Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Takut


__ADS_3

Karena sebuah tragedi, Rinjani jadi tau seberapa banyak orang yang begitu menyayangi Ansel.


Setelah Operasi pengangkatan peluru di nyatakan berhasil, Rinjani benar-benar menangis karena rasa takut yang mendera, Ansel masih dalam keadaan koma, hilir mudik teman, sahabat, kepolisian dan semua orang yang mengaku rekan suaminya silih berganti. Tak mampu membuat Rinjani menengadahkan kepalanya, Rinjani hanya menunduk, meringkuk dengan ketakutan yang mendera hingga menembus relung hatinya yang paling dalam.


Ibu Maria juga terus mengingatkan Rinjani tentang janin dan memaksa Rinjani untuk menelan makanan, agar dirinya tetap sehat begitu pun dengan janinnya


Rinjani baru tau bahwa Ansel sangat di sayangi banyak orang, di negara yang jauh dari sanak keluarga tetapi Rinjani merasakan support dan rangkulan banyak orang yang silih berganti memberinya semangat pun dengan nasehat


Bisikan kekuatan selalu menyertainya dimana dirinya mendudukkan diri, tiga hari Ansel masih belum juga membuka mata.


Rinjani juga sudah tak mampu berkata-kata, diam dengan hati yang di naungi rasa was-was setiap saat.


Menunggu yang setiap detiknya terasa mencengkram, setiap kali ada raungan tangis maka air mata Rinjani lagi-lagi ikut mengalir, satu-persatu tangis keluarga yang berada di ruang yang sama dimana Ansel dirawat telah berpulang, seolah Rinjani menunggu giliran dimana tangisnya juga tak terbendung. hati Rinjani ikut Kelu ketika menyaksikan seorang wanita yang menangis histeris saat suaminya tak tertolong paska mengalami kecelakaan lalu lintas, meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya yang masih kecil.


" Kita semua disini untuk Ansel, mendoakan Ansel, Ansel anak yang baik, pasti Tuhan akan mendengar doa kita" Ibu Maria sama sekali tak pernah meninggalkan Rinjani, terus menemani wanita yang seolah kehilangan semangat hidup nya.


" Apa salah ku Bibi? Mengapa semua yang kucintai di ambil Tuhan, mengapa tidak aku saja yang tertembak, kenapa harus Ansel??" Rinjani menengadahkan kepalanya, wajah Rinjani tak kalah pucatnya dengan Ansel, sepanjang hari hanya menangis dan menangis.


" Sayang jangan seperti ini, ingat ada Ivan, Ivander, Rania dan juga calon anak kalian yang masih membutuhkan mu, Ansel juga akan sedih jika melihat mu seperti ini" Sebenarnya Ibu Maria tak kalah sedihnya, Ansel sudah bersamanya sepuluh tahun, membuat dirinya menganggap Ansel adalah putranya yang di titipkan Tuhan.


Air mata Rinjani sudah tak terbendung lagi, tubuhnya bergetar, kondisi Rinjani sedang tidak baik-baik saja, dirinya sedang terguncang dan shock, Rinjani seolah kehilangan harapan nya.

__ADS_1


" Rinjani tolong jangan seperti ini" Tiada hentinya juga teman, sahabat Ansel terus menenangkan Rinjani, mereka semua turut sedih , setiap orang turut mengenggam tangan Rinjani dan memberitahu bahwa mereka disini untuk sama-sama mendoakan Ansel


Siapapun bisa putus asa dalam situasi yang dialami oleh Rinjani, lika-liku hidupnya tidaklah mudah, tetapi tak hayal keadaan Rinjani juga membuat semua sahabat dan teman Ansel turut khawatir, terlebih untuk keluarga Al-Biru


Kedua orang tua Ansel juga sudah datang , ketiga anak Rinjani di jaga oleh keluarga Al-Biru, mengerti bahwa keadaan Rinjani juga tidak baik mereka semua tidak ingin membuat Rinjani semakin tertekan dan lelah lahir batin.


Papa dan Mama Ansel juga tidak tahan melihat menantunya yang semakin terpuruk seperti itu. Rinjani jelas tidak akan sanggup jika harus kehilangan sekali lagi, jelas sekali dari tatapan mata menantu ya yang tak ada lagi binar harapan.


" Oh Tuhan__ " Mama Ansel sedih dan juga terharu mendengar Rinjani yang juga tengah mengandung darah daging Ansel, di tengah kesedihan mereka, seolah ada sinar kecil yang menerangi hati mereka.


Memang tidak ada yang pernah tau soal umur, yang tua atau yang muda, yang sehat atau yang sakit. bahkan siapapun bisa pergi sewaktu-waktu.


" Istirahat lah sayang" Papa Ansel sudah tak sanggup untuk tak merangkul menantunya, untuk kedua kalinya menyaksikan kehancuran seorang wanita yang menjabat sebagai menantu tidak lah hal yang menyenangkan, yang ada hatinya ikut merasa teriris pedih, bukan soal Ansel saja tetapi soal wanita yang sudah kehilangan harapan, bukan tidak mungkin Rinjani benar-benar mengakhiri hidupnya jika terjadi sesuatu yang buruk pada Ansel.


" Ya Tuhan__" Papa Ansel ikut menangis memeluk menantunya, Rinjani sudah seperti putri kandungnya, sama sekali tidak tega melihat kesedihan di wajah Rinjani.


Rinjani baru saja menyuap makanan nya ketika Remon mengatakan kondisi Ansel kritis.


Wanita itu langsung melompat dari tempat nya duduk, membuat semua orang panik dan terkejut


" Rinjani tenangkan dirimu" teriak Ibu Maria dan kedua mertuanya, Remon juga langsung mengejar Rinjani

__ADS_1


" Izinkan aku masuk tolooooooonggg" Iba Rinjani meronta saat para perawat menutup pintu yang di tempati Ansel.


" Rinjani tenanglah, Ansel sedang di tangani, doakan semua baik-baik saja, semoga setelah ini kondisinya bisa stabil"


Tubuh Rinjani merosot ke lantai, tangannya meremas perutnya yang tiba-tiba sangat nyeri, Dokter dan perawat sigap langsung melarikan Rinjani ke ruang tindakan.


" Luruskan kaki mu Rinjani, ayolah ini sangat berbahaya untuk kehamilan mu, please!! tenangkan dirimu, agar janin mu baik-baik saja" Remon menasehati Rinjani, Remon adalah sahabat Ansel yang sudah seperti sodara, istrinya adalah keponakan Ibu Maria, istrinya juga sedang hamil muda, melihat Rinjani Remon seperti melihat istrinya, ikut sedih melihat istri sahabatnya ini terguncang.


" Jangan hiraukan aku Remon, tolong selamatkan Ansel untuk ku, aku mohon" Rinjani memohon dengan menangkup kedua tangannya di dada, seolah sesuatu yang diminta bisa di kabulkan dengan hanya berkata iya atau tidak, padahal Remon pun tak tau apa yang akan terjadi pada sahabatnya, tergantung takdir Tuhan, saat seperti ini manusia akan sadar, bahwa uang tidak bisa membeli segalanya, hanya doa yang tulus yang mungkin akan di kabulkan.


" Rinjani yakinlah Ansel akan baik-baik saja, dia pemuda yang kuat" lirih Remon seperti bergunam dan membaca mantra untuk nya sendiri, pasalnya dia pun belum yakin .


" Bagaimana? apa sudah tidak kram??" Remon melihat perut rata Rinjani sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Remon adalah Dokter kandungan jadi akan lebih ahli dalam menangani Rinjani dibanding Ansel.


" Ya, hanya sedikit kaku" jawab Rinjani dengan lelehan air mata.


Kedua orang tua Ansel masuk dengan air mata berlinang, membuat Rinjani tegang dan ketakutan


" Sayang Ansel sadar" tetapi ucapan kedua mertuanya mampu mengurai ketegangan nya.


Rinjani langsung mendudukkan dirinya dan bergegas turun. " Aku akan menemui Ansel"

__ADS_1


" Astaga wanita itu" Remon sampai terkejut dengan gerakan Rinjani yang begitu gesit.


Rinjani menghiraukan apapun tujuannya adalah kamar dimana suaminya berbaring, rasa nya langkahnya terasa sangat lama untuk segera sampai, dengan tidak sabaran wanita yang tengah mengandung itu berlari hingga matanya menemukan mata suaminya yang benar-benar sudah terbuka.


__ADS_2