
Andrean dan Ben, ikut terenyuh melihat Ansel yang duduk seorang diri di taman rumah sakit, mereka para lelaki ikut sesak melihat keadaan Ansel, mungkin jika mereka di posisi Ansel mereka juga akan merasa sendiri lebih baik saat ini.
" Dre, alihkan jatwal rapat semuanya kepadaku, aku tidak ingin menjadikan satu orang lagi gila kerja karena pelarian rasa sakit" Ben menepuk pundak Andrean, Andrean yang mengerti membuang pandangan nya pada Ansel
Andrean hanya mengangguk, pemuda itu juga ikut gelisah melihat keadaan Rinjani, bos yang sudah seperti sodari perempuan nya sedang dalam kondisi mengkhawatirkan, Ben berjuang demi baktinya pada keluarga Al-Biru, Andrean berjuang untuk bakti nya pada keluarga Rinjani, dua-duanya memiliki hati yang baik dan tau balas Budi, terlebih Ben, Pria itu tiada hentinya bersyukur mengenal keluarga Al-Biru, meskipun Ayah nya dalang dari segala musibah maut yang merenggut banyak nyawa keluarga Al-Biru tapi tidak ada seorang pun yang menyudutkan nya, membahasnya pun tidak.
" Dokter mencari Ansel" Mama Ansel membubarkan obrolan kedua pria yang sedang memerhatikan Ansel.
" Akan ku panggil" Ujar Ben, menyempatkan menghapus air mata wanita yang telah melahirkan Nurry, bos nya, dalam hati Ben saat ini hanya dipenuhi keinginan untuk berbakti kepada kedua orang tua Nurry, Ben ingin menjadi sosok putra pengganti bos nya, tidak untuk dihati kedua orang tua Nurry, tetapi untuk sekedar mengantikan peran anak .
Ansel segera menemui Dokter setelah di panggil oleh Ben
Ansel hanya mengangguk mengerti, tidak ada sepatah katapun untuk bertanya saat Dokter menjelaskan kondisi Rinjani.
Semua yang berada di sana juga mendoakan Rinjani, meskipun harus siap dengan segala kemungkinan buruk, mereka tetap tiada henti untuk terus berdo'a, Dokter hanya menyampaikan bahwa keadaan Rinjani yang semakin lemah, kini berbagai alat penopang hidup untuk Rinjani mulai terpasang di tubuhnya.
" Cucu ku tidak mau meninggalkan rahim Ibu nya, itu berarti janin itu tau bahwa Rinjani akan membuka matanya kan Pa??" Isak Mama Nurry dengan air mata berderai.
Ini bukan kali pertama keluarga Al-Biru di banjiri air mata, tetapi untuk kali ini mereka benar-benar tidak ingin kembali kehilangan menantu, Rinjani seperti akar di hidup Ansel, jika akar tanaman busuk atau hilang, mustahil pohon bisa tetap berdiri tegak, niscaya pohon itu akan tumbang , Rinjani sudah cukup menderita setelah kehilangan banyak orang yang dia cintai, rasanya sangat tidak adil jika dia juga harus jadi seperti ini.
" Rinjani wanita yang kuat ma, dia pasti akan bertahan" Gunam Nikolas memeluk istrinya, menenggelamkan wajah istrinya agar tak melihat air matanya sendiri yang terjatuh, mencoba menguatkan sang istri yang sebenarnya juga sekaligus menguatkan dirinya sendiri
__ADS_1
Tidak ada yang berani menatap wajah Ansel, mereka tau betapa pedihnya hati pemuda itu, setelah berulang kali kehilangan, dia pasti tidak siap untuk kehilangan lagi, dulu anak pertamanya bersama Bulan, lantas anak kedua beserta istrinya, akan sangat menyakitkan jika Rinjani dan buah hati mereka harus kembali terenggut, masalah nya nyawa adalah sesuatu yang tidak bisa di raih lagi setelah hilang meskipun hanya sepersekian detik.
Kini hanya doa yang tiada henti yang mampu mereka semua agungkan, demi keselamatan Rinjani dan juga demi seorang pemuda yang bisa hancur jika kembali kehilangan
Minggu berlalu menjadi Senin, keadaan Rinjani tetap tak ada perubahan, semakin hari Rinjani semakin kehilangan Rona wajahnya, tubuhnya mulai kehilangan suhu, membuat wajah ayunya tampak pucat bagai mayat.
Ansel sedang memeluk si kembar di rumah, setelah dirinya pulang untuk Menganti baju.
Pemuda itu berjongkok di hadapan dua putra mendiang Kakanya
" Doakan mommy kalian Boy__ " Lirih Ansel pada dua pria kecil tanpa dosa itu.
" Daddy orang penuh dosa, mustahil jika Tuhan mengabulkan doa Daddy untuk membuat mata mommy kalian terbuka, berdoalah kepada Tuhan agar mommy segera kembali bersama kita" Ansel menangis di hadapan kedua putra nya. hal yang tak pernah ia lakukan.
Rania sudah pergi ke sekolah, gadis yang sudah beranjak besar itu juga selalu bertanya tentang keadaan Mommy nya, diam-diam juga Rania berdoa dengan melihat foto kebersamaan mereka, Rania selalu berdo'a untuk mengembalikan mommy nya sehat agar bisa bermain bersama mereka kembali.
Pernah sekali Ansel mendapati putri mendiang Kakanya itu menangisi foto Daddy kandungan, dia memohon agar Nurry tidak membawa Rinjani bersama nya, karena Daddy Ansel dan juga adik-adiknya takut kehilangan mommy nya, Rania bilang ke foto Nurry, agar sang Daddy mencari bidadari surga saja jangan ambil mommy mereka.
Ansel menangis, dibalik pintu kamar putri nya, tanpa sadar dia juga menyentuh dadanya, seraya mengaminkan doa putri mendiang Kakanya.
Ansel baru saja mengenakan jas nya saat Ivander tiba-tiba memeluknya dari belakang, Membuat pemuda bertubuh jangkung itu berbalik dan berjongkok di hadapan sang putra
__ADS_1
" Kenapa Boy??" Tanya Ansel mengelus Surai putranya.
" Ikut" Bocah bermata Zamrut seperti mendiang Kakanya itu merengek, jangan tanyakan dimana baby Ivan, putra yang memiliki wajah serupa kayak Ansel itu setelah sarapan pasti akan tertidur, dia tidak rewel sama sekali, hanya saja setiap malam saat mau tidur anak itu selalu mencari mommy nya, tetapi akan tenang jika Ansel memeluknya dan menceritakan khayalan pemuda itu, sebelum Ansel kembali kerumah sakit.
Ansel tersenyum teduh, meskipun saat ini Ansel sangat kalut memikirkan tentang istri nya, tetapi tak sekalipun Ansel memperlihatkan kesedihan nya pada anak-anak nya, baru tadi dia menangis di hadapan si kembar, barang kali pemuda itu sangat frustasi karena doa nya yang tak kunjung di kabulkan.
" Maaf Tuan" Sang pengasuh merasa bersalah, wanita paruh baya itu tau kekalutan hati Tuan nya, merasa bersalah membuat anak asuhnya merecoki Daddynya.
" Tidak apa-apa Bu, tolong ambilkan baju jalan nya, biar aku yang memakaikannya".
Ansel berbicara sambil menciumi pipi tembem putranya.
Sang pengasuh mengangguk, sebelum berlalu ke kamar si kembar.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Seperti biasa, saat jam makan siang, Ansel akan segera datang ke rumah sakit, dengan baby Ivander di gendongannya Ansel berjalan menuju mobilnya, saat tiba-tiba Ben menariknya masuk kedalam mobil, sedangkan Andrean mengambil alih baby Ivander dari gendongan Ansel.
" Kita kerumah sakit"
Hanya itu yang Ansel dengar dari kedua asisten nya itu
__ADS_1
Ben juga langsung melajukan mobilnya kerumah sakit, tidak membiarkan Ansel mengemudi sendiri.
Ansel pun masih terdiam mencerna sesuatu, Ada apa? apa yang terjadi hingga kedua asisten nya itu saling panik begini, Ben juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Ansel di timpa kecemasan.