Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Pertemuan dan ketakutan Rinjani


__ADS_3

Ansel baru saja akan mengecup bibir istri nya, saat tiba-tiba pintu di ketuk.


" Masuk" ucap Ansel sambil menggeser sedikit tubuhnya dari hadapan sang istri.


" Sudah di tunggu" Ujar Ben dengan melongokkan kepalanya.


" Mau kemana??" Tanya Rinjani bingung.


" Ada masalah sedikit sayang, harusnya kita meeting sore, tetapi tiba-tiba mereka ingin mengajukan pas jam makan siang" Ucap Ansel dengan tangan merapikan dasi nya


" Kenapa tidak di cancel saja??"


" Hanya sebentar" Ucap Ansel membelai pipi Rinjani


" Tapi Kaka belum makan!"


" Tidak akan lama Sayang, ini proyek impian Niel yang harus kami wujudkan"


Mendengar ucapan Ansel, akhirnya Rinjani mencoba memahami, entahlah! dirinya juga pernah menjadi pemimpin dulu dirinya tak se pengecut ini, kenapa sekarang dirinya begitu manja?? akhirnya Rinjani rela di tinggal pas lagi ingin berduaan, resiko punya suami orang penting ya begini, harus siap di tinggal pas lagi nanggung.


Ansel sudah sampai di ambang pintu saat kepalanya kembali menoleh " Kamu bisa istirahat di kamar atau jalan-jalan di kebun buah kantor, minta antar pak satpam, jangan pulang aku hanya sebentar"


Pesan Ansel di angguki Rinjani.


Akhirnya Rinjani meminta pak satpam untuk membawanya ke kebun buah kantor yang di maksud Ansel, bibir Rinjani menganga takjub saat melihat aneka buah -buahan yang tertanam rapi baik di pot besar maupun polibag yang bergantungan, ada tomat Cherry, strawberry, kelengkeng cangkok yang sudah mulai berbuah dan banyak lainnya, yang membuat Rinjani kagum adalah letak kebun buah kantor suaminya yang memanfaatkan lahan kosong atas gedung, luar biasa, siapa yang menyangka pemanfaatan atap kantor bisa se asri ini, tampak hijau menyegarkan mata.


Rinjani menikmati pemandangan itu dengan hati yang sejuk, sesekali memetik buah di sana yang langsung bisa di nikmati meski rasanya belum terlalu manis, meskipun tampak sudah siap panen


Sampai merasa cukup lama dirinya di sana akhirnya Rinjani memutuskan untuk turun, tetapi di ujung tangga terakhir, Rinjani berhenti melangkah


" Rinjani"

__ADS_1


Rinjani yang merasa namanya di panggil menoleh


" Mas Akbar??" Tanya Rinjani terkejut melihat sosok mantan suami pertamanya yang berada di kantor suaminya.


" Ah, ternyata beneran kamu Rin!" ucap Akbar dengan tersenyum manis.


" Iya Mas, mas Akbar apa kabar??"


" Baik Alhamdulillah, Rin aku udah lama cari kamu aku ingin bertanya sesuatu yang penting sama kamu, kita Bisa bicara sebentar??" Tanya Akbar tampak serius.


" Bisa, memang mas sedang apa disini??"


" Oh, itu tadi habis antar laundry korden"


Rinjani mengangguk mengerti, sebelum akhirnya mereka berdua berjalan dan mengobrol di depan lobby kantor.


" Aku kurang tau mas, coba aku tanyakan Kak Ansel, siapa tau ada kenal dokter yang bagus" ucap Rinjani setelah mereka banyak ngobrol


" Itu wajar mas, kami perempuan selalu khawatir jika kami tidak bisa membahagiakan suami kita"


" Terimakasih Rinjani, sebenarnya aku sudah lama mencarimu untuk menanyakan ini, seandainya aku berani aku ingin menemui suami mu, tetapi karena ini masalah sensitive aku lebih nyaman ngomong sama kamu, biar bagaimanapun ini masalah wanita"


" IYa mas aku mengerti, bisa minta nomor ponsel mas? nanti jika ada informasi aku hubungi"


Setelah saling bertukar kabar dan berbicara banyak akhirnya Akbar hentak pamit tetapi karena sangking senangnya kakinya tersandung kakinya sendiri yang membuatnya terhuyung hingga Rinjani tersenggol dan hampir jatuh, beruntung Akbar cepat tanggap dan menangkap tubuh Rinjani yang terhuyung, hingga Rinjani jatuh kedalam pelukannya.


Tepat saat pintu lobby terbuka dan muncul Ansel yang juga tengah mencari keberadaan istri nya.


" Kalian lanjutkan saja" Ucap Ansel saat melihat Rinjani dan Akbar tampak kaget karena kehadiran nya tiba-tiba.


Ansel berjalan masuk kembali kedalam kantor, Rinjani dan Akbar yang melihat itu saling berpandangan.

__ADS_1


" Mas, aku susul Kak Ansel dulu, takut salah paham" Ucap Rinjani yang di setujui oleh Akbar, Akbar berdo'a semoga kejadian tadi tak membuat suami Rinjani salah faham.


Rinjani segera menyusul Suami nya, karena siapapun bisa berpikiran salah, saat melihat situasi seperti tadi yang terlihat seperti mereka sedang berpelukan mesra


Ansel baru saja sampai di ruangannya saat Rinjani juga masuk menyusul nya.


" Kak" Rinjani berjalan terburu-buru


" Sayang hati-hati" Tegur Ansel yang melihat istrinya setengah berlari.


" Kak Ansel aku bisa jelasin" gugup Rinjani, Rinjani takut Ansel marah " Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan" mohon Rinjani pada suaminya.


Ansel berpaling untuk menatap istrinya. " Tolong Kak, aku bisa jelaskan, percaya padaku Kak, semua yang Kaka lihat tidak seperti_____


" Aku percaya padamu sepenuhnya Rinjani" Ucap Ansel, tangan nya meraih dagu Rinjani dan disapu nya lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya


Rinjani tersentuh, saat Ansel justru menciumnya lembut, Nafas hangat Ansel menerpa wajahnya, tangan pemuda itu menahan tengkuknya memberikan cumbuan lembut serat kasih sayang


Dada Rinjani bergetar, bergemuruh karena kelegaan, ternyata dirinya benar-benar mendapatkan pemuda yang tepat dan sangat layak untuk mendapatkan seluruh cintanya, pemuda yang bisa memberinya kepercayaan tanpa secuil keraguan, Rinjani lemas karena rasa takjub nya, takjub karena dirinyalah pemilik sosok maha sempurna yang menjabat sebagai suaminya.


" Aku lapar, makanya tadi aku mencarimu, aku ingin makan dengan mu sayang" ujar Ansel setelah melepas ciumannya. Tangan pemuda itu membingkai wajah istrinya


" Kak, aku tadi ke atas atap, terus pas turun bertemu mas Akbar, kita ngobrol banyak hal, setelah itu tadi itu ceritanya mas Akbar kesandung atau kenapa ngak tau dia nyenggol bahu aku yang membuat aku hampir terhuyung, terus mas Akbar hanya mau nolongin aku itu aja, Kaka percaya kan??" Rinjani masih ingin tetap menjelaskan, marah atau tidak Ansel, dirinya hanya ingin jujur, dulu hubungan nya bersama Nurry sempat merenggang gara-gara masalah dengan mantan suaminya, Rinjani tak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Ansel cuma mengangguk pelan, kemudian kembali meraih bibir Rinjani untuk diciumnya, ciuman lembut dan hangat seorang suami yang sekaligus mampu membuat hati seorang istri tenang.


Rinjani tidak sedang disakiti, baik fisiknya maupun hatinya, Rinjani justru di hujani kelembutan dan cumbuan setiap inci wajahnya.


" Jangan marah" Rinjani menengadah dengan tangan mengelus dada Suami nya, mengecup beberapa kali tepat di atas jantung Ansel yang berdetak.


" Kak, bicaralah, aku sangat takut jika Kaka marah" ucap Rinjani masih dengan wajah memohon nya.

__ADS_1


" Oh astaga__ Aku sama sekali tidak marah sayang, meskipun aku tidak tau kronologi kejadian yang sempat ku lihat tetapi aku yakin tidak ada orang selingkuh di depan umum, aku pergi untuk memberikan waktu pada kalian, karena niatku tadi ingin mencarimu, makanya tadi aku tidak jad_______ Ansel tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Rinjani terlebih dulu sudah merampas bibirnya, bibir manis yang tidak hanya sekedar kalimat yang keluar dari sana melainkan rasa manis alami karena rasa rindu yang bertumpuk-tumpuk yang di bumbui rasa syukur bertubi-tubi.


__ADS_2