
Rinjani dan Ansel masih saling berbicara lewat pangilan video, saat tiba-tiba mobil yang membawa Ansel berhenti secara perlahan, Rinjani melihat Ansel yang mengerutkan dahi nya.
" Ada kecelakaan Tuan Ku" Ujar Pak Aris sopir Ansel.
Ansel turun dari mobil masih dengan mengenggam ponselnya yang sedikit di arahkan ke dada, membuat Rinjani mampu melihat wajah suaminya dari bawah kamera.
" Ansel_____"
DEG'
Jantung Rinjani rasanya langsung berhenti berdetak saat tiba-tiba seorang wanita berhijab menubruk maju tubuh suaminya, Rinjani tau Ansel pun terkejut.
" Ansel, Mama__" Rinjani dapat mendengar wanita itu menangis Dan memeluk erat tubuh suaminya sesegukan
Perasaan Rinjani tak karuan, melihat seorang wanita memeluk Ansel tiba-tiba, hati nya gelisah.
Ansel yang mulai menguasai diri, kembali menghadap ke layar ponselnya.
" Sayang, aku matikan dulu, Tante Hanny dan Jingga kecelakaan, aku bantuin mereka dulu, sayang aku akan segera pulang, Tunggu aku" Setelah mengucapkan itu, wajah Ansel hilang dari pandangan Rinjani.
Perasaan Rinjani tak karuan, ada sesak dan takut yang tiba-tiba merasuk, Jingga' nama itu seperti tidak asing, tapi mengapa dia mengenal Ansel? dan memeluk suaminya dengan tak tahu malu, Rinjani gelisah, tangan nya saling meremas cemas, ini pertama kalinya dirinya merasa seperti ini, apakah Rinjani merasa cemburu??
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
" Aku menunggu Kaka dari tadi" Maina membantu Ben melepas jas dan meraih tas kerja nya.
" Kenapa menunggu??" Tanya Ben menatap istrinya.
" Yaa__ takut ada apa-apa karena Kaka pulang telat"
Ben mencerna ucapan Maina, ini baru jam delapan dan kata Maina pulang telat, terus apa kabar jika bos Ben masih Nurry? Menjadi asisten seorang Nurry Ben harus siap 24 jam untuk melakukan apapun perintah sang majikan, berbeda dengan Ansel yang memperlakukan dirinya seperti pekerja pada umumnya, bukan berarti Ben membandingkan, tetapi Ansel tidak terlalu banyak menguras tenaganya, bahkan Ben juga merasa Ansel terlalu mandiri untuk banyak hal, pemuda itu jarang memanfaatkan kekuasaan, bahkan yang mengejutkan kadang Ansel malah bikin kopi nya sendiri, padahal dia bisa minta siapapun untuk membuatkan nya termasuk Ben.
Satu Minggu menjadi pemimpin, suasana kantor berubah 180 derajat, suasana yang dulu selalu senyap mulai ramai, kehadiran yang dulu di tentang, berbalik menjadi di agungkan, Ansel justru membawa warna baru dan gebrakan baru, membuat mata mereka terbuka.
__ADS_1
Awalnya Ben menduga dengan sikap ramahnya Ansel bisa di kira orang lemah dan mudah di tindas ternyata Ben salah, di jam kerja pemuda murah senyum itupun bisa menjadi seperti balok es, diluar jam kerja meski baru semenit terlewati pemuda itu jadi seperti burung parkit. Ansel pandai menyesuaikan keadaan, memiliki pemimpin seperti Ansel karyawan kantor terlihat ceria, suasana yang dulu begitu tegang kini menghangat, setiap pagi para staff saling menyapa satu sama lain, bisa berbicara di jam istirahat tidak seperti dulu, Nurry tidak menyukai kebisingan, boleh berbicara pada rekan jika tentang pekerjaan, selain itu berani bicara masalah pribadi di kantor SP, dan bahkan bisa di pecat secara tak terhormat, di kantor mereka seperti tidak saling mengenal, terserah bila di luar kantor, itu peraturan mutlak bekerja di perusahaan seorang Nurry.
" Maaf sudah membuat mu menunggu" akhirnya Ben mengatakan itu pada Maina karena dia tidak ingin menceritakan dulu atau sekarang.
Maina tersenyum dan memeluk lengan kekar Ben. " Tidak masalah kak, Mai hanya khawatir.
Makan atau mandi??"
" Aku mandi" Ben mencoba tersenyum manis pada Maina yang membuat wanita itu begitu terpesona.
Sebenarnya Ben tak bisa menahan ke inginannya untuk bersikap manis seperti yang dilakukan oleh Ansel pada Rinjani, tetapi Ben bingung memulainya dari mana, mungkin mencoba ramah dulu biar Maina tak terlalu kaget dan merasa ada yang salah pada dirinya.
Usai mandi Ben langsung bergabung dengan Maina untuk makan malam, Aalona juga baru keluar kamar.
" Bagaimana kabarmu Aalona??" Sapa Ben pada putrinya.
" Seperti yang Daddy lihat!" singkat dan tak banyak bertele-tele, bahkan senyum saja tidak. sikap Aalona sebelas dua belas dengan dirinya.
"Aalona" tegur Maina yang hanya di lihat sekilas oleh putrinya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Rinjani benar-benar kesal karena sudah dua jam lamanya Ansel tak kunjung pulang, pikiran Rinjani terus bertanya-tanya, siapa Jingga?? mengapa mereka terlihat begitu akrab, wanita itu juga terlihat sangat cantik .
Ponselnya berdering, Ansel menelpon, tetapi Rinjani enggan mengangkat, entah mengapa Rinjani begitu kesal , bayangan wanita berhijab itu memeluk erat tubuh suaminya hatinya berdenyut nyeri, seperti ini kah rasa cemburu?? mengapa Rinjani baru merasakan hal seperti ini?? apakah ini karena dirinya yang takut Ansel akan meninggalkan nya??.
Rinjani turun melihat anak-anaknya sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur tanpa tertarik untuk makan malam.
Ansel pulang sangat larut, rasa khawatir dan juga berasalah menelusup di hatinya, Rinjani tak mau mengangkat panggilan dari Ansel, menandakan wanita itu kecewa.
Setelah berterima kasih pada sopir nya, Ansel bergegas masuk kedalam rumah dengan kunci cadangan, Ansel tau ini sudah sangat larut, semua orang tengah tidur, dirinya tak ingin menganggu.
Gegas Ansel membuka pintu kamar, perlahan, ia melangkah masuk dan mengunci pintu, ia menghampiri ranjang tidur dan menaikinya perlahan. Kemudian ikut masuk kedalam selimut yang dikenakan Rinjani, Ia langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Rinjani dan memeluk istrinya itu dari belakang.
__ADS_1
Rinjani langsung membuka mata begitu merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang nya.
" Maaf sayang aku telat, kamu pasti lapar"
Rinjani tak menyahut. Hanya menarik napas dalam-dalam mendengar ucapan Ansel.
Ansel tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Indra penciumannya menempel di Tengkuk Rinjani dan menghirup aroma Rinjani yang menenangkan.
" Sayang" Ansel merasa sangat bersalah melihat Rinjani yang hanya diam. " Tadi aku bantuin jingga, kamu ingat kan, Jingga anaknya Tante Hanny, Tante dari Papa"
Mendengar itu Rinjani langsung membalik badan menghadap Ansel.
" Tante yang bermulut pedas itu??" Tanya Rinjani mulai ingat, pantas nama Jingga terdengar familiar.
Ansel terkekeh kecil. " Sayang ngak boleh ngomongin orang gitu ah, inget anak kita dengar Lo" nasehat Ansel.
Rinjani mengelus perutnya menyesal. Sebelum matanya menatap wajah suaminya, berarti yang memeluk Ansel tadi sepupunya Ansel?, padahal Tante Ansel itu begitu benci dengan Ansel, tetapi Ansel masih Sudi membantu tantenya itu, ahh Rinjani jadi merasa bersalah sudah memiliki pikiran yang enggak-enggak sama Ansel.
Ansel menyelipkan anak rambut Rinjani.
" Aku mandi sebentar, habis ini kita makan ya, pasti kamu dan anak kita belum makan kan??"
Rinjani mengeleng.
" Sayang tapi aku juga belum makan, mau ya kita makan bersama"
Rinjani ikut sedih melihat suaminya, Ansel sangat baik, sampai lupa dengan kondisinya sendiri, akhirnya Rinjani mengangguk yang membuat Ansel tersenyum.
Sementara Ansel mandi, Rinjani sibuk memanaskan makanan tak lupa membuatkan teh hijau favorit suaminya.
Rinjani masuk Kedalam kamarnya dan menemukan Ansel yang berganti pakaian.
########
__ADS_1
Janji UPP lagi jika komentar tembus 50, kalo ngak, kita lanjut lagi besok seperti biasanya ya.. InsyaAllah tiap hari akan di usahakan update
happy reading ❤️❤️❤️