
" Rania biarkan tetap bersama kami !" Mama Ansel seperti tak setuju dengan keinginan putra nya
Ansel mengeleng
" Ma, Rinjani mau menikah dengan ku salah satunya karena adanya Rania, kini Rania adalah putriku, begitupun dengan si kembar, biarkan aku mendidik anak dan istri ku sesuai dengan apa yang menurut ku benar dan baik untuk mereka!"
Mamanya tampak sendu " Bukan begitu maksud Mama Sel, tetapi Mama tidak ingin berjauhan dengan kalian!"
Ansel mengenggam tangan Mamanya , kemudian membawa mamanya masuk kedalam pelukannya " Kalau begitu Mama dan Papa ikut bersama kami"
Mama Ansel mengeleng di dada putranya " Belum saatnya, Mama dan Papa masih sanggup untuk berbisnis" Sanggah Mama Ansel meraih tangan suaminya
Papa Ansel menepuk pundak putra nya, dan Ansel juga langsung memeluk Papanya dengan pelukan ala lelaki
" Kami pasti akan ikut kalian, tetapi bukan untuk sekarang" Papa Ansel menepuk bangga dada putranya yang tampak kokoh seperti tubuhnya saat muda, meskipun kini dadanya masih tampak kokoh, tetapi tenaga pria menjelang usia 60tahun itu sudah tak lagi sama seperti dulu
" Bawalah Istri dan anak mu kemanapun Ansel, Papa dan Mama akan mengunjungi kalian bahkan di ujung dunia pun!" Mata tua itu tampak begitu mirip dengan tatapan Nurry saat menatap Ansel
" Papa berdo'a agar Tuhan memberi waktu yang cukup untuk Papa, agar bisa melihat kau sukses dengan caramu, begitupun Mama mu "
Ansel tersenyum dan mencium tangan Papa nya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan, dan itu cukup membuat dada Nikolas berdenyut, menikmati rasa bakti putra yang dulu selalu ia sembunyikan dari khalayak karena keadaannya. Tidak menyangka air matanya menetes karena rasa haru
" Berjanjilah kalian akan baik-baik saja" Nikolas menghapus kasar air matanya
Kini giliran Rubbyan yang kembali memeluk putranya " Mama percaya kau akan menjadi Daddy yang hebat untuk cucu-cucu Mama dan juga menjadi seorang suami yang sempurna seperti Papamu"
Ketika Rinjani bangun, hari sudah pagi dan Ansel sedang memeluknya pun dengan ketiga anaknya. Membuat Rinjani tak bisa mencegah senyumnya. Rinjani meraih tangan suaminya dan menciumnya berulang-ulang. Ansel sampai ikut terbangun, tetapi tidak ingin bergerak sampai ia mendengar isakan rendah dari Rinjani dan punggung tangannya terasa lembab karena cairan hangat yang merembes dari sudut mata istrinya.
__ADS_1
Ansel menangkup wajah Rinjani yang menangis " Sayang aku tak tau apa yang membuatmu menangis. Tetapi aku berharap ini bukan tangis kesedihan!" Rinjani mengangguk dan segera meraih bibir suaminya, menciumnya lagi dan tak ingin berhenti karena rasanya Rinjani tak bisa puas"
Ansel terkekeh kecil saat ciuman mereka terlepas, dan menemukan wajah Rinjani yang bersemu
" Apa kau ingin berendam?" Ansel mendekatkan bibirnya ke telinga Rinjani " jangan disini, rawan ada mata suci anak-anak kita yang tak seharusnya melihat kemesuman orang tuanya"
Rinjani malu saat Ansel berkata demikian, biar bagaimanapun ucapan Ansel benar, tidak seharusnya mereka berciuman di kamar anak nya, bagaimana jika tiba-tiba Rania atau si kembar bangun?
Setelah turun dari ranjang yang di gunakan untuk tidur ber lima, Ansel segera mengendong Rinjani untuk kembali dibawanya ke kamar mereka sendiri, Rinjani sendiri tidak banyak bicara menikmati setiap detik yang terlewat di dalam gendongan sang suami
Ansel membawa Rinjani berendam air hangat, waktu shalat subuh masih satu jam lagi, masih banyak waktu untuk saling bermanja seperti ini
Rinjani terus merapat kearah suaminya, Ansel juga mengosok lembut punggung Rinjani dengan spon yang di penuhi busa, sesekali tangan nya mengelus perut Rinjani yang sudah terasa keras dan membulat
" Aku akan berjuang untuk membahagiakan kalian, kita akan pergi dari kota ini" Ansel berkata dengan suara pelan, namun Rinjani tetap dapat mendengarnya, tapi Rinjani sama sekali tidak bertanya lebih lanjut, mempercayakan keputusan Ansel yang akan membawa mereka melanjutkan hidup dimanapun, Rinjani percaya Ansel bisa menjadi suami dan Daddy yang sempurna untuk anak-anaknya
Meski tadinya Rinjani cukup terkejut, tetapi Rinjani langsung menerima sentuhan dari suaminya dengan penuh cinta dan perasaan yang ingin saling di lepaskan, mereka bercumbu lembut, saling menyesap rasa manis yang membuat candu
" Kak ... !"
" Ku harap kau tidak keberatan jika kita harus mandi lagi!"
Ansel terus membelai Rinjani yang dibuatnya polos di bawah naungan tubuh besarnya, Rinjani semakin cantik dengan perutnya yang membulat, Ansel semakin terpesona dengan keindahan istrinya. Ansel tidak tahan untuk menciumnya lagi, mengosongkan hidung, rahang dan dagunya kepermukaan Perut Rinjani
Rinjani dan Ansel juga bisa merasakan dan menikmati malaikat kecil mereka yang berkedut di dalam sana, membuat keduanya merasa sangat luar biasa bahagia
" Jagoan Daddy ngak boleh rewel ya sama mommy! kasian mommy nya yang bawa adek di perut" Ucap Ansel mencium pipi kedua putranya.
__ADS_1
Ivan dan Ivander mengacungkan jempol tangan mereka dengan mulut yang penuh kue manis kesukaan mereka
" Pintar" Ansel menepuk kepala putranya lembut sebelum menghampiri Rinjani
Rania datang dengan mengulurkan tangannya untuk mencium tangan mommy nya sebelum masuk kedalam mobil Daddynya
" Hati-hati kak!" Pesan Rinjani untuk sang putri, yang di balas Rania dengan meletakkan telapak tangannya di kening seperti seorang yang hormat bendera yang membuat Rinjani tersenyum
" Lanjutkan makan nya, aku janji akan pulang cepat hari ini, mungkin Tante Hanny dan Jeselyn masih akan merecoki kita, tetapi kau jangan khawatir, ada bodyguard yang sudah ku minta untuk menjaga kalian!"
Ansel mencium puncak kepala istrinya yang dibalas Rinjani dengan mencium punggung tangannya seperti kebiasaannya saat Ansel hendak pergi ke kantor. Ansel baru saja melangkah saat dirinya tiba-tiba berhenti dan kembali berbalik untuk kembali memeluk tubuh istrinya, tak lupa membelai perutnya dan menunduk untuk mencium di bawah sana yang membuat Rinjani tersenyum, Rinjani mengelus surai suaminya yang menunduk
" Hati-hati!" Rinjani melepas kepergian suaminya dengan hati yang tak bisa dibilang baik, karena sebenarnya Rinjani khawatir dengan Ansel yang berurusan dengan mafia, karena Ansel tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan yang mereka sepakati
" Tolong Kak, tolong bujuk anakmu, dia menyayangimu dan akan mendengarkanmu" Hanny dan jeselyn mengiba dengan air mata yang terus mengalir
Nikolas menghela napasnya dalam menatap kedua adiknya yang sudah membuatnya sangat kecewa
Merasa tak ada tanggapan dari sang Kaka. Jeselyn dan Hanny merangkak dan bersimpuh di hadapan Rubbyan
" Kami akan berhutang pada mu seumur hidup, tolong rubah pendirian Putra mu!"
Hanny dan Jeselyn benar-benar memohon, mereka sudah sangat putus asa, uang yang harusnya terkumpul, sampai hari ini bahkan separuhnya belum ada, mereka akan benar-benar kehilangan harapan jika Phonix Jabir akan mengambil putri mereka
Sedangkan kedua orang tua Ansel tidak berani mengatakan apapun, Karena mereka yakin Ansel pasti memiliki pemikiran yang sangat matang. Pasti juga Ansel sudah sangat paham dengan semua resiko dari pilihannya dan pastinya Ansel bukan Pemuda yang mudah di ubah pendiriannya dengan sebuah permohonan seperti ini
Di markas besar Phonix Jabir. Pria itu juga seperti menunggu keajaiban dengan ingin melihat kembali wajah pemuda keren yang sempat mencuri ketenangan jiwanya, andai saja dirinya memiliki anak perempuan, dengan keras kepala dia akan memaksa pemuda itu untuk menikahi putrinya dan menjadi menantu idaman nya, sayang bahkan Putranya baru menginjak usia dua dan lima tahun membuat pemikiran Phonix Jabir pecah dan merasa mustahil untuk meluluhkan hati pemuda yang sangat keren menurut pandangannya
__ADS_1