Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Dendam salah sasaran


__ADS_3

Mama Ansel menyerahkan lembaran foto itu kepangkuan Darius.


Tangan Darius bergetar melihat tiga wanita cantik yang memiliki wajah serupa tersenyum dengan memamerkan gigi-gigi tapi mereka.


Darius mendongak, melihat kearah mama Ansel yang berlinang air mata.


" Rubbyan, Vabbyan dan Sabbyan , aku adalah Rubbyan yang memakai baju biru muda, yang mengenakan baju putih, dia adalah Vabbyan dan yang mengenakan baju merah muda itu adalah Sabbyan, kami kembar tiga, tetapi kami hidup terpisah, aku di Mexico, Vabbyan di Indonesia, sedangkan Sabbyan ikut nenek ke Turki" air mata Mama Nurry menetes sekali lagi


" Ternyata Anda lah laki-laki yang merusak adik saya, ternyata kamulah pria yang tidak bertanggung jawab itu" tunjuk Mama Nurry bengis, dengan mata yang nyalang.


" Dimana Vabbyan??" Tanya Darius termenung.


" Mati"


" Apa??"


" Kau terkejut?? kaulah yang membuatnya mati Darius" Marah Mama Nurry.


" A-apa maksudnya??" Darius bergeming dengan tubuh yang babak belur.


Mama Ansel tersenyum pedih, " Tiga puluh tahun yang lalu, ingatkah kau disaat pertama kalinya alun-alun kota di sahkan??"


Tentu saja Darius ingat, karena di malam itu dirinya mengetahui kekasihnya selingkuh.


Darius hanya mengangguk


"Malam itu menjadi malam terakhir kami melihat adik kami, karena setelah malam itu lewat kami hanya mendapatkan kabar bahwa ada seorang wanita yang diperkosa dan mayatnya di buang di sungai, kau tau siapa wanita itu?? wanita itu adalah Vabbyan, semua bukti dan ciri-ciri sama persis dengan sodari kami"


Mama Nurry mendorong bahu Darius


" Aku benci kamu Darius, di hari sebelumnya Vabbyan berjuang untuk mendapatkan restu orang tua kami, saat mengatakan dirinya jatuh cinta dan mengandung , dalam kepercayaan kami berhubungan tanpa ikatan itu dosa besar, terlebih ketika Ayah tau kalian beda kepercayaan, adik ku sampai bersujud berjam-jam demi Ayah ku merestui kalian."


" Adik ku adalah anak kesayangan Ayah, dia lembut dan penurut, setelah menghakimi putrinya akhirnya Ayahku luluh dan meminta pemuda yang menghamilinya datang baik-baik ke rumah kami, tapi nyatanya kamu tidak datang"

__ADS_1


" Aku datang, tetapi hatiku hancur berkeping-keping, malam itu saat melihat wanita yang kukira vabby sedang berciuman di teras dan pergi mengunakan mobil" sanggah Darius. " Aku marah, aku kecewa dan aku pergi ke klub, hingga aku meniduri wanita yang sekarang menjadi Ibu dari Ben"


" Kau sungguh menjijikkan" Maki mama Nurry. " disaat adik ku sibuk mencari mu, menyusul mu dirumah mu kau malah tidur dengan wanita lain? dia sampai kehilangan nyawa karena terus mencarimu, Ayah dari bayi yang dia kandung, kau menghilang tanpa kabar, bahkan sampai dia tiada untuk selamanya"


Mama Nurry sesegukan


" Kenapa kau tidak mengenali orang yang kau cintai?? bahkan aku dan vabby banyak perbedaan, rambutku dan rambutnya memiliki warna yang berbeda, dia tidak suka dengan warna gelap sedangkan aku lebih suka warna gelap, yang lebih mencolok di leher Vabby memiliki tanda lahir sedangkan di leherku Tidak"


" Aku tidak tau, aku cemburu buta, terlebih saat televisi menyiarkan kabar keluarga Al -Biru yang akan mendapatkan keturunan" lirih Darius. " Aku diliputi dendam" tambahnya.


" Itu kehamilan kedua ku, tapi sayang dia juga gugur sebelum hadir Ansel, anak pertama kami sudah lahir saat kami datang dari Mexico, kami merintis usaha di Indonesia setelah Vabbyan tidak ada, bahkan Nurry sudah berusia satu setengah tahun waktu itu" jelas Mama Nurry menerawang masa lalu.


Dada Darius bergemuruh, jadi kebencian yang mendarah daging itu ternyata salah alamat, justru dirinyalah yang salah disini?.


Obrolan mereka terjeda saat melihat Rinjani dan Ben yang di bawa keluar.


" Ada apa??" Tanya Mama Nurry pada suaminya.


Mama Nurry membekap mulutnya shock


Mama Nurry menangis histeris, Ayah Ben juga tak mampu bersuara, dialah yang tadi mendorong Rinjani, hingga tubuh wanita itu terjerembab dan keningnya terbentur ujung keramik tangga, Tetapi Darius sama sekali tidak tahu jika Rinjani sedang Hamil.


Baru saja ingin menanyakan perihal Ben, Dokter keluarga Al Biru mengabarkan bahwa Ben, harus segera di bawa kerumah sakit untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya, jika tidak pendarahan akan semakin banyak dan Ben bisa tidak tertolong.


Darius terpengkur, dirinya diam bagai patung, apa yang sudah dia perbuat, pada orang-orang yang nyatanya tidak salah, terlebih Putra nya, kehancuran Ben di masa lalu adalah ulahnya.


Pria yang suka mengenakan kursi roda meskipun tidak cacat itu menangis dalam hati, dia bersalah, sangat bersalah, dadanya bergemuruh karena rasa malu dan rasa bersalah.


Semua ikut kerumah sakit, hanya tinggal dirinya yang diam bagai patung di kelilingi bodyguard dari pengacara keluarga Al-Biru, bodyguard yang bertugas di kediaman orang tua Nurry di bius dan belum sadarkan diri.


" Bawa aku ke kantor polisi, tetapi sebelum itu aku ingin menghubungi seseorang" iba Darius pada pengacara keluarga Al-Biru.


Dam, mengizinkan, nyatanya dia sudah memanggil pihak kepolisian, Darius melakukan tindakan pidana berlapis, bahkan pasti Darius juga tidak memiliki izin resmi kepemilikan senjata api.

__ADS_1


Entah siapa yang di hubungi oleh Darius, tetapi pria paruh baya itu tampak mengiba dengan tangis, seolah membujuk disertai kata maaf berulang-ulang.


Ben sudah di tangani, begitupun dengan Rinjani.


Ansel dan keluarga Al-Biru, duduk dengan cemas menanti kabar baik dari anggota keluarga mereka.


Ansel hanya menatap nanar pintu dimana sang istri di tangani, air mata pemuda itu tidak hentinya mengalir, dia kecewa, sakit dan sedih, kecewa karena dirinya tidak bisa menjaga istrinya, sakit karena melihat kesakitan istrinya, sedih, karena dia sangat takut kehilangan diantara salah satunya.


" Mengapa ada kejadian seperti ini??" Bisik Mama Ansel menatap pedih putra nya yang hanya diam tanpa suara, Ansel baru saja berbahagia sebentar, mengapa harus ada kejadian seperti ini??


Keduanya masih di tangani, saat tiba-tiba seorang wanita hitam manis ikut duduk bersama mereka dengan air mata yang berlinang.


" Ben masih di tangani tenanglah" Dam, pengacara keluarga Al-Biru mengatakan itu pada si wanita membuat Mama dan Papa Ansel menoleh.


" Dia wanita yang sangat dicintai Ben, tetapi karena ke egoisan Darius, dia tega memisahkan putra nya dari calon istrinya, karena maina adalah wanita biasa"


Wanita yang dikatakan calon istri Ben itu tersenyum dalam tangis menyapa Mama dan Papa Nurry, terlihat wanita yang sangat lembut.


Ya Tuhan___ ternyata kekejaman Darius sudah sangat keterlaluan.


" Dimana Darius??"


" Sudah di tempat semestinya" ungkap Dam


" Dam, apa kecelakaan Nurry ada sangkut pautnya dengan masalah ini??"


" Sepertinya begitu"


Jawaban Dan, mampu membuat dada orang tua Nurry sesak, mereka menjadi korban balas dendam yang sama sekali tidak mereka ketahui.


Air mata Mama Nurry kembali luruh, dia tidak ingin kehilangan lagi, cukup Nurry, Bulan, dan ketiga cucunya yang tidak ada, jangan sampai ada lagi nyawa yang hilang karena dendam salah sasaran.


Saat ini orang yang menatap Ansel pasti tau pemuda itu sedang tak bergairah sama sekali dengan sekitar, Ansel hanya diam dengan wajah yang memandang lurus ke arah pintu dimana sang istri di tangani, sebagai orang tua, mereka hanya mendoakan yang terbaik untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2