
Untuk pertama kalinya, perasaan Ansel dibuat sebahagia ini di pagi hari, saat membuka mata, pemuda itu melihat tangan sang istri yang melingkar di pinggang nya, setelah hampir tujuh bulan akhirnya matahari menyinari hidupnya, setelah selama ini senyum dan tawanya hanya untuk menutupi luka, Ansel benar-benar sangat bahagia, di usianya yang sudah menginjak 27th akhirnya Ansel bisa merasakan indahnya kasmaran yang sesungguhnya, kasmaran dengan pasangan halal yang sangat di cintai nya.
Ansel memutar tubuhnya pelan untuk menatap wajah damai sang istri.
Senyum hangat terpatri di wajah pemuda itu, Rinjani sudah melewati ujian hidup yang luar biasa, menikah di usia yang baru dua puluh tahun, menjanda di usia dua puluh dua tahun, sebelum menikah dengan sang Kaka dan harus merasakan sakitnya di tinggalkan untuk selama-lamanya dan kini Rinjani benar-benar menjadi miliknya, usia mereka terpaut 1 tahun, Ansel lebih tua satu tahun dan Ansel bersyukur karena itu, wanita yang begitu tegar dan sabar kini tengah berbaring lembut di sampingnya.
Ansel membelai lembut pipi Rinjani. " Aku sangat menyayangimu Rinjani" Bisik Ansel lembut , Ansel buru-buru menutup matanya saat kelopak mata Rinjani bergerak, takut salah tingkah akhirnya Ansel pura-pura tidur.
Rinjani membuka matanya dengan pelan, sepertinya masih terlalu pagi, karena belum ada sinar matahari yang masuk kedalam kamar mereka.
Rinjani menatap wajah tampan suaminya yang masih terlelap polos, kemudian melirik tangan nya yang masih memeluk tubuh Ansel, Rinjani tersenyum sendiri tetapi bukan nya menarik tangan nya, Rinjani malah mengeratkan pelukannya tanpa ragu, Rinjani sudah berpikir sepanjang malam, bahwa dia harus memulai untuk menerima Ansel di dalam hati nya.
Dengan membiasakan diri seperti ini akan mudah muncul perasaan nyaman, toh mereka pasangan Halal, bahkan semakin intim hubungan mereka semakin berpahala.
Ansel pura-pura mengeliat, tetapi Rinjani sama sekali tidak perduli, setelah mengetahui cinta Ansel, Rinjani sama sekali tak mau kehilangan pemuda seperti Ansel, cinta tulus dan sebesar itu tak semua pria memiliki nya.
Rinjani malah tersenyum saat melihat mata Ansel terbuka. " Pagi" Siapanya yang di balas senyum oleh Ansel.
Oh dada Ansel bergemuruh, saat Rinjani dengan murah hati terus memeluknya
" Mau kepantai jam berapa??" tanya Rinjani menatap mata Ansel yang sudah terbuka sempurna
" Agak sore saja biar tidak terlalu panas, anak-anak juga pasti ingin bermain air dan pasir" Ucap Ansel dengan suara serak.
" Ansel terimakasih atas semua yang kamu lakukan untuk kami dan aku juga sangat berterimakasih atas cinta yang kau percayakan untuk wanita seperti ku" Rinjani mengamati bekas tindik di telinga Ansel
Ansel mengangguk tetapi pemuda itu tak mengatakan apapun, nyatanya cinta itu hadir dan tak mau pergi di hatinya meskipun Ansel mati-matian ingin melenyapkan, entah petanda jodoh atau apa Ansel juga tidak mengerti rahasia jodoh.
Siang itu suasana rumah sedang riuh Karena persiapan mereka ke pantai, anak-anak begitu antusias sampai membuat Rinjani kuwalahan.
Sore yang di nanti tiba, mereka langsung pergi ke pantai tempat tujuan
Ibu Maria dan suaminya juga ikut bergabung dengan mereka, suasana yang ramai dan angin yang berhembus kencang dari arah laut menyambut kedatangan mereka di tempat wisata alam yang luas dan bebas ini
" Daddy kita bikin istana pasil" Suara Ivan dan Ivander begitu bersemangat
__ADS_1
Rania sudah berganti baju, sedang Ivan dan Ivander sama sekali tidak tertarik untuk berenang, Ivan dan Ivander berlarian meninggalkan jejak kaki kecil mereka di pasir halus yang basah.
Ansel sudah bergelut dengan kedua anak laki-laki yang terus menerus menyita perhatian nya, dan Ansel sama sekali tidak keberatan, bahkan pemuda itu terus menambah cetakan- cetakan itu bertumpuk dan membentuk gunung yang di sebut mereka dengan istana pasir, meskipun yang sebenarnya tumpukan pasir itu sama sekali tidak seperti istana.
" Daddy akan ambil minum dulu kalian Sama Oma dan Opa!" Pesan Ansel saat melihat Ibu Maria dan suaminya ikut bergabung.
" Pergilah, dari tadi kau terus bermain dengan mereka, kini giliran kami" Ansel terbahak sebelum meninggalkan anak-anak dan menghampiri Rinjani yang hanya duduk beralaskan karpet yang sengaja mereka bawa dari rumah.
Ini bukan hari libur, sehingga suasana pantainya tidak terlalu ramai hanya beberapa gerombolan keluarga saja yang berkunjung.
Ansel meneguk air minum yang di sodorkan Rinjani dan mengucapkan terimakasih, Ansel menidurkan dirinya di atas karpet dan membawa tangannya menjadi bantal, tetapi Rinjani pindah dan bergeser membawa kepala Ansel keatas pangkuannya.
Ansel tersenyum dari tempatnya tiduran, debaran jantung Ansel semakin meningkat saat Rinjani menyapukan tangan halusnya keatas dahinya, ingin menikmati momen yang langka ini, Ansel memejamkan matanya, Rinjani mengamati wajah elok Ansel yang berada di pangkuannya, ketampanan Ansel semakin terlihat karena sinar jingga dari pantulan cahaya sore yang membuat wajah itu semakin mempesona.
" Kurasa sudah waktunya kamu potong rambut" Rinjani menyisir rambut tebal Ansel dengan jemarinya
Ansel masih setia memejamkan matanya, membuat Rinjani sedikit membungkuk untuk menatap senyum yang tersungging di bibir pemuda itu.
" Apa kamu bersedia potong rambut?, aku suka dengan rambut mu yang rapi "
Ansel membuka kelopak matanya, dan memperhatikan wajah ayu Rinjani dari pangkuan wanita itu
"Ansel aku tidak sedang bercanda" tutur Rinjani tak suka dengan ucapan Ansel.
Ansel hanya tersenyum dan kembali memejamkan mata
" Ansel apa kau ngantuk??"
" Tidak sama sekali!" Bantah Ansel cepat, pemuda itu kembali membuka matanya.
" Kamu ingin sesuatu??"
" Aku ingin ke sana" Rinjani menunjuk wisata pohon kelapa.
" Ayo!" Ansel segera berdiri dan menyambar jaket nya
__ADS_1
" Tunggu sebentar aku akan berpamitan pada Ibu Maria dan menitipkan anak-anak.
Ansel berjalan cepat menemui Ibu Maria dan bergegas kembali menghampiri istrinya, Ansel begitu bertanggung jawab sebagai suami dan Ayah untuk anak-anak nya bagaimana bisa Rinjani terus mengabaikan pemuda itu
" Anak-anak mau dibawa kerumah Ibu Maria Kebetulan besok Rania libur."
" Menginap??" Tanya Rinjani.
" Iya!"
Ini memang bukan pertama kalinya anak-anak menginap di rumah Ibu Maria, tetapi Rinjani tetap sedikit khawatir, takut mereka merepotkan wanita paruh baya itu, meskipun di rumah Ibu Maria suster perawat anaknya pun tersedia.
Ansel dan Rinjani masuk kedalam kebun kelapa yang berjajar tinggi menjulang, ternyata di dalam banyak sekali pasangan sedang berada di sana, banyak dari para pria yang sibuk memanjat pohon untuk menyenangkan hati pasangan nya, sedang Rinjani dan Ansel berkeliling dengan bergandengan tangan
" Apa di sekitar sini tidak ada penjual minuman??" Tanya Ansel yang mulai haus
Rinjani juga turut memperhatikan sekitar. " Sepertinya tidak ada" ucap Rinjani menanggapi.
" Terus apa gunanya sedotan, sendok dan gelas di masing-masing pohon? Apa harus memerik buah baru bisa minum??"
" Sepertinya" Balas Rinjani yang menangkap hal sedemikian rupa di sekelilingnya.
" Oh astaga___ Bahkan pohon nya sama sekali tidak bercabang bagaimana aku bisa memetik buahnya??"
Rinjani berkedip-kedip mencerna ucapan Ansel, sejak kapan ada pohon kelapa bercabang?? Ansel ada-ada saja, barang kali Ansel terlalu frustasi karena tidak bisa memanjat makanya bicara ngelantur, Rinjani akhirnya menarik tangan suaminya untuk segera meninggalkan kebun dan diajaknya pulang karena waktu juga sudah semakin sore.
Malam hari Rinjani sedang menyisir rambutnya di depan cermin saat tiba-tiba Ansel membungkuk untuk menciumnya.
" Sayang aku menginginkan mu" suaranya pemuda itu serak dan dalam
Rinjani menghentikan gerakan menyisir rambutnya mendengar ucapan Ansel yang mendadak dan tiba-tiba
Tubuh Rinjani di putar menghadap Ansel sebelum pemuda itu menunduk dan kembali merampas bibir Rinjani.
" Oh Sayang________ " Ansel langsung mengendong Rinjani keatas ranjang mereka
__ADS_1
Rinjani membantu membuka pakaiannya saat melihat Ansel kesulitan.
" A______Ansel______