Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Rasa


__ADS_3

Pagi hari Ansel sudah bercanda dengan anak-anak nya, saat Rinjani mengambilkan tas kantor Ansel, mereka sudah selesai sarapan bersama.


" Mommy Rania berangkat ya'!" Rania meraih tangan Rinjani dan menciumnya sebelum bocah cantik itu masuk kedalam mobil Daddynya untuk berangkat ke sekolah.


" Dasi Kaka selip " Tutur Rinjani sambil membetulkan letak dasi suaminya.


" Terimakasih" Tutur Ansel mengecup singkat kening Rinjani.


" UPS" Ansel tertawa renyah, lupa dengan kehadiran si kembar yang langsung menatap nya tajam, karena Ivan dan Ivander akan cemberut jika mereka tidak di cium terlebih dahulu.


" Come here a double kiss for daddy's handsome son" Mendengar ciuman ganda, kedua bocah gemuk itu langsung tersenyum dan segera memiringkan pipi tembem mereka untuk di kecup Daddynya.


Ansel dan Rinjani tertawa melihat tingkah lucu Putranya, semakin hari mereka tumbuh dengan sehat, menjadi anak baik karena Ansel adalah panutan yang mereka miliki.


Setelah mendapat ciuman ganda dari Ansel, mereka berdua melipir ke kamar untuk bermain lagi, menyisakan Rinjani dan Ansel.


" Nanti aku pulang telat, ada sesuatu yang mendesak untuk segera di tangani, sekalian aku harus evaluasi kerja tahunan, ngak papa kan? kamu jangan terlalu lelah, tidur siang yang cukup, jika butuh aku telepon"


" Apa sampai tengah malam??" tanya Rinjani khawatir, kejadian kemarin belum bisa dilupakan begitu saja.


" Ngak sayang, paling malam jam sembilan aku Udah di rumah, kasihan para karyawan kalau di suruh lembur sampai malam, mereka juga butuh istirahat dan membagi waktu untuk keluarga"


" Kaka memang pemimpin yang pengertian" Puji Rinjani seraya tersenyum.


" Aku ataupun mereka sama-sama lelah dalam bekerja, karena biar bagaimanapun aku juga harus memastikan kenyamanan karyawan, supaya turn-off perusahaan ngak tinggi"


Rinjani mengerti, dan faham dengan pemikiran Ansel, karena pekerja yang nyaman akan bekerja sepenuh hati. Rinjani jadi penasaran bagaimana kondisi perusahaan saat ini ketika pemimpin mereka berganti, dari yang penuntut menjadi penyabar seperti Ansel, dulu jika Rinjani diajak Nurry kekantor meski sekilas, Rinjani bisa melihat seberapa takut mereka para karyawan terhadap Nurry, jangankan menatap dirinya, sekedar mengangkat kepala saja mereka tidak berani.


Ansel tersenyum dan mencium bibir Rinjani sekilas dengan tangan yang mengelus perutnya. " Aku pergi dulu" setelah nya Ansel langsung menuju mobilnya yang sudah ada Rania yang menunggu.


Di kantor, Ansel sedang diskusi dengan Ben.


" Sangat berhasil, belum sampai sebulan aplikasi yang kita luncurkan sudah mendapat jutaan penguna" Ungkap Ben.


Ansel tersenyum tipis.


" Aplikasi seperti ini membuat para jomblo semakin bersemangat untuk mencari pasangan, tetapi tidak menutup kemungkinan kita justru menyediakan jasa untuk membuat para buaya semakin ganas" Tutur Ben.


" Apa kau sudah mencobanya?"

__ADS_1


Ansel mengeleng. " Aku sudah memiliki pasangan kalau kau lupa" Jawab Ansel tersenyum geli.


Ben berdecak. " Kau yang menciptakan aplikasi itu, kenapa kamu ngak mengunakannya?"


Kali ini Ansel menaikan satu alisnya menatap Ben.


" Pemilik pabrik rokok, tidak musti harus merokok kan? kita menciptakan aplikasi ini untuk mendapatkan uang, jadi yaa, bisnis ya bisnis " kata Ansel menurunkan bahunya.


" Aku mendownload nya tetapi aku belum coba"


Ansel hanya mengangguk dan meraih berkas yang baru di berikan oleh Ben beberapa menit yang lalu.


" Kau mau kemana? aku masih ingin kita sama-sama mencoba untuk masuk ke aplikasi__"


Ansel membalik tubuhnya yang jangkung.


" Ben, menurut mu, apa jika aku memiliki pabrik Bra, aku harus mengenakannya juga??"


Alis Ben menyatu, menunggu Ansel melanjutkan ucapannya.


" Kita lelaki, dan memiliki pabrik Bra, kita tidak harus mengunakan nya bukan, karena sesuatu yang harus dibalut bra tersebut tidak ada, begitu juga aplikasi pencari jodoh yang kita temukan, meski kita yang meluncurkan nya tetapi jika kita sudah memiliki seseorang yang kita cintai di sisi kita, apa gunanya mencari kenalan yang sebenarnya kita sudah memiliki nya?"


" Kenapa harus bra juga yang kau perumpamakan??"


Ansel tersenyum miring.


" Karena sepertinya aku dan kamu sama-sama penyuka di balik bra istri kita"


Ansel tertawa dan meninggalkan Ben yang melotot.


Ansel memimpin jalannya rapat tahun ini, rapat berjalan dengan lancar dan sukses, satu jam pertemuan dan mampu menemukan poin-poin penting .


Selesai rapat Ansel menghubungi Rinjani dengan Pangilan video, meskipun peserta rapat masih di ruangan yang sama dan saling merapikan berkas dan laptop Mereka.


" Aku baru selesai meeting, sebentar aku pulang" ucap Ansel begitu wajah cantik Rinjani memenuhi layar ponselnya.


Rinjani tersenyum menatap wajah Ansel yang putih bersih.


" Sudah makan??" Tanya Ansel bertanya

__ADS_1


" Belum, Tunggu makan sama Kaka nanti, ngak enak makan sendirian" ucap Rinjani yang mampu membuat para staf riuh dengan suara cie-cie.


Rinjani tertegun, dan baru menyadari bahwa masih banyak orang di meja rapat.


" Kalian membuat istri ku malu" ucap Ansel yang mampu di dengar Rinjani.


Terdengar gelaktawa ringan dari mereka.


" Pak Ansel, kami duluan, salam buat Ibu di rumah" ucap seseorang yang terdengar berpamitan pada Ansel.


Ansel mengangguk. " Hati-hati kalian semua, saya juga akan keluar, istirahat yang cukup, besok kita masih banyak pekerjaan penting"


" Siap Pak" Kompak mereka menjawab.


Rinjani tersenyum melihat Ansel yang berbincang dengan staff kantornya.


Ansel kembali fokus pada ponselnya. " Aku juga akan pulang, maaf yaa dari tadi aku ngak bisa hubungi kamu, banyak yang musti di urus menjelang tahun baru"


Rinjani tertawa renyah. " Kita kayak pasangan LDR tau Kak, sampai dapat cie-cie segala dari karyawan Kaka, Kaka ngak malu??"


" Habisnya aku kangen banget sama istri aku, lagian mereka juga sudah pada berkeluarga, pasti Taulah menahan rindu itu berat Sayang" jawab Ansel masih tak berniat menutup telponnya, padahal dia sudah masuk kedalam lift.


Sementara Ben, menatap iri pada kepiawaian Ansel dalam memperlakukan istrinya.


" Lagian setiap hari aku ngerasa LDR sama kamu sayang, kecuali di ranjang" Tawa Ansel memenuhi lift, telinga Ben ikut berdenyut mendengar ucapan Ansel, 'pria centil yang bikin iri' batin Ben.


Wajah cantik Rinjani sudah bersemu mendengar ucapan Ansel, dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Ansel.


" Ben, aku duluan, istirahat yang cukup, salam buat Maina" Ucap Ansel sebelum masuk kedalam mobinya.


" Apa ngak dimatikan dulu?" Rinjani melihat Ansel yang duduk dan tersenyum.


" Aku tidak mengemudi, masih ingin lihat wajah cantik istri"


" Kan ngak lama juga ketemu Kak" kekeh kecil terdengar dari sebrang sana, Rinjani merasa lucu melihat Ansel yang manja.


" Aku sedang mencoba menghilangkan rasa capek ku Rinjani, capek banget, akan langsung pulih jika aku melihat wajah mu"


Rinjani tau Ansel memang kecapekan, wajah tampan itu memang terlihat lelah, tetapi tentu saja ucapan Ansel yang mengatakan dirinya pemulih rasa capek, membuat senyum Rinjani terbit, siapa yang tak senang di perlakukan manis setiap hari, pemuda yang sedang duduk bersandar di dalam mobil itu adalah tumpuan hidup untuk keluarganya dan juga pemuda yang telah merenggut hati seorang istri.

__ADS_1


__ADS_2