Pengkhianatan Cinta Aminah

Pengkhianatan Cinta Aminah
Aku tidak mengerti


__ADS_3

Aminah terlonjak kaget ketika Shaheer Sheikh mengatakan kebenaran semuanya pada dirinya tentang pernikahan yang sebenarnya bukan untuk mereka.


Namun, pernikahan yang dirancang itu untuk dirinya dan Mahesa Sheikh.


''Kau sengaja mengatakan itu semua agar kamu tidak disalahkan bukan seandainya kamu memilih pergi dariku ?'', kata Aminah.


Aminah menatap Shaheer Sheikh dengan tatapan seriusnya.


''Aku ?'', sahut Shaheer Sheikh tertegun. ''Bukan, bukan seperti itu !'', sambungnya.


Shaheer Sheikh menggelengkan kepalanya pelan.


''Tapi itu memang benar yang aku katakan padamu bahwa pernikahan ini tidak diperuntukkan untukku tapi untuk Mahesa'', lanjut Shaheer Sheikh.


''Bagaimana kamu tahu hal itu ? Dan apa buktinya jika Mahesa Sheikh menolaknya ?'', sahut Aminah.


Aminah menatap dingin Shaheer Sheikh tanpa sedikitpun mempercayai ucapan pria tampan itu.


''Bukti !?'', ucap Shaheer Sheikh.


''Iya !'', jawab Aminah.


''Astaga !?'', keluh Shaheer Sheikh lelah.


Shaheer Sheikh termangu seraya menepuk keningnya.


''Kenapa kamu tidak mengerti juga, Aminah ? Yang aku katakan ini adalah benar, tidak ada yang aku sembunyikan tentang pernikahan yang direncanakan untuk kita bukan untuk kita berdua seharusnya, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


''Lantas apa alasan mu mengatakan ini semua jika kamu sendiri yang sengaja ingin mengakhiri hubungan ini ?'', kata Aminah.


''Aku tidak tahu alasan Mahesa sebenarnya yang menolak pernikahan kalian terjadi, aku tidak mengerti, Aminah !'', ucap Shaheer Sheikh.


Shaheer Sheikh menghela nafasnya pelan.


''Keluarga ini hanya menyuruhku untuk menggantikan Mahesa sebagai calon mempelai pria untuk mu tapi alasan dia menolaknya atau tidak, aku sendiri tidak memahaminya, Aminah'', sahut Shaheer Sheikh.


Aminah terdiam tanpa meresponnya sedangkan Shaheer Sheikh memandanginya lalu dia berkata lagi.


''Dan dibalik ini semua ada sesuatu yang mereka sembunyikan tapi aku tidak tahu itu karena Mahesa tidak ada di India saat rencana pernikahan kalian disusun'', ucap Shaheer Sheikh.


''Aku tidak percaya padamu'', sahut Aminah.


''Tidak, Aminah !'', ucap Shaheer Sheikh. ''Aku berkata yang sebenarnya, ini memang benar'', sambungnya.


''Kau sengaja mengatakan ini hanya karena kamu ingin pergi bersama Anjali, bukan ?'', jawab Aminah.


''Anjali ???'', ucap Shaheer Sheikh kaget.


''Iya, kau ingin pergi dan melepas hubungan ini setelah pertunangan kita nanti'', kata Aminah.


''Yeah..., itu memang benar ! Aku memang ingin melepasmu dari ikatan ini bukan karena Anjali, kami hanya dekat'', jawab Shaheer Sheikh.


''Oh, iya !?'', ucap Aminah.


Aminah mengangkat kedua alisnya ke atas seraya menatap dingin Shaheer Sheikh.


''Bukankah dia orang yang kau senangi dan jujur saja tujuanmu adalah Anjali karena dia terkenal'', kata Aminah.

__ADS_1


''Tidak'', sahut Shaheer Sheikh.


''Kamu membenciku dan kamu menggunakan Mahesa, pamanmu sebagai dalihnya atas niatmu untuk melepas ini semua'', kata Aminah.


Aminah mendesah pelan lalu memandang Shaheer Sheikh.


''Kamu tidak perlu melampiaskan kekecewaanmu kepada Mahesa Sheikh karena paksaan hubungan diantara kita karena aku akan menerima semuanya jika kamu memang ingin melepasnya'', ucap Aminah.


''Aminah...'', kata Shaheer Sheikh.


''Cukup, Shaheer ! Cukup ! Biarkan semuanya terjadi seperti yang sudah terjadi dan biarkan ini tertutupi tanpa harus membuktikannya'', lanjut Aminah.


''Aminah !?'', sahut Shaheer Sheikh.


''Pada akhirnya hubungan ini akan selesai tanpa kita perlu mengerti semua misteri dibalik rencana mereka...'', kata Aminah.


Aminah hanya memandangi Shaheer Sheikh tanpa ekspresi.


''Aku akan menerima keputusan mu untuk melepaskanku setelah acara pertunangan kita nanti tanpa aku harus mempersulitnya'', lanjut Aminah.


''Aminah, dengarkan aku...'', kata Shaheer Sheikh.


''Tidak, Shaheer ! Ini untuk pertama dan terakhir kita berbicara serius karena aku akan memilih pergi darimu'', sahut Aminah.


Giliran Shaheer Sheikh yang kebingungan.


''Dan kamu tidak perlu mengingatkan semuanya lagi akan niatmu yang ingin melepasku untuk mengkhiri hubungan kita'', ucap Aminah.


Aminah menatap dingin lalu melangkah pelan menuju kamarnya yang terletak disamping dia berdiri.


''Terimakasih telah mengatakan semuanya padaku...'', ucap Aminah.


''Kamu pergi dengan siapa kemarin ?'', tanya Shaheer Sheikh.


Aminah menghentikan langkah kakinya seraya diam.


''Katakanlah padaku tanpa kamu harus menutupinya karena itu bukanlah masalah bagiku, jujurlah !'', ucap Shaheer Sheikh.


Aminah menoleh ke arah Shaheer Sheikh dengan tatapan lelahnya.


''Itu hakku...'', sahut Aminah.


''Hakmu !?'', kata Shaheer Sheikh.


Aminah membisu dengan membuang muka dari Shaheer Sheikh.


''Jangan mendekatinya...'', tiba-tiba Shaheer Sheikh berkata seolah dia ingin melindungi seseorang.


Gadis berhijab itu hanya menundukkan kepalanya seraya berkata.


''Kenapa ? Apa kau takut aku akan menjalin kedekatan dengannya ?'', sahut Aminah.


''Rumah ini penuh pengawal tersembunyi yang kau atau aku tidak dapat melihatnya, orang-orangku berbeda dengan mereka tapi aku mengatakan ini padamu karena aku mengkhawatirkanmu'', ucap Shaheer Sheikh.


''Siapa ? Siapa yang kamu cemaskan ? Aku ???'', jawab Aminah.


''Iyah...'', sahut Shaheer Sheikh.

__ADS_1


''Untuk apa ?'', kata Aminah sambil tertawa kesal.


''Untuk keselamatanmu tetap terlindungi di rumah ini, dan itu sekarang adalah tanggung jawabku'', jawab Shaheer Sheikh.


''Tanggung jawab ???'', ucap Aminah.


''Iyaaah...'', sahut Shaheer Sheikh.


''Terimakasih untuk itu, Shaheer Sheikh ! Tapi !? Aku tidak membutuhkannya dan jangan memata-matai aku !'', kata Aminah.


''Aku tidak bermaksud demikian karena itu adalah bagian dari tugas mereka sebagai penjaga keamanan yang bekerja secara pribadi untukku dan itu tugas'', jawab Shaheer Sheikh.


''Tidak ada yang perlu kamu curigai atau kamu cemaskan karena aku tidak berminat pada sebuah hubungan dekat dengan siapapun baik itu denganmu atau dengannya'', kata Aminah.


''Bukan, Aminah. Ini masalah lain dan ini polemik besar yang memaksa kita bermain didalamnya'', kata Shaheer Sheikh.


''Aku tidak mengerti...'', sahut Aminah.


''Percayalah, Aminah !'', ucap Shaheer Sheikh.


Aminah tersenyum dingin tapi dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan.


''Aku tegaskan bahwa aku tidak mengerti dan biarkan aku sendiri mulai sekarang'', kata Aminah.


''Aminah, coba dengarkan aku !'', jawab Shaheer Sheikh.


''Jika kamu memutuskan untuk pergi maka pergilah ! Dan tidak perlu lagi kamu mencari-cari alasan lain karena aku akan menerimanya'', ucap Aminah.


Aminah melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintu kamar seraya menguncinya rapat.


KLEK... KLEK... KLEK...


Shaheer Sheikh termangu memandangi pintu kamar yang terkunci dan hanya bisa berdiri tercengang.


''Huh !?'', desahnya letih.


Pria yang selalu berpenampilan rapi itu kemudian pergi cepat-cepat dari kamar Aminah.


Shaheer Sheikh melangkah jauh lalu menghilang dari ruangan rumah ketika dia berbelok ke ujung jalan di koridor rumah sedangkan Aminah yang berada di dalam kamar hanya bersandar pada daun pintu.


Menatap kosong ujung kamarnya kemudian memejamkan kedua matanya.


''Aku tidak mengerti, Shaheer...'' gumam Aminah.


Aminah menyandarkan kepalanya yang terasa berat setelah perbincangan itu ditambah rasa lelah yang mulai menghinggapi hatinya akan semua sensasi yang terjadi dari hubungan ini.


Tidak ada yang ingin Aminah pikirkan ataupun yang ingin dia cari lagi dari alasan-alasan Shaheer Sheikh yang menginginkan selesainya hubungan mereka berdua.


Tubuh Aminah merosot ke bawah dengan tetap bersandar pada daun pintu kamar lalu duduk seraya menekuk kedua kakinya.


''Aku tidak mengerti...'', ucapnya lagi.


Aminah sedih bahkan dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menerima itu semuanya dengan pikiran jernih.


Hanya diam dan diam yang kini dia bisa lakukan sekarang.


''Ini bukan pengkhianatan cinta...'', gumamnya.

__ADS_1


Aminah tak mampu menangis karena sebenarnya hatinya telah hampa sehingga dia tidak mampu lagi untuk menangis dan dia tidak ingin menangis lagi.


Gadis itu menolak untuk terluka tapi kenyataan yang dia dapatkan dari kisah dibalik hubungan mereka adalah hal yang sungguh mengejutkannya.


__ADS_2