkeliling Novotel karena aku mendapatkan ijin dari keluarga Sheikh untuk berekreasi", sahut Aminah.


Aminah berbicara dengan melahap ayam Tandoorinya beserta nasi hangat.


Klang...


Pria tampan meletakkan sendok serta garpu makannya lalu mengambil secangkir Chai Tea.


Menghirup aroma Chai Tea dengan penuh penjiwaan sebelum dia meminumnya.


"Mengapa kau menyebut mereka dengan keluarga Sheikh bukan dengan sebutan yang akrab semisal kakek atau paman ?", tanya pria tampan.

__ADS_1


Aminah terdiam lalu menghentikan gerakannya untuk menyuapkan ayam Tandoori ke dalam mulutnya.


"Aku bukanlah anggota mereka...", sahut Aminah dengan wajah tertunduk.


Pria tampan di hadapannya langsung terkejut serta mengerutkan keningnya.


"Bukan anggota keluarga Sheikh !? Lalu kenapa kamu hadir pada acara pesta kemarin jika kamu bukan dari anggota keluarga Sheikh ?", jawab pria tanpa nama.


Ekspresi pria yang masih belum memperkenalkan namanya itu tampak tidak percaya saat mendengar jawaban dari Aminah.


"Aku pikir itu adalah privasi, menurutku..., sebaiknya kita tidak usah membahasnya...", kata Aminah.


"Emmm..., baik, jika menurutmu itu privasi yang sifatnya pribadi untukmu maka aku tidak akan menanyakannya lagi tentang mereka", sahut pria berwajah tampan tanpa menyebutkan namanya.


Pria itu lalu melanjutkan acaranya menyantap Tikka Masala sedangkan Aminah kembali menyuapkan sesendok penuh nasi hangat beserta ayam Tandoori.


Beberapa menit kemudian, keduanya telah menghabiskan hidangan makanan utama yang mereka pesan beserta hidangan penutup lainnya dari restoran Novotel tempat mereka menginap.


Tampak pria tampan menyandarkan punggungnya dengan sikap tegak sambil menatap Aminah.


"Apakah kamu juga menginap disini ?", tanya Aminah.


"Mmmm..., jujur kalau aku boleh katakan bahwa aku salah satu pemilik saham di hotel ini..., dan aku datang kemari karena undangan dari keluarga Sheikh untuk menghadiri acara pesta mereka disini", sahut pria itu.


"Ya, ampun !? Maaf, maaf... Aku tidak mengetahuinya kalau kau adalah pemilik tempat ini !?", ucap Aminah.


Raut wajah Aminah langsung berubah merah padam ketika dia mengetahui bahwa pria yang tidak menyebutkan namanya itu tak lain adalah pemilik saham Novotel di India ini.


Aminah menundukkan wajahnya dalam-dalam tanpa berani menatap kembali ke arah pria tampan yang duduk di depannya bersama dengannya.


"Bukan seperti itu, rasanya keterlaluan karena tidak menganggapmu dengan hormat...", sahut Aminah dengan wajah memerah.


"Memangnya perkenalan diharuskan saling mengetahui latar belakang terlebih dahulu, bukankah setiap orang yang kita temui sebelumnya juga asing bagi kita hingga kita saling berkenalan", lanjut pria itu.


"Latar belakang perlu kita ketahui sebelum kita mengenal orang yang benar-benar asing bagi kita karena kita tidak tahu keseharian mereka seperti apa...", ucap Aminah.


Keduanya terdiam lalu Aminah melanjutkan kembali perkataannya.


"Meski latar belakang tidak menjamin semuanya akan baik-baik saja bahkan hal itu menjadi trend penting untuk menutupi hal menyimpang lainnya", ucap Aminah.


"Kenapa kau berkata begitu ? Apakah ada hal yang sangat menyakitkan bagimu ?", tanya pria tanpa nama.


"Seperti halnya kehidupan tidak semua yang kau lihat adalah hal yang sebenarnya terkadang semuanya adalah tipuan", lanjut Aminah.


"Artinya selama ini kau tidak bahagia", kata pria tampan seraya tersenyum tipis.


"Entahlah, aku tidak dapat menggambarkan tentang keadaanku saat ini ataupun menjelaskannya, apakah aku merasa bahagia atau tidak", sahut Aminah.


"Kau bercanda, Aminah", ucap pria itu.


"Tidak !", jawab Aminah sembari memandang ke arah luar jendela restoran yang menghubungkan ke arah pemandangan kebun.

__ADS_1


"Jujurlah...", sahut pria tampan.


Pria yang tak diketahui namanya itu melemparkan pandangannya ke arah luar seperti yang dilakukan oleh Aminah.


Keduanya sama-sama terlihat tengah menyaksikan keindahan pemandangan kebun di area Novotel yang berada di luar sana.


Pemandangan asri serta menentramkan hati ketika melihat kebun hijau yang menyejukkan mata terbentang membuat perasaan yang memandangnya terasa damai.


"Lalu apa rencanamu ke depan ? Aku lihat kau sangat tertarik dengan grup musik yang tampil di acara pesta kemarin", ucap pria tampan.


"Benar, aku memiliki pandangan hidup di masa depan untuk menyusun cita-citaku kelak menjadi seorang pemusik sebagai penompang hidupku", kata Aminah.


"Kau berencana kabur dari mereka ?", kata pria tampan.


Aminah hanya menjawab dengan tawa ringan kemudian menatap serius ke arah pria yang ada di hadapannya.


"Bisakah kau membantuku meraih tujuan masa depanku kelak !? Bukankah kau pernah menawarkan padaku sebuah kartu tanda pengenal agar aku bisa menghubungimu untuk bergabung di kelompok musik terkenal yang mengisi acara pesta kemarin...", kata Aminah.


"Benar, aku menawarkanmu bantuan agar kamu dapat masuk sebagai salah satu anggota band musik terkenal dan mungkin aku juga bisa mengorbitkan dirimu sebagai seorang penyanyi masa depan", sahut pria tampan yang tidak menyebutkan namanya itu.


"Benarkah !? Apakah ucapanmu dapat dipercaya ? Aku berpikir ini sebuah tawaran menarik tapi aku belum yakin itu", kata Aminah.


Pria itu lantas tersenyum sembari membersihkan kedua tangannya dengan kain serbet.


"Tidak perlu harus meyakinkan dirimu sendiri karena aku lah yang nanti akan membuatmu beanr-benar yakin serta percaya bahwa impianmu akan terwujud sekarang ataupun nanti, Aminah", sahut pria tampan.


Sorot mata pria itu terlihat serius serta tajam seolah-olah menggambarkan keseriusan ucapannya yang meyakinkan diri Aminah tentang tujuan hidupnya di masa depan.


"Tapi kalau boleh jujur, apakah niatmu adalah untuk kabur dari keluarga Sheikh ?", kata pria itu.


Aminah tidak menjawabnya tapi dia hanya mengangguk sekali.


"Hmmm... !? Ini sangat menarik...", ucap pria tampan.


Pria itu langsung menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Aminah kemudian dia turut terdiam.


Suasana menjadi hening. Dan tampak keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Dan apakah kau akan bersedia membantuku ?", tanya Aminah.


Pria tampan tanpa nama hanya melirik sekilas ke arah Aminah lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah meja.


"Entahlah, Aminah... Karena menurutku sebaiknya kau tetap tinggal di dalam keluargamu sekarang yaitu keluarga Sheikh sebab aku berpikir hidupmu akan lebih terjamin di masa depan daripada sebagai seorang pemusik band atau sekedar seorang penyanyi...", kata pria itu.


"Tapi semuanya tidak menjamin kebahagiaan untukku", sahut Aminah.


"Hidupmu akan lebih terjamin dengan gelimang harta yang dimiliki oleh keluarga Sheikh saat ini bahkan sumber kekayaan mereka tidak pernah ada habisnya hingga akhir zaman", ucap pria tampan.


"Mungkin, jika aku bertahan hidup dengan mereka mungkin saja hidupku akan terjamin tapi ada saatnya aku harus pergi dengan alasan tertentu", sahut Aminah.


"Kedengarannya sungguh berat dari ucapanmu tapi sebaiknya kamu memikirkannya kembali niatmu itu, Aminah", saran pria yang masih belum menyebutkan namanya itu.

__ADS_1


"Lalu siapa namamu kalau aku boleh tahu ?", sahut Aminah.


Pria tampan langsung terdiam tetapi pandangannya berubah sayu serta teduh saat menatap Aminah.


__ADS_2