Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Kelahiran sang putri


__ADS_3

Ansel akhirnya membawa keluarganya untuk kembali lagi ke Jakarta, sejujurnya belum apa-apa Rinjani sudah merasa betah dengan lingkungan yang baru mereka datangi, ada damai di hati saat sepanjang waktu terus mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, di tambah keramahan para Ustadzah dan santriwati padanya membuat Rinjani ingin secepatnya menetap disana


" Mom, Rania suka bersama teman-teman tadi, bolehkah nanti Rania bersekolah disini?, pake penutup kepala kayak mereka, kata teman-teman Rania tadi Rania sangat cantik kalau pake mukena saat mengaji tadi, akan lebih cantik kalo Rania mau pake penutup kepala saat di luar rumah, seperti mereka" Rania memeluk leher Rinjani dari belakang kursi membuat Rinjani tertawa kecil


" Bilang sama Deddy sayang" Saran Rinjani sambil memberi senyum manis pada Ansel


" Gimana Deddy ?"


" Boleh, asalkan Rania Istiqomah" Jawab Ansel di balik kemudi


" Apa itu Istiqomah?"


" Istiqomah adalah hal berpendirian kuat atau teguh pendirian, contohnya kalau Rania sudah mau menjadi santriwati di sana. Rania harus bertekad untuk menuntut ilmu yang benar-benar, sekolah di pondok dengan di umum beda sayang, Rania kalo sekolah disana di tuntut bisa menjadi penghafal Al-Qur'an bukan menghafal materi dan teori dan lagi, setelah sekolah disana nantinya Rania tidak di perbolehkan buka tutup hijab"


Jelas Ansel panjang lebar dengan sabar


" Oh jadi begitu, kalo menurut Deddy apa Rania bisa sekolah di sana nanti?" Tanya Rania tampak ragu


" Bisa dong, nanti kalo Dede sudah lahir Daddy akan bawa Rania tinggal di sana kalau mau"


" Beneran Daddy??" Tanya Rania antusias


" Iya dong"


" Yeyyyy...." sahut Rania bahagia. Sedangkan Rinjani tersenyum sambil melirik kedua putranya yang mengeliat bangun dari pangkuan para suster nya


" Hay jagoan!" Seru Ansel begitu Ivander sudah mencari susunya


Lelaki kecil itu tertawa sebelum meraih dot dan memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil


" Tadi belajar Alif " Ivan langsung bersuara


" Oh ya? ... apa itu Alif Sayang?" Rinjani langsung menanggapi


" Alif itu kulus dan panjang, Alif punya tiga pangilan Mom. a, i, u " celoteh Ivan riang

__ADS_1


" Aku juga Nyanyi lagu Alifun ba, sama teman-teman" Ivander begitu susunya tandas juga langsung bercerita


Tak hentinya Rinjani bersyukur dengan nikmat yang Allah limpahkan untuk nya, anak-anak yang sehat, pintar serta cantik dan tampan, suami baik yang Sholeh, harta melimpah, nikmat sehat dan masih banyak kesempurnaan lain dalam hidupnya.


" Aahhh.." Tiba-tiba Rinjani meringis


" Sayang?" Ansel mengalihkan pandangannya menatap wajah istrinya yang terlihat menahan sakit


" Kak perutku " Seru Rinjani sambil membenahi posisi duduknya


" Apa sudah waktunya??" Tanya Ansel khawatir


" Harusnya bulan depan" Ucap Rinjani sambil mencoba mengatur napasnya


Ansel tampak khawatir " Tahan ya sayang kita cari rumah sakit terdekat"


Ansel membawa mobilnya melaju sedikit gegas, desisan sang istri membuat Ansel sangat gelisah dan khawatir, sekitar setengah jam Ansel baru menghentikan mobilnya di rumah sakit pertama yang di lewatinya


" Dok, Sus, tolong istri saya" Ansel mengendong Rinjani yang menahan sakit


Para perawat langsung membawa Rinjani ke ruang tindakan


" Tapi Dok, kata istri saya masih bulan depan anak kami lahir" Ucap Ansel merasa sangat khawatir


" Tidak masalah Pak, berat janin nya cukup dan juga pembukaan lahirnya juga normal jadi kami rasa semua akan aman, mari Bapak harus mengisi datanya sebelum menemani Ibu di dalam ruang bersalin, masih menunggu dua pembukaan lagi"


Meski tak begitu paham, Ansel tetap mengikuti instruksi Dokter, sepuluh menit kemudian Ansel sudah menyusul Rinjani kedalam ruang bersalin, Rinjani sendiri sudah di baringkan di atas ranjang khusus melahirkan


Tampak sekali wanita itu meringis menahan sakit


" Sayang, semua akan baik-baik saja" Bisik Ansel begitu mendekati tubuh istrinya yang sudah berbaring menunggu pembukaan lengkap


Rinjani sendiri hanya bisa tersenyum tipis, sejujurnya ia juga cemas dan gugup, ini pengalaman pertama nya melahirkan normal, Rinjani tidak menyangka proses nya akan sesakit ini


Tidak ada hentinya Ansel mengenggam tangan Rinjani dengan bibir yang terus merapalkan doa, agar istri dan anaknya bisa melewati masa sulit ini

__ADS_1


" Yang kuat sayang, demi anak kita" Mata Ansel berkaca-kaca melihat berapa berat perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan seorang anak


Rinjani mendongak untuk menatap suaminya dengan sayu, rasanya memang sakit luar biasa, tetapi wanita itu tetap berusaha untuk tersenyum, agar Ansel tak terlalu khawatir " Aku akan baik-baik saja Kak, jangan cemas"


" Kak" Rinjani mengenggam erat tangan suaminya


" Kenapa?" cemas merasuk hati Ansel


" Aku merasakan letusan dari arah dalam perut ku"


Ansel langsung menyibak selimut yang menutupi perut Rinjani dan mendapati perlaknya sudah basah. Ansel segera memberi tahu Dokter, Rinjani sendiri sudah mulai ingin mengejan dan pasti Ansel lah orang yang paling panik


Ansel menciumi wajah Rinjani tanpa henti sambil membisikkan berbagai doa di telinganya, Rinjani juga menguatkan genggaman tangannya pada tangan Ansel kencang-kencang dan Ansel sama sekali tidak keberatan, jika saja rasa sakit bisa di wakilkan rasanya Ansel rela menanggung rasa sakit sang istri, tetapi itu sangat mustahil karena inilah kodrat seorang wanita


Setelah dokter sudah memberi instruksi, Rinjani mulai mengejan kuat-kuat dan Ansel ikut menahan napas


" Ayo, Sayang kau pasti bisa!" Ansel tak hentinya memberi semangat


Rinjani mengelus pelan tangan Ansel yang terus menggenggam tangan nya " Aku baik-baik saja Kak, jangan khawatir."


Keringat Rinjani sudah bercucuran, Ansel hanya mengangguk, genggaman tangannya ia eratkan saat melihat Rinjani kembali merintih


Waktu seakan berjalan begitu lambat bagi Ansel. Seolah ini adalah penyiksaan tiada akhir. Kepalanya terasa mau pecah menyaksikan perjuangan Rinjani. Entah kapan semua ini akan berakhir. Dokter mengintruksikan Rinjani untuk mengejan sedikit lebih keras. Setelah tarikan napas yang cukup dalam, Rinjani melakukan nya sesuai instruksi Dokter, dan saat itu juga, tangisan bayi mungil menggema memenuhi ruangan dan pendengaran


" Oh, Tuhan ..." Seru Ansel dengan kepanikan dan kebahagiaan yang menyatu, sulit dipercaya saat kini dirinya benar-benar memiliki seorang putri yang lahir begitu mungil nan merah dengan tangis yang kencang, petanda dia lahir sehat


Rasa lega luar biasa memenuhi rongga dada Ansel, melihat Rinjani yang langsung tersenyum melihat bayi mungil yang sedang di bersihkan hidungnya oleh Dokter


Rinjani terlihat begitu bahagia ketika bisa mengendong putrinya, Ansel juga tak hentinya bersyukur karena bisa melihat kebahagiaan Rinjani, jika memang itu yang bisa kembali menerbitkan senyum permanen di wajah Rinjani, Ansel sama sekali tidak keberatan untuk memberinya sebanyak mungkin, sebanyak yang Allah hadirkan untuk mereka.


" Kemana anak-anak Kak?" Tanya Rinjani saat Ansel menciumi wajahnya tanpa henti


" Hotel , tadi aku meminta suster membawa anak-anak ke hotel terdekat agar mereka istirahat, di rumah sakit bukan tempat yang layak untuk mereka"


" Apa Mama dan papa tidak tau jika aku melahirkan"

__ADS_1


" Astagfirullah .. aku ngak kepikiran sayang, aku tadi terlalu shock dengan kejadian dadakan ini"


Benar yang dikatakan Ansel, kejadian dadakan yang bahkan belum terprediksi tiba-tiba Rinjani melahirkan, dan Ansel pun terlalu antusias menemani sang istri yang tengah berjuang membawa putrinya lahir kedunia


__ADS_2