Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Kekesalan Ben


__ADS_3

Ben mengendarai mobilnya menuju rumahnya bersama Istri dan putri nya, begitu melewati toko bunga, tiba-tiba Ben menghentikan mobilnya, entah mengapa melihat perlakuan Ansel pada istrinya membuat hatinya ingin sedikit bertingkah seperti itu, ada hal yang seolah mencubitnya, terlebih saat Ansel tadi sampai memeriksa jari-jari Rinjani sebagai candaan dan juga mengoda kecil istrinya, membuat perlakuan manis itu terbayang sampai saat ini, betapa beruntungnya wanita yang di hujani kasih sayang dan cinta seperti Rinjani, sedangkan Maina tak pernah ia perlakuan seperti itu, padahal wanita itu sudah sangat berkorban untuk nya.


Setelah membeli bunga mawar untuk Maina, Ben segera bergegas pulang, sampai di halaman rumah nya, Ben buru-buru turun kebetulan Maina tengah duduk di ruang tamu .


" Kak Ben" Maina menatap wajah suaminya lekat, mengapa suaminya cepat pulang? Bukankah bos nya sedang tertimpa musibah.


" Kaka Pulang cepat??"


" Ya, begitulah" Jawab Ben datar dengan tangan mengulurkan bunga untuk sang istri.


" Untuk ku Kak??" Tanya Maina menyambut buket bunga mawar dari tangan Ben.


Melihat wajah istrinya yang begitu bahagia, kata-kata yang sedari tadi di rangkainya malah menguap tak tersisa.


" Ya Tuhan, cantik banget, terimakasih ya Kak" Maina mencium bunga di tangan nya.


" Kak Ben sudah makan??" Tanya Maina mengandeng tangan suaminya kedalam.


" Ya"


" Mau mandi?"


" Em"


Setelahnya Ben masuk kedalam kamar, Ben kesal terhadap dirinya sendiri, pasalnya kenapa dirinya tidak bisa mempraktekkan apa yang sedari tadi ingin dia lakukan?? Ben menghembuskan napasnya kasar.


Segera membawa dirinya memasuki kamar mandi, berharap setelah berendam , otaknya sedikit encer dan bibirnya bisa di ajak kompromi untuk mengombal, dua puluh menit Ben berada di kamar mandi, saat keluar, istrinya sudah menyiapkan pakaian nya , Ben langsung memakainya dan mencari keberadaan Maina


Ternyata Maina masih sibuk dengan bunga yang tadi dirinya berikan.


" Mai" Panggilnya menghampiri sang istri.


" Ya Kak" Wanita manis itu langsung tersenyum melihat Ben yang mendekat.

__ADS_1


Bibir Ben tak mengatakan apapun, bahkan meski Maina sudah memeluknya.


" Kak Ben, Mai kangen, padahal baru sebentar Kaka pergi tapi rasanya Mai udah rindu" Manja Maina di dada bidang Ben.


Ben mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, otaknya ingin berkata manis tetapi bibirnya tak juga mengucap.


" Jam berapa nanti Aalona pulang?"


" Jam dua kak, biar Mai saja yang jemput, Kak Ben tidur siang saja" Ucap Mainan mengurai pelukanya.


Ben hanya mengangguk, pria itu nyatanya tak bisa bertindak sebagai mana yang dia inginkan.


" Kenapa Kak Ben tampak gelisah? Apa ini berkaitan dengan keadaan Tuan Kaka, bagaimana mereka kak, apa mereka baik-baik saja??"


Pertanyaan Maina sama sekali tak mendapat jawaban, karena bibirnya langsung di rampas oleh sang suami, akhirnya Ben memutuskan bergelut daripada berkelakar, terlalu sulit baginya untuk merayu, biarlah Ben menunjukkan rasa sayang nya melalui perbuatan nya, karena ternyata tidak semua pria bisa menjadi seperti Ansel.


Tanpa kata, tanpa aba-aba, Ben sudah membawa tubuh kecil istrinya ketempat peraduan mereka, menyalurkan rasa sayangnya melalui perbuatan itu yang sedang Ben inginkan.


" Apa tidak masalah?, padahal kak Ben baru saja mandi" Lirih Maina berbicara.


Maina tak lagi bicara, wanita itu hanya pasrah menerima perlakuan Ben, Maina juga tau perkataan Ben bukanlah sebuah kesombongan melainkan cara pria itu menanggapi memang ketus seperti itu, Maina sama sekali tidak tersinggung.


Di kediaman keluarga Ansel.


Ansel Sedang membantu istrinya mandi, pemuda itu dengan lembut mengosok punggung istrinya dengan spon.


" Aku ingin sampai tua kita seperti ini Rinjani" ucap Ansel sesekali mendaratkan bibirnya di bahu istrinya yang polos dan basah.


" Aku ngak kuat kak" Lirih Rinjani


" Apa sayang??"


" Aku ngak kuat kalau sampai tua kita begini, aku pegel berdiri dan digosok sampai tua" jawab Rinjani mengoda Suaminya.

__ADS_1


Ansel terkekeh. " Maksudnya kita selalu mesra Sayang" Ujar Ansel memutar tubuh Rinjani dan menciumnya bertubi-tubi. " Gemes deh sama kamu sudah mulai pinter ya godain suami" ucap Ansel sambil menoel hidung Rinjani.


Rinjani tersenyum dan memeluk tubuh Ansel, sehingga mau tidak mau baju pemuda itu basah


Setelah mandi, Rinjani keluar lebih dahulu, sedangkan Ansel musti mengulang mandinya karena pakaian pemuda itu basah.


Rinjani sudah memakai pakaian dan sedang duduk di meja rias saat Ansel keluar hanya dengan jubah mandinya yang di ikat longgar, hingga dada bidang yang kokoh itu terlihat.


" Sayang apa kau tak ingin membantuku berpakaian" Ansel mengerling manja


" Ngak ah, nanti malah aku yang berakhir tak memakai apa-apa" ujar Rinjani yang membuat Ansel tergelak, entah mengapa Ansel merasa Rinjani sudah bisa beradaptasi dengan dirinya, kalau dulu hanya sekedar menjawab, kalau sekarang Rinjani sudah mulai ikut menjahilinya, Ansel benar-benar bahagia, karena itu tandanya Rinjani sudah benar-benar nyaman berada di sisinya.


" Istriku bener-bener" Ucap Ansel mendekat, tubuhnya membungkuk mencium puncak kepala Rinjani yang masih sedikit basah.


" Bener-bener apa?" tanya Rinjani menengadah.


Ansel menatap pantulan mereka di cermin.


" Bener-bener Cantik" Ucap Ansel menatap lembut melalui pantulan cermin. Rinjani juga menatap wajah suaminya disana, sama-sama mengamati dari bayangan mereka.


" Suamiku juga benar-benar tampan" Rinjani tersenyum.


" Kau bilang apa sayang"


" Kak Ansel juga sangat tampan" Ulang Rinjani tanpa sungkan, yang membuat Ansel tak mampu untuk tak tersenyum lebar.


" Tunggu aku berpakaian, kita turun bersama, setelah main sama anak-anak nanti sore kita jalan ke bengkel untuk mengembalikan motor, sekaligus bawa mereka kemana saja biar mereka tak jenuh"


Rinjani mengangguk dan melanjutkan acaranya menyisir rambut.


Rania langsung berlari ke arah Rinjani saat anak itu baru saja tiba.


" Mommy, Rania juara 1" Anak sulung Nurry itu menunjukkan sebuah lukisan ikan koi yang sangat indah yang sedang terlihat di bawah cahaya bulan purnama, Rinjani takjub dengan ketrampilan putri nya, Rania benar-benar siswi yang pintar.

__ADS_1


" Selamat Kaka, mommy bangga sekali" Rinjani memeluk putrinya yang sudah tumbuh semakin besar, Rania juga begitu bahagia saat Rinjani berkata bangga, Rinjani selalu mendukung kegiatan Rania, apapun itu asal bermanfaat dan membuat Rania senang Rinjani selalu dukung, termasuk Ansel, pemuda itu juga aktif menemani Rania belajar dan mendengarkan segala keluhan Rania, membuat Rania tak pernah merasa tak memiliki orang tua, karena Ansel dan Rinjani benar-benar memperhatikan dan memperlakukan gadis kecil itu layaknya putri kandung mereka.


Bahkan Rania selalu membanggakan kedua orang tua sambungnya, tak pernah lagi Rania sedih kehilangan Mommy dan Daddy kandungnya, karena Tuhan mengantikan mereka dengan Daddy dan Mommy baru, yang mencintainya dengan tulus.


__ADS_2